Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 02

Sang malam makin larut, namun kehangatan arak dan obrolan di dalam Paviliun Angin Timur membuat waktu terasa berjalan lambat. Lentera-lentera istana menggantung rendah, menyinari kulit pucat Shu Yuan yang bersinar dalam balutan sutra lembut warna ungu tua. Di depannya, Kaisar Zao Lian duduk bersandar, sorot matanya tidak lagi tajam seperti tadi, melainkan penuh rasa ingin tahu.

“Bagaimana hidup di Istana Utara Dinasti Yin sebelum kau dibawa ke sini?” tanya Zao Lian tiba-tiba.

Pertanyaan itu menghantam Shu Yuan seperti cambuk tak terlihat. Namun ia menahan getaran hatinya. Ia tidak akan membiarkan ingatan pahit itu menguasainya malam ini.

“Aku hanyalah salah satu dari pelayan istana dalam, Paduka,” jawab Shu Yuan tenang, “aku tak tahu banyak soal kekuasaan. Hanya tahu cara menyeduh teh dan menyulam bunga.”

Zao Lian mengangkat alis, tak yakin dengan jawabannya. “Kau berbicara terlalu pandai untuk seorang pelayan.”

Shu Yuan menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya. “Barangkali, karena aku sering menguping percakapan para istri pejabat dahulu kala. Mereka gemar bergunjing di balik tirai... dan aku selalu diam di sana, tak bersuara, tapi mendengarkan.”

Kaisar menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya menjadi lebih tajam, seakan mencoba menembus segala lapisan kedok Shu Yuan. Tapi gadis itu menatap kembali tanpa ragu—penuh ketenangan yang menusuk.

“Berhati-hatilah, Shu Yuan,” ujar Kaisar akhirnya. “Istana bukan tempat untuk hati yang mudah goyah, ataupun untuk lidah yang terlalu tajam.”

“Aku paham, Paduka,” balas Shu Yuan lembut. “Karena itu aku lebih memilih diam... dan berpikir.”

Kaisar meneguk araknya pelan. “Aku mulai mengerti kenapa aku memilihmu malam ini.”

Dan untuk sesaat, diam pun menggantung di antara mereka. Tak ada suara selain gemerisik angin di luar dan denting halus ranting plum yang mengetuk jendela.

Lalu suara langkah pelayan terdengar dari luar.

“Yang Mulia Kaisar,” panggil seorang kasim dari balik pintu, “Permaisuri mengirimkan hadiah untuk Selir Shu, dan mengundang beliau menghadap esok pagi.”

Kaisar menoleh. “Permaisuri?”

“Ya, Paduka. Hadiah berupa minyak rambut phoenix, kain sutra merah, dan giok dari pegunungan barat. Semua atas nama kehormatan.”

Shu Yuan sempat menoleh, tetapi ia segera menunduk kembali. Wajahnya tenang, namun dalam hatinya, alarm bahaya mulai berdentang.

Zao Lian tidak berkata apa-apa. Ia hanya melirik Shu Yuan sebelum melambaikan tangan.

“Terima. Dan katakan, jika dia ingin bertemu Selir Shu... maka Selir Shu hanya akan pergi jika aku mengizinkannya.”

Keesokan pagi, Shu Yuan berdiri di tengah kamarnya yang harum. Mei Lin menunjukkan peti hadiah dari Permaisuri. “Yang Mulia Permaisuri sangat murah hati, tapi aku takut... ini bukan sekadar hadiah.”

Shu Yuan memeriksa salah satu kain. Tercium bau samar. “Apa ini minyak kayu ular?” gumamnya.

Mei Lin mengangguk panik. “Jika kau kenakan kain ini dalam waktu lama, kulitmu akan terbakar perlahan seperti melepuh terkena api. Tidak akan langsung terasa… tapi cukup untuk merusak wajahmu.”

Shu Yuan menghela napas panjang. “Dia ingin mempermainkanku sejak awal.”

Mei Lin memandangnya takut-takut. “Apa yang akan kita lakukan?”

Shu Yuan berdiri tegak. Matanya menatap jauh ke arah jendela, tempat istana utama menjulang di kejauhan.

“Kita balas dengan kepintaran. Kirim balasan pada Permaisuri: aku mengucap terima kasih sebesar-besarnya... dan meminta izin mengenakan hadiah beliau pada perjamuan istana berikutnya.”

Mei Lin terbelalak. “Tapi—itu berbahaya!”

“Justru karena itu. Jika aku mengenakannya di depan semua pejabat tinggi dan luka itu muncul, semua akan tahu siapa yang mengirimkannya.”

Shu Yuan menyeringai kecil. Untuk pertama kalinya sejak negeri dan keluarganya hancur, ia merasakan kembali kendali di tangannya.

“Katakan padanya,” lanjut Shu Yuan, suaranya dingin namun terukur, “aku sangat tersentuh oleh perhatian Permaisuri. Dan aku tak sabar bertemu beliau... esok pagi.”

***

Sementara itu, di kediaman Permaisuri Lu Syerin, kabut teh melayang di udara ketika seorang dayang melapor bahwa Shu Yuan akan mengenakan hadiah beliau di depan semua orang.

Lu Syerin mengepal cangkir giok di tangannya hingga pecah.

“Dia bukan wanita biasa,” gumam sang Permaisuri dingin. “Dan justru karena itu… dia harus dihancurkan lebih cepat dari rencana semula.”

“Lalu apa yang akan Permaisuri lakukan?” suara pelayan itu nyaris tak terdengar, seolah takut pertanyaannya saja bisa membuat ruangan itu membeku.

Lu Syerin tidak langsung menjawab. Ia berdiri di depan cermin tinggi, menatap pantulan wajahnya yang tanpa cela. Mata itu—tajam seperti pisau, penuh perhitungan. Ia tahu, cantik saja tidak cukup di istana ini. Yang bertahan bukanlah wanita paling menawan, tapi yang paling tega… dan paling tenang saat melukai.

“Aku akan membuat Kaisar berpikir bahwa wanita itu terlalu sempurna untuk tidak menyembunyikan sesuatu,” gumamnya akhirnya.

Pelayan itu mengerutkan kening, bingung. “Maksud Permaisuri?”

“Shu Yuan akan aku jadikan cermin bagi Kaisar. Cermin yang akan membuatnya bertanya. Siapa dia sebenarnya? Dari mana dia belajar bersikap setenang itu? Dan mengapa dia tidak pernah melakukan kesalahan?”

Lu Syerin berjalan perlahan ke meja kayu cendana, membuka laci dan mengambil secarik surat dengan stempel hitam. Di sudut surat tertera nama seorang kepala pengintai yang hanya tunduk pada Permaisuri.

“Aku akan membocorkan kabar bahwa Shu Yuan pernah menjadi pengantar surat rahasia di istana Yin. Biarkan Kaisar berpikir bahwa dia menyembunyikan masa lalu sebagai mata-mata,” lanjutnya, menyodorkan surat itu kepada pelayan. “Sebarkan ke telinga yang tepat. Satu kasim istana, satu tabib tua, dan satu dayang yang biasa menyisir rambut Kaisar.”

Pelayan itu menerima surat itu dengan tangan gemetar. “Bukankah ini bisa membahayakan nyawa Selir Shu?”

Lu Syerin menoleh perlahan, tatapannya membeku. “Itu memang tujuan kita... bukan?”

Ia kembali ke kursi singgasananya, mengambil cawan teh yang kini telah dingin.

“Jika dia pintar, dia akan menyingkir sendiri sebelum mata Kaisar melihatnya sebagai ancaman. Tapi jika dia keras kepala…” Ia meneguk teh perlahan, lalu menatap langit-langit istana yang tinggi. “Maka darahnya akan membersihkan karpet utama paviliun selir. Dan semua yang melihatnya akan tahu, aku tidak berbagi panggung.”

Pelayan itu membungkuk dalam. “Hamba mengerti.”

Lu Syerin menatap lentera yang bergoyang pelan tertiup angin. “Di istana ini, hanya ada dua pilihan, kau yang menjatuhkan... atau kau yang dijatuhkan.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel