Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4 - Menyukai Orang Lain

"Ngelamun aja, Dan." Tepukan perlahan di bahuku membuatku menoleh. Ternyata Lani. Aku tersenyum tipis padanya, tapi tidak menjawab kata-katanya. "Kenapa sih muka lo gitu amat?"

Aku menghembuskan nafas panjang, "Nggak kenapa-napa kok," jawabku singkat.

"Tapi muka lo kaya muka orang frustasi lho, Dan. Ada apa sih?" Lani rupanya masih tetap kepo. Ish, pertanyaanya membuatku ingat kejadian semalam.

"Alah, lo kayak nggak tahu pengantin baru aja Lan." Aku langsung melotot pada Rani penuh peringatan. Ish dasar ember! Padahal sudah kubilang jangan bicara soal pernikahanku ke anak kampus!

Rani hanya tersenyum simpul padaku, lalu mengambil duduk disebelah Lani. "Dani kan habis ngerasain malam pertama Lan, makanya dia nggak tidur." Rani mengerling padaku.

"Malam pertama pala lo," gerutuku gusar. Rani bikin aku makin bete aja. Udah cukup bete aku dengan kejadian semalam, yang membuatku frustasi setengah mati!

Ini pertama kalinya aku tidur sama cowok, satu ranjang, mana dipeluk-peluk pula! Fauzan ngapain aja ya selama aku tidur? Duh, kesucianku! Huaaaaa!

“Heh! Kenapa sih? Semalam emang kalian ngapain sampai muka lo sepet banget gini?”

Aku menghela napas, lalu akhirnya menceritakan kejadian semalam dengan setengah hati.

"BUAHAHAHAHAHAHAHA!" Mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak di sebelahku, membuat wajahku makin kecut saja. Bukannya prihatin dengan kesialanku, mereka malah terlihat senang sekali!

"Ketawa deh sepuas kalian!" gerutuku sebal sambil memainkan sedotanku. "Pokoknya nanti malem Fauzan gue suruh tidur di lantai!"

Tekadku bulat sekali untuk membuat si bencong itu tidur di lantai! Kalau tidak, kutendang saja selangkangannya. Dia pasti langsung keok!

"Sori, Dan. Sori." Lani bergumam di sela tawanya. Hah! Dia minta maaf tapi masih melanjutkan tawanya! "Habisnya lucu banget sih malam pertama kalian, nggak bisa gue bayangin deh," elaknya.

Aku hanya menggerutu singkat, lalu menyedot minumanku dengan kasar. Rasanya hari ini mood-ku benar-benar hancur! Aku butuh sesuatu untuk melampiaskan kekesalanku, tapi bagaimana ya caranya? Sebenarnya memukuli Fauzan termasuk ide yang bagus, tapi sayangnya dia sedang asik bermesraan dengan seorang cewek di sebelah mamang tukang bakso.

Hah dasar suami tidak tahu malu! Bermesraan di depan orang yang hanya melongo memperhatikannya, dan dia tidak terlihat terganggu sedikitpun! Lagian siapa tuh cewek? Kayaknya anak fakultasku deh, kelihatan dari jas yang dia pakai. Tapi tidak cukup terkenal untuk aku tahu namanya.

"Eh itu kan Citra?" Lani memekik sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang mengobrol mesra dengan Fauzan.

Aku menatap Lani sesaat, "Oh jadi dia namanya Citra?" sahutku sambil lalu.

"Ayo Dan!" Rani tiba-tiba bangkit dan menarik tanganku, membuatku mendongak untuk menatapnya dengan wajah cengo. Ayo kemana? Ini anak dari tadi sibuk dandan kok tahu-tahu langsung mengajakku entah kemana sih?

Aku menarik tanganku, "Mau ngapain sih? Kelas mulainya masih lama, kali," kataku malas.

"Hih Danisa o'on! Bukan itu! Emang lo nggak mau ngelabrak Citra? Dia lagi mesra-mesraan sama su-hmft Dan!" Rani melepas paksa tanganku yang membekap mulutnya.

Sialan, Rani embernya kenapa nggak kira-kira sih? "Lo mau satu kampus tahu?!" gerutuku kesal. "Lagian kenapa harus dilabrak sih? Bukannya udah biasa Fauzan mesra-mesraan sama cewek, so apa masalahnya?" tanyaku keheranan.

Fauzan kan emang playboy akut, tipe bad boy yang punya otak super encer karena bisa masuk ke jurusan kedokteran. Walaupun sejujurnya aku nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau tuh bencong jadi dokter, tapi ku akui memang dia pinter banget. Tanpa belajar pun dia bisa mendapat nilai sempurna, bayangkan!

"Aw!" Aku mengaduh saat Rani menggetokku dengan kaca mini yang selalu dibawanya. "Ihh sakit tahu, Ran!" keluhku sambil mengelus-elus kepalaku yang habis kena getokan.

"Ini tuh biar lo sadar!" Rani kembali duduk, suaranya di stel dengan volume kecil. "Fauzan tuh suami lo, masa lo biasa aja lihat dia mesra sama cewek lain?!"

Oh, jadi itu yang mereka masalahkan? Aku berdecak tidak sabar, "Biasa aja kali," jawabku santai. "Gue sama Fauzan menikah kan buat status doang, diluar itu ya kami bebas mau ngapain aja," jelasku santai.

"Gila!" Lani menggeleng-geleng, "Kok bisa sih ada pasangan kayak kalian? Gue masih nggak habis pikir kenapa kalian bisa dengan mudahnya bilang kalau menikah itu hanya status!"

"Lan, tenang aja deh." Aku menahan ucapan Lani, yang sepertinya masih akan sangat panjang. "Pernikahan permainan seperti yang kami lakukan itu nggak akan punya dampak apa-apa. Jadi ketika aku bilang itu hanya status, ya memang hanya status aja," jawabku santai.

"Ran, temen lo nih. Gue udah angkat tangan!"

Rani terkikik kecil, sekarang dia malah sibuk dengan kacanya lagi. "Biarin aja dulu Lan," gumamnya cuek. "Nanti kalau mereka udah agak lama nikah juga bakalan beda," lanjutnya.

Hih apa tadi? Beda? Nggak lah! Nggak akan ada yang beda dari ucapanku. Pernikahan kami yang aku belum tahu sampai kapan ini, nggak akan berbeda sekarang atau nanti. Aku yakin banget.

"Dek?"

Kami bertiga serentak menoleh ke asal suara. Dan aku langsung merasa ingin lumer ke lantai saat melihat Mas Faris berdiri menjulang di depan meja kami. Tatapannya datar dan mengarah lurus pada Lani, seakan tak memperdulikanku dan Rani yang ada disini. Tapi aku tidak peduli! Gilaaaa, mataku bakalan sehat banget nih karena lihat Mas Faris siang-siang begini.

"Hp kamu ketinggalan." Mas Faris bergumam sambil mengeluarkan handphone Lani dari kantong jaketnya. "Untung tadi Mas lihat, gimana kalau nggak?" ahhhh suaranya Mas Faris keren banget sih. Nadanya juga dewasa banget, bikin nggak kuat! Bendera putih mana bendera putih?

"Makasih ya Mas? Maaf tadi Lani lupa banget," jawab Lani dengan tidak enak sambil menerima handphone-nya.

Mas Faris hanya mengangguk, lalu melemparkan pandangannya ke arahku dan Rani. Aku tersenyum super lebar membalas tatapan Mas Faris, masa bodoh dengan ekspresi Rani.

Mas Faris menaikan alisnya sedikit ke arahku, "Kenapa?" tanyanya datar.

Mas Faris bertanya padaku? Serius? Aku?! "Aku, Mas?" tanyaku memastikan. Dia menghela nafas lelah, lalu mengangguk. "Oh aku nggak kenapa-kenapa kok, Mas." Aku tersenyum super lebar lagi.

Mas Faris menatapku sekilas, lalu berpaling lagi. "Mas pulang dulu, Lan," gumamnya lembut pada Lani. Yah ... kok pulang?

"Kok pulang sih, Mas? Mending sarapan dulu disini! Habis ini mau ke kantor kan? Nah-"

"Nggak." Ucapanku terpotong oleh penolakan langsung Mas Faris, yang seperti biasa diucapkannya dengan datar.

Aku langsung memberengut karena sikap Mas Faris yang sama sekali tidak berubah dari dulu sampai sekarang. "Ya udah," ucapku akhirnya menyerah.

"Aku ada rapat setengah jam lagi, maaf karena nggak bisa gabung sama kalian." Aku mendongak cepat mendengar kelanjutan kata-kata Mas Faris, mulutku terbuka secara otomatis. Mas Faris menjawab sepanjang itu? Serius? "Aku pulang dulu. Nanti sore kalian main aja ke rumah."

Dan Mas Faris langsung berlalu dari hadapanku yang masih melongo lebar karena kata-katanya. Astaga, tolong jangan bilang ini mimpi! Tolong katakan padaku ini bukan mimpi!

"Wow, ada apa gerangan dengan si Raja Dingin?" Rani menyenggol lenganku dengan menggoda. "Kayaknya ada yang mulai lumer nih."

Aku membentuk sebuah senyum lebar, buat dari kegirangan hatiku yang terasa membuncah.

"Yeee malah senyum-senyum sendiri! Dasar gila! Eh Lan, Mas Faris kenapa tuh? Kok aneh banget?" tanya Rani pada Lani dengan suara heran.

"Nggak tahu. Kemarin aja tuh orang marah-marah mulu, nggak tahu kenapa sekarang malah aneh." Lani mengangkat bahunya menyerah. "Mas Faris lagi frustasi karena kerjaan kali."

Ahhhh biar deh mau dia frustasi karena kerja atau apa, yang penting dia tadi mengundangku datang ke rumah! "Apa nanti malem gue nginep tempat Lani aja ya?" kataku berangan-angan.

"Heh dodol! Jangan terbang tinggi-tinggi lo, ntar jatuhnya sakit! Pake mau nginep lagi, emangnya lo pikir Mas Faris mau ngapain?!" Rani menggeleng-geleng, "Lagian tadi kayaknya do'i ngomongnya ke gue deh. Mana mau dia sama lo, kan lo udah nikah!"

Ihh sumpah kata-kata Rani bikin badmood! Rese banget nih anak! "Nggak! Nggak mungkin! Mas Faris tadi ngomongnya lihat ke gue kok! Titik!" sentakku.

"Mimpiii, orang tadi dia senyum ke gue."

"Ih Raniiii!"

"Woy, nggak teriak-teriak di kampus!" Suara cowok rese itu menyelaku yang ingin berteriak-teriak protes pada Rani, aku meliriknya ala medusa sekilas.

"Apaan sih lo! Ngapain kesini?"

Fauzan terkekeh pelan, "Cuma mau mastiin istri gue nggak jadi gila gara-gara gebetannya dateng," katanya menyebalkan.

Aku menatapnya sebal, "Diem lo! Awas aja sampe semua orang denger kata-kata lo! Bakalan tinggal nama!" ancamku.

"Kayak gue takut aja, Mak."

Dan aku langsung berlari mengejarnya, untuk menghadiahkan satu cubitan keras di lengannya. Dasar Fauzan jelek!

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel