04 - SENSUALITY
•••
"Ini sudah sebulan dan mana hasil yang ia janjikan pada saya?!"
Suara bariton itu menggelegar, membuat seisi ruangan tertunduk dalam.
"Harusnya sejak awal saya tidak mempercayakan masalah ini pada anak sialan itu! Kelakuannya saja sudah cukup mempermalukan keluarga kita!" Raut wajah pria dengan setelan serba hitam itu mengeras, sorot matanya bahkan memancarkan kebencian yang begitu pekat bagi siapa saja yang menatapnya.
"Mario. Hubungi jalang itu dan katakan padanya saya menunggu hasil yang ia janjikan selama bertahun-tahun!" titahnya tak terbantahkan.
"Maaf, tapi ponsel nona Key tidak aktif, Tuan." ujar Mario menunduk. Aura kebencian makin menguar jelas dari tubuh Edgar Antasena.
Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama baginya untuk menemukan dalang dibalik transaksi sialan itu. Kalau sejak awal Kiran tidak memaksanya untuk memberikan kesempatan kepada anak jahanam itu untuk menyelidiki kasus ini, pasti ia sudah mencabut nyawa si pelaku.
"Keenan, lacak keberadaan kakakmu!" Edgar bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah peristiwa tragis malam itu. Setiap malam, ia harus mencekoki dirinya dengan pil penenang dan obat tidur yang telah diresepkan untuk menjaga tubuhnya agar tetap rileks dan bisa beristirahat dengan nyaman.
Bertahun-tahun, Edgar harus tersiksa demi menuruti keinginan putri kesayangannya, Kiran. Hari ini batas kesabaran yang ia miliki sudah tidak tersisa lagi. Jika wanita murahan itu tidak sanggup menemukan orang yang sudah menghancurkan hidup dan keluarganya tiga tahun yang lalu. Maka, hari ini ia sendiri yang akan mulai menetapkan tanggal kematian bagi si pelaku.
"Bocchini Cafe di Distrik B. Lokasi Kak Key dua jam yang lalu."
Pria dengan tatanan rambut acak-acakan dan kaos polo berwarna navy itu memecah keheningan. "Mario, perintahkan anak buahmu untuk menjemput Key pulang secara paksa dari cafe ifu." Mario mengangguk patuh dan meninggalkan ruangan. "Tapi, kemungkinan kak Key udah pergi dari tempat itu, Pa." ujar Keenan se-sopan mungkin.
Ia paham betul bahwa emosi Edgar sedang tidak stabil saat ini. Sedikit saja salah berucap, bisa-bisa ia dilengserkan dari keturunan Antasena. Ayolah, Keenan bahkan belum icip-icip harta warisan. Jadi selama itu pula Keenan harus benar-benar bersabar pada papanya.
"Kemungkinan. Jangan ajarkan papa bagaimana cara memahami kemungkinan yang akan terjadi disekeliling kita. Papa bahkan sudah mempersiapkan kejutan untuk jalang itu jika Mario tidak berhasil menemukannya." Edgar memilih duduk dan mulai menyalakan cerutu yang sudah dipersiapkan khusus untuknya. Sementara Keenan hanya mendengus sebal mendengar jawaban yang ia dapatkan.
Edgar menyesap cerutunya perlahan, mengabaikan kecanggungan yang ia sebabkan beberapa waktu lalu. Ia hanya fokus membiarkan nikotin memenuhi rongga dadanya. Nikotin memang obat terbaik ketika begitu banyak masalah menyerang.
Menenangkan walaupun pada akhirnya mendatangkan kematian. Tetapi, Edgar tidak seperti pria kebanyakan yang menjadikan nikotin sebagai candu. Tidak. Ketika Edgar menyentuh cerutu, itu artinya ia sedang benar-benar buntu.
Keheningan kembali terpecah dengan suara dobrakan pintu disusul kehadiran seorang gadis belia dengan postur tubuh bak seorang model profesional. Kiran Rowline Antasena, putri kesayangan Edgar Antasena. Edgar langsung mematikan cerutu yang ia sesap ketika melihat kedatangan Kiran.
"Papa, kenapa mulai pertemuan tanpa aku? Papa nggak mau ngelibatin Kiran? Apa Kiran nggak pantas untuk ikut dalam pertemuan? Papa bahkan nggak ngabarin Kiran tentang pertemuan ini. Sebenarnya apa yang papa sembunyikan dari Kiran?" Suara lembut Kiran terkesan begitu menuntut hingga tak ayal menyihir atensi seisi ruangan untuk menatap padanya.
Edgar benar- benar gelagapan oleh pertanyaan putrinya, "Bukan begitu sayang. Papa hanya tidak ingin menggangu pemotretan mu. Bukankah hari ini adalah jadwal pemotretan mu dengan salah satu brand yang kamu impikan sejak lama?" kilah Edgar. Ia harus sedikit berbohong agar bisa mendapatkan apa yang ia cari selama ini.
Kiran mulai terisak dan berlari ke arah Edgar, memeluk pria yang ia jadikan pelindungnya sejak kecil. Ed mengusap punggung putrinya lembut, menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang ia miliki agar malaikat kecilnya tidak menangis lagi. "Papa nggak bohong, kan?" tanya Kiran sesengukan. Edgar hanya mempererat pelukannya kemudian mengecup singkat pelipis Kiran.
"Kamu bisa percaya papa." Kiran melepas pelukan keduanya lalu mengusap air matanya.
Lihatlah bahkan hanya dengan hal sepele seperti ini, Kiran benar-benar terguncang. Tidak heran jika Edgar selalu memberikan pengawasan ketat dan curahan kasih sayang berlimpah pada putrinya itu. "Papa masih merokok? Bukannya papa udah janji sama Kiran?" Wajah Edgar berubah pias, pasalnya ia kembali mengingkari janji untuk tidak menyentuh nikotin lagi "Kiran tahu kalau papa sedang kalut. Tapi, rokok bukan jalan keluar yang terbaik, Pa. Rokok nggak baik buat kesehatan jantung papa." Pria paruh baya itu tersenyum sendu. Dulu, ia sering mendapat nasihat yang sama dari seseorang yang kini bahkan sudah tak bisa ia rengkuh ketika rapuh.
"Nona, pemotretan akan dimulai empat puluh lima menit lagi. Kita harus segera berangkat." Davinamanager Kiran menginterupsi obrolan keduanya. "Oke. Papa akan berusaha, yang terpenting sekarang kamu harus berangkat pemotretan." Edgar mengelus lembut surai putrinya. "Kiran sayang papa. Kalau begitu, Kiran berangkat pemotretan ya, Pa." ujar Kiran sumringah lalu berjinjit mengecup pipi Edgar.
Drama antara ayah dan anak itu membuat beberapa orang disana menatap keduanya jengah tak terkecuali Keenan. Kenyataannya, Edgar lebih menyayangi Kiran dibandingkan Keenan yang notabene akan menjadi pewarisnya kelak. Sejak kecil, Kiran tidak pernah mengalami penolakan ataupun kekerasan baik secara fisik maupun verbal dari orang-orang terdekatnya.
Kiran selalu dianggap rapuh, lemah dan mudah hancur dalam sebait kata kasar yang dilontarkan. Siapapun pelaku yang membuat air mata Kiran tumpah akan merasakan kekerasan dari seorang Edgar Antasena. Berlebihan memang, namun rasa cinta yang dimiliki Edgar untuk putrinya begitu besar melebihi dirinya sendiri.
Ponsel di saku celana Edgar bergetar, menampilkan nama Mario kini yang tengah memanggilnya. "Nona Key sudah tidak berada di tempat ini, tuan. Tetapi, berdasarkan rekaman CCTV yang terletak di cafe dan sepanjang jalanan ini Nona Key mengarah ke suatu lokasi di bagian barat kota ini dengan sangat terburu-buru." Laporan anak buahnya kembali membuat wajah Edgar mengetat.
Wanita itu memang tidak bisa diandalkan.
Daripada harus menyisir bagian barat kota ini untuk menemukannya, lebih baik ia segera memulai pencarian.
"Kembali ke mansion dan laksanakan plan B."
Edgar memutus panggilan dan menatap pada Keenan. "Kamu jaga rumah dan Kiran sampai papa pulang. Ini kesempatan terakhir kamu untuk membuktikan diri dihadapan papa. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Kiran, papa pastikan nama mu hanya sekedar kenangan di keluarga ini!" Sorot mata mengintimidasi dengan nada suara rendah cukup membuat nyali Keenan ciut walaupun rasanya ia ingin berontak marah.
Kiran, Kiran dan Kiran.
Keenan bahkan sudah bosan mendengar namanya. Tiada hari tanpa kata 'Kiran' di rumah ini. Ia menutup laptopnya dan memilih kembali ke kamar. Sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain hanya merebahkan tubuh di atas kasur empuk hasil kerja keras Edgar tanpa tahu apa yang akan ia kerjakan kelak. Keenan bahkan belum pernah memasuki kantor papanya sampai saat ini, berbanding terbalik dengan Kiran. Gadis itu bahkan sudah menerima sebagian surat-surat kepemilikan aset Edgar.
Keenan sering curiga tentang jati dirinya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi kakaknya, Key selalu saja menyentil dahinya apabila ia menanyakan hal tersebut. "Kak, lo kapan tobatnya sih? Suka banget jadi buronan papa dari kecil." gumam Keenan. Key kecil selalu melindungi Keenan dari amarah Edgar apabila ia tak sengaja mengusili Kiran dan membuatnya menangis.
Key bahkan bersedia menjadi sasaran pukulan papanya demi melindungi Keenan kecil.
Walaupun umur mereka terpaut jarak yang cukup jauh, tetapi Key selalu mengajak Keenan bermain. Sepak bola, gundu, playstation, basket, semua itu sanggup Key mainkan untuk menemani Keenan kecil yang kesepian karena tidak memiliki teman bermain.
Cita-cita Keenan sejak dini adalah menjadi seorang perwira yang kuat dan gagah berani agar ia bisa melindungi kakaknya suatu saat nanti. Tetapi semesta berkehendak lain, di usia ke dua belas tahun ia mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan kaki kirinya dioperasi dan mengalami cacat permanen.
Di tengah keputusasaan yang melandanya, Key mengikutsertakan namanya dalam tes minat bakat bersama salah satu psikolog terkenal. Key terus mendukung minat dan bakat yang Keenan miliki walaupun banyak orang yang menggangap bahwa itu adalah hal yang mustahil. Keenan bahkan tidak tahu bagaimana caranya ia agar bisa membalas budi kakaknya.
Ia menghela nafas berat, untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanya membuat Key terhindar dari amukan Edgar, papanya. Salah satunya dengan cara menutupi keberadaan Key walaupun ia sudah mengetahuinya sejak awal.
••••
Kedua tungkai jenjang milik Key melangkah anggun menuju tempat peristirahatan yang akan memberi kenikmatan tiada tara pada tubuhnya malam ini. Perlahan ia menaiki ranjang king size yang sedikit acak-acakan itu, lalu mendekati Elias tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Jemari lentik miliknya mengusap wajah Elias sensual kemudian bergerak menuju dada pria bersurai kecoklatan yang kini tengah terlelap pulas.
"Eunghh.." Sebuah lenguhan lolos dari bibir Elias, tidurnya terusik oleh tangan Key yang terus bergerilya diatas tubuhnya. Key meneruskan aksinya, pria ini harus bangun bagaimanapun caranya. Hingga elusannya terhenti pada bukti gairah Elias yang mulai menegang dibaliknya. Seringai nakal muncul di wajah cantik Key.
Ia terus membelai kejantanan Elias dan memberikan beberapa sentuhan di titik-titik sensitif pria itu hingga akhirnya Elias terbangun. "Kamu nakal, Key." ucap Elias parau. Elias bangkit lalu menatap wanitanya menggebu, lingerie satin yang ia berikan benar-benar melekat sempurna di tubuh kekasihnya. Segera ia menindih Key, lalu melumat bibir peach beraroma peppermint dan charcoal yang mendominasi itu dengan mendamba.
Hasratnya benar-benar menggelora melihat lekukan indah dengan jalinan tekstil tipis yang begitu menantang.
Entahlah, padahal apartemen yang Elias beli untuk hunian akhir hayatnya bersama Key ini begitu nyaman dan sejuk. Tetapi setelah kedatangan Key, apartemen ini bahkan tidak sesejuk sebelumnya, bahkan setelah Elias menaikkan suhu pendingin udara di kamar yang mereka tempati sekarang.
Key dan pesonanya selalu menarik Elias terjerembab dalam kubangan gairah hingga sulit terlepas.
Key melepas pangutan keduanya, lalu menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Paru-paru nya seolah terbakar akibat ciuman panas yang ia lakukan bersama Elias. Sedangkan Elias masih menatap Key dengan tatapan memuja seolah wanita yang baru saja ia cium adalah titisan aprodhite yang dikirimkan untuknya.
"Kamu yang buka atau aku?" Key tersenyum menggoda, memainkan tali kimono yang sudah terbuka sedari tadi. Hanya butuh satu sentakan dan kimono itu pasti luruh dari tubuh Key, namun ia menginginkan Elias yang melakukannyalebih erotis mungkin.
Elias bergerak mendekati Key yang perlahan beringsut mundur, tak ingin membuang banyak waktu Elias menarik salah satu tungkai wanitanya hingga Key memekik kecil. Elias tersenyum miring, sampai kapanpun ia tidak akan membiarkan Key mendominasi percintaan mereka.
Perlahan ia menunduk dan mengecup leher jenjang Key. Mengendus aroma vanila yang begitu manisaroma khas wanitanya. Rasanya Elias ingin terus menerus menyesap tubuh Key, menikmati setiap inchi tubuhnya tanpa terlewatkan sedikitpun. Kecupannya perlahan menuju kedua payudara ranum Key yang terhalang bra.
Biasanya, ia akan langsung merobek dalaman Key saat mereka bercinta namun kali ini Elias memilih sedikit bermain-main untuk menggoda gairah Key.
Sentuhan Elias pada inti tubuhnya membuat Key menggila, setelah berbulan-bulan lamanya akhirnya ia kembali merasakan kepuasan dari Elias. Jemari Key menelusup masuk ke rambut Elias lalu meremasnya perlahan setiap kali kenikmatan melandanya. Sementara dibawahnya, Elias begitu handal memainkan lidahnya dibalik kewanitaan Key, menyesapnya dalam seolah ia tengah melumat makanan kesukaannya.
"Eunghh.. Elias.." Key melenguh nikmat, tubuhnya ikut melengkung mendamba atas kenikmatan yang Elias hujani padanya.
"Ayo gadis kecil. Sekarang puaskan aku." Elias tersenyum miring, kemudian membaringkan tubuh atletisnya di headboard kasur sambil bersiap menikmati permainan Key. Key merangkak menuju kejantanan Elias yang sudah mengeras dibalik celana yang ia kenakan.
Perlahan ia meloloskan celana navy yang menyembunyikan bukti gairah kekasihnya, Key sempat terpana dengan inti Elias yang pernah memanjakan dan mengantar dirinya ke surgawi.
Ah, bagaimana Key harus menyebutnya. Sepertinya ukurannya terlihat sedikit berbeda, "Hei, aku menunggu blowjob darimu, darling." netra Elias menggelap.
Dengan sigap, Elias mengarahkan tangan lentik itu ke inti tubuhnya yang sudah mendamba akan pijatan sensual seorang Keysha Anjani. Seolah tak ingin mengulur-ulur waktu, Key bergegas mengulum kejantanan Elias, membiarkan pria itu menggilai kenikmatan kala sensasi lembut dan hangat dari mulut Key menyapa kejantanannya dengan begitu sensual.
Gerakan tangan lembut dibarengi kuluman yang nikmat cukup membuat Elias pusing, rasanya ia ingin menindih wanitanya lalu mengujam ceruk nikmat didalam sana berulang-ulang. Enam bulan lamanya, Elias benar-benar merindukan sentuhan, cecapan dan gerakan sensual ini. Elias sangat merindukannya. Lihatlah bahkan nafasnya begitu menggebu ketika menikmati permainan lidah Key di inti tubuhnya.
"Ahh.."
Erangan sekaligus geraman lolos dari bibir Elias, ia mencapai puncaknya. Rasanya seperti menembus langit ketujuh, keahlian Key untuk memanjakan kejantanannya memang tidak perlu diragukan lagi.
Ayo kita mulai permainan yang sebenarnya. Elias bergerak menindih dan mengungkung tubuh sintal Key dibalik kedua lengan kekarnya. Ia mulai menyatukan inti tubuhnya ke dalam ceruk hangat milik Key sebelum dering ponsel sialan miliknya terus berbunyi.
Awalnya Elias ingin mengabaikan panggilan tersebut dan memilih mematika ponselnya. Namun melihat nama si pemanggil membuat Elias mengurungkan niatnya dan lebih memilih mengangkat panggilan tersebut dengan posisi hampir memasuki Key.
Apa yang membuatmu berhasil menggangu kegiatanku di luar jam kerja, Rio? Nada suara Elias rendah, namun terselip nada emosi yang cukup kentara didalam setiap bait kalimat yang ia ucapkan.
Dia bergerak.
Dua kata yang ia dengar baru saja sontak membuat Elias menarik tubuhnya menjauhi Key. Tunggu disana. Hanya itu yang mampu Elias ucapkan untuk saat ini. Dirinya cukup terkejut, ia tidak akan menyangka bahwa orang itu akan bergerak setelah sekian lama terdiam di tempat dan membisu.
Pikirannya kacau.
Ia bahkan tidak lagi mempedulikan kondisi Key yang begitu terluka karena ia tinggalkan begitu saja. Elias, kamu mau kemana? Key bertanya serak. Terlihat jelas bahwa wanita itu sedang menahan tangisnya. Kalau kamu mau klimaks, kamu bisa cari vagina balls di lemari yang kuncinya aku kasih ke kamu tadi. Elias bahkan tidak menatap Key, pria itu sibuk membalut tubuhnya dengan kemeja dan bersiap-siap untuk segera pergi.
Key tertohok.
Ucapan Elias barusan membuktikan bahwa kedatangan Key ke apartment ini hanyalah untuk memuaskan nafsu Elias semata. Key tidak lebih dari seorang wanita pemuas bagi seorang Elias Miller. “Kalau kamu ngabarin aku untuk datang ke apartment kamu cuma demi nuntasin hasrat aku dengan vagina balls. Lebih baik gausah, el!" ujar Key. "Kamu kenapa egois banget sih?! Kamu nggak bisa ngertiin aku. Cuma karna aku nggak jadi making love sama kamu, kamu jadi se-emosional ini! Kamu harusnya bisa ngertiin aku, Key. Aku punya banyak urusan. Bukan cuma kenikmatan kamu doang yang harus aku urus!" bentak Elias murka.
"Kamu bilang aku emosional? Aku cuma nanya, kamu mau kemana dan kayak gini respon kamu." geram Key tertahan. "Terserah kamu mau gimana! Aku punya urusan yang harus aku prioritaskan dibanding libido kamu!" Elias meninggalkan apartment disusul bunyi pintu yang berdebum keras.
Key menunduk, membiarkan kristal bening yang sedari tadi menumpuk di pelupuk matanya mengalir. Mengapa Elias harus se-emosional itu? Key bahkan tidak bermaksud untuk mencegahnya pergi walaupun ia merasa terhina karna ditinggalkan saat keduanya hampir bercinta.
Selalu saja begitu, bahkan enam bulan tidak cukup untuk menghilangkan tabiat Elias yang begitu tempramen. Kelemahan terbesar Keysha adalah rasa cinta yang ia miliki begitu besar terhadap seorang Elias Miller. Rasa yang terus menerus menetap, membuat Key sulit untuk meninggalkan pria itu. Key hanya berharap semoga semesta menemukannya dengan pria yang tepat yang bisa membuatnya melupakan rasa ini dengan cepat agar ia tidak terus menerus meratap.
-----------------------------------------
Instagram : aghnialaqesya
-----------------------------------------
