Bab 04
Keesokan harinya, denting lonceng istana menggema ke seluruh penjuru ibu kota, menandai dimulainya perjamuan agung di Istana Naga Emas. Acara ini diadakan untuk mempererat hubungan antar negeri dan menghormati kesetiaan para pejabat serta bangsawan dari berbagai wilayah.
Aula utama yang megah dibuka. Lantainya yang terbuat dari batu giok memantulkan cahaya dari lampu-lampu gantung kristal. Para pejabat tinggi, jenderal, dan bangsawan mengenakan pakaian resmi terbaik, sementara para selir tampil menawan dalam gaun sutra yang mencolok.
Di ujung aula, Kaisar Zao Lian duduk megah di singgasana naga emasnya. Di sebelahnya, Ibu Suri Zao Sinta, wanita tua yang karismatik dan disegani, mengamati seluruh tamu dengan tatapan tajam penuh perhitungan.
Permaisuri Lu Syerin duduk anggun dalam balutan jubah biru safir, dengan senyum tipis yang menyimpan kebekuan. Di sampingnya, Selir Utama Ning Xue, terkenal karena kelembutan dan kefasihannya berbicara, tampak tenang namun jelas memperhatikan gerak-gerik para tamu.
Keduanya duduk berdampingan. Sejak kedatangan Shu Yuan, mereka yang sebelumnya saling bersaing, kini sepakat dalam satu tujuan: menyingkirkan selir muda dari Dinasti Yin itu.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka perlahan. Langkah kaki lembut terdengar memecah keheningan.
Shu Yuan muncul, mengenakan gaun merah tua Dinasti Yin, hadiah dari Permaisuri sendiri. Gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk-lekuk anggun yang bahkan membuat para bangsawan dari negeri tetangga terdiam sejenak. Wajahnya tersembunyi di balik cadar merah tipis yang senada, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang penuh teka-teki.
Seketika bisikan mulai terdengar di antara para tamu.
“Itu… warna dari Dinasti yang telah ditaklukkan…”
“Berani sekali dia memakai warna itu di hadapan Kaisar…”
“Dan kenapa ia bercadar? Apakah dia menyembunyikan sesuatu?”
Namun Shu Yuan tetap berjalan dengan langkah mantap, tak tergoyahkan oleh bisikan atau sorot mata yang tajam. Ia berhenti di hadapan Kaisar dan membungkuk hormat.
“Selir Shu Yuan menghaturkan salam dan hormat bagi Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri.”
Kaisar Zao memandangi penampilannya dengan tatapan rumit. Namun sebelum ia membuka suara, Ibu Suri Sinta sudah lebih dulu bersuara.
“Gaunmu indah, Selir Shu,” ucapnya dingin. “Dari mana asalnya?”
Shu Yuan menoleh sedikit ke arah Permaisuri, lalu menjawab dengan tenang, “Gaun ini hadiah penuh kasih dari Permaisuri kita yang mulia. Beliau berkata, hanya wanita yang benar-benar setia dan berani yang pantas mengenakannya.”
Wajah Permaisuri menegang sesaat, tetapi ia masih mampu menampilkan senyum datar. “Ah… aku tidak menyangka kau akan benar-benar memakainya,” katanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Namun sesaat kemudian, Shu Yuan menggoyangkan lengannya. Dari balik lengan gaun, tampak ruam merah yang mulai muncul dan menyebar pelan. Beberapa selir yang duduk dekat memekik pelan. Salah satu pelayan mendekat dan terkejut melihat kulitnya yang memerah dan membengkak.
Kaisar Zao berdiri. “Apa itu di lenganmu?”
Dengan gerakan tenang, Shu Yuan memperlihatkan kulitnya yang iritasi, meskipun wajahnya tetap tidak menunjukkan rasa sakit.
“Saya… tidak tahu, Yang Mulia,” ucapnya pelan. “Namun saya yakin, ini bukan kesengajaan. Mungkin hanya bahan kainnya yang tidak cocok dengan kulit saya.”
Kaisar turun dari singgasananya dan menatap langsung gaun itu.
“Ini… gaun dari Permaisuri?” tanyanya tegas.
Shu Yuan mengangguk pelan.
Suasana aula mendadak sunyi. Semua mata menoleh ke arah Permaisuri. Seketika itu juga, bayangan keraguan mulai muncul di benak Kaisar. Ia menoleh pada Ibu Suri.
Namun Ibu Suri Sinta tetap tenang, hanya mengangkat tangannya sedikit. “Panggil tabib istana. Periksa lukanya dan selidiki asal kain itu.”
Kaisar menunjuk kepala penjaga. “Aku ingin laporan lengkap sebelum malam ini berakhir.”
Di tengah keributan itu, Shu Yuan tetap berdiri. Diam. Tidak bicara lagi. Tapi sorot matanya yang tersembunyi di balik cadar, tak bisa menyembunyikan kepuasan. Ia telah membalikkan keadaan tanpa berteriak, tanpa satu pun kata hinaan. Ia hanya memakai pemberian musuh… dan membuatnya menjadi bukti kejatuhan mereka.
Dari tempat duduknya, Permaisuri Lu Syerin menegang. Tangannya yang menggenggam cangkir giok semakin kuat, sementara Selir Utama Ning Xue hanya bisa menunduk, menyadari bahwa perang istana… baru saja dimulai.
Dan yang memantik apinya—adalah seorang budak dari Dinasti yang telah hancur.
Para pelayan istana segera bergerak cepat membawa Shu Yuan ke ruang perawatan pribadi di balik aula utama. Tabib istana yang telah berpengalaman puluhan tahun segera memeriksa ruam di lengan gadis itu dengan serius. Cairan penawar segera dioleskan, meski racun yang meresap hanya bersifat ringan—berkat ramuan pelindung yang telah diberikan oleh penasihat Gao Yun.
Namun rasa sakit yang tampak di kulit Shu Yuan cukup untuk menimbulkan kepanikan besar di istana.
Di luar ruang perawatan, Kaisar Zao Lian tampak berjalan mondar-mandir di lorong batu giok yang mengarah ke paviliun medis. Tangan kirinya terkepal, sementara tangan kanannya sesekali memegang pedang pendek yang tergantung di pinggang. Wajahnya penuh cemas—bukan hanya sebagai seorang penguasa, tapi sebagai pria yang mulai memedulikan satu wanita secara lebih dari sekadar selir.
Ia menggeleng pelan.
"Apa yang sedang terjadi padaku?" batinnya. "Kenapa hatiku tidak tenang ketika dia terluka? Bukankah ini hanya soal seorang selir?"
Namun hatinya tak mau diajak berdalih. Wajah pucat Shu Yuan, senyum tipisnya yang penuh rahasia, dan keberaniannya yang tak umum untuk seorang wanita istana—semua itu kini mengganggu pikirannya.
Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar di ujung lorong.
Permaisuri Lu Syerin datang tergesa dengan selendang sutranya yang menjuntai. Wajahnya pucat, namun matanya memohon.
“Yang Mulia,” ucapnya, mencoba tersenyum walau terasa kaku. “Mohon pertimbangkan kembali keputusan Anda…”
Kaisar berhenti melangkah. Ia menatap wanita yang telah menjadi permaisurinya selama bertahun-tahun itu, mata mereka saling bertemu—namun kali ini, dingin.
“Pertimbangkan apa?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
“Penyelidikan… soal gaun itu,” suara Permaisuri bergetar. “Saya khawatir ini akan menimbulkan fitnah yang tak perlu. Lagipula, bukankah tak ada bukti pasti bahwa racun itu sengaja diletakkan?”
Kaisar menatapnya tajam. “Tapi gaun itu darimu, Lu Syerin.”
Permaisuri menunduk, “Saya tidak tahu. Hamba hanya memerintah pelayan untuk menyiapkan gaun dari penyimpanan. Saya bahkan tidak pernah memeriksanya…”
Ia melangkah mendekat, menggenggam lengan Kaisar dengan lembut. “Apakah Anda mulai meragukan saya, Yang Mulia?”
Kaisar tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke pintu ruang perawatan, di mana Shu Yuan masih ditangani oleh tabib. Rasa bersalah mulai tumbuh di hatinya.
Ia menarik lengannya pelan dari pegangan Permaisuri.
“Bukan soal aku meragukanmu. Tapi aku tidak bisa menutup mata pada sesuatu yang hampir merenggut nyawa seseorang… hanya karena dia bukan kamu.”
Kalimat itu menghantam keras Permaisuri. Wajahnya memucat.
Namun sebelum Kaisar melangkah pergi, ia menambahkan, “Kalau memang kau tak bersalah, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan… bukan begitu?”
Lu Syerin hanya bisa membeku di tempatnya, menyadari bahwa sesuatu yang dulu kokoh di dalam istana ini… kini mulai runtuh, perlahan tapi pasti.
Dan semua bermula dari satu gaun merah… yang dikenakan oleh seorang gadis budak bernama Shu Yuan.
