Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

Alex baru saja pulang dari rumah sakit pagi ini, dia benar-benar terkejut mendapati kamar Sarah yang kosong dan dia panik saat melihat dapur dalam keadaan berantakan.

Sejak kemarin dia belum mendapatkan.kabar dari Sarah.

Alex mencoba menghubungi Sarah namun terkejut karena ponselnya berada dalam kamar.

Alex pun berjalan mondar-mandir di kamar Sarah.

Lalu dia berjalan menuju kamarnya, dengan tergesa-gesa.

Namun, dia sedikit tenang saat mendapat balasan dari nomor Axel, jika Sarah bersamanya sekarang.

Dia ingin mengatakan sesuatu nanti dengannya. Alex pun menghela napas lega.

Dia pun berjalan gontai menuju kamar mandinya, melepas dasi yang terasa mencekik lehernya.

Melepas semua pakaian yang melekat di dalam tubuhnya, dia pun mandi di bawah kucuran air.

"Sarah, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" Gumam Alex di sela-sela mandinya.

"Aku senang jika kau bisa dekat dengan Axel, dia tidak akan menyakitimu, Sarah. Aku akan membunuhnya jika dia menyakitimu lebih dari yang kemarin." Gumam Alex.

***

Sarah menggeliat, dan dia menggeram tertahan seperti mendesah.

Membuat Axel menatapnya tajam, padahal Sarah masih memejamkan matanya.

Sarah menggeram karena bahunya terasa sakit saat menggeliat. Sarah pun menyimpan wajahnya di ceruk leher Axel. Merasa sangat nyaman dengan tidurnya.

Deru napas Sarah sangat terasa di ceruk lehernya. Axel menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Sarah.

Sarah pun seperti tersadar, dan langsung membuka matanya perlahan. Memerjap-erjapkan matanya, dan dia terpekik saat dia sudah sadar jika dirinya sedang berada dalam rengkuhan seseorang.

Saat Sarah ingin menjauh, orang itu justru merengkuhnya semakin erat.

Sarah menaikkan pandangan saat ternyata orang itu sedang menatapnya.

"A-axel.." gugup Sarah.

"Morning.." sapa Axel yang terlihat biasa saja.

"Eum, A-axel, ini k-kenapa aku bisa, ehm maksudku, i-ini kenapa k-kita bisa seperti ini?" Tanya Sarah masih dengan kegugupannya.

"Ya, semalam aku pindah kesini karena aku tak nyaman tidur di sofa. Dan, aku tertarik tidur dengan posisi memelukmu, Sarah."

Wajah Sarah memerah dan dia menurunkan pandangannya.

Tak berani menatap wajah tampan Axel. Dia takut, jika dia akan jatuh semakin dalam pada pesona Axel.

"Sarah, apa ini masih sakit?" Tanya Axel menunjuk kening Sarah.

"Eum, iya.. tapi, rasa peningki sudah menghilang."

"Aku akan menyembuhkan ini.." ucap Axel meyakinkan.

"Benarkah? Bagaimana caranya, Axel?"

"Seperti ini,.." Axel menarik wajah Sarah mendekat dan mengecup lembut kening Sarah yang terluka, tubuh Sarah menegang dan wajahnya memerah.

"A-axel…"

Axel terkekeh melihat Sarah yang begitu gugup berada di dekatnya.

"Kau gugup, Sarah?"

"Axel, aku harus kembali ke kamarku." Sarah terlihat salah tingkah dan segera mendorong tubuh Axel hingga menjauh.

Axel benar-benar tak menyangka jika Sarah akan membuatnya gemas seperti ini.

Sarah pun berbalik menatap Axel saat dia ingin membuka pintu, ya pintu kamar itu tidak semua orang bisa membukanya. Hanya Axel yang tahu, Axel memakai sandi di pintunya. Pintu yang sangat canggih, kamar yang kedap suara dan penuh dengan keamanan.

"Kenapa Sarah?" Axel menatap Sarah dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Axel, aku tidak bisa membuka pintunya. Tolong bukakan…"

"Begitu ya? Bagaimana kalau kau menciumku dulu, dan aku akan membuka pintunya.", Goda Axel dan sukses membuat Sarah melotokan matanya.

Sarah menatap geram pada Axel yang kini sedang tersenyum licik.

"Axel, jangan bercanda. Cepat bukakan pintunya, aku ingin keluar dan aku harus mandi."

"Kau mandi saja di kamar ini, aku akan memandikanmu."

"Axel, aku tidak suka bercanda seperti ini. Cepatlah, aku harus ke kampus."

"Tidak, Sarah. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kampus dalam keadaan masih seperti ini. Begitupun dengan Alex, dia tidak akan mengizinkannya. Jadi kau mandi saja di kamar mandiku, kau boleh memakai bajuku."

Sarah menatap aneh pada Axel, kenapa Axel berubah menjadi lebih hangat dari biasanya.

Sarah menghentakkan kakinya lalu berjalan ke kamar mandi, di melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya.

Sarah pun mandi di bawah kucuran air. Rasanya menyegarkan, dan dia sedikit merasa perih di bagian keningnya.

Serta, dia kesusahan untuk menggosok punggungnya, namun dia biarkan saja.

Sarah berjalan keluar kamar mandi menggunakan jubah mandi milik Axel. Dia melihat Axel yang sedang memainkan ponselnya.

"Eum, Axel… aku, maksudku.. bolehkan aku meminjam bajumu?"

Axel menatap Sarah dari ujung atas hingga bawah. Membuatku salah tingkah.

Tak lama kemudian dia pun berdehem.

"Ya, Sarah.. kau carilah di lemariku. Cari saja mana yang ingin kau pakai." Jawab Axel dengan mengalihkan pandangannya.

Sarah pun mengangguk lalu berjalan menuju lemari Axel.

Sarah membuka lemari itu dan terkejut, melihat pakaian Axel lebih banyak yang berwarna hitam.

Sarah pun mengambil selembar kaos milik Axel. Sarah berjalan ke kamar mandi lagi dan beberapa.detik kemudian dia keluar lagi.

"A-axel.." panggil Sarah dengan ragu.

Axel menatapnya dengan memicingkan mata.

"Ada apa?"

"Eum, aku bisa minta tolong padamu? Tapi, kau harus menutup matamu."

Axel menaikkan sebelah alisnya.

"Apa? Aku harus menutup mata? Apa itu…"

"Tolong pasangkan pengait braku." Jawab Sarah pelan membuat Axel membelalakkan matanya.

"A-apa?" Tanya Axel gugup.

"Axel, maaf. Aku tidak berniat menggodamu tapi demi Tuhan, aku tidak bisa memakainya karena bahu kananku sakit sekali untuk bergerak."

Axel pun menetralkan dirinya, dia tersadar jika Sarah pasti akan kesusahan karena bahunya memang ada sedikit masalah.

"Baiklah.."

Sarah sedikit terkejut dan gugup, mendengar jawaban Axel.

"T-tolong kau tutup matamu." Ucap.sarah pada Axel dengan gugup.

"Hem.." Axel hanya menjawab dengan gumaman.

Lalu Axel berjalan mendekati Sarah, Sarah berbalik badan dan kini Axel telah berdiri di belakangnya.

Sarah menurunkan jubah mandinya hingga ke perutnya.

"Axel, kau tutup matamu." Kata Sarah mengingatkan Axel lagi.

"Kau cerewet sekali."

Axel tidak menutup matanya, dia justru memandangi punggung mulus Sarah, namun dia terkejut saat melihat sebuah tanda luka di bagian bahu kanannya, ada bekas jahitan yang lumayan cukup panjang. Rasa penasaran Axel semakin menjadi, dia ingin mengorek lebih dalam lagi tentang Sarah.

Axel pun mengaitkan pengait Sarah.

"Ehm, Axel.. terimakasih."

"Hem.." Axel hanya bergumam, lalu berjalan kembali dan merebahkan tubuhnya lagi di ranjang.

Dia memejamkan matanya menggunakan lengan.

Sedangkan Sarah, kini dia sudah selesai memakai pakaiannya.

Menggunakan kaos oblong milik Axel yang kebesaran dengan panjang sampai di atas lutut, membuatnya terlihat sexy.

Axel menyingkirkan tangannya saat menghirup aroma sabun di dekatnya, dia mengedarkan pandangannya dan sedikit terlonjak kaget saat melihat Sarah ternyata sudah berbaring di sebelahnya.

"Axel, apa kau mempunyai makanan di kamar mu?"

Axel pun berdehem, menetralkan dirinya. Dia benar-benar merasakan sesak di bagian celananya. Melihat Sarah seperti itu membuat gairahnya naik.

"Axel, kau melamun?"

Axel tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya.

"Kau cari saja di kulkas kecil itu, makanlah yang ingin kau makan."

Sarah tersenyum lebar dan berjalan girang menuju mesin pendingin itu.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel