Bab 12
Axel menatap Sarah yang masih mengunyah rotinya, dia duduk di lantai berhadapan dengan mesin pendingin, mulutnya mengembung karena penuh dengan isi makanan.
"Tak perlu makan dengan terburu-buru, Hon.."
Sarah hanya melirik Axel sekilas.
Sarah bukanlah tipe manusia yang suka di ganggu waktu makannya.
Hingga dia selesai memakan rotinya.
"Axel, boleh aku bertanya?"
"Hm, apa?"
"Kenapa kau sering memanggilku dengan sebutan Hon? Apa itu Hon?" Tanya Sarah penasaran.
"Honey.."
Sarah terdiam sejenak dan sedikit memalingkan wajahnya. Wajahnya menjadi panas.
"Honey?" Ulang Sarah.
"Iya, aku menyukai panggilan itu untukmu, Sarah."
"Hm, Axel.. boleh aku meminjam laptopmu?"
"Iya, kau pakailah."
Sarah mengangguk kecil, lalu berdiri dan mengambil laptop Axel di atas meja.
Sarah membuka laptopnya dan mengetikkan sesuatu.
Dia pun berpindah ke hadapan kaca jendela besar di kamar Axel. Lalu dia duduk di atas karpet bulu.
Axel menatap laki-laki yang muncul di layar laptop dengan senyum lebar. Wajahnya sangat tampan bak dewa Yunani.
'apa itu kekasih Sarah? Kenapa wajahnya jauh lebih tampan dariku?' batin Axel menggerutu.
"Apa kabar sayangku? Apa kau baik-baik saja disana?" Tanyanya dengan suara yang manis.
"Iya, Sarah baik-baik saja. Sarah merindukanmu."
Tangan Axel mengepal kuat, kenapa dia seperti orang ketiga disana?
"Sayang, apa kau ingin pulang? Jika iya, papi akan menyuruh anak buah untuk menjemputmu?"
"Tidak, Pi. Sarah akan pulang jika kalian memberikan adik untukku."
'apa? Papi? Itu papinya Sarah? Sial, kenapa dia tampan sekali dan terlihat seperti hot daddy.' batin Axel.
Papi Sarah hanya terkekeh disana.
"Jangan bercanda, dear.. kau sudah dewasa dan apa kau tak malu jika kau memiliki adik saat sudah dewasa seperti itu?"
"Hm, papi…" rengek Sarah.
"Sudah, sudah. Tidak perlu di bahas.."
"Papi, kalian bahkan sering bermesraan di hadapanku, kalian buat saja adik kecil untukku. Aku kesepian.." rengek Sarah.
Lagi-lagi, papi Sarah hanya terkekeh.
"Sayang, apa kau sedang bersama dengan Alex?"
Lalu Sarah menolehkan pandangannya ke belakang dan ya, dia melihat Axel disana. Dia seakan lupa jika Alex dan Axel adalah saudara kembar.
"Euhmm iya, aku dengannya."
Axel mendengus sebal mendengar jawaban Sarah yang berbohong.
"Sayang, papi akan pergi meeting dulu. Papi menyayangimu dan jaga dirimu baik-baik, dear."
Sarah mengangguk kecil lalu mematikan panggilan video dengan papinya.
"Hanya meminta adik kecil aku tidak di kasih, aku benar-benar kesepian maka dari itu aku tidak mau dirumah dengan melihat mereka bermesraan di hadapanku." Gerutu Sarah.
Axel hanya geleng-geleng kepala memandang Sarah.
Sarah menutup kembali laptop Axel dengan wajah cemberut.
"Sarah, kau ingin adik kecil?"
"Iya, aku ingin adik kecil, aku ingin bermain dengan adik kecil." Jawab Sarah cemberut.
"Baiklah, aku akan memberitahumu. Kemarilah.." ujar Axel menepuk kasur sebelahnya.
"Bagaimana caranya, Axel?"
Tanya Sarah penasaran yang kini duduk di sebelah Axel.
"Eum, bagaimana kalau kita buat adik kecil saja?" Goda Axel menaik turunkan alisnya.
"Axel, mesum!!!" Teriak Sarah dengan kesal.
Axel hanya terkekeh.
"Bukankah, itu bagus. Kau bisa memiliki itu seutuhnya."
"Diamlah, jangan membuat suasana hatiku semakin kacau."
Axel semakin terkekeh melihat Sarah yang cemeberut.
"Axel, buka pintunya. Aku ingin keluar, Alex pasti mencariku.." rengek Sarah dengan manja pada Axel, menurutnya, Sarah sangat menggemaskan jika dia merengek manja padanya, dan Axel menyukai itu.
"Kau ingin keluar Sarah?"
Sarah mengangguk semangat.
"Baiklah, ini dulu, Hon.." Sarah menatap bingung Axel yang menunjuk bibirnya
"Apa?" Tany Sarah dengan bingung.
"Cium aku, Hon…" jawab Axel santai.
"Tidak, tidak mau. Ini untuk suamiku nanti, jangan macam-macam."
Axel terkekeh.
"Kau tidak menolak ciumanku, semalam.. Sarah."
"Apa? Jadi semalam itu bukan mimpi?" Pekik Sarah.
"Ya, tadi malam bukan mimpi, Hon. Aku menciummu." Jawab Axel santai.
"Astaga, Axel.. mau mencuri ciuman pertamaku. Ini untuk suamiku, astaga… Axel.." rengek Sarah kesal.
"Jadi, aku mencuri ciuman pertamamu?"
"Iya, padahal itu untuk suamiku kelak. Astaga.."
"Baiklah, aku akan mengembalikan ciuman pertamamu, kemarilah."
Rayu Axel.
"Tidak,"
"Kemari, Sarah.."
"Tidak ma, hmmpt…" Axel menarik tengkuk Sarah dan melumat bibirnya lembut.
Sarah melotot lebar, tubuhnya menegang, dan melemas seketika.
Ciuman Axel benar-benar lembut. Hingga mereka kurang pasokan. Sarah mendorong tubuh Axel hingga ciuman itu terlepas.
Napas mereka terengah-engah.
Sarah memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kau mencurinya lagi, Axel.." cibir Sarah.
Axel hanya terkekeh mendengarnya.
"Axel, diamlah. Kau sudah membuat aku kena serangan jantung. Jantungku kenapa, seperti akan keluar. Astaga, Axel.. jantungku berdetak tak beraturan." Panik Sarah, lalu me.buat tawa Axel meledak.
Sarah menatap sinis Axel yang terbahak.
"Kau lucu sekali, Sarah.."
"Axel…", rengek Sarah manja.
"Sarah, kau keluarlah. Aku takut jika kau tak keluar aku tak bisa mengontrol diriku."
"Apa maksudmu?"
"Sudah, kemarilah.. aku akan memberi tahu kata sandi padamu."
Axel turun dari ranjang dan mendekati pintu. Dan Sarah mengikutinya.
"Sarah, aku akan memberitahu sandi pintu ini, kau tidak boleh memberitahu pada siapapun, begitupun dengan Alex, kau tidak boleh memberi tahunya. Apa kau mengerti?"
Sarah mengangguk.
"Baiklah, kau perhatikan ini, Hon.."
Sarah memperhatikan Axel memencet sandi dan terbukti, pintunya terbuka sendiri dengan sangat canggih.
Sarah tersenyum lebar lalu keluar kamar dengan girang.
Sarah menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Alex.
Namun Axel menahan lengannya.
"Sarah, kau tidak boleh macam-macam dengan pria lain selain aku, kau adalah milikku." Kata Axel pada Sarah.
"Apa?" Tanya Sarah polos.
"Sudah, kau harus ingat, kau tidak boleh macam-macam dengan pria lain, kau mengerti?"
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Sarah dengan senyum manis.
"Ingat, Sarah.. kau adalah milikku. Aku selalu mengawasi mu mulai sekarang."
"Iya, Axel. Kau bawel sekali.."
"Aku serius, Hon.. aku akan memberikan hukuman padamu jika kau melanggar ucapanku."
"Iya, iya.."
Lalu Axel pun menutup pintunya perlahan. Dan Sarah pun mendengus sebal karena Axel tak mengucapkan sepatah kata apapun.
Sarah pun membuka pintu kamar Alex perlahan, terlihat Alex masih tidur dengan nyamannya.
Sarah pun duduk di samping Alex, di ujung ranjang.
"Sarah.." panggil Alex dengan suara parau.
"Hm.. kau sudah pulang, Alex?"
Alex menaruh kepalanya di paha Sarah dan memeluk pinggangnya.
Sarah pun mengusap lembut kepala Alex.
"Iya, aku sudah pulang. Buktinya aku sudah ada disini, Sarah."
Sarah hanya terkikik geli mengingat pertanyaan dirinya yang membuat Alex mendengus sebal.
"Aku mencarimu, tapi kau tak ada di kamar."
"Iya, Alex. Aku tidur di kamar Axel,"
Axel menaikkan pandangan dan terkejut mendengar ucapan Sarah.
Matanya memicing melihat kening Sarah terluka.
"Sarah, ada apa dengan keningmu?" Tanya Alex dengan cemas, lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Euhm, ini… semalam ada seseorang yang datang, dia datang lagi. Dan, dia membenturkan kepalaku di meja, beruntung Axel datang tepat waktu."
"Astaga, Sarah… maafkan, aku. Aku tidak ada dirumah dan tidak bisa menolongmu."
"Tidak apa-apa, Alex. Aku bersyukur karena ada Axel dirumah ini." Ucap Sarah.
Alex menatap heran pada Sarah, ada perubahan pada Axel yang tiba-tiba mau memberi akses masuk ke dalam kamarnya pada orang lain, karena Alex yang berstatus sebagai saudaranya pun tidak pernah masuk tanpa seizin darinya.
Bersambung...
