Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13

Saat arah sudah terlelap dalam tidurnya, Alex menghampiri Axel yang sedang duduk tenang menyantap makanannya.

"Axel," panggil Alex pada saudara kembarnya.

"Jangan lupa, aku adalah kakakmu." Jawab Axel ketus.

"Baiklah, bang Axel… aku ingin bertanya padamu."

"Hm, katakan.."

"Kau tidak memiliki niat jahat pada Sarah, bukan?"

Axel menghentikan makannya dan menatap Alex dengan tatapan intens.

"Kurasa itu ide yang bagus."

Alex menatap tajam pada kakaknya itu.

"Aku akan di gantung oleh papinya jika aku tak menjaganya dengan benar."

"Ehm, bukankah itu peluang bagus untukku, jika kau di gantung, ehm tentu saja semua harta warisan Daddy akan jatuh ke tanganku." Jawab Axel santai.

Alex melotot mendengar jawaban santai sang kakak.

Axel terkekeh melihat reaksi Alex.

"Aku hanya bergurau. Aku tahu batasan, Alex. Kau tahu aku, aku tak akan memaksa orang itu jika bukan dia yang meminta atau karena saling suka."

Alex menghela napas lega.

"Dan, apa kau lihat siapa yang datang kerumah kita?"

"Ya, aku melihatnya. Lelaki itu, ehm sebenarnya aku tidak tahu, dia laki-laki atau perempuan, karena dia memakai hodie yang kebesaran lalu memakai topeng." Jelas Axel.

"Apa ininulah Arga?"

"Arga? Siapa dia?"

Alex menghela napas berat lalu menyandarkan tubuhnya di bahu kursi.

"Dia orang yang pernah menyukai Sarah. Sarah menolaknya karena dia seorang psychopat dan dia pernah membunuh kekasihnya dulu."

"Itu mengerikan."

"Iya, dan itulah penyebab Sarah pindah kerumah kita. Ku harap kau mengerti setelah mengetahui ini. Aku benar-benar diberi kepercayaan oleh papi Sarah untuk membantu menjaganya."

"Hm.. begitu, ya?" Ucap Axel sambil manggut-manggut.

"Alex, sepertinya kita harus memakai satpam di rumah ini, karena aku melihat orang itu selalu berdiri di depan gerbang rumah kita."

Alex terkejut mendengar ucapan Axel.

"Bang,bisakah aku minta tolong padamu, jika aku tidak ada, kau bisa membantuku untuk menjaga Sarah,kan?" Alex menatap penuh harap pada Axel.

"Kau mengatakan itu seolah-olah kau akan mati, huh?"

Alex membelalakkan matanya, menatap tak percaya pada sang kakak.

"Kenapa kau tega sekali berkata seperti itu padaku." Dengus sebal Alex.

Axel hanya memutar bola mata malas.

"Apa kau lembur malam ini?"

"Hm, iya.. aku akan pulang besok pagi."

Axel hanya mengangguk kecil.

"Sebenarnya, aku juga harus pergi ke club tapi, itu tidak masalah. Aku bisa mengajaknya nanti."

"El… Sarah tidak bisa datang ke tempat seperti itu." Geram Alex.

"Aku harus kesana, Alex. Aku akan mengurung Sarah di kamar ku, bila perlu." Jawab Axel lebih geram.

"Ck, terserah kau saja. Aku hanya tidak ingin matanya ternodai oleh tempat sialan mu itu." Decak Alex kesal.

"Kau tenang saja, dedek gemes." Jawab Axel terkekeh menggoda adiknya.

Alex hanya memutar bola mata malas.

"El, aku pergi. Katakan pada Sarah, aku harus pergi dengan terburu-buru."

"Hm, ya..kau pergilah." Jawab Axel singkat.

Alex pun pergi meninggalkan Axel, dan dia kembali memakan makanannya.

Tak lama kemudian derap langkah kaki pelan tapi pasti mendekatinya.

"Hon…"

Sarah menaikkan pandangannya menatap Axel, lalu beralih pada makanan di piring Axel.

Axel yang tersadar menarik piring itu menjauh dari pandangan Sarah, lalu terkekeh melihat Sarah cemberut dan mendengus kesal.

"Axel…" rengek manja Sarah, membuat Axel menahan senyum.

"Apa, Hon.."

"Eum…" Sarah berjalan mendekati Axel, lalu memainkan ujung baju Axel.

"Kenapa?"

"Aku lapar, aku mau itu ya?" Rengek Sarah menunjuk piring Axel.

"Kau mau nasi goreng ini?"

Sarah mengangguk semangat.

"Baiklah, ada syaratnya, Hon.."

"Apa itu?"

"Cium dulu, Hon.."

"Aaa, Axel… jangan begitu. Kita tidak boleh begitu." Jawab Sarah dengan menggelengkan kepalanya.

"Tidak boleh begitu, bagaimana, Hon?" Goda Axel.

"Iya… i-itu, tau ah…" Sarah pun menghentakkan kakinya karena kesal. Sarah akan beranjak namun tangannya di tarik, dan terjatuh duduk di pangkuan Axel.

Wajah Sarah memerah, dia gugup dan menunduk.

"Kenapa menunduk, Hon?"

Sarah hanya menggelengkan kepalanya, Axel memeluk pinggang Sarah dengan erat.

"Axel…", lirih Sarah.

"Ini, makan.." Axel pun menodongkan sesuap nasi ke dekat mulut Sarah.

Sarah menaikkan pandangan menatap Axel.

"Buka mulutmu, honey…"

Sarah pun dengan ragu membuka mulutnya, menerima sesuap nasi dari Axel.

"Enak?"

Sarah mengangguk kecil,

"Lagi, Axell.."

Axel terkekeh mendengar permintaan Sarah.

Axel pun mengangguk, dan menyuapkan nasi gorengnya hingga habis.

"Ternyata makanmu sangat banyak, Hon.."

"Hm, sepertinya aku terlalu menikmati."

"Axel, Alex sudah pergi?"

"Sudah, Hon. Kenapa? Kau merindukannya?"

"Sepertinya begitu."

Sarah terkejut karena melihat Axel merubah tatapannya menjadi tatapan tajam.

"A-axel.." Sarah gugup, dia ketakutan melihat tatapan Axel.

"Bukannya aku sudah bilang, kau hanya milikku. Kenapa kau merindukan pria lain selain aku? Kau menantangku?"

"I-itu, buk … "

"Prankkkkk"

Sarah terlonjak kaget, begitupun dengan Axel.

Seseorang melempar kaca rumah Axel.

Sarah meremas kuat lengan Axel. Dia benar-benar takut.

Axel menyadari ketakutan Sarah dan

"Hei, Hon… tenanglah. Ada aku disini, hm." Ucap Axel berusaha untuk menenangkan Sarah.

"T-tapi, aku takut…" lirih Sarah.

Axel pun bergegas menarik lembut tangan Sarah, pelan tapi pasti, kini mereka sudah berada di pintu utama.

Axel menarik tangan Sarah dan dengan cepat membawanya masuk ke dalam mobil.

"Axel…" Sarah panik dan menoleh kebelakang, orang misterius berdiri menatap mobil yang mereka tumpangi.

Kemudian orang itu berlari ke arah mereka,

"AXEL.." teriak Sarah, Axel dengan cepat melajukan mobilnya menjauh dari area rumah miliknya.

"Brengsek!" Umpat Axel.

Hingga mobil itu menjauh, mereka pun memastikan jika keadaan telah aman.

Axel menormalkan laju mobilnya.

Mereka berdua hanya terdiam, wajah Sarah memucat karena ketakutan.

Axel pun berinisiatif memberikan air minum untuk Sarah.

"Minum?"

Sarah menoleh dan terdiam menatap Axel.

"Ambillah, kau belum minum sejak selesai makan tadi." Ujar Axel terkekeh.

Sarah pun mencebik dan menerima botol minumannya.

Lalu menenggak air itu hingga habis setengah botol.

"Busett, haus, bu?" Kekeh Axel.

Sarah hanya terdiam tak menanggapi.

Hingga mobil itu berhenti di depan sebuah club malam.

Sarah mengernyitkan dahinya.

"Axel, kenapa kita kesini?" Lirih sarat.

"Enggak usah takut, club malam ini punyaku. Kau aman, ayo.." jawab Axel dengan menarik Sarah keluar dari dalam mobilnya.

Mata Sarah terbelalak lebar, matanya melihat banyak wanita berpakaian minim dengan berlenggak-lenggok di tengah-tengah perkumpulan seorang pria.

Dia terus membuntuti Axel, hingga kemudian dia terkejut kembali ketika melihat banyak sepasang muda-mudi sedang bercumbu tanpa tahu malu.

Axel hanya tersenyum miring melirik relasi terkejut Sarah.

Dia menarik tangan Sarah dan membawanya naik ke lantai paling atas, disana khusus untuk Axel seorang.

Axel membawa Sarah masuk ke dalam kamarnya.

"Baru kali ini aku berada di tempat seperti ini." Ungkap Sarah yang baru saja duduk di tepi ranjang milik Axel.

"Benarkah? Lalu apa yang kau lihat?" Tanya Axel memancing.

"Sangat menjijikan." Jawaban Sarah membuat Axel terkekeh.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel