Bab 03
Di lorong-lorong istana belakang yang sunyi, Mei Lin berlari tanpa mempedulikan tatapan para penjaga malam. Rok panjangnya terseret, napasnya tersengal. Ia tahu waktu mereka sempit—jika Permaisuri berhasil menjatuhkan Putri Shu Yuan, segalanya akan berakhir sebelum sempat dimulai.
Akhirnya ia sampai di halaman kecil di sisi barat istana, tempat kediaman Penasihat Gao Yun, pria tua yang dikenal sebagai ahli strategi era peralihan Dinasti Yin ke Dinasti Zao. Meski kini tak lagi berkuasa, Gao Yun masih disegani dan memiliki telinga di berbagai sudut istana.
Mei Lin mengetuk pintu dengan gelisah. “Penasihat Gao! Maafkan kelancanganku! Ini darurat!”
Pintu dibuka oleh kasim tua, yang langsung mempersilakan masuk. Tak lama, Gao Yun sendiri muncul di ruangan tengah, berjubah malam berwarna hitam dan wajah keriput yang tetap tajam.
“Ada apa, Nona Mei Lin? Mengapa kau datang di waktu yang tidak pantas?” tanyanya datar.
Mei Lin membungkuk dalam-dalam. “Penasihat Gao... celaka! Putri Shu akan dijebak oleh Permaisuri Kaisar. Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi!” katanya dengan napas tersengal, mata memohon.
Gao Yun mengangkat alis. “Kau memanggilnya ‘Putri’ sekarang?”
Mei Lin menggigit bibirnya. “Maafkan hamba… tapi hamba tahu Anda telah menyelidiki siapa sebenarnya Selir Shu Yuan. Anda tahu dia bukan sekadar selir biasa… dia—”
“—adalah putri ketiga dari mendiang Raja Yin, Shu Xuan,” potong Gao Yun perlahan. “Gadis yang selamat dari pembantaian klan istana Yin... dan kini duduk di sisi musuhnya.”
Mei Lin menatapnya penuh harap. “Lalu... apa yang harus kita lakukan? Permaisuri akan menyebar fitnah bahwa dia mata-mata. Jika Kaisar percaya... dia akan kehilangan nyawa.”
Gao Yun terdiam sejenak, kemudian melangkah ke rak bukunya. Ia menarik satu gulungan tua bertuliskan segel Yin.
“Waktu itu aku menyimpan ini... tidak untuk digunakan dalam perebutan kekuasaan, tapi untuk momen seperti ini.” Ia menyerahkan gulungan itu kepada Mei Lin. “Bawa ini pada Kepala Pengawal Istana. Katakan bahwa atas perintah mendiang Jenderal Yin terakhir, Putri Shu Yuan adalah saksi terakhir dari pembantaian damai yang dikhianati oleh pihak Zao sendiri.”
Mei Lin menelan ludah. “Bukankah itu berbahaya? Anda mengungkit perjanjian berdarah…”
“Memang,” ujar Gao Yun, “tapi inilah cara kita menekan Kaisar agar berpikir dua kali sebelum percaya pada Permaisuri. Jika Kaisar tahu Shu Yuan punya nilai politik, dia akan lebih berhati-hati.”
Mei Lin menerima gulungan itu dengan tangan bergetar. “Kalau begitu... kami akan melindunginya.”
Penasihat Gao menatap jendela malam. “Lindungi dia, bukan karena dia Putri Yin. Tapi karena jika perempuan seperti dia lenyap… maka tidak akan ada yang cukup kuat menahan kehancuran di balik kedamaian istana ini.”
Langit malam masih gelap ketika Mei Lin kembali ke Paviliun Angin Timur. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara cukup sejuk. Ia menggenggam gulungan pemberian Penasihat Gao sekuat tenaga, seolah nyawa Shu Yuan bergantung padanya.
Saat ia masuk ke dalam aula utama, Shu Yuan masih terjaga, duduk di depan cermin, membiarkan rambutnya digerai sambil menikmati sisa arak yang mulai mendingin. Tatapannya tajam—bukan seperti wanita biasa, melainkan seperti seorang komandan perang yang sedang menanti aba-aba.
“Aku sudah menunggumu,” ucap Shu Yuan tanpa menoleh. “Kau bertemu Gao Yun?”
Mei Lin berlutut dan mengangkat gulungan itu. “Ini... pesan dari Penasihat Gao. Beliau tahu segalanya tentang Anda, Putri.”
Shu Yuan menoleh perlahan, mengambil gulungan itu, lalu membukanya dengan tenang. Pandangannya menyapu tulisan-tulisan bersegel Yin kuno yang memuat pengakuan atas identitasnya, juga catatan strategi lama yang bisa membalikkan persepsi istana tentang dirinya.
“Bagus.” Ia menutup gulungan itu. “Dengan ini, kita bukan lagi buruan. Kita adalah ancaman yang terlalu berharga untuk dimusnahkan.”
Mei Lin menunduk dalam-dalam. “Perjamuan istana diadakan besok pagi. Permaisuri telah menyiapkan semuanya. Aku khawatir akan ada jebakan.”
Shu Yuan berdiri perlahan, lalu berjalan ke jendela tempat angin malam masuk, mengibaskan tirai sutra tipis.
“Biarkan dia menjebak,” ucapnya ringan. “Karena kali ini, aku yang akan menari di tengah perangkapnya.”
Mei Lin memandang tuannya dengan kagum dan gentar.
“Aku akan mengenakan gaun merah tua. Warna darah dari Dinasti Yin. Biar dia tahu, aku datang bukan untuk merayu, tapi untuk mengingatkan siapa yang seharusnya takut.” Ia menatap ke luar, ke arah aula besar tempat perjamuan akan digelar.
Kemudian, dengan suara yang nyaris berbisik, tapi mengandung nyala bara:
“Besok... aku akan menunjukkan pada Permaisuri bahwa selir yang ia anggap budak itu... bukan hanya tahu cara bertahan, tapi juga tahu bagaimana membakar tahta.”
“Bukankah itu gaun yang diberikan Permaisuri? Jangan kenakan itu! Bahannya mengandung racun ular, kulitmu akan melepuh!” seru Mei Lin panik, matanya membelalak saat melihat kain merah tua itu terbentang di tempat tidur, berkilau indah tapi menyimpan bahaya.
Namun Shu Yuan justru tersenyum, pelan dan dalam. Senyum yang tidak lagi menyiratkan kelembutan seorang budak, melainkan rencana seorang ratu bayangan.
Ia berdiri sambil menyentuh kain itu dengan jari-jarinya yang lentik, seolah menyentuh sesuatu yang sakral. Pandangannya menerawang, melewati tirai tipis, menembus taman istana, hingga jatuh tepat ke arah Paviliun Naga Emas—kediaman sang Kaisar Zao Lian.
“Memang itu yang kuinginkan, Mei,” ujarnya tenang, namun nada suaranya mengandung kekuatan dingin yang belum pernah terdengar sebelumnya. “Kaisar akan melihat luka di kulitku. Ia akan marah, dan mencari tahu dari mana asal gaun ini.”
Shu Yuan mengepalkan tangannya, pelan namun mantap. “Dan saat itu tiba… Permaisuri Lu Syerin akan ketakutan. Ia akan menyadari bahwa permainannya terlalu cepat terbalik. Takhtanya... akan mulai retak.”
Mei Lin menatapnya dengan tatapan gamang antara ngeri dan kagum. “Tapi tubuhmu akan terluka…”
“Luka luar akan sembuh, Mei. Tapi luka di dalam hati Kaisar—luka kepercayaannya pada Permaisuri—itu akan bertahan. Dan dari situlah... aku akan naik.”
Shu Yuan mengambil pin rambut emas berbentuk naga yang menjadi simbol hadiah dari Kaisar, lalu menyematkannya ke rambutnya sendiri, menatap ke cermin dengan percaya diri.
“Besok pagi, semua mata akan tertuju padaku. Bukan karena aku selir termuda. Bukan karena aku wanita dari negeri yang ditaklukkan. Tapi karena aku adalah satu-satunya wanita… yang berani membakar dirinya sendiri untuk menyalakan api di bawah singgasana sang Permaisuri.”
