Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 06

Suara langkah tergesa dan seruan para tabib menggema di lorong istana. Kaisar Zao dibaringkan di ranjang berlapis kain sutra, namun tubuhnya basah oleh keringat dan darah. Anak panah masih tertancap di bahunya, menghitam perlahan oleh racun yang menyebar.

“Jangan cabut panah itu dulu! Racunnya akan menyebar lebih cepat!” seru Tabib Wu.

Sementara para pelayan sibuk menyiapkan ramuan dan penawar, Shu Yuan duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Kaisar erat-erat. Tangannya gemetar, tapi sorot matanya tegas.

“Bertahanlah… Zao Lian…” bisiknya, kali ini tanpa gelar, tanpa jarak.

Kaisar mengerang pelan, lalu membuka mata. Pandangannya buram, namun wajah yang pertama kali ia lihat adalah Shu Yuan.

“Yuan…” katanya lemah. “Jangan… tinggalkan aku…”

Shu Yuan menunduk, menahan isak tangisnya. Ia tak lagi bisa membedakan, mana bagian dari sandiwara, dan mana yang sungguh dari hati.

“Aku di sini… aku tidak akan ke mana-mana,” ucapnya pelan, lalu dengan lembut menyeka keringat di dahi pria yang tadinya ia benci.

Di luar ruangan, Penasihat Gao Yun berdiri gelisah. Ia menatap Mei Lin yang baru saja datang tergopoh-gopoh.

“Aku khawatir… Permaisuri tidak akan tinggal diam setelah gagal kali ini,” kata Mei Lin lirih.

Gao Yun mengangguk. “Benar. Dan dia tahu Shu Yuan semakin dekat dengan Kaisar. Dia akan mencari celah dari orang-orang terdekatnya.”

---

Di Menara Timur – Lu Syerin Menyusun Langkah Baru

Lu Syerin berdiri menghadap jendela menaranya, menatap pekatnya malam yang terasa seperti menyempitkan dadanya. Di tangannya tergenggam pecahan cangkir teh yang pecah sejak kejadian kemarin.

“Dia menang… untuk kali ini,” gumamnya.

Lalu, pelayannya yang paling setia, Jiang Ru, masuk dengan wajah cemas. “Permaisuri, orang yang memanah telah ditemukan mati di luar tembok istana. Seseorang membungkamnya.”

Mata Lu Syerin menyipit.

“Jadi ada orang lain yang ikut bermain…” desisnya.

Ia lalu berbalik, memerintahkan Jiang Ru dengan suara dingin.

“Bawa Mei Lin ke tempat rahasia. Jangan sakiti dia… belum sekarang. Aku ingin tahu apa yang dia sembunyikan.”

---

Kembali ke Paviliun

Shu Yuan belum beranjak dari sisi ranjang Kaisar. Malam telah berganti dini hari. Ia masih menggenggam tangan Zao Lian yang terasa hangat—terlalu hangat.

Tabib berkata racunnya perlahan berhasil dikendalikan, namun Kaisar butuh waktu untuk pulih.

Shu Yuan menatap wajah itu. Pria yang seharusnya ia benci. Pria yang seharusnya ia hancurkan.

Namun…

“Kenapa… kenapa kau melakukan itu untukku?” bisiknya pada Kaisar yang terlelap.

Dan dalam keheningan, hati Shu Yuan mulai berubah. Ia tak menyadari bahwa di luar ruangan, takdirnya sedang ditulis ulang oleh musuh-musuhnya yang bergerak dalam gelap.

***

Satu hari berlalu.

Kaisar Zao mulai pulih meski tubuhnya masih lemah. Ia belum bisa kembali menjalankan tugas kenegaraan, namun setiap kali terbangun, ia selalu mencari satu nama: Shu Yuan.

Namun, Shu Yuan hari itu tampak gelisah. Bukan karena keadaan Kaisar yang masih pucat, melainkan karena seseorang tidak kembali.

Mei Lin. Pelayan setia yang tak pernah meninggalkannya lebih dari beberapa jam, kini menghilang tanpa jejak sejak semalam.

Shu Yuan berdiri di ambang jendela Paviliun Angin Timur, memandangi taman istana yang perlahan diselimuti kabut pagi.

"Di mana kau, Mei... Kau takkan meninggalkanku tanpa pesan, kecuali sesuatu terjadi..." bisiknya.

Ia segera memanggil dua pelayan lainnya dan memerintahkan pencarian diam-diam di seluruh area istana. Namun, hingga matahari condong ke barat, tak ada hasil.

---

Di Ruang Bawah Tanah Rahasia

Sementara itu, Mei Lin terbangun dalam gelap. Tangannya terikat, mulutnya dibekap kain, dan tubuhnya terasa lemas. Ia hanya bisa mendengar suara langkah sepatu beradu dengan lantai batu.

Cahaya lentera mendekat, memperlihatkan wajah Jiang Ru—pelayan paling setia Permaisuri.

“Jangan takut,” ujar Jiang Ru datar. “Kau tidak akan mati… belum. Tapi kau akan bicara, entah besok atau minggu depan.”

Mei Lin berusaha memberontak, namun Jiang Ru hanya tersenyum tipis dan membisikkan:

“Permaisuri ingin tahu, siapa sebenarnya Putri Shu Yuan. Dan kau… kau adalah kunci.”

Di Sisi Kaisar

Malam itu, Kaisar Zao terbangun lebih segar dari biasanya. Ia menatap Shu Yuan yang duduk di dekat tempat tidurnya, namun sorot mata perempuan itu jauh dan kosong.

“Yuan…” panggilnya.

Shu Yuan tersadar, lalu segera memasang senyum tipis. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba hanya sedang memikirkan seseorang.”

“Pelayanmu?” tanya Zao lembut.

Shu Yuan menatapnya dalam. Ia tidak ingin membebani Kaisar yang masih lemah. Tapi perasaannya tak bisa disembunyikan.

“Ya… dia sudah seperti saudara sendiri. Dan aku tahu... seseorang telah membawanya,” ucap Shu Yuan, nadanya tajam.

Kaisar terdiam. Ia menyadari itu bukan hal sepele.

“Kalau begitu, kau harus temukan dia. Aku akan bantu, setelah aku pulih,” janjinya.

Di Balik Bayangan, Sebuah Bahaya Baru

Namun tanpa sepengetahuan mereka, dari kejauhan, seorang utusan rahasia dari negeri tetangga, Dinasti Liang, mendengar tentang ketegangan di dalam istana.

“Jika Kaisar Zao melemah karena wanita, ini saat yang tepat untuk mengguncang takhtanya,” kata sang utusan, mengirim pesan pada rajanya.

Sementara itu, di istana Zao sendiri, Penasihat Gao Yun mulai mencium aroma permainan berbahaya. Ia tahu Lu Syerin bukan satu-satunya yang bergerak. Ada kekuatan lain… kekuatan yang mungkin lebih mematikan.

Di malam sunyi, Shu Yuan berdiri sendirian di balkon paviliunnya, menatap bulan.

“Jika kalian ingin bermain kotor... maka biar kubalas dengan luka yang lebih dalam dari racun. Tapi… jangan ganggu orang-orangku.”

Satu tetes air mata jatuh, bukan karena takut… tapi karena marah.

Di ruang bawah tanah yang lembap dan dingin, hanya suara tetesan air dari langit-langit yang menemani keheningan panjang. Mei Lin duduk terikat di sebuah kursi kayu tua, tubuhnya lemah dan bibirnya pecah-pecah.

Jiang Ru berdiri di depannya, berlenggak santai dengan lentera di tangan, cahayanya bergoyang mengikuti langkahnya.

"Aku akan langsung ke intinya," ujar Jiang Ru pelan, namun penuh ancaman. "Siapa sebenarnya Shu Yuan? Kenapa dia bisa merebut hati Kaisar secepat itu?"

Mei Lin menatapnya tajam. Mulutnya dibekap kain, tapi matanya berkata: Aku tidak akan bicara.

Jiang Ru menghela napas panjang. Ia berjalan ke meja kecil dan mengambil sebuah wadah porselen kecil berisi cairan bening.

“Ini... racun dari pegunungan barat. Tidak mematikan… hanya akan membuat lidahmu seperti terbakar bara,” katanya tenang. Ia meneteskan setitik cairan itu ke selembar daun, dan daun itu langsung menghitam dan mengerut.

"Jika kau masih bungkam, kita coba sedikit demi sedikit. Tapi katakan satu hal saja, dan aku akan memberimu air serta pengobatan."

Mei Lin bergeming.

Jiang Ru mendekat, mencabut kain penutup mulut pelayan itu.

"Ayo, Mei Lin. Kau bukan budak yang fanatik. Katakan padaku—apakah dia benar keturunan bangsawan Dinasti Yin? Atau... ada yang lebih besar darinya?"

Mei Lin menggeleng. Suaranya lemah namun tegas, “Aku tak tahu apa-apa...”

Plak!

Tamparan tangan Jiang Ru mendarat di wajahnya.

“Berhenti bermain pura-pura!”

Mei Lin terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Namun matanya tetap penuh tekad.

“Kalau kau membunuhku, kau takkan tahu jawabannya. Dan Permaisurimu akan tetap dihantui Shu Yuan, sampai seluruh istana bersujud padanya.”

Kalimat itu membuat Jiang Ru terdiam sesaat. Ia menatap Mei Lin lama, lalu menyeringai.

“Jadi kau memang tahu sesuatu…”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel