Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

03-SENSUALITY

"Telat aja terus." sindir seorang pria yang berprofesi sebagai MUA salah satu agensi model ternama di metropolis saat melihat kedatangan Hans.

"Gue kan orang sibuk. Wajar dong kalau gue telat." timpal Hans santai. Ia memasuki kloset pria di sebelah ruang rias untuk berganti pakaian dengan setelan yang sudah disiapkan untuknya.

"Kalau terus-terusan kayak gini, pihak agensi bakalan mutusin kontrak kerjasama kita Hans!" teriak lelaki kemayu itu sembari berkacak pinggang. "Mendingan lo maskeran aja daripada marah-marah mulu. Kuping gue udah denyut dengarin semua ceramah lo, Lady." Hans berjalan melewati asisten pribadinya yang kini tengah menatap jengah ke arah ruang gantitempat Hans berada.

"Lo itu jangan seenaknya ya. Kalau lo sampai kehilangan kontrak sama agensi, gue juga bakalan kena imbasnya." ujar pria yang bernama lengkap Ladyboiz Davino Arqueta itu dengan sorot mata berapi-api.

Hans memilih bungkam, enggan menjawab omelan pria kemayu yang sudah menjadi asisten pribadinya selama dua tahun belakangan ini. Tidak akan ada penyelesaian kalau sudah terlibat perdebatan dengan Lady. Lagipula, agensi tidak mungkin membatalkan kontrak hanya karena keterlambatan Hans. Mereka harus membayar ganti rugi dengan nominal yang fantastis apabila melakukan hal tersebut. Itu sebabnya Hans memilih untuk bersikap lebih santai saat menjalani kontrak kali ini.

"Lo sebenernya niat nggak sih jadi model?!" omel Lady sambil menata rambut Hans. "Lebih baik lo nggak usah ngambil kontrak, kalau lo sendiri emang nggak berniat untuk ikut pemotretan." Kini jemari lentik itu dengan lihai menyemprot cairan spray untuk mempertahankan tatanan rambut Hans yang sudah apik. "Oh, gue paham sekarang! Lo pasti belagu karena sekarang lo jadi populer dan banyak tawaran, kan?!" sambungnya nyalang.

Hening.

Hans hanya fokus dengan ponselnya, sesekali ia tertawa kecil menatap benda pipih ditangannya. Melihat hal itu, Lady semakin murka terhadap pria yang tengah ia dandani sekarang. Bukannya mendengar nasihat penting yang Lady berikan untuk keberlangsungan karirnya, Hans malah memilih memainkan ponselnya.

"Hans! Hans! Lo dengerin gue nggak sih?!" Lady menyentak lengan Hans cukup keras hingga membuat pria itu terkejut. Untung saja ponselnya tidak terlepas dan jatuh dari genggamannya. "Apa-apaan sih lo?! Kalau lo ngerasa capek atau keberatan jadi asisten pribadi sekaligus make-up artis gue, lo bisa langsung mengundurkan diri. Gue sama sekali nggak keberatan." bentak Hans.

Cukup.

Hans benar-benar muak sekarang. Ia sudah bosan diatur terus menerus oleh pria kemayu yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar layaknya seorang pria tulen.

Lady yang tadinya emosi kini malah gemetaran akibat bentakan Hans barusan. Hans tidak pernah marah sampai sekasar ini kepada-nya. Itu artinya tindakannya kali ini mungkin sudah melewati batas. Tapi, Lady hanya ingin karir Hans tetap gemilang tanpa harus ada masalah yang akan menimpanya.

"Bu..bukan gitu maksud gue, Hans." cicitnya ketakutan. Hans beranjak menuju ruangan pemotretan tanpa menghiraukan ketakutan Lady. "Hans.. gue mohon. Jangan pecat gue! Gue cuma mau yang terbaik buat lo." Lady berusaha mensejajarkan langkah dengan Hans yang terus berjalan seolah menghindarinya. "Gue nggak maksud buat ngebentak lo, Hans. Please, dengerin gue dulu." ujarnya memohon.

Hans menghentikan langkahnya, menatap Lady yang tengah menunduk menyesali perbuatannya. Ia menghela nafas kasar, "Ini pertama dan terakhir kalinya lo bertindak semena-mena sama gue. Sekarang, beliin gue minuman dingin di kantin. Gue haus banget." Lady menengadah kemudian mengusap air matanya menatap pria dengan tinggi badan 180 cm itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hans memang sebaik itu. Walaupun tingkah laku Lady tadi sudah sangat melewati batas, tetapi Hans masih bisa memaafkannya. Seharusnya Lady bersyukur bisa bertemu dengan Hans yang bahkan tidak pernah menganggap dirinya sebagai asisten seperti model pada umumnya.

Ah, lebih baik ia segera menuju food court di lantai dua. "5 menit. Lo bisa bertahan selama 5 menit dan gue bakalan bawa poceri sewot buat lo." ucapnya kemudian melangkah menuju lift. "Dasar lekong. Gitu aja mewek. Drama banget sih! Padahal gue cuma pura-pura biar dia kapok." gumam Hans pada dirinya sendiri setelah kepergian Lady.

•••

"Berapa cuan yang lo terima dari Rico?" ujar wanita dihadapan Key sambil menaikturunkan alisnya. Memastikan bahwa sahabatnya pasti telah menghabiskan malam yang panjang dan bergairah dengan bayaran fantastis. "Sepuluh juta." sahut Key datar. Ia memilih menyantap makanan yang tersaji di piringnya ketimbang membahas Rico brengsek yang mengacaukan hari indahnya.

"What the fummphh." jerit Diana tertahan, untung saja Key lebih dulu membekap mulut sahabat brengseknya itu sebelum seluruh pengunjung menyeret mereka berdua keluar dari tempat ini.

"Lo apa-apaan sih?! Ini tempat umum Diana! Handle mulut bejat lo itu!" bentak Key yang dibalas cengiran khas Diana Galatia. "Hehe maaf, tapi lo beneran cuma dibayar sepuluh juta sama Rico?! It's impossible Key!" ujar Diana dengan sedikit berteriak.

Lagi-lagi beberapa pengunjung menatap ke arah keduanya dengan tatapan menistakan. Key hanya tersenyum menatap orang-orang yang kini tengah berbisik-bisik mencemooh dirinya.

Manusia akan selalu seperti itu, menebak dan menebak. Lalu berasumsi akan sesuatu yang belum tentu pasti. Padahal Diana tidak menyebutkan dengan jelas mengenai transaksi yang melibatkan pembayaran sepuluh juta antara Rico dan Keysha. Tapi, manusia disekelilingnya, yang bahkan tidak mengenalnya sama sekali langsung menebak bahwa ia adalah seorang wanita yang tidak benar alias wanita panggilan.

Bravo!

Mereka benar. Key bisa dibilang seorang wanita panggilan. Tetapi, pertanyaannya kalau yang berada di posisi Key adalah wanita alim seperti Kiran, adiknya. Apakah mungkin mereka juga berasumsi demikian?

"Keysha Anjani!! Hey! Are you okay?!" Teguran Diana yang lebih tepat disebut bentakan itu sukses membuat lamunan Key luntur seketika. "Lo nggak bisa sehari aja ngomongnya kalem?! Jantung gue selalu berontak kalau ketemu sama lo!" sindir Key sengit.

"Ya abisnya lo bikin gue kaget sama nominal cuan Rico. Suatu kemustahilan seorang Key yang notabene primadona di Boston bisa dibayar seminim itu. Cuan yang bahkan jauh dibawah uang jajan lo, Key." Keysha mendengus pelan, lebih baik kalau ia menutup mulutnya sejak awal. Menjawab pertanyaan Diana sama saja dengan membahas lelaki bejat itu lagi.

Diana menatap sahabatnya lekat-lekat, pasti ada sesuatu yang tidak beres diantara Key dan Rico. Dua belas tahun lamanya Diana mengenal Key, wanita itu tidak mungkin berdiam diri hanya karena masalah sepele. Sepertinya Rico tidak memuaskan Key sepenuhnya seperti klien-klien sebelumnya.

"Key.." Diana menggengam tangan sahabatnya itu, menyalurkan kobaran semangat yang ia miliki sebanyak mungkin agar Keysha kembali tertawa dan bersinar seperti biasanya. "Lo harus berhenti dari kebiasaan itu." ujar Diana selembut mungkin agar Keysha tidak tersinggung.

Sejak awal, Diana sudah mengetahui penyebab Key terjerumus ke dalam lembah hitam dan berulangkali pula ia berusaha membujuk Key agar melepaskan diri dari sana. "Gue bakalan lepas setelah gue nemuin orang yang tepat dan nyelesain tugas yang papa beri." Key melepas genggaman tangan Diana dan mengalihkan pembicaraan dengan memainkan ponselnya.

Gagal.

Bujukan kesekian kalinya berakhir dengan penolakan mentah-mentah dengan alasan yang sama selama bertahun-tahun. "Ini udah tahun ketiga dan lo belum juga nemuin dalang dibalik transaksi itu Key. Mau sampai kapan?" ujar Diana. "Lo juga sampai kapan mau ceramahin gue?!" Key menyorot sengit.

Keysha Anjani paling benci diceramahi oleh siapapun. Ini hidupnya dan terserah bagaimana ia menjalaninya. Siapapun tidak perlu ikut campur apalagi sampai menasehatinya. Key selalu punya cara tersendiri dalam menyelesaikan semua masalahnya.

"Oke. Gue nggak bakalan ceramahin lo. Tapi setidaknya biarin gue bantuin lo, Key." pinta Diana. Sebenarnya sudah berulangkali Diana menawari Key bantuan, tetapi wanita bermanik safir itu selalu menolak. "Nanti ada saatnya ketika gue perlu bantuan dan lo harus bantuin gue." jawab Key sambil memainkan ponselnya.

"Dan gue masih nunggu saat itu tiba, Key." Diana tersenyum lembut menatap sahabatnya yang kini tengah mengabaikan keberadaannya. Sungguh bahkan ketika Key sendiri memintanya untuk menyerahkan hidupnya, Diana dengan senang hati akan menurutinya. Key adalah satu-satunya orang yang Diana miliki di dunia ini selain Althof, kekasihnya.

Drrrtt

Getaran ponsel serta gelembung pop-up yang muncul di layar ponselnya menunjukkan ada sebuah pesan baru di kotak masuk Key.

Unknown Number :

18, Blue Lagoon

I'm waiting for you, K

Key mengemasi barangnya secara terburu-buru setelah mendapat sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Gerakan Key yang dengan asal memasukkan semua barangnya ke dalam tas membuat Diana mengernyit heran, sebenarnya ada apa dengan wanita ini.

Beberapa menit yang lalu, ia terlihat seperti orang yang kehilangan gairah hidup dan sekarang ia terlihat begitu antusias. "Mau kemana lo?" tanya Diana penuh selidik. "Gue titip bill. See you." Setelah mengecup kedua pipi Diana, Key bergegas menuju tempat sang pengirim pesan.

"Gue nggak bisa biarin Key terus-terusan kayak gini. Gue harus tahu kemana dan sama siapa dia pergi. Setidaknya gue bisa jamin dia nggak kencan dengan orang yang salah lagi." ujar Diana sambil mencari nomor seseorang dalam daftar kontaknya lalu mendial nomor tersebut.

"Halo Al? Gue perlu bantuan lo."

"..."

"Tolong lacak keberadaan orang yang gue kirim nomornya."

"..."

"Oke. Sore ini gue kesana."

Diana tersenyum usai menutup panggilannya. Kali ini ia akan mencari tahu tentang identitas orang yang Key temui. Ia akan berusaha semaksimal mungkin agar Key tidak jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya.

•••

"Akhirnya kamu balik setelah sekian lama pergi tanpa alasan yang pasti." Pria dengan setelan tuxedo hitam itu berbalik, menatap kearah asal sumber suara sendu itu mengalun. "Aku kembali untukmu, K." Ia melangkah, mendekati wanitanya yang juga bergerak ke arahnya.

Hingga keduanya berhenti di satu titik dan saling memeluk satu sama lain. Menyalurkan kerinduan yang begitu membara diantara mereka. "Aku benar-benar merindukan mu, Key. Sungguh merindukanmu melebihi apapun." Elias memejamkan matanya, mendekap tubuh yang menjadi favoritnya selama ini.

Perpaduan tembakau dan musk menyeruak memasuki indra penciuman Key. Aroma khas seorang Elias Miller yang begitu ia rindukan selama beberapa bulan belakangan, kini ia hirup kembali. "Aroma kamu tetap sama." gumam Key ditengah pelukan hangat keduanya.

Elias mengecup puncak kepala Key dengan lembut, memastikan wanitanya tetap merasa nyaman saat bersamanya. "Aku akan tetap menjadi Elias yang selalu tergila-gila dengan Keysha Anjani. You're the only one, K." Key mendongak, menyorot lensa kecoklatan itu dengan tatapan yang benar-benar sulit diartikan. Bahkan setelah 6 bulan, hanya Elias yang mampu membuat hatinya kembali menghangat seperti sekarang.

"Buka lemari itu dan lihatlah apa yang aku hadiahkan untukmu." Elias melepas pelukan mereka dan menyerahkan kunci lemari jati dengan aksen ukiran jepara yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Key berlari kecil ke arah lemari kemudian memutar kunci dan menarik pintu lemari sebelum akhirnya berteriak kegirangan setelah menemukan lingerie satin yang ia idam-idamkan selama ini.

"Pakailah dan mari kita selesaikan hari ini dengan sesuatu yang menyenangkan." Elias mengerling genit, mengisyaratkan bahwa hari ini tidak akan berakhir dengan cepat bagi keduanya. Key menatap lingerie satin keluaran salah satu brand ternama itu dengan wajah yang begitu antusias. Hingga sepersekian detik ia menyadari bahwa ada yang salah disini. "Bagaimana kau mengetahui bahwa aku menginginkan lingerie ini? Aku bahkan tidak sempat untuk memberitahu mu setelah hari itu." Key mengalihkan tatapannya menuju Elias, apakah pria ini menguntitnya selama 6 bulan belakangan?

"K, kamu itu calon pendamping ku. Jadi, aku nggak perlu bertanya kepada siapapun atau bahkan menyewa detektif untuk mengetahui apa kemauan mu, bukan?" Lagi-lagi jawaban yang begitu manis. Key bahkan belum memikirkan mengenai bagaimana ia akan menolak Elias nantinya. Jujur, ia tidak memungkiri kenyataan bahwa dirinya juga menyukai Elias.

Tetapi pernikahan bukanlah sesuatu hal yang Key impikan dalam hidupnya. Baginya pernikahan hanyalah sebuah ikatan yang menyulitkan. Ikatan yang pada akhirnya hanya membelenggu kebebasan yang ia dapatkan selama ini. Kalau tujuan dari sebuah pernikahan hanyalah untuk memperoleh keturunan, Key bisa dengan mudah menggelontorkan sejumlah rupiah di bank sperma lalu melakukan inseminasi buatan.

Selesai.

Mudah bukan? Toh, ia juga akan memiliki anak biologis tanpa harus mengorbankan kebebasan dan ketenangan hidupnya.

Elusan lembut di surainya membuat Key tersentak. "Aku akan tetap menunggu kamu, K. Bahkan kalau kamu menolak sekalipun, aku akan tetap menunggumu." Ini yang Key takutkan, Elias memang tidak pernah memaksanya.

Tetapi meninggalkan seseorang yang begitu mencintaimu hanya demi kebahagiaanmu sendiri rasanya amat sangat egois. Key tidak bisa menghabiskan hidupnya lagi dalam rasa bersalah. Tidak untuk kedua kalinya.

"Ayolah, K. Aku tidak mau membiarkan kerinduanku harus tertunda lagi karena lamunan mu atau sepertinya aku harus membawa mu ke dalam bathtub dan bercinta disana?" Satu bantal mendarat mulus di kepala Elias sebagai balasannya. Namun pria itu hanya tertawa terbahak-bahak. "Kamu emang paling tahu caranya maksa aku mandi." sinis Key sambil membawa peralatan mandinya.

"Kamu benar, K. Aku bahkan tahu cara memaksamu agar jatuh dalam pelukanku dan seutuhnya menjadi milikku." gumam Elias setelah bayangan Key menghilang dibalik pintu toilet.

•••

Instagram : @aghnialaqesya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel