Bab 14
Sarah masih terduduk kaku, dia terdiam dan ada perasaan takut dalam dirinya. Entah apa yang telah ia perbuat, selama ini banyak sekali orang jahat di sekitarnya.
Bahkan, Sarah tidak mengerti, semenjak kecelakaan waktu lalu yang menyebabkan tulang bahunya retak dan akan pulih dalam jangka waktu yang panjang, hidupnya semakin rumit.
Banyak orang jahat di sekitarnya. Orang itu seperti tidak ingin melihat Sarah bahagia.
Sarah tersentak saat Axel meraih telapak tangannya.
"Axel, kenapa?"
Axel menggeleng pelan.
"Kamu melamun?"
Sarah menghela napas panjang.
"Axel, maaf… karena aku, kalian.. ehm maksudku, kau dan Alex jadi ikut terbebani karena masalah ini."
"Hei, Sarah… tenanglah, kau tidak perlu seperti itu. Walaupun aku tahu, kau memang merepotkan."
Sarah menatap wajah Axel sendu. Axel terlalu jujur mengatakan itu.
"Maaf…" hanya itu yang mampu Sarah ucapkan.
"Kenapa minta maaf, Hon? Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi hm?"
"Axel, aku sudah buat kekacauan di rumahmu, aku nggak enak sama kamu, sama Alex. Astaga, aku nggak bisa kaya gini terus." Sarah panik dan menggigit ujung jarinya.
"Hon, kau butuh istirahat. Kau aman disini, kau tidurlah."
"Axel, ak.."
"Tidur atau aku akan menelanjangimu sekarang?" Ancam Axel, sontak Sarah langsung menutup dada dan bawahnya menggunakan kedua tangannya.
Axel terkekeh melihatnya.
"Tidurlah, Hon…"
"Tapi, kamu nggak pergi kan?" Rengek manja Sarah.
"Hm, aku disini, Sarah.."
Sarah pun mengangguk.
Dia merebahkan diri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
'sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa orang itu?' batin Axel.
Hingga beberapa jam kemudian, Sarah hanya bergerak gelisah di dalam selimutnya.
Sarah membuka matanya, mengedarkan pandangan dan tak menemui Axel disana.
"Axel…"
"AXEL…" teriak Sarah.
Sarah pun bangkit dari tempat tidurnya.
"Axel, kamu dimana… aku takut." Panik Sarah, lalu berjalan mendekati pintu, dia memekik kaget saat melihat Axel juga akan masuk.
"Sarah…"
Sarah langsung menghambur peluk pada Axel, membuat Axel terdiam, entah mengapa, dia merasa Sarah begitu penting sekarang.
Axel mengusap lembut punggung Sarah.
"Kenapa, hm?"
"Kamu kemana? Aku takut, Axel..", rengek Sarah dengan manja.
"Ehm, aku habis ke bawah. Ada sedikit kekacauan tadi."
"Hm.. Axel,"
"Ya?"
"Temani aku tidur…"
"Yakin, nggak mau yang lain?" Goda Axel.
"Ayo Axel…" rengek Sarah lagi.
Hingga Sarah dan Axel telah merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Axel, peluk.." pinta Sarah dengan manja, namun Axel tetap bergeming di tempatnya.
"Axel…"
"Sarah, jangan mencoba membangunkan Axel junior. Jadi,.."
"Aku pikir, kamu kembar dengan Alex wataknya juga akan sama. Ternyata, Alex jauh lebih pengertian di banding kamu. Alex mau peluk aku kalau aku susah tidur." Jawab Sarah enteng, membuat Axel melotot lebar.
"Apa? Kau? Kalian sering tidur bersama??" Tanya Axel memastikan.
Dan Sarah hanya mengangguk polos membuat Axel melotot lagi.
"Astaga, lalu? Apa yang terjadi di antara kalian? Aku tidak menyangka ini, ternyata… adikku.. ah," ucapan Axel terhenti saat Sarah mencubit perutnya.
"Sakit, Sarah…"
"Bohong… perutmu bahkan sangat keras, Axel." Serkas Sarah.
"Baiklah, lalu katakan… apa yang telah kau dan Alex lakukan? Apa kalian, memadu cinta?"
Sarah menatap Axel polos, dia mencoba mencermati apa yang di katakan Axel.
"Memadu cinta?" Ulang Sarah dan membuat Axel mengangguk kecil.
"Axel, otakmu benar-benar otak selangkangan."
Axel terbelalak mendengar ejekan Sarah. Apa katanya? Otak selangkangan? Axel memandang Sarah dengan ratapan speechless.
"Axel, apa aku salah bicara? Ehm sepertinya tidak, yang aku katakan benar kan?"
Axel hanya menaikkan sebelah alisnya, menatap Sarah.
"Dengar, aku dan Alex tak pernah melakukan apapun, karena bagiku, Alex adalah seorang kakak untukku. Dan harus kau tahu, aku adalah gadis baik-baik. Jadi jangan membuat kesimpulan diri, bahwa aku adalah seorang gadis yang mau tidur dengan laki-laki yang bukan, em maksudku tidak ada ikatan apapun.", Jelas Sarah.
"Jadi… apa kau masih virgin, Sarah?"
Sarah terbelalak mendengar pertanyaan intim dari Axel, menurutnya itu sangat tidak sopan.
"A-axel, k-kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Sarah gugup.
Axel tersenyum miring, tak perlu jawaban Sarah pun Axel sudah mengetahui jawabannya dari logat Sarah yang gugup.
"Tidak ada, Hon.." jawab Axel lembut, Axel menarik dagu Sarah menggunakan jari telunjuknya.
Membuat Sarah gugup dan jantungnya berdetak cepat tak beraturan.
"A-axel, ka.. hmmpttt," Axel melumat bibir Sarah dengan lembut, membuat Sarah terasa melayang menikmati ciuman Axel.
"Balas ciumanku, Sarah…" pinta Axel yang melepas ciumannya.
Lalu kembali mencium dan melumat bibir Sarah. Dengan ragu Sarah membalas ciuman Axel, Axel pun semakin gencar, lumatannya lebih menuntut.
Tangannya mulai nakal meraba perut Sarah, membuat Sarah mendesah geli.
Axel pun menyusupkan tangannya kedalam baju Sarah, membuat Sarah semakin tak tahan dengan perasaan gelinya.
"Akhh… A-axel," suara tertahan Sarah di sela-sela ciuman panasnya.
Axel tak peduli panggilan Sarah, menidurkan tubuh Sarah, lalu menindihnya.
Axel menyusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Sarah, menyusuri deretan giginya, memainkan lidah Sarah.
Tangannya pun semakin nakal, naik dan memaksa masuk ke dalam bra berenda milik Sarah.
Hingga menyentuh benda kenyal seperti squisi itu.
"Akhh…" Sarah mendesah karena tangan Axel meremasnya dengan penuh gairah.
Sarah pun tersadar dan mendorong tubuh Axel hingga ciuman mereka terlepas.
"Sarah, kena…"
Sarah menggelengkan kepalanya.
"Jangan, Axel…" lirih Sarah.
Axel tersenyum dan mengecup lembut kening Sarah.
"Tidurlah, Sarah… aku akan menemanimu."
Sarah mengangguk kecil, lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axel.
"Maaf, Axel…"
Axel tak membalas ucapan Sarah, hanya membelai lembut punggungnya.
Dalam hati ia mengumpat, tak tahukah Sarah, jika di dalam celananya itu sudah terasa sangat sesak? Namun Axel tak ingin egois, tak mungkin ia membuat Sarah semakin takut dan menjauhinya.
Dengkuran halus terdengar dari mulut Sarah, Axel terkekeh pelan, ternyata tidur gadis itu mendengkur meski sangat pelan.
"Apa kau sangat lelah, Hon?" Gumam Axel.
Axel melihat wajah Sarah di dalam dekapannya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
Menatap lekat, membelai lembut wajahnya, sungguh.. Sarah sangatlah cantik.
"Kau sangat cantik, Sarah… selama ini aku berpura-pura tak melihatmu. Tak dapat ku pungkiri, jika aku memang tertarik padamu sejak pertama aku melihatmu. Aku pikir, kau adalah kekasih adikku." Axel terkekeh pelan, masih dengan membelai lembut wajah Sarah.
"Ternyata aku memiliki kesempatan itu, aku akan mendapatkanmu, Hon.." Axel mengecup lembut kening Sarah, menarik selimut untuk menutupi tubuh merek, membalut kehangatan.
Tangan Axel terkepal kuat saat mengingat bekas luka di bahu Sarah, rasa penasaran kembali menyelimutinya.
"Aku akan bertanya padamu, nanti.."
Axel kembali mencium kening Sarah berkali-kali, lalu ia pun ikut terbuai ke alam mimpi.
Bersambung...
