Bab 5 - Bulan Madu
"Danisa, kenapa suamimu tidak kamu ambilkan nasi?"
Aku yang sudah hampir duduk di kursi meja makan, akhirnya kembali bangkit. Walaupun sebenarnya nggak sudi juga sih mengambilkan si bencong menyebalkan ini makanan, tapi mau bagaimana lagi? Aku mengambil piring Fauzan lalu mengambilkannya nasi beberapa entong, lalu kutaruh piringnya lagi dengan asal-asalan.
Fauzan melirikku sebal saat nasinya tak sengaja kulempar ke tangannya, dan aku hanya membalas dengan senyuman polos tak tahu apa-apa.
"Kenapa?" tanyaku sok polos.
Fauzan memberikan senyuman lebar padaku, "Nggak apa-apa." Lalu Fauzan mencium pipiku yang membuatku berjengkit kaget. "Makasih ya, sayang," katanya sok mesra.
Apa-apaan sih tuh bocah! Pagi-pagi udah ngajak berantem aja! Ku injak kakinya dengan sadis, membuatnya berteriak mirip bencong! Makanya nggak usah ngajakin berantem deh! Aku membuang muka saat Papa bertanya apa yang terjadi pada Fauzan.
"Kakiku digigit hewan buas, Pa,” jawab Fauzan.
Aku menoleh mendengar kata-kata dramatis Fauzan, sialan! Jadi dia menyamakan aku dengan hewan buas?
"Hewan buas? Memangnya ada hewan buas di rumah ini?" Papa ... kenapa Papa polos banget sih percaya sama si bencong?! "Oh ya, Papa jadi ingat. Kalian sudah bisa berangkat ke Bali lusa."
Aku mendongak dan menatap Papa dengan kening berkerut, "Berangkat ke Bali?" tanyaku heran.
Papa mengangguk, lalu mengelap bibirnya dengan serbet. "Iya, Papa sudah membeli tiketnya. Jadi kalian tinggal berangkat saja." Ha? Aku menoleh ke arah Fauzan, yang kini tangannya menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kita ngapain di Bali, Pa?" tanyanya mewakili kami.
"Bulan madu."
Oalah ... Bulan Madu. Aku dan Fauzan mengangguk-angguk. Kukira kenapa, kok sampai kami harus pergi ke Bali segala—tapi tunggu! "BULAN MADU PA?!" teriakku kaget.
Papa mengangguk dengan santainya, "Iya. Itu hadiah pernikahan dari Papa khusus untuk kalian, Papa sudah mengatur semuanya sehingga kalian tinggal datang saja." Papa berdiri dari duduknya. "Papa sudah selesai makan, sekarang Papa berangkat kerja dulu."
Lalu Papa meninggalkanku dan Fauzan yang masih syok dengan wajah menganga.
"Gara-gara elo nih!" dumel Fauzan.
"Kok jadi gue?" tanyaku galak. Kutatap dia dengan pelototan ala medusa yang menurutku menyeramkan.
"Waktu gue ngelamar lo dulu kan lo yang setuju sama usul Papa tentang bulan madu! Sok hilang ingatan lo."
Heee? Masa sih? Huhu waktu itu kan aku cuma asal mengangguk aja dan nggak dengerin Papa bicara apa. Kalau tahu harus pake acara bulan madu segala, mending aku menolak langsung! Hiks~
"Ya udahlah. Anggap aja ini liburan, sekalian ajak Lani sama Rani aja," usulnya tanpa menatapku. Dia sibuk menyuapkan nasi ke mulutnya.
Hmm, ide bagus sih. "Lo yang bayarin ya, Zan?" tanyaku dengan harap.
Fauzan menatapku dengan tatapan tidak senang. "Enak aja lo! Itu kan sahabat lo, ya elo yang bayarin!" tolaknya mentah-mentah.
Ish dasar bencong menyebalkan! "Tapi kan lo udah kerja sambilan Fauzan, pasti lo punya penghasilan sendiri kan?" tagihku.
"Iya, tapi uangnya selalu abis gue pake," jawabnya.
Ha? Masa sih? Kok aku nggak percaya ya? Fauzan kan bukan tipe cowok shopping, dia malah jarang banget membeli barang kalau nggak butuh-butuh banget. Lha ini masa gajinya hasil kerja di Perusahaan keluarganya bisa habis? Kan gila banget tuh.
Aku mendekatkan wajahku ke arah Fauzan, "Zan, bayarin ya?" pintaku sembari memberi wajah memelas padanya.
"Cium dulu!"
"Dih sudi banget!,” balasku sambil mencibir. Enak aja cium-cium! "Tadi kan udah cium, sekarang bayarin ya, Zan? Ya?"
Fauzan menggeleng tegas sambil menyuapkan sesendok nasi dan ayam ke mulutnya. Aku mencebik kesal karena si master pelit ini! Mana minta cium-cium segala lagi. Ihhh terus gimana nih? Bukannya Lani sama Rani itu kere sih, tapi masa iya aku menyuruh mereka menemaniku ke Bali tapi kusuruh bayar sendiri?
Hish dasar bencong pelit! "Zan," panggilku memelas.
Fauzan bukannya menjawab malah menunjuk-nunjuk bibirnya, membuatku mengerang kesal. Nih bocah beneran minta cium nih? Ish bibirku bisa ternoda kalau mencium nih bencong! Tapi gimana ya? Ah yaudah deh, toh cuma cium pipi. Aku mendekatkan bibirku ke pipinya, namun Fauzan langsung menarik wajahnya kaget.
"Lo mau ngapain?!" tanyanya kaget macam cewek yang mau diperkosa. Sial, aku jadi merasa seperti cewek penggoda kalau begini.
"Tadi katanya minta cium! Gimana sih lo?" tanyaku ketus sambil menghadap ke depan lagi.
"Nggak usah deh. Males gue dicium sama Mak lampir."
Sialan! Nih bocah maunya apa sih? Tadi minta cium, pas mau dicium malah nyela! Hihh mimpi apa gue punya suami macam si sarap ini?!
"Mau bayarin nggak?!" tanyaku akhirnya.
Fauzan menelungkupkan sendok dan garpunya, "Hm," jawabnya singkat.
"Hm apa? Hm iya apa hm nggak?"
Fauzan melirikku, "Hm iyaaa." Eh? Serius?
Aku langsung kegirangan sambil loncat-loncat seperti anak kecil, sedangkan Fauzan malah meninggalkanku. Dasar! Tapi nggak apa-apa, yang penting aku seneng banget!
***
"Mas Faris beneran nggak mau ikut, Lan?" tanyaku dengan nada kecewa.
Sekarang kami sudah berada di bandara dan tinggal menunggu setengah jam untuk naik ke pesawat. Tapi rasanya aku jadi ingin membatalkan rencana kami ke Bali, karena Mas Faris nggak ikut. Nggak ada Mas Faris, berarti nggak ada yang bisa dikecengin.
"Dia sibuk ngurusin kantornya." Lani menjawab sambil menaikan bahunya, membuatku makin mencebik. Kenapa sih Mas Faris harus jadi cowok gila kerja gitu?
"Lo lagi! Masa bulan madu mau ngajakin cowok lain?" Rani menyela sambil menjambak rambutku sedikit.
Aku meringis sambil menyentakkan tangannya. "Sakit, bego!" ketusku dengan cepat memperbaiki rambutku. "Lagian Mas Faris kan bukan cowok lain, dia itu kakaknya Lani. Wajar dong kalau mengajak saudaranya sahabat sendiri?" elakku setelah berpikir beberapa saat.
"Ya masalahnya Mas Faris itu bukan sekedar kakaknya Lani tapi juga kacengan lo! Dasar sok-sok polos." Rani mengibas-ngibaskan tangannya karena udara panas di sekitar.
"Ih lo mah rese, Ran!" Akhirnya aku menggerutu singkat.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling bandara, untuk mencari keberadaan si bencong. Tapi ternyata dia sedang mengobrol berdua dengan cewek yang sepertinya seorang pramugari! Dasar cowok playboy! Ditinggal sebentar aja langsung merayu cewek lain.
Eh tapi aku nggak jealous ya, cuma sebal aja karena si bencong meninggalkan kami seperti anak hilang. Kuhampiri Fauzan dengan langkah panjang, lalu berdiri tepat di sebelahnya. Kuhadiahi senyuman ramah namun sinis pada pramugari itu, lalu kutolehkan kepalaku pada Fauzan.
"Sayang, pesawatnya berangkat jam berapa?" tanyaku sok mesra sambil menggandeng lengannya.
Fauzan langsung gelagapan mendapat perlakuan mesra dariku, lalu dia menoleh ke si pramugari yang yah ... cantiknya lumayan sih. "Eh, Din, sori. Bentar ya." Lalu Fauzan langsung menarikku menjauh dari si pramugari yang tadi dipanggil 'Din' oleh si Bencong. Hm siapa kira-kira nama cewek itu? Din? Dinosaurus? Yap, kayaknya nama itu cocok buat— "Lo ngapain sih?!"
Eh kenapa nih cowok jadi marah sih? Aku menyentakkan tanganku dari tangan Fauzan yang tadi menyeretku. "Emangnya gue kenapa?" tanyaku dengan polos.
Fauzan menatapku dengan mata menyipit, lalu dia menoleh ke belakang. Mungkin untuk memastikan si Dinosaurus masih menunggunya. "Mak, dengerin gue ya." Fauzan berkata dengan tampang serius. "Dina itu ceweknya temen kampus gue." Mulutku langsung terbuka lebar.
"Apa? Ceweknya temen kampus lo? Siapa?!" tanyaku shock.
"Bram!" Bram?! Mati aku mati! Bram itu salah satu cowok terkenal di fakultas kedokteran! Kalau sampe si Dinosaurus —maksudku Dina— cerita ke Bram gimana? "Lo barusan melakukan hal yang bisa membuat dia berpikir macam-macam tentang kita, tau!"
"Aduh Zan, gue kan nggak tahu! Aduh gimana dong?" aku langsung ketakutan. Kalau Bram tahu, pasti gosip itu akan langsung menyebar ke 1 kampus! Biarpun beda fakultas, tapi gedung kampus kami berdekatan. Dan mahasiswanya juga lumayan dekat. Aduh!
Si Bencong menyebalkan itu mengerutkan keningnya, seperti berpikir. "Ya udah, biar gue yang tanganin." Fauzan menggerutu.
"Serius? Tapi lo bener bisa nggak, Cong?"
Fauzan mendorong kepalaku ke belakang dengan jarinya. "Mau dibantuin nggak sih lo, Mak?" tanyanya marah.
"Iya iya, bawel. Gue kan cuma takut aja," gerutuku. Sialan nih bocah! Berani-beraninya mendorong kepalaku begitu! "Ya udah sana! Si dinos— maksudku Dina, udah lihatin kita daritadi!"
"Eits, nggak segampang itu!" Aku yang sudah nyaris kabur, berhenti mendadak mendengar kata-kata Fauzan. Apa sih maunya?
"Maksudnya?" tanyaku sebal.
"Ada syaratnya kalau lo mau gue beresin masalah sama Dina!"
What?! Ini cowok bencong ngeselin banget sih! Kenapa juga harus pake syarat-syarat segala? Jangan bilang syaratnya cium pipinya kayak dulu? Kalau gitu sih nggak apa-apa, toh pasti dia akhirnya nggak mau kucium juga.
Dari dulu, Fauzan tidak pernah membiarkanku menciumnya. Yah walaupun dia sering menggodaku untuk menciumnya, tapi dia tidak pernah serius dengan itu. Dia juga tidak pernah berlaku mesra denganku. Mungkin itu juga alasan aku dan Fauzan tidak pernah terjebak dalam Friendzone. Perasaan kami benar-benar netral hanya sebagai sahabat.
"Heh mak?" Fauzan menepukkan tangannya di depan wajahku, membuatku kembali tersadar.
Uhh tadi dia bicara tentang syarat ya? "Apa syaratnya?!" tanyaku galak.
Fauzan tersenyum licik, membuatku tahu bahwa apapun yang dimintanya pasti tidak akan baik untuk hidupku! "Lo jadi pembokat gue selama di Bali. Gampang kan?" katanya enteng.
Pembokat dia bilang? Pembokat? Pembantu?! Sialan banget sih nih bencong! "Ogah! Nggak sudi gue jadi pembantu lo!" tolakku mentah-mentah.
"Oke kalau gitu." Fauzan mengangguk dengan enteng, membuatku menyipit menatapnya curiga. Udah? Gitu aja? Kok gampang banget nolak dia?
Aku menatap Fauzan yang tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menatapku dengan tatapan polosnya. Aku tahu dia merencanakan sesuatu dengan otak tololnya, tapi aku tidak punya gambaran apa yang akan dia lakukan.
"Gue boleh nolak syaratnya?" tanyaku ragu-ragu. Dia mengangguk yakin. "Lo mau jelasin ke Dina semuanya sekarang?" Fauzan mengangguk lagi.
Oh syukurlah. Setan apapun yang merasukinya, yang penting aku tidak harus menjadi pembantunya!
"Ya udah, sekarang lo jelasin ke dia!"
Fauzan mengangguk sekali lagi, "Oke. Boleh gue kasih surat nikah kita juga?" tanyanya.
"Buat apa?"
"Biar dia percaya kalau kita udah menikah."
WHAT?! "Bencong tolol, gue minta lo bikin dia nggak mikir aneh-aneh soal kita! Bukannya jelasin kalau kita udah nikah!" bentakku dengan suara seminimal mungkin. Sialan, dasar cowok dodol!
Fauzan mengedikkan bahunya, "Lo kan nolak syarat gue. Gue juga nolak permintaan lo dong." Lalu dia berbalik hendak berjalan menuju si Dina-Dina itu.
Errr dengan terpaksa, aku menarik tangannya. "Oke gue mau!" tegasku dengan bibir mencebik. Dan bisa kulihat Fauzan langsung tersenyum menang. "Sialan lo, Zan! Lo emang sahabat paling menyebalkan yang pernah ada!" omelku setelahnya.
"Ralat tuh omongan!" Fauzan memainkan rambutku, membuatnya berantakan. "Gue bukan sahabat paling menyebalkan, gue suami yang paling—"
"Berisik! Udah sana cepet ah!" Tak mau mendengar omongan tidak mutunya tentang status hubungan kami, aku memilih langsung meninggalkannya menuju tempat Lani dan Rani.
"Kenapa lo, Dan?" Rani bertanya begitu aku sampai di hadapan mereka dengan wajah tertekuk.
Aku mengedikan bahuku ke arah Fauzan, "Si Bencong bikin ulah lagi!" gerutuku.
"Hush, masa lo ngomongin suami lo sendiri bencong sih?"
"Laniii, dia itu emang bencong! Kalau nggak, itu berarti dia bukan Fauzan. Pokoknya bencong itu Fauzan, Fauzan itu bencong! Titik!" Nada suaraku terdengar final, membuat Lani langsung diam dan Rani tertawa terbahak-bahak.
Errr benci benci benci! Aku benci banget sama si Bencong! Heran kenapa selama ini aku bisa sahabatan sama bencong macam dia sih?!!
****
"Kita nggak ke hotel dulu?" kudengar Lani bertanya pada Fauzan yang menyetir mobil sewaan yang telah disiapkan Papa untuk aku dan Fauzan.
Fauzan terlihat dengan mudahnya memutar-mutar kemudi kesana kemari, membuatku terheran-heran bagaimana dia bisa menyetir dengan jago begitu. Tau begitu, dulu aku minta dia mengajariku.
"Nggak." Fauzan menjawab lembut. Yeah, dia memang selalu jaim pada Lani. Membuatku ingin muntah saja. "Kita ke Pantai dulu buat lihat matahari tenggelam!" lanjutnya.
"Hah?" Rani terlihat mengucek matanya, karena mengantuk. Sudah dari di pesawat dia terlihat mengantuk. "Ke Hotel dulu aja kenapa sih? Gue capek banget nih!" protesnya dengan suara serak khas orang ngantuk.
"Iya, Zan. Kita udah capek banget nih." Lani menimpali.
Fauzan menggeleng-geleng, "Gue pengen banget lihat matahari tenggelam di hari pertama kita di Bali, itu udah semacam ritual yang biasa gue jalanin tiap ke sini." Fauzan menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan.
Aku, walaupun juga merasa sangat capek, tidak menolak sama sekali rencana Fauzan itu. Yeah, itu karena ritual yang biasa dia jalanin juga melibatkan aku. Aku dan Fauzan sudah hampir 7 kali pergi ke Bali, tentunya bersama dengan orang tua kami masing-masing. Dan tiap datang ke Bali, orang tua kami memang langsung membawa kami ke Pantai untuk melihat matahari terbenam.
Matahari Terbenam membuatku teringat dengan Mama, aku kangen sama Mama. Mama sangat suka dengan matahari terbenam yang ada di Bali. Dan keinginan terakhir Mama adalah melihat matahari terbenam dari jendela rumah sakit Singapura sebelum akhirnya Mama meninggal.
Ahh rasanya sesak jika mengingat saat-saat itu. Rasanya baru kemarin aku bercanda dan mengerjai Papa bersama Mama, namun sekarang aku sudah tidak bisa melakukannya lagi.
"Kenapa melamun?" Lani mentoel lenganku, membuatku tersadar.
Aku menoleh ke arah Lani, lalu tersenyum. "Nggak apa-apa kok, Lan. Cuma capek aja." Gumamku lemah.
Lani mengangguk-angguk mengerti, "Mungkin lo jetlag yah?" gumamnya dengan perhatian.
Aku hanya tersenyum menjawab, lalu kembali menatap ke depan. Bisa kurasakan Fauzan melirikku sedikit, lalu kembali fokus pada jalanan. Aku tahu Fauzan pasti mengerti alasan kenapa aku mendadak diam seperti ini.
Sampai di salah satu Pantai, kami langsung turun dan berjalan di atas pasirnya. Aku sengaja melepas sepatuku karena aku memakai high hells yang akan membuatku kerepotan berjalan. Dan biarpun tadi Lani dan Rani mengeluh capek dan semacamnya, mereka langsung berlari kegirangan menuju laut. Hah! Capek apa coba tadi yang mereka keluhkan?
"Lo ngapa pake copot sepatu sih, Mak?" Fauzan bertanya sebal melihatku menenteng high hellsku.
Aku mencebik, "Nggak lihat gue pake sepatu apa?" tanyaku galak.
"Ck, ya udah rasain sendiri ya akibatnya." Lalu Fauzan langsung meninggalkanku untuk menyusul Lani dan Rani. Rasain akibatnya? Emangnya akibat apa yang bakal aku dapet dengan berjalan tanpa alas di pasir Pantai?
Aku melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat mereka bertiga sedang berdiri, namun langkahku tertahan karena rasa panas yang langsung terasa di kakiku! Siallll, panas bangetttt! Kakiku sampai berwarna kemerahan karena panasnya! Kenapa pula pasir disini jadi sepanas ini? Atau memang begitu ya?
Ahh sial, memalukan sekali duduk berjongkok disini dengan kaki kemerahan yang terasa panas.
"Mak, sini!" Teriakan Fauzan terdengar, membuatku mendongak dan menatapnya dengan memelas. "Sini!" teriaknya lagi.
Dasar tidak peka! Memangnya dia tidak lihat ya aku yang memelas ini?
"Zan ..." teriakku dengan merengek.
"Ck, kenapa sih Mak?" kudengar dia mendumel sambil berjalan ke arahku. Dia berjongkok tepat di depanku, lalu mulai menelusuri seluruh tubuhku dengan matanya. Setelah memastikan sesuatu yang aku tidak tahu, dia kembali menatapku. "Kenapa sih?"
Aku mencebik, "Panas!" gerutuku.
Fauzan mengerutkan keningnya, "Bukannya tadi gue udah bilang?" tanyanya dengan nada pongah.
"Lo nggak bilang, dasar bencong!" Eh kenapa aku malah mengatainya sih? Sekarang kan aku sedang berusaha terlihat melas. "Kaki gue kepanasan nih," gumamku dengan nada lebih manusiawi.
"Hah lo nih." Lalu cowok itu tiba-tiba berbalik ke belakang, masih dengan berjongkok.
Aku menepuk bahunya. "Lo ngapain?" tanyaku heran.
"Cepet naik! Mau lihat matahari tenggelam nggak sih?"
Gendong? Eh serius nih Fauzan mau menggendongku? "Zan, lo beneran mau gendong gue? Gue nggak ringan lo?" tanyaku ragu-ragu.
"Gue juga tahu lo berat! Bodi kayak mak lampir gitu kok ringan!"
Sialan! Aku langsung menendang punggungnya dengan kakiku, membuatnya terjatuh dengan mengenaskan! Huh suruh siapa mengataiku begitu!
"Lo mau ditolong nggak sih Mak?" tanyanya kesal saat berhasil berdiri.
"Mau." Jawabku enteng tanpa rasa bersalah. "Udah cepet jongkok lagi! Terima aja berat badan gue seberat apapun," ucapku enteng.
Fauzan menggerutu, tapi kembali berjongkok dan mengangkatku naik ke gendongannya. Dia membawaku berjalan ke pinggir laut. Kupeluk leher Fauzan dan menumpukan kepalaku ke bahunya. Berada di gendongan Fauzan, membuatku ingat terakhir kalinya Mama ikut datang ke Bali.
Waktu itu aku marah karena Papa tidak mau menggendongku padahal aku capek sekali, lalu Mama menenangkanku dengan menyuruh Fauzan menggendongku sebagai gantinya. Hari itu berakhir dengan lebih baik, karena aku berhasil membuat Fauzan basah kuyup dengan turun dari gendongannya secara tiba-tiba. Bisa kuingat tawa Mama yang mengiringi teriakanku ketika Fauzan mengejarku untuk membalas.
Aku mengeratkan pelukanku pada leher Fauzan. "Zan …," gumamku pelan. "Gue kangen Mama," lanjutku dengan suara serak karena menahan tangis.
Fauzan menghentikan langkahnya tiba-tiba, mungkin karena mendengar kata-kataku.
"Gue kangen banget sama Mama." Aku kembali bersuara dengan suara diwarnai tangisan kecil.
Fauzan menarik nafas panjang, lalu mengacak rambutku dengan tangannya yang bebas. "Gue tahu," gumamnya lembut sambil memperbaiki posisiku di punggungnya. "Mama pasti juga kangen sama lo, Dan." Lalu dia kembali berjalan.
Ya, aku tahu itu. Mama pasti juga kangen sama Danisa kan, Ma?
***
