Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 05

Langit pagi di atas Istana Naga Emas berwarna kelabu. Kabut tipis menyelimuti taman istana, menciptakan suasana muram yang mencerminkan hati banyak orang di dalamnya. Isu tentang gaun beracun yang dikenakan Selir Shu Yuan telah menyebar cepat bagaikan api yang menjilat jerami kering. Para pelayan berbisik-bisik, para selir lain diam-diam memasang jarak, dan para pengawal menajamkan indera—sebab satu langkah salah bisa berakhir di penjara, atau lebih buruk… liang lahat.

Di dalam Paviliun Angin Timur, Shu Yuan masih terbaring di atas ranjang berkelambu putih. Tabib istana sudah menyatakan bahwa racun ular yang menempel pada kain gaun itu telah dinetralkan, dan lukanya akan sembuh tanpa bekas. Namun bukan itu yang menjadi perhatian utama Shu Yuan.

Ia duduk tenang sambil memandangi jendela terbuka, angin pagi menyapu anak rambutnya. Pandangannya menerawang.

“Racun itu bukan untuk melukaiku,” gumamnya pelan. “Tapi untuk menguji seberapa dalam aku bisa bertahan… di sarang naga ini.”

Mei Lin, pelayan setianya, datang membawa semangkuk bubur herbal hangat.

“Putri, Tabib Gao bilang Tuan Penasihat akan datang hari ini.”

Shu Yuan mengangguk. “Pasti dia sudah mencium aroma busuk dari semua ini.”

Tak lama kemudian, Penasihat Gao Yun, pria paruh baya yang cerdas dan tenang, memasuki ruangan. Ia memberi salam hormat lalu duduk berhadapan dengan Shu Yuan. Matanya mengamati luka di lengan gadis itu dengan sorot prihatin, meskipun bibirnya tetap terkunci rapat.

“Yang Mulia Kaisar telah memerintahkan penyelidikan langsung,” katanya tanpa basa-basi. “Aku ditugaskan memimpin investigasinya.”

“Apakah Anda percaya, Penasihat Gao?” tanya Shu Yuan dengan nada tenang, namun mengandung tantangan.

Gao Yun tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas.

“Kepercayaan bukan milik siapa pun di istana ini, Putri Shu. Tapi aku percaya pada logika. Dan logikaku berkata: tidak mungkin Permaisuri lengah sampai-sampai mengirim gaun beracun tanpa niat.”

Shu Yuan tersenyum samar. “Lalu, apa yang akan Anda lakukan?”

“Menelusuri para pelayan bagian penyimpanan, penjahit istana, dan siapa saja yang pernah memegang gaun itu,” jawab Gao Yun. “Tapi yang lebih penting… adalah membuat Yang Mulia Kaisar benar-benar yakin bahwa ini bukan kecelakaan.”

Shu Yuan terdiam sejenak, lalu memutar gelang perak di pergelangan tangannya.

“Kalau begitu, aku akan bantu Anda.”

Gao Yun mengangkat alis. “Bantu?”

Shu Yuan menatapnya lurus. “Permaisuri sudah memulai perang ini secara diam-diam. Tapi aku tidak akan bersembunyi selamanya. Jika ingin selamat, aku harus menang. Dan jika ingin menang, aku harus lebih berani daripada siapapun di istana ini.”

Penasihat Gao terdiam, lalu mengangguk tipis. “Kau benar-benar bukan wanita biasa, Putri Shu.”

**

Sementara itu di Balairung Selatan, Permaisuri Lu Syerin duduk di ruang pribadinya, wajahnya pucat pasi. Selir Utama Ning Xue menemaninya, membawa teh hangat.

“Kaisar… tidak bicara apa pun padaku pagi ini,” kata Permaisuri pelan. “Ia hanya memberi perintah pada Gao Yun lalu pergi.”

Selir Ning Xue menggigit bibir bawahnya. “Yang Mulia… Shu Yuan telah membuatmu kehilangan pijakan. Tapi bukan berarti dia menang.”

Permaisuri menoleh, mata elangnya bersinar penuh ancaman.

“Jika Kaisar tidak mau menyingkirkannya dengan tangan sendiri…” katanya dingin, “…maka aku akan pakai tangan lain.”

**

Malam pun tiba. Di Paviliun Angin Timur, Shu Yuan menerima undangan makan malam pribadi dari Kaisar. Ia mengenakan jubah lembut warna gading, tanpa riasan mencolok, dan rambutnya disanggul sederhana. Ketika melangkah ke taman kecil tempat Kaisar menunggu, ia mendapati pria itu tengah berdiri di bawah cahaya lentera, memandangi kolam ikan.

“Kau datang,” ucap Kaisar tanpa menoleh.

“Bagaimana bisa aku menolak undangan Kaisar?” balas Shu Yuan, suaranya lembut namun menyimpan siaga.

Kaisar akhirnya menoleh. Tatapannya tidak lagi dingin seperti biasanya.

“Aku bodoh…,” katanya pelan. “Membiarkan seseorang sepertimu masuk ke dalam hidupku, tanpa sadar… perlahan kau menghuni pikiranku.”

Shu Yuan tak menjawab.

“Apakah kau membenciku, Shu Yuan?” tanyanya akhirnya. “Karena aku mewakili kehancuran bangsamu?”

Shu Yuan berjalan mendekat. Lalu dengan suara nyaris berbisik, ia menjawab, “Aku tak bisa membenci orang yang kerap muncul dalam mimpiku, bahkan saat aku ingin melupakan…”

Malam itu, di bawah langit berbintang, dua hati yang berasal dari dunia berbeda saling bersentuhan. Tapi jauh dari sana, di balik tirai konspirasi dan dendam yang disembunyikan, seseorang telah memutuskan bahwa Shu Yuan… harus lenyap sebelum hati Kaisar semakin dalam terjerat.

**

Di puncak Menara Burung Phoenix, tempat tinggal sang Permaisuri, angin malam berhembus lembut, membawa wangi bunga melati dari taman istana. Lu Syerin duduk anggun di balik jendela besar berbentuk kipas, mengenakan jubah tidurnya yang berwarna ungu tua, dihiasi bordiran burung fenghuang—simbol kekuasaan wanita tertinggi di istana.

Tangannya menggenggam cangkir giok berisi teh hangat. Namun, bukan kehangatan teh yang memuaskan dahaganya malam itu—melainkan pemandangan di bawah sana.

Dari tempatnya duduk, ia dapat melihat jelas Kaisar Zao Lian dan Shu Yuan sedang berdiri berdekatan di taman kecil dekat kolam ikan. Lentera-lentera merah bergoyang lembut, menerangi wajah sang Kaisar yang tampak lebih lembut dari biasanya. Ia menatap Shu Yuan seolah dunia di sekelilingnya tak lagi penting.

Wajah Lu Syerin mengeras.

“Begitu mudahnya hati seorang Kaisar ditaklukkan oleh senyum seorang budak?”

Namun bibirnya melengkung pelan. Sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya yang cantik tapi tajam.

Matanya lalu bergerak—melewati sosok pasangan itu, menuju semak-semak lebat di sisi taman.

Di sana, samar, sosok bayangan berjongkok. Seorang pemanah berpakaian hitam, dengan busur telah terangkat. Anak panah berujung racun dipasang dengan penuh kehati-hatian, mengarah langsung ke dada Shu Yuan.

Lu Syerin menyesap tehnya pelan.

“Jatuh cintalah, Zao Lian…” bisiknya dingin. “Karena malam ini, kau akan tahu rasanya kehilangan.”

Angin kembali bertiup. Dan di taman, detik-detik menuju bencana pun semakin dekat...

Cekkk!

Suara tajam meluncur di udara, menembus kesunyian malam. Busur telah dilepaskan, dan anak panah beracun melesat cepat, menghujam udara bagaikan kilat mematikan yang tak terlihat.

Namun dalam sepersekian detik…

“Yuan! Hati-hati!” seru Kaisar Zao Lian, matanya menangkap kilatan ujung logam dari arah semak-semak.

Ia melesat maju dengan refleks luar biasa, meraih lengan Shu Yuan dan memutar tubuhnya dengan paksa.

“Apa—?” Shu Yuan terkejut, tapi tak sempat bertanya. Dalam hitungan detik, ia menyadari tubuh Kaisar kini berdiri menggantikannya.

Srettt!

Anak panah menancap tepat di bahu kiri Kaisar.

“Yang Mulia!” jerit Shu Yuan.

Darah menetes dari ujung anak panah yang bergetar di bahu Kaisar. Wajahnya menegang, napasnya tertahan, namun ia tetap berdiri tegak. Para penjaga dan pelayan istana segera berhamburan masuk ke taman. Beberapa memekik, sebagian lainnya segera berlari mencari tabib dan menangkap penyusup.

“K-kalian… biarkan aku bicara pada Selir Shu,” ucap Kaisar, menggertakkan gigi menahan sakit.

Shu Yuan memegangi bahunya dengan gemetar, air mata mulai menggenang.

“Kenapa… kenapa kau melindungiku, Yang Mulia…?” suaranya pecah.

Kaisar mengangkat tangannya, menyentuh pipi Shu Yuan dengan lembut.

“Karena... aku lebih rela terluka... daripada kehilanganmu.”

Ucapan itu membuat Shu Yuan terpaku. Matanya menatap pria yang telah menaklukkan negerinya—tapi juga yang sekarang berdiri sebagai pelindungnya. Hatinya berkecamuk. Ini bukan bagian dari rencananya. Ini… di luar kendalinya.

“Bawa Yang Mulia ke ruang perawatan!” seru Penasihat Gao Yun yang datang bersama para pengawal elit. “Jangan biarkan anak panah itu dicabut sembarangan! Itu racun langka, segera kirim utusan ke Pegunungan Barat, hanya Tabib Zhao Xien yang tahu cara menetralisirnya!”

Semua jadi kacau.

Tapi di atas menara, Lu Syerin menggenggam erat cangkir tehnya sampai pecah. Cairan panas menetes ke telapak tangannya, tapi ia tak bergeming.

“Kau bodoh, Zao Lian… terlalu bodoh,” gumamnya, namun sorot matanya panik.

Ia tidak pernah mengira bahwa Kaisar akan rela menukar nyawanya demi seorang wanita. Dan itu berarti satu hal: Shu Yuan sudah menguasai hati Kaisar sepenuhnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel