02 - SENSUALITY
"Kamu terlihat begitu menawan hari ini."
Tangan kokoh itu menelusuri wajah cantik yang tengah duduk di pangkuannya sekarang. "Ayolah, jangan menggodaku seperti itu, Ric." ucap Key dengan nada sensual.
Key menatap pria yang belakangan ini menjadi klien bercintanya dengan intens. Jemari lentik miliknya mulai membelai kejantanan Rico yang sudah sangat mengeras di bawah sana. Perlahan ia mulai memijit benda tumpul yang selalu memberinya kenikmatan tiada tara dan membiarkan gairah mulai menjalari setiap tubuh Rico.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tapi yang jelas sekarang keduanya tengah berpangutan, saling menelusupkan lidah, mengabsen setiap inchi rongga mulut masing-masing. Menghantarkan sensasi kenikmatan yang terus membakar keduanya dalam birahi.
"Kamu harus tau bahwa aku benar-benar mabuk akan rasa manis dari bibir mungil ini." ucap Rico di sela-sela ciuman panas keduanya. Rico tak henti-hentinya mengigiti, mengecup serta mengulum bibir Key hingga membengkak.
Perlahan Key mendorong dada Rico agar menjauh, membiarkan paru-parunya menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah cumbuan panas selama 10 menit itu. Dadanya serasa terbakar, begitu pula dengan gairahnya tengah berkobar-kobar sekarang.
Rico meremas pelan pinggang Key, menggesekkan kewanitaan Key pada miliknya yang sudah menggembung dibalik celana yang ia kenakan. "Ahh.. Key puaskan saya." gumam Rico serak. Tatapan keduanya benar-benar diliputi gairah, hingga kemudian Key bersimpuh di bawah Rico.
Menggerakkan telunjuknya membentuk garis lurus diatas kejantanan Rico secara berulang-ulang, membuat sang empu menggeram nikmat.
'Key.. j.ang..an be.g..itu. ah..h" desah Rico. Tangan nakal Key berpindah mengelus paha kekar Rico kemudian merayap ke atas dan menarik resleting celana milik Rico hingga terjatuh. Menampilkan siluet benda perkasa yang diselimuti boxer hitam bermerek calvin klein, dengan terburu-buru Key menarik penutup terakhir tubuh bagian bawah Rico dan melemparnya asal.
Pandangannya jatuh pada kejantanan Rico yang sudah mengacung tegak seolah menantang Key untuk segera memuaskannya. Jarinya terulur mengenggam dan mengurut kejantanan Rico perlahan sembari mengecupi dua bulatan yang menjadi titik rangsangan terhebat pada pria. Membiarkan pemuda diatasnya semakin menggila karena ulahnya, Key menggoyangkan kejantanan Rico kemudian memasukkan benda tumpul itu ke dalam mulut mungilnya.
"Eumh... Ahh... Key.. mu..lut..mu. nik..mat." Rasanya Rico ingin terbang hingga ke awan, sensasi hangat dan lembut saat kejantanannya memasuki rongga mulut Key benar-benar begitu nikmat. Apalagi Key begitu ahli dalam memanjakan miliknya. Tangan Rico meremas rambut Key perlahan, mendorong miliknya agar masuk lebih dalam.
Jilatan Key semakin menggila hingga membuat Rico memaju mundurkan miliknya dengan tempo yang lebih cepat. Rasanya sebentar lagi ia sampai pada pelepasannya, "Ahhhh... Eumhh... Keysha kamu luar biasa.." puji Rico sembari mengurut kejantanannya yang tengah meledakkan cairan percintaan hingga membasahi wajah cantik Key.
Setelah berhasil memuaskan partnernya, sekarang gilirannya untuk mengecap kenikmatan. Namun baru saja Key akan bangkit suara ketukan menginterupsi gerakannya. Rico tercekat menatap Key, kemudian mendorong wanita itu agar tetap berada di kolong meja kerjanya. Ia merapikan kemejanya lalu memajukan kursi hingga menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Permisi pak."
Seorang mahasiswa berkaos merah dengan tato di lengan dan tindik memasuki ruangannya. "Apa yang bisa saya bantu?" Nada bariton milik Rico memecah keheningan diantara keduanya.
"Begini pak, saya sudah menyelesaikan skripsi saya tetapi dosen pembimbing saya sangat sulit untuk ditemui dan ini sudah berlangsung selama dua bulan berturut-turut. Saya minta pergantian dosen pembimbing pak."
"Mengenai pergantian dosen pembimbing itu bukan wewenang saya. Saya rasa kamu cukup paham harus menjumpai siapa yang bisa menangani masalah ini." ujar Rico sembari menggeser posisi duduknya perlahan. Benar-benar tidak nyaman rasanya saat kau baru saja mencapai pelepasan dan cairan milikmu masih menetes dibawah sana.
"Saya sudah menjumpai kaprodi dan tidak memperoleh hasil apapun. Jadi saya berinisiatif untuk menjumpai anda." Baiklah, sepertinya kali ini Rico harus mencari cara agar pria dihadapannya segera pergi.
Sementara dibawah sana, Key menghela nafas frustasi. Kolong meja Rico benar-benar sempit, ia tidak dapat bergerak leluasa dibawah sana. Butiran keringat mulai membasahi tubuh sintal Key, sementara itu kewanitaannya berkedut-kedut meminta untuk segera dipuaskan.
Selalu saja begini, kenikmatan yang ia raih harus selalu tertunda. Ada saja penghambat baginya untuk mencecap kepuasaan saat bercinta dengan klien-kliennya. Tidak ada jalan lain, ia harus mencapai kepuasannya sendiri sekarang. Ia menyibak rok berwarna nude yang ia kenakan sembari melepas kancing atas kemeja satin miliknya. Perlahan ia menelusupkan kedua jarinya, mengaduk-aduk lubang kenikmatan miliknya sembari menghirup dalam-dalam sperma milik Rico yang masih membekas di wajahnya.
"Begini saja, tinggalkan nama dan nomor handphone kamu disini." Rico menyodorkan selembar kertas dan sebuah pena kepada mahasiswa yang tengah menatapnya lekat. Pemuda itu meraup pena yang diberikan Rico dan segera membubuhkan informasi mengenai dirinya diatas secarik kertas polos tersebut.
"Hans Elisio Hartawan." ucap Rico sembari membaca nama yang tertera disana. "Baiklah saya akan kabari kamu mengenai hal ini secepatnya." ujar Rico meyakinkan. "Saya tunggu kabar baik dari bapak. Kalau begitu saya permisi. Selamat siang." Pemuda itu bangkit dan meninggalkan ruangan dekan.
Setelah kepergian Hans, Rico memundurkan kursinya. Menatap Key yang tengah memporak-porandakan lubang kenikmatannya dengan tempo yang begitu cepat. Pinggang seksi itu mulai melengkung ke atas, pertanda bahwa orgasme akan segera melanda gadis pemuas nafsunya. Tepat saat Key akan mencapai pelepasannya, Rico dengan sigap menarik tangan Key lalu menjilatinya perlahan.
"Apa apaan sih kamu!" jerit Key frustasi. "Siapa bilang kamu bisa orgasme tanpa aku?" sinis Rico.
"Bajingan kamu Ric!" bentak Key. "Oh jadi sekarang, kamu berani bentak-bentak aku?!" ujarnya sambil mencengkram rambut Key kuat, menarik wanita itu keluar dari tempat persembunyiannya. Key berusaha melepaskan cengkraman tangan Rico hingga menyebabkan beberapa helai rambutnya rontok.
"Aku memang wanita panggilan. Tapi kamu harus ingat Rico nggak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Aku punya kekuasaan yang lebih besar untuk menjatuhkan kamu!" ancam Key.
"Kamu itu cuma perempuan murahan yang beruntung bisa dapat klien se-bonafit aku." ucap Rico angkuh. Key menatap jengah pada pria angkuh yang tengah menghinanya.
Seringai licik tercetak di wajah cantik Keysha, perlahan jemari lentiknya mengusap kepala kejantanan Rico. "Inikan yang kamu mau sayang?" ujarnya selembut mungkin.
Kemudian ia menggengam kejantanan Rico sekeras mungkin dan mengigitnya. Membiarkan sensasi ngilu tiada tara menghujami pusaka pria sombong yang sudah mengganggu pelepasannya. "Keeeyyyy... Kamu.. Gi..laa!" jerit Rico tertahan. "Mampus lo! Makan tuh bonafit!" ejek Key sambil mendorong Rico yang tengah mengerang kesakitan kemudian berlalu meninggalkan ruangan sialan yang sudah memberinya pengalaman buruk.
•••
Hans menatap ruangan yang baru saja ia masuki dengan tatapan yang sulit diartikan. Ruangan itu benar-benar kentara akan aroma percintaan. Tidak mungkin indra penciumannya salah. Lagipula samar-samar ia melihat pakaian dalam pria merek salah satu brand terkenal tergeletak di dekat meja kerja dekannya.
Tidak mungkin seorang dekan seperti Rico yang kredibilitasnya begitu terkenal di kampus melempar pakaian dalamnya sembarangan bukan?
"Nggak mungkin gue salah. Pak Rico pasti berduaan sama cewek di dalam ruangannya." bisik Hans pada dirinya sendiri. Tapi wanita mana yang berani bercinta bersama Rico di dalam sana. Rasa ingin tahu Hans begitu tinggi kali ini, entah sehebat apa daya tarik wanita yang sedang memuaskan gairah Rico di dalam sana.
"Sialan! Gue kok jadi kepo banget sih!" gumam Hans. "Ck. Mending gue balik aja, ngapain juga gue urusin mereka." Hans menyugar rambutnya frustasi, lalu bergegas meninggalkan ruangan dekan.
Brakk
Hans memutar tubuh menghadap asal sumber kegaduhan. Seorang wanita dengan penampilan acak-acakan dan nafas ngos-ngosan keluar dari ruangan dekan. Tunggu dulu. Bukannya itu ruangan dekan fakultas psikologi, ruangan RICO!! Wanita dengan dua kancing atas kemeja terbuka dan rok diatas lutut yang sedikit tersingkap menampilkan kaki jenjang nan mulus itu adalah penyebab kadar ke-kepoan Hans meningkat sedari tadi.
"Dasar bajingan. Padahal gue hampir aja orgasme." maki Key pelan. Dia berlari kecil meninggalkan ruangan terkutuk itu tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hingga tubuhnya terpelanting setelah menabrak sesuatu yang begitu kokoh. "Awshh.. Sialan! Dasar tembok gatau diri!" omel Key sembari mengusap bokongnya yang ia yakini memerah karena berbenturan cukup keras dengan lantai dibawahnya.
Key memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakit, hingga tanpa sadar ia mengigit bibirnya sensual membuat pria dihadapannya berdehem canggung. "Gue bukan tembok." ujar Hans datar. Key membuka matanya, menatap sosok yang tengah berjongkok menatapnya.
Tampan.
Satu kata yang terlintas dalam benaknya saat menatap Hans.
Hans mengibas-ngibaskan tangan kokohnya di wajah Keysha. "Mbak masih siang. Gue emang ganteng banget mbak, tapi jangan sampai mbak jadi halu." ujar Hans yang kemudian mengundang gelak tawa Keysha. Kali ini Hans yang terdiam beberapa detik menatap Key, perpaduan tatapan kagum sekaligus horror. "Sialan! Mbaknya beneran nggak waras."
Saat Hans bangkit dan hendak pergi, sebuah tangan lentik dan lembut menahan kepergiannya. "Bantuin saya. Saya waras kok" pintanya manja. Hans menatap wanita yang tengah cengar-cengir tidak masuk akal itu horor lalu tatapannya jatuh pada segumpal benda kenyal yang menyembul dari balik kemeja satin yang dikenakan wanita itu.
Shit!
Bisa-bisanya wanita ini keluar dari ruangan dekan dengan penampilan seperti ini.
Tapi tunggu dulu, bukankah tadi tidak ada siapapun di dalam sana. Lalu wanita ini?
Elusan lembut di tangan Hans menyadarkan pria itu. Dengan sekali tarikan, Key terbangun dari posisinya dan menubruk dada Hans. Membuat keduanya saling melempar pandang. "Saya Keysha Anjani dan kamu" ujarnya sensual sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Hans.
Oh tuhan!
Wanita ini sepertinya titisan aprodhite. Lihat saja kelakuannya, baru saja ia bercinta dengan dekan fakultasnya dan kini ia tengah menggoda Hans.
Hans harus mengendalikan dirinya, ia tidak boleh terpancing oleh tingkah laku gadis asing ini. Perlahan ia menjauhkan tubuhnya, lalu dengan sigap menuruni anak tangga meninggalkan wanita titisan aprodhite yang sepertinya kehilangan kewarasan sejak memasuki ruangan Rico.
"Hans Elisio Hartawan. Aku menunggumu di ranjang ku." ujar Key memandang kepergian Hans sambil mengigiti jarinya. "Sepertinya setelah ini aku harus mencari klien baru." ujarnya menyusul kepergian Hans.
