Pustaka
Bahasa Indonesia

Selir Cantik Kesayangan Kaisar

62.0K · Tamat
Agus Irawan
85
Bab
376
View
9.0
Rating

Ringkasan

Di tengah runtuhnya Dinasti Yin, seorang gadis bangsawan bernama Shu Yuan ditangkap dan dijadikan budak oleh Dinasti Zao yang menang perang. Hidup dalam penderitaan dan kehinaan di Istana Timur, Shu Yuan menyembunyikan identitas aslinya demi bertahan. Tak disangka, kecantikannya yang tenang dan tutur bahasanya yang lembut menarik perhatian Kaisar Zao Lian, penguasa muda yang kejam namun kesepian. Dalam sekejap, Shu Yuan diangkat menjadi salah satu selir kekaisaran—bahkan menjadi selir kesayangan Kaisar. Namun posisi itu bukanlah berkah, melainkan awal dari mimpi buruk baru. Ia menjadi sasaran kebencian Permaisuri Lu Syerin, istri sah Kaisar yang ambisius dan kejam. Bagi Lu Syerin, Shu Yuan bukan hanya selir rendahan, tapi simbol penghinaan: seorang wanita dari negeri yang telah ditaklukkan, kini menduduki tempat di hati suaminya. Intrik, fitnah, dan jebakan mulai menghantui langkah Shu Yuan di dalam istana harem. Dari racun tersembunyi hingga pengkhianatan dayang, dari konspirasi pejabat istana hingga ancaman eksekusi—semuanya dirancang untuk menyingkirkannya. Namun Shu Yuan bukanlah bunga lemah yang mudah layu. Ia mulai menyusun kekuatannya sendiri, belajar bertahan dalam dunia para wanita istana yang penuh tipu daya, sembari diam-diam merawat ambisinya: bukan untuk balas dendam, tapi untuk bertahan, hidup, dan menentukan takdirnya sendiri.

RomansaFantasiDewasaZaman KunopetarungPlot Twist

Bab 01

Langit kelabu menutupi ibu kota Dinasti Zao ketika rombongan tawanan dari bekas Dinasti Yin tiba di gerbang barat istana kekaisaran. Hujan gerimis turun pelan, menyapu debu dan darah yang menempel pada pakaian lusuh mereka. Di antara puluhan budak perempuan yang berlutut dengan kepala menunduk, seorang gadis muda berdiri paling belakang, tubuhnya kurus namun tegak, wajahnya tertutup tirai kasa tipis.

Namanya Shu Yuan.

“Turunkan kepala kalian! Di hadapan istana Zao, tak ada martabat bagi sisa-sisa musuh!” bentak seorang kasim tua, suaranya tajam bak cambuk.

Para budak menunduk lebih dalam. Namun Shu Yuan tetap mempertahankan sorot matanya, menatap tajam ke arah gerbang istana yang menjulang angkuh.

Seorang dayang muda menyentuh lengannya dengan khawatir. “Jangan menatap seperti itu. Mereka akan menganggapmu pembangkang.”

Shu Yuan hanya menjawab lirih, “Aku bukan pembangkang. Aku hanya belum mati.”

Tak lama, iring-iringan istana datang dari dalam. Para kasim, dayang, dan pengawal berpakaian sutra membuka jalan bagi seseorang. Langkah-langkah berat terdengar, diiringi suara gemerincing pedang dan aroma dupa mahal. Dari kejauhan, seorang pria tinggi mengenakan jubah naga emas muncul.

Kaisar Zao Lian.

Ia belum genap tiga puluh tahun, namun wajahnya sudah memancarkan wibawa seorang pemimpin besar. Dikenal luas sebagai penakluk kejam yang menggulingkan Dinasti Yin dalam waktu kurang dari tiga tahun. Tak seorang pun berani menatap langsung ke matanya.

Namun Shu Yuan tidak menunduk.

Sorot mata mereka bertemu sejenak. Mata Kaisar menyipit. Bukan karena marah, melainkan karena rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba. Seorang budak berani menatapnya tanpa gentar? Gadis dari negeri yang ia hancurkan?

“Siapa gadis itu?” tanya Kaisar pelan, suaranya seperti bisikan maut.

Seorang kasim membungkuk. “Budak nomor 39, Paduka. Ditemukan di reruntuhan Istana Utara Dinasti Yin. Ia menolak makan selama tiga hari dan mencoba bunuh diri dua kali.”

Kaisar menatap Shu Yuan sekali lagi. Lalu mengangkat tangannya.

“Bawa dia ke Paviliun Angin Timur. Mandi, beri pakaian baru, dan... kirimkan ke istanaku malam ini.”

Kegemparan menyapu para pelayan. Budak biasa langsung dikirim ke kamar pribadi Kaisar? Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa dayang saling berbisik dengan nada iri. Kasim tua menunduk dalam-dalam.

“Perintah dilaksanakan, Paduka.”

---

Shu Yuan memandangi wajahnya di cermin tembaga yang disediakan di ruang ganti Paviliun Angin Timur. Tubuhnya dibungkus jubah tipis warna ungu pucat, rambutnya disanggul sederhana, dan pipinya dipoles bedak manis oleh tangan dayang terampil.

“Bagaimana mungkin seorang budak bisa langsung masuk ke istana Kaisar?” tanya salah satu dayang, tidak bisa menyembunyikan nada sinis.

“Diam. Kau tak tahu siapa dia,” sahut Mei Lin, dayang yang sejak awal menyertainya.

Shu Yuan menghela napas. “Aku tak ingin hal ini terjadi. Aku hanya ingin pulang.”

Mei Lin memandangnya dengan mata penuh belas kasihan. “Tak ada lagi rumah, Nona. Dinasti Yin telah menjadi abu. Sekarang, kau hanya bisa bertahan.”

Tak lama, seorang kasim muda datang menjemput.

“Selir baru, bersiaplah. Paduka Kaisar menunggu.”

Shu Yuan melangkah keluar, hatinya bagai terombang-ambing. Malam ini akan menentukan takdirnya—ia bisa menjadi alat hiburan sesaat, atau... menjadi bagian dari kekuasaan yang tak pernah ia inginkan.

---

Ruangan Kaisar gelap dan hening, diterangi cahaya lentera merah yang temaram. Aroma gaharu memenuhi udara. Kaisar duduk di depan meja, mengenakan jubah santai berwarna biru gelap. Rambutnya tergerai sebagian, dan matanya memandang lurus ke arah Shu Yuan saat ia masuk.

“Nama?” tanya Kaisar, suaranya datar.

“Shu Yuan, Paduka,” jawab gadis itu sambil berlutut.

Kaisar berjalan mendekat, langkahnya mantap dan perlahan. Ia menunduk, meraih dagu Shu Yuan dan mengangkat wajahnya. Mata mereka kembali bertemu.

“Matamu tidak seperti budak.”

Shu Yuan tidak menjawab.

“Apakah kau membenciku?” tanya Kaisar tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Shu Yuan terkejut. Ia menatap pria di hadapannya—raja dari bangsa yang membunuh ayah dan membakar kampung halamannya—dan menjawab tanpa ragu, “Aku tidak cukup berani untuk membenci. Tapi aku juga belum cukup mati untuk memaafkan.”

Kaisar tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum seorang pria yang menemukan teka-teki menarik.

“Aku menyukai kejujuranmu,” ujarnya pelan. “Tinggallah di istanaku. Aku ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan.”

---

Di menara lain, Permaisuri Lu Syerin sedang duduk di depan cermin berhias giok. Seorang kasim membisikkan laporan di telinganya.

“Paduka Kaisar membawa budak dari rombongan Yin ke kamarnya malam ini.”

Jari-jarinya yang ramping mencengkeram sisir giok dengan kuat.

“Namanya?”

“Shu Yuan.”

Syerin tersenyum dingin. “Yin memang sudah hancur. Tapi kalau dia pikir bisa bangkit lewat ranjang istana, maka aku akan pastikan tubuhnya terkubur bersama abunya.”

Sementara itu, di Paviliun Dalam Istana Kaisar, Shu Yuan tengah duduk bersimpuh di sisi meja rendah, ditemani gemerlap lentera dan semerbak arak mawar. Di hadapannya, Kaisar Zao Lian duduk dengan jubah santai, satu tangan menopang pipi, sementara tangan lainnya menuangkan arak ke dalam cawan Shu Yuan.

“Minumlah, Shu Yuan,” ucap sang Kaisar, matanya mengawasi setiap gerakan gadis itu. “Arak malam ini dibuat khusus oleh tabib istana. Aromanya lembut, tapi memabukkan jika tak hati-hati.”

Shu Yuan tersenyum samar, lalu menerima cawan itu dengan anggun. “Jika Paduka yang menuangkannya, maka aku tak akan menolak.”

Ia meneguk sedikit, cukup untuk menghormati, tapi tidak cukup untuk kehilangan kendali. Gerakan tangannya lembut, matanya jernih—terlalu jernih untuk seseorang yang sudah meminum tiga cawan sebelumnya.

Kaisar menyadari itu. “Kau pandai menahan diri,” komentarnya, suaranya datar namun penuh makna. “Banyak wanita di sini yang akan berpura-pura mabuk agar bisa bersandar padaku.”

Shu Yuan menatapnya dengan senyum tipis. “Aku berbeda dari mereka. Jika aku mabuk dan bersandar pada Paduka, aku khawatir akan kehilangan kesempatan untuk... mengenal Paduka lebih dalam.”

Kaisar tertawa kecil. “Kau bermain kata dengan sangat baik.”

“Paduka terlalu memujiku,” ucap Shu Yuan merendah, tapi sorot matanya tetap tajam.

Dalam hati, Shu Yuan tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Semakin Kaisar Zao penasaran, semakin dia bisa menguasai pria itu. Ia bukan wanita biasa yang berharap cinta. Ia perempuan dari negeri yang runtuh, dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan hidupnya adalah kepandaian bertahan... bahkan jika itu berarti mengikat hati sang penakluk perlahan, lalu mengarahkannya ke jurang yang ia pilih sendiri.