Pustaka
Bahasa Indonesia

Scheinehe (Wedding Story)

138.0K · Tamat
Luthfia_af
88
Bab
4.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Bagaimana perasaan kalian jika Papa kalian berkata akan menikah lagi di tahun ke-6 meninggalnya Mama kalian? Menolak? Sudah pasti! Aku, Danisa Putri Mahardika tidak akan sudi memiliki Ibu tiri walau sebaik apapun wanita itu! Tapi demi menolak adanya Ibu Tiri, aku harus menikah dengan Fauzan - sahabat cowok paling somplak yang pernah aku punya-. Kalian bisa membayangkan rasanya menikah dengan sahabat kalian dari kecil? Apalagi cowok itu Fauzan... cowok terabsurd dan termenyebalkan yang pernah hidup di dunia ini. Bakal jadi apa masa depanku? Hiks~

Love after MarriageBaperKawin KontrakRomansaDokterPernikahanIstriSweet

BAB 1 - Lamar Gue Secepatnya!

"Apa Pa? Menikah? LAGI?!" Aku memekik kaget mendengar penuturan Papa yang terkesan gila! Di tahun keenam meninggalnya Mama, bisa-bisanya Papa ingin menikah lagi! Bunuh saja aku kalau Papa mau melakukan itu!

"Ada apa memangnya? Umur Papa masih 45 tahun, belum terlalu tua untuk menikah lagi bukan?"

Fix, Papa udah bener-bener gila! Eh astaga, nggak boleh ngatain Papa sendiri. Maaf Pa, Danisa khilaf! Tapi Papa emang bener-bener aneh sih! Masa iya tiba-tiba bilang mau menikah lagi?!

Aku memutari meja makan, menaruh secangkir kopi dihadapan beliau, lalu menarik kursi untuk duduk. "Pa, pokoknya Danisa nggak mau punya Ibu tiri! Memangnya Papa mau aku hidup kayak Cinderella?! Nanti aku bakal disiksa kakak tiriku, terus Papa diracuni, terus wasiat Papa--"

"Danisa, kamu sepertinya terlalu banyak menonton dongeng. Tidak semua Ibu tiri itu jahat, Nak."

Aku mencebikan bibir, memandang Papa yang sibuk meminum kopi-nya. Seperti tidak melihat kerisauanku! "Pa, pokoknya Danisa nggak mau! Titik!" gumamku dengan nada final. Bilang aja deh aku ini kekanakan, tapi aku tetep nggak mau punya ibu tiri!

"Sini, dengarkan Papa dulu." Papa meminum hingga tandas kopi-nya, lalu menyuruhku mendekat padanya dengan pandangan teduh beliau. Huuuuh!

"Penjelasan apapun nggak akan merubah pemikiran Danisa!"

"Dengarkan dulu, Nak." Papa mengelus rambutku dengan lembut, berhasil membuatku agak tenang meskipun masih sebal. "Kamu tau Papa ini sudah tua, kegiatan Papa setiap hari hanya makan dan tidur saja. Tentu saja Papa bosan, tunggu, jangan menyela dulu." Aku yang sudah membuka mulutku, akhirnya langsung diam lagi. "Di umur segini, Papa harusnya sudah sibuk mengurusi cucu. Padahal kamu saja kan jomblo begitu, bagaimana bisa memberi Papa cucu? Jadi lebih baik Papa buat anak lagi saja, daripada menunggu kamu."

WHAT?! Gila! Benar-benar gila! Kalau benar Papa mau menikah hanya karena ingin punya anak lagi, berarti di umur segini aku bakalan dapet adik lagi? Ya ampun, mimpi apa aku sampai harus punya saudara lagi?! Dan apa tadi? Cucu? Kenapa Papa tiba-tiba ingin punya cucu sih? Aku kan masih 19 tahun, masih banyak yang mau kulakukan sebelum jadi ibu-ibu sosialita! Eh maksudku, jadi istri orang dan jadi ibu. Kuliah aja masih semester 4, itupun karena ikut program akselerasi semasa SMP dan SMA, jadi umur segini udah jadi mahasiswa.

"Begini saja, bagaimana kalau kamu tahu dulu siapa calon Papa. Baru kamu memutuskan setuju atau tidak."

Aku tetap mencebikan bibir, tapi kini aku menatap Papa dengan pandangan tanya. Semoga saja wanita itu bukan pedagang kantin di kampusku yang rempongnya naudzubilah, atau semoga saja bukan dosen kuliahku yang galaknya minta ditimpukin!

"Papa akan menikah dengan Tante Dewi."

Tante Dewi? Itu-- HA?! "PAPA MAU MENIKAH SAMA MAMA-NYA FAUZAN?!" teriakku syok!! Gila! Benar-benar gila! Kalau benar Papa mau menikah dengan Tante Dewi, artinya aku bakal bersaudara dengan Fauzan? Ya Allah mimpi apa aku sampai harus bersaudara dengan anak tengil itu?!

"Tidak usah teriak-teriak. Iya, memang Mama-nya Fauzan. Papa pikir, akan lebih mudah bagi kalian untuk menjadi saudara. Kalian sudah bersahabat dari kecil bukan?" Papa tersenyum penuh kemenangan.

"Tap-tap--" Errrr! Senyum Papa makin lebar, pasti beliau menertawakanku yang tidak bisa membalas kata-katanya! Tapi, jangan panggil aku Danisa kalau aku tidak bisa menggagalkan rencana Papa! "Papa nggak bisa menikah sama Tante Dewi!"

"Kenapa?"

Fix, aku akan gila setelah mengucapkan ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain, tidak ada. "Karna Fauzan itu pacarnya Danisa!" Danisa ... sepertinya kamu sudah benar-benar gila. Sejak kapan cowok tengil itu jadi pacarmu? Bersahabat saja lebih banyak berantem, terus gimana pacaran?

Papa menaikan alisnya dengan heran, "Sejak kapan kalian pacaran? Kok Papa tidak tahu?" Jangankan Papa, Danisa saja tidak tahu sejak kapan. Hueeeee.

"Itu nggak penting. Pokoknya Papa nggak bisa menikah sama Tante Dewi. Titik!" jawabku ngotot.

Papa mengulum senyumnya, membuat mataku menyipit curiga. "Menikah saja bisa bercerai, kenapa pacaran tidak bisa putus?" What?! Papa benar-benar pantang menyerah rupanya!

"Tapi Pa, Fauzan sama aku itu serius!" tegasku sembari membuang akal sehatku.

"Seserius apa, tepatnya?"

"Ka-kami ... kami bakal menikah."

Danisa ... Tidak cukup berbohong tentang pacaran, sekarang tentang menikah? Silahkan nikmati akibat kebohongan yang telah kamu ciptakan sendiri nanti. Hiks~

***

"Jadi, kapan tepatnya Papa harus mempersiapkan semuanya?"

Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Papa, apa maksudnya? Mempersiapkan apa coba? "Danisa nggak ngerti, emang Papa mau mempersiapkan apa?" Aku menutup layar laptop setelah menyimpan file tugasku.

"Lamaran itu, Danisa! Bagaimana sih kamu?" Papa menarik kursi meja belajarku, lalu duduk disitu sambil menghadapku.

Lamaran? "Bukannya kita udah sepakat kalau Papa nggak akan menikah lagi?" tanyaku memastikan. Baru saja kemarin Papa mengatakan tidak akan menikah lagi, lalu sekarang membicarakan lamaran? Apa Papaku berubah jadi orang plinplan?

"Memang tidak. Lagipula, ini bukan untuk Papa. Tapi untuk kamu."

"A-aku?" Aku bangkit duduk dan mengambil tempat di sisi ranjang. "Emangnya Danisa mau menikah sama—" Oh bodoh! Aku ingat pembicaraan kemarin!

"Dengan Fauzan, siapa lagi? Bukankah kalian pacaran?"

"I-iya sih Pa, tap-tapi kan kami masih muda Pa," jawabku gelagapan. Ha! Nikmati akibat kebohonganmu Danisa!

"Kamu sendiri kemarin yang bilang akan menikah dengan Fauzan, kamu lupa? Papa tidak ingin kamu bersama dengan orang yang tidak serius. Jadi jika memang Fauzan serius, suruh dia melamarmu secepatnya."

Hah? Melamar secepatnya?! Aku harus gimana, astaga?!

****

"Ngapain lo kesini? Mana dandan kayak tante-tante rempong gitu lagi!" Sialan! Belum juga duduk, udah langsung dihina-hina! Sabar Danisa ... sabar! Kalau bukan karena kebohongan itu, mungkin sekarang aku akan dengan senang hati menendang selangkangan tuh cowok sampai pingsan!

"Zan, bantuin gue, Zan! Please!" Aku mengambil duduk disebelah Fauzan, yang sibuk dengan saluran TV-nya. Aku memang sudah terbiasa datang tanpa permisi dan langsung nyelonong masuk ke rumahnya. Habis bagaimana lagi, kami kan sudah bersahabat dari kecil.

"Apaan?" tanyanya tanpa menoleh sama sekali padaku.

"Lamar gue Zan! Secepatnya!" pintaku sambil mencengkram lengannya yang kekar. Tapi bukannya memberikan reaksi yang baik, Fauzan malah menjatuhkan remote TV-nya lalu menatapku dengan tampang horor.

“Lo … lo hamil? Siapa Bapaknya?! Bangsat! Gue harus bikin perhi—Aduh! Kenapa kepala gue dipukul sih?!"

Aku benar-benar ingin menggigitnya! Atau kalau perlu memukulnya sekali lagi, dan lebih keras! "Habisnya lo mikirnya jelek banget sih! Emangnya gue cewek apaan?!" bentakku kesal.

Fauzan menggaruk kepalanya, "Kalau bukan hamil, terus kenapa? Jangan bilang lo naksir gue Mak? Ah ya ampun, mimpi apa gue ditaksir sama cewek mak lampir macam dia? ADUH! Lo bisa nggak sih nggak pake kekerasan?!"

Hih! Aku benar-benar gemas dengan cowok konyol ini! Sudah mengira aku naksir padanya, pake memanggilku 'Mak' lagi! Memang sih dari dulu dia sering memanggilku begitu, tapi kan tetap saja aku sebal! Masa aku harus menikah dengannya? Hiks, masa depanku~

"Mendingan gue naksir monyet daripada sama lo, Zan! Ish, gue serius ini. Lamar gue, Zan! Please!"

Fauzan memberikan tampang hopeless-nya, "Gue nggak tahu sebenernya lo kerasukan apa!" Fauzan menaruh tangannya di keningku, "Lo nggak panas. Atau gila?"

"FAUZAN! GUE SERIUS DEMI APA! CEPETAN LAMAR GUE!! Hmppff—lepasin!" Aku meronta dari tangan Fauzan yang membekap mulutku. Apa bener dah nih bocah! Mana itu tangan rasanya asin lagi!

"Sstttt lo bisa nggak sih jangan keluarin suara tarzan lo?!"

"Ya habisnya lo ngeselin banget! Gue tuh serius, gue udah stress bener dan lo malah mikir yang aneh-aneh sama gue! Ish dasar dodol!" makiku sebal sambil menyentakkan tangannya.

Fauzan mengerang, "Oke. Mending lo sekarang jujur aja deh. Apa alasan lo minta gue lamar segala? Lo hamil? Atau lo takut jadi perawan tua? Atau lo mau dijodohin, tapi lo nggak mau?" tanyanya, memberikan tampang serius ala pejabat yang habis bangun tidur waktu rapat.

"Bukan itu ...." Aku menggigit bibir bawahku dengan serba salah.

"Terus apa? Lo jangan bikin gue khawatir deh!"

Huft, aku bingung harus memulai darimana. "Jadi gini, kemarin lusa, bokap gue tiba-tiba ngomong kalau dia mau menikah lagi." Aku memulai ceritaku dengan wajah melas.

"Terus? Apa hubungannya sam—aduh! Sumpah ya, sekali lagi lo nabok gue, bakal gue cium lo!"

"Idih cium? Nih nih nih! Cium gih!" Aku menyorongkan pipiku dengan sebal, soalnya aku tahu Fauzan nggak akan mau menciumku. Mimpi apa dia sampai harus menciumku segala? Dan benar kan, Fauzan menjauhkan wajahnya dariku lalu mendorong wajahku dengan tangannya.

"Apa sih lo. Katanya tadi serius?"

"Makanya lo diem dulu! Biar gue cerita dulu sampai selesai, baru lo komentar!" sungutku sebal akan kebodohan cowok itu!

"Iya, iya! Dasar mak lampir," gerutunya dengan suara pelan.

Aku melotot, "Apa lo bilang?!" sahutku cepat dan galak.

"Gue bilang lo cantik banget kalau lagi marah," ucapnya sambil nyengir. Dasar cowok tolol! Kalau bukan karena aku butuh, mungkin sudah kutendang daritadi nih cowok rese!

Aku menghembuskan nafasku berat, "Dan bokap bilang mau menikah sama nyokap lo," lanjutku pelan. Mulut Fauzan terbuka lebar, sama lebarnya dengan matanya. Kaget ye? Iye, gue juga kemarin sekaget lo kok Zan. "Nah maka dari itu, gue menolak habis-habisan Zan!"

Kulihat Fauzan menghembuskan nafasnya panjang sekali, "Syukurlah lo nolak, Mak. Gue nggak bisa bayangin kalau saudaraan sama lo bakal kaya gimana gue ntar." Sialan nih cowok! Minta dihajar kayaknya! Aku langsung menginjak kakinya kuat-kuat. "Aduh! Mak, lo apaan sih KDRT mulu?!"

"Denger ya! Gue juga nggak sudi kali saudaraan sama lo! Tapi masalahnya adalah alasan yang gue pake buat nolak semua itu, Zan ...."

Fauzan mengernyit, "Emangnya lo kasih alasan apa buat nolak?" tanyanya heran.

"Gue ...." Aku menggigit bibir bawahku, "Yah ... yang gue minta ke elo tadi. Masa lo nggak ngerti juga sih?"

Fauzan makin mengernyit, "Apa Mak? Gue nggak ngerti," jawabnya polos.

"Ya ... gue bilang kalau mereka nggak bisa menikah soalnya ... soalnya ... yah lo tahulah alasan paling bagus buat nolak itu semua. Ya ...."

"To the point aja sih, lo kasih alasan apa?"

"Gu-gue bilang kita pacaran terus mau nikah!" ucapku dalam satu tarikan nafas, lalu aku langsung memejamkan mata. Tidak berani melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan Fauzan, yang aku yakin akan sangat-sangat marah.

Beberapa detik benar-benar hening, hanya ada suara TV yang tidak begitu aku dengarkan. Aku masih tidak berani membuka mataku, takut kalau Fauzan sudah siap dengan golok di tangannya. Bersahabat dengannya hampir 15 tahun, bukan tidak mungkin dia akan menggolokku sekarang juga.

"Lo bercanda kan?" Itu ... itu reaksinya?!

Aku membuka mataku dan mendapati wajah bodohnya dihadapanku. Tangannya menggaruk rambutnya yang sepertinya tidak gatal. Tipikal Fauzan jika bingung, dia bakal melakukan itu.

"Lo lihat muka gue? Ada gitu muka bercanda di situ?" tanyaku gemas.

Fauzan melongo mendengar kata-kataku, lalu detik berikutnya.. "DANISA, LO GILA YA? KENAPA LO NGOMONG BEGITU SAMA BOKAP LO?" bentaknya seperti kesetanan. Pasti Fauzan benar-benar marah, karena dia memanggilku dengan 'Danisa'.

Aku menunduk dalam-dalam, "Habisnya gue nggak ada kepikiran alasan lain, Zan. Suer deh!" jawabku pelan.

"ITU BUKAN ALASAN, DANISA PUTRI MAHARDIKA!" bentaknya lagi, membuatku makin mengkeret di tempat. Fauzan memang orang yang konyol, tapi kalau sudah marah ... aku mending mundur teratur saja deh.

"Emang lo bisa kasih alasan lain? Cuma itu, Zan, cara biar bokap gue nggak menikah sama nyokap lo!"

"Dengan cara kita menikah?" tanya Fauzan tajam.

Aku menggigit bibir bawahku, lalu mengangguk. "Cuma itu, Zan, caranya! Lagian, kalau kita menikah, kan nantinya bisa cerai. Tapi kalau saudara? Kita nggak akan bisa dipisahin!"

Fauzan kelihatan lebih tenang sekarang, "Terus bokap lo bilang apa?" tanyanya.

"Bokap setuju banget dan dia minta lo segera lamar gue," jawabku takut-takut.

"Dan lo kesini, minta gue buat lamar elo?" Aku mengangguk takut-takut.

"Lo pikir deh Zan, cara apalagi yang bisa kita pake buat nolak pernikahan mereka? Sumpah ya, semur-umur gue belum pernah mimpi buruk punya saudara tiri kayak elo," sungutku resah. Sekaligus berhasil membuatku mendapat toyoran di kepalaku.

"Kalau jadi saudara tiri aja nggak kepikiran, gimana jadi suami? Lo udah mikirin semuanya, Dan?" tanya Fauzan dengan nada datar.

Aku menggeleng, "Ya belum sih. Tapi ini urgent banget, Zan! Papa bilang kalau lo nggak ngelamar gue, dia yang bakal dateng kesini buat ngelamar nyokap lo! Gila kan tuh?" sungutku dengan berapi-api.

"Ha?" Fauzan malah melongo dengan tampang blo'on. Heran deh! Tampang kayak gitu kok bisa dibilang ganteng sama anak kampus. "Ini serius nggak sih? Kok gue masih kayak mimpi gitu ya?"

Ini anak sempat-sempatnya berpikir kalau ini mimpi segala! Aku mencubit lengannya dengan kekuatan penuh, membuatnya mengaduh kesakitan di telingaku. "Nggak usah teriak-teriak deh! Kayak cewek rumpi aja lo!" sungutku sebal.

"Kalau lo nggak nyubit, gue juga nggak bakal teriak Mak!" balasnya tak mau kalah.

"Heh lo kalau kasih reaksi yang lebih tanggap juga nggak bakal gue cubit segala! Males banget nyubit-nyubit elo! Kayak banci yang suka nongkrong di pinggir jalan aja."

Fauzan bukannya mengatakan sesuatu yang berarti, dia malah tertawa sekarang! Dia tau nggak sih ini lagi serius? "Bukannya lo emang temen-temennya mereka Mak?"

Sialan!

"FAUZAN LO MINTA DI TABOK YA?!" Teriakanku benar-benar membahana, tapi aku tidak perduli. Aku mengejar Fauzan yang malah tampak kegirangan menghindar dariku. Sumpah ya tuh cowok! Dia nggak tahu apa ya kalau keadaan lagi genting? "Zan berhenti nggak lo!"

"Ogah!"

"Dasar Fauzan jelek!"

Setelah lelah berputar hampir 10 menit, aku jatuh terduduk di sofa yang tadi kami duduki. Fauzan berjalan menghampiriku dalam radius 1 meter, "Udah nyerah?" tanyanya sombong.

"Tau ah, serah lo aja! Sekarang masalahnya, lo harus lamar gue secepatnya!"

Fauzan menggaruk kepala belakangnya, "Yaudah, tunggu apa lagi?" tanyanya dengan wajah polos.

"Maksud?" tanyaku yang sedang sibuk mengipas-ipas leherku dengan tangan. Bukannya menjawab, Fauzan malah mendekat padaku lalu memojokanku ke pojokan sofa. Aku menatapnya kesal, "Apaan sih lo nempel-nempel? Kayak perangko aja!"

Fauzan tidak menjawab, tapi badannya semakin merekat padaku. Tangannya dia sangga di lengan sofa, membuat wajahnya berhadapan denganku. "Maksud gue ... Ayo kita nikah!"

Bodoh! Danisa bodoh! Kenapa lo harus deg-degan dengar kata-katanya Fauzan sih?!

***