Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Kini aku sudah berada di apartemenku. Aku merebahkan tubuhku, aku merindukan kasurku ini.

Kalian harus tahu, aku ini adalah kaum rebahan. Hahaha,

Mataku sangat mengantuk, tapi badanku sudah terasa tak enak dan lengket.

Aku lalu menanggalkan pakaian yang menempel di tubuhku, lalu aku berjalan menuju kamar mandi.

Aku berniat ingin merendam tubuh ku dengan air hangat. Agar tubuh ku lebih rileks dan nyaman untuk membereskan semua tugas kuliahku.

Aku perlahan memejamkan mataku, merasakan nyaman air hangat dan wangi sabun bunga lili.

Lalu mataku membelalak seketika, seseorang menggedor pintu apartemenku dengan kuat.

Aku menelan ludah, keringat dingin mulai mengucur di keningku. Tubuhku, bergetar meraih handuk dan memakainya. Jujur saja, aku sangat takut.

"SAYANG, BUKALAH. AKU MERINDUKANMU!!"

Aku mendengar suara teriakan laki-laki diluar. Dia adalah tetangga sebelah kamar apartemenku, dia tampan namun sangat mengerikan.

"SARAH, AKU AKAN MENDOBRAK PINTU APARTEMEN MU. CEPAT BUKALAH!!"

Aku semakin takut, aku segera mencari pakaian yang aku cari dengan asal, lalu aku memakainya dengan segera.

'BRAKK'

'BRAKK'

Pria gila itu benar-benar nekat, dia sedang mencoba mendobrak pintu kamarku.

"Ya Tuhan, a-aku sangat takut."

Aku berbicara dengan gemetar dan takut.

Aku mencari ponselku, dan menghubungi Axel. Beberapa kali panggilank u tak terjawab olehnya.

"Axel, hiks a-aku takut, hiks…" aku hanya bergumam dan menangis, terus memencet tombol ponselku.

Hingga akhirnya, sambungan ku berhasil terjawab.

"Sarah, maaf a, … "

"Alex, aku sangat takut hiks..hiks.. cepatlah jemput aku." Aku memotong ucapan Alex.

"Aku akan segera kesana, kau tunggu aku."

"Alex,"

'BRAKK'

Aku terkejut dan semakin ketakutan, pria itu sudah berhasil mendobrak pintu kamar apartemenku.

"Shit!!!" ku dengar Alex mengumpat, lalu dia mematikan sambunganku dengannya.

Aku yakin dia akan datang dan membawaku pergi, menjauh dari pria gila ini.

"Sayang, kenapa kau tak membuka pintu untukku?"

"Kumohon, pergilah." Bicaraku dengan suara bergetar, pria gila itu memegang ikat pinggang yang digulungkan di telapak tangannya.

Dia semakin mendekat padaku, aku mulai menghindar.

"Ayolah, kita bersenang-senang. Aku takkan melukaimu jika kamu menurut padaku."

Aku menangis dan menggelengkan kepalaku, aku bersiap untuk lari. Namun sayangnya, aku kalah cepat. Pria itu sudah lebih dulu memegang tanganku, dia mengikat tanganku dengan tali pinggang.

"Tolong!!" Aku berontak dan berteriak.

'plakkk'

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku hanya bisa terisak, mulutku dibekap oleh tangannya.

Aku merasakan sudut bibirku berdenyut dan sedikit mengeluarkan cairan berwarna merah.

Oh God, aku sangat takut. Dia ini mulai mencengkram kuat rahangku.

"Uhhh, s-sakit." Ringisku.

"Wow, aku berharap kau mengeluarkan desahan manis di bawah tubuhku, sayang." Ucapnya ditelingaku.

Terdengar sangat menjijikan, aku tak ingin mendengar kata itu.

"Jangan coba lari dariku, Sarah. Aku aja terus mengejarmu. Aku menginginkan dirimu dan juga tubuhmu."

"Jadilah milikku, aku takkan melukaimu."

Lanjutnya.

Aku takut dengannya, pria psikopat. Dia terus mengejarku, dia ingin aku menjadi kekasihnya.

Aku mendengar desas desus, jika dirinya pernah membunuh kekasihnya dulu.

Aku tak mengerti, kenapa manusia ini masih bisa berkeliaran dengan bebas.

"Baiklah, Sarah. Aku akan bermain denganmu. Kau akan merasa nikmat, kau hanya perlu mengeluarkan suara yang dapat membantu menaikkan gairahku." Ucapnya yang lagi-lagi terdengar sangat menjijikan, dia membelai wajahku.

Sungguh, aku sangat takut. Air mataku terus mengalir di pipiku.

Aku memejamkan mataku, dia mulai membuka kancing bajuku satu persatu.

"Hiks hiks tolong, lepaskan aku. Aku gak mau begini, Arga. Hiks..hiks." aku menangis sesenggukan, namun Arga tak mau mendengarnya.

Saat Arga akan menciumku, seseorang dengan cepat menarik rambutnya dan memukul wajahnya.

Aku sedikit lega, karena Alex telah datang. Aku merasa sangat terlindungi sejarah.

"Brengsek!! Aku akan menghajarmu."

'bugh'

Pukulan itu mengenai wajah Arga berkali-kali, namun dia hanya tertawa. Bukan malah kesakitan, itulah dia. Arga memiliki jiwa psikopat. Mengerikan,

"Sarah, aku akan terus mengejarmu. Haha," racaunya dengan tawa.

Alex langsung menghampiriku, membuka ikatan di tanganku.

Dia langsung memelukku, terlihat wajah menyesal karena tak bisa melindungiku dengan baik.

"Maafkan aku, sweeti. Aku menyesal telah membiarkanmu sendiri disini. Sekarang kau tinggal dirumahku. Aku janji, disana kau aka aman." Ucapnya dengan menghapus air mata di pipiku.

Aku hanya menangis, Alex menggendongku ala bridal style.

Aku benar-benar sangat takut.

Alex membawaku ke dalam mobilnya.

"Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Dia sudah menampar wajahmu."

"Alex, aku sangat takut." Lirihku.

Sekali lagi, Alex memelukku dan menenangkan ku.

Setelah keadaan lebih baik, dia melajukan mobilnya.

Kini aku dan Alex telah sampai di rumahnya, Alex menuntunku untuk duduk.

"Kau tunggu disini, aku akan mengambil kotak p3k." Ucapnya dengan mengelus pipiku lalu pergi mengambil kotak p3k.

Tak lama kemudian dia datang, dan lalu menuangkan alkohol di kapas lalu, membersihkan lukaku

"Sshh, sakit." Protesku pada Alex.

"Aku tahu, kumohon tahan sedikit. Aku benar-benar payah, aku tak bisa lengah sekarang."

"Alex, aku bukan anakmu. Jangan membuatku seolah seperti anak gadismu."

Alex terkekeh mendengar ucapan ku.

'bugh'

Aku memukul lengan Alex, menyebalkan sekali. Dia menertawai ucapanku.

"Kau ini sudah seperti adikku, aku tak bisa mengingkari janjiku pada kedua orangtuamu."

"Ya, ya, ya, terserah kau saja."

Lalu terdengar suara desahan di lantai atas.

"Ough, s-sayang lebih cepat lagihhh." Suara racauan seorang wanita, terdengar sangat menjijikan.

"Alex, i-itu … "

"Jangan dipedulikan, itu Axel dan kekasihnya. Padahal sudah kuperingati, jika Nessa sudah berkhianat dengannya."

"Nessa?"

Alex menganggukkan kepalanya.

"Dia kekasih Axel."

Aku menghela napas, rasanya sedikit sesak di dadaku.

Kalian pasti bisa menebaknya, aku menyukai Axel. Tapi, dia tak pernah sekalipun memandangku.

Mungkin karena aku tak cantik, tak menarik dan juga tak sexy.

"Huh," aku mendengus kesal.

"Kenapa?"

Aku tersadar jika disampingku ada Alex.

Aku menggeleng kecil,

"Aku ngantuk Alex, bahuku terasa sakit karena dorongan keras dari Arga."

"Ya Tuhan, semoga saja bahuku tak apa."

"Aku gak papa. Nanti akan kuberitahu, jika sakitnya tak kunjung hilang."

"Oke. Jadi, ayo aku antar kamu ke kamarku. Kamar yang lain belum dibereskan. Mungkin, besok aku akan menyuruh maid membereskan nya untukmu."

"Terimakasih, brother. Kau sangat baik padaku."

"Ya, sweeti. Ayo," Alex mengulurkan tangannya padaku. Lalu aku mengikuti langkah kakinya.

Aku menatap pintu kamar yang berada diseberang pintu kamar Alex.

"Itu kamar Axel, jangan coba-coba untuk masuk kesana. Atau Axel akan marah padamu."

Aku mengernyitkan kening ku.

"Bukannya suara Axel berada di kamar ujung sana?"

"Ya, itu ruang khusus untuk dia dan kekasihnya." Jelasnya padaku.

Aku sedikit bergidik ngeri, membayangkan wajah Axel.

"Sekarang, kau bisa tidur nyenyak di sini. Dan lagi, kau boleh memakai bajuku jika ingin menggantinya. Dan soal barang-barangmu, aku akan menyuruh orang membereskan nya dan membawa kesini "

"Aku sangat berterimakasih padamu, brother."

Aku memeluk tubuh Alex, aku sangat beruntung memiliki dirinya.

"Aku akan tidur di kamar kedua orang tuaku. Kau tidurlah, panggil aku jika kau butuh sesuatu."

"Iya, makasih."

Lalu Alex tersenyum sebelum meninggalkan diriku dikamarnya.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel