Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 - Pria yang Disuka Danisa

"Kenapa sih kita harus sekamar?!" tanyaku ketus saat kami sudah memasuki kamar kami berdua. Si bencong menyebalkan ini dengan seenaknya membagi kami menjadi dua. Lani dan Rani sekamar, sedangkan aku dan si bencong ini sekamar! Aku membanting semua barang-barangku ke lantai dengan kesal, lalu langsung mendudukan pantatku di sofa panjang yang ada di dalam kamar.

Hotel ini memang tidak mengecewakan sama sekali. Selain interiornya yang terkesan  mewah, ternyata fasilitasnya pun sepadan. Selain sofa ini, ada juga satu ranjang besar yang muat untuk tiga orang. AC yang kelihatannya mahal, TV layar datar, ada computer juga yang disediakan dengan free internet! Tidak heranlah biaya menginap disini bisa sampai jutaan hanya untuk semalam.

Tapi biarpun kemewahan hotel ini benar-benar menggiurkan, aku tetap tidak akan bisa menikmatinya karena bencong satu ini! Bukannya akan lebih asik kalau sekamar dengan Lani dan Rani, dan kami bisa bergosip seharian penuh! Huh menyebalkan banget.

Si bencong melepaskan jaket hitamnya, lalu menyampirkan ke kursi di depan meja komputer. "Lo nggak inget sama perjanjian kita di bandara?" tanyanya sambil lalu. Dia benar-benar tidak peduli dengan aksi protesku rupanya!

"Perjanjian apa?" tanyaku ketus.

Fauzan memainkan bibirnya dengan senyuman tipis, "Jadi pembokat gue!" katanya enteng dengan ceria. Aku harus menatapnya beberapa detik dulu untuk bisa teringat dengan kejadian di bandara tadi! Oh sial, sial banget! Kenapa sih harus ada kejadian kayak gitu?

Aku menjatuhkan diriku ke ranjang dengan posisi telentang, lalu memukul-mukul bantal dengan kesal. Menyebalkan! Kukira ini bakal jadi liburan paling menyenangkan yang pernah terjadi, tapi nyatanya?

"Oh iya, Mak?"

Aku menoleh hanya untuk sekedar melihat Fauzan yang menggaruk-garuk belakang kepalanya. Dilihat dari caranya menggaruk, aku langsung yakin dia pasti keturunan monyet! Caranya menggaruk benar-benar ahli terlihat seperti seorang ilmuan yang menemukan cara menggaruk paling ampuh— oke baiklah lupakan, aku memang suka melantur kalau sedang kesal.

"Besok pagi kita langsung ke Pantai ya, gue udah janjian sama temen gue buat jadi tour guide kita disini."

Oh, ternyata cuma itu. Aku mengangguk tanpa menjawab, lalu menenggelamkan wajahku lebih dalam ke bantal.

"Kenapa sih lo?" Kudengar si Bencong bertanya dengan heran. Hah heran?! Harusnya dia tahulah kenapa aku kayak gini! Ini kan gara-gara kelakuannya yang kurang ajar dengan menjadikan aku pembokatnya dan menyuruh kami tidur satu kamar! Sudah cukup bosan aku melihatnya setiap hari!

"Oy!" Fauzan mengguncang bahuku kesana kemari, tapi aku tetap teguh dengan aksi diamku! "Mak, jangan bilang lo mau bunuh diri?" Bunuh diri? Hah, bahkan mungkin sebelum bunuh diri aku bakalan mati duluan karena dekat-dekatan dengan dia terus! "Oy, nafas!"

Detik setelah dia menyuruhku bernafas, aku langsung mengangkat wajahku dan berusaha mencari oksigen! Sial, masa aku bisa sampai lupa kalau aku butuh bernafas sih? Aku terbatuk-batuk sendiri akibat usaha pencarian oksigen secara tiba-tiba!

Fauzan tertawa melihat kelakuanku, dia terlihat puas sekali. Dan itu menyebalkan! "Makanya dibilangin suami tuh jangan ngeyel," katanya di sela tawa.

"Siapa suami gue?!"

Fauzan menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum lebar. "Cowok paling ganteng seantero jagad yang lagi berdiri di hadapan lo ini nih suami lo," jawabnya pede.

Aku langsung pura-pura muntah mendengar kata-katanya. "Yang ada cowok paling jelek plus tolol di dunia!" cibirku padanya.

"Anggap gue nggak denger." Fauzan bergumam dengan geli, lalu berjalan memasuki kamar mandi kamar kami. Hah, aku lupa melihat kamar mandi! Aku yakin kamar mandi disini tidak kalah mewahnya. Ah nanti saja deh.

Lebih baik sekarang aku melihat-lihat kamar ini, siapa tahu ada hal menarik kan? Hmm tapi sepertinya selain beberapa hiasan dinding yang mahal, tidak ada yang menarik dari hotel ini. Mewah, mungkin itu saja. Aku berjalan menuju jendela besar di kamar ini, lalu berusaha membuka tirainya. Dan blak, tirai terbuka dengan sempurna menampilkan pemandangan luar biasa indah di hadapanku.

Aku benar-benar terpukau lama menatap indahnya hamparan pantai di hadapanku, begitu juga dengan hiasan lilin yang terpampang disitu! Entah kebetulan atau tidak, pantai di hadapanku kini bertebar lilin yang membentuk huruf 'I Love You' dengan cantiknya. Siapapun yang menghias lilin-lilin itu, pasti dia adalah orang yang sangat romantis. Beruntunglah perempuan yang bisa menjadi pasangannya.

Di dekat lilin-lilin itu, ada sebuah keluarga yang terlihat sedang membereskan warungnya. Terlihat dua anak kecil duduk di pasir, sedangkan kedua orang tuanya membersihkan warung. Dua anak kecil itu terlihat sangat menggemaskan, entah apakah mereka kakak-adik atau bukan. Yang cewek, terlihat menggelitik laki-laki kecil itu. Lalu mereka tertawa bersama.

Tiba-tiba kepalaku menayangkan adegan masa kecilku bersama Fauzan. Aku tersenyum sendiri menyadari bahwa kami sudah bersahabatan hampir belasan tahun, namun kami bisa tetap bersahabat seperti ini. Walaupun kami lebih sering bertengkar daripada akur, tapi kuakui Fauzan satu-satunya laki-laki yang bisa kuandalkan di berbagai sikon.

"Lihat apa, Mak?" Aku terlonjak kaget karena tiba-tiba Fauzan menempelkan tubuhnya padaku. Langsung saja kudorong tubuhnya mundur.

"Bisa nggak sih nggak ngagetin? Kalau gue jantungan gimana?" gerutuku kesal!

Fauzan menatapku dengan alis terangkat, "Emangnya lo punya penyakit jantung ya?" tanyanya. Aish dasar dodol!

"Nggaklah, tapi kalau dikagetin gitu kan gue bisa jantungan!"

"Lebay lo, Mak!" Fauzan balas menggerutu. "Lagi lihat apa sih?" Lalu dia melewatiku untuk memandang pemandangan pantai di hadapan kami. Aku mengikutinya, lalu berdiri di sebelahnya.

"Keren ya? Pasti tuh cowok mau nembak ceweknya deh pake hiasan lilin itu!"

Fauzan melirikku, "Tau dari mana?" tanyanya datar.

"Ya buat apalagi coba?" jawabku dengan nada sok tahu. "Tapi, mana ya orang yang buat? Pengen tahu deh cowok yang bikin ini kayak gimana! Kalau ganteng kan, gue siap nampung kalau tuh cowok ditolak." Aku terkikik sendiri.

Fauzan langsung menyentil dahiku dengan tangannya.

"Aw! Apa sih?"

"Genit banget lo, kurang-kurangin deh," katanya sebelum pergi meninggalkanku untuk menonton TV. Huh dasar! Aku kan cuma bercanda.

***

"Jadi, temen yang dia bilang bakal jadi tour guide itu cewek-cewek itu?" Lani bertanya sebelum menelan ludah keras-keras.

Aku mengangguk masih dengan mulut membuka lebar. "Tuh bencong satu kayaknya pengen mati deh," gumamku dengan datar.

Rani, bukannya ikut kaget bersamaku dan Lani, malah sibuk memotret 'teman-teman' Fauzan yang menjadi tour guide kami. "Baju mereka keren-keren deh! Lumayanlah buat bahan referensi belanja disini," katanya saat melihat hasil jepretannya!

Ish Rani benar-benar tidak tahu sikon banget sih!

"Kayaknya lo udah ketular Fauzan deh!" gerutuku ketus sambil berbalik arah dari tempat Fauzan sedang bermain dengan 'teman-teman'nya itu! Sial, kupikir teman-teman Fauzan itu cowok yang ganteng gitu. Tahunya? Cewek-cewek kurang bahan!

Lihat aja gimana terbukanya pakaian mereka, sampai-sampai kulit mereka kelihatan hampir seluruhnya! Aku yakin itu pasti salah satu ceweknya Fauzan, atau selingkuhannya, atau tau deh!

"Mau kemana lo?" Rani dan Lani mengekoriku.

"Main air," jawabku enteng, "Ke Pantai ngapain lagi kalau bukan main air?" tanyaku skiptis.

Rani mensejajari langkahku, "Nggak mau nyamperin si Bencong?" tanyanya.

"Ogah, sudi banget! Kita kan bisa have fun sendiri disini."

"Bukan karna lo cemburu kan?"

Aku langsung melotot maksimal pada Lani, enak saja dia bilang! Cemburu? Dih!

"Iya, iya ... Lo nggak mungkin cemburu." Lani langsung melanjutkan begitu melihat pelototanku. Huh, untunglah dia cukup paham dengan bahasa isyaratku.

Aku langsung mengajak Lani dan Rani bermain air lebih dekat dengan laut, ombaknya lumayan kencang tapi tidak terlalu kencang juga. Kebanyakan cewek-cewek sok imut dan manja pasti bakalan takut dengan ombak seperti ini, tapi tidak dengan kami bertiga. Mungkin itu juga alasan kenapa aku bisa sangat dekat dengan Lani dan Rani.

Aku dan Rani yang satu SMA namun tidak terlalu kenal, akhirnya langsung dekat begitu hari pertama OSPEK di fakultas kami. Dulu, karena kami berbeda kelas dan tidak pernah bertemu dalam satu event, jadi kami tidak cukup mengenal. Tapi setelah mengobrol dengannya, aku langsung tahu dia orang yang sangat asik dan easy going.

Dia apa adanya banget deh. Ngomong selalu ceplas-ceplos, suka membuat hidup suasana, selalu membuat permainan taruhan yang kadang mengesalkan tapi seru juga jika itu melibatkan mengerjai Lani. Haha!

Oh ya, soal Lani. Hmm, aku dan Rani bertemu pertama kali dengan Lani juga sewaktu OSPEK. Jadi Lani ini termasuk cewek yang cantik dan jadi idola kakak kelas di kampus, dan di hari kedua OSPEK dia langsung ditembak oleh salah satu panitia cowok. Gilaaa, saat itu heboh banget! Apalagi saat Lani dengan polosnya menolak dengan alasan senior itu bukan tipenya!

Hah sejak saat itu, Lani langsung terkenal banget di kampus. Dan entah takdir apa, tiba-tiba dia bergabung dengan obrolanku dan Rani lalu ternyata sangat nyambung. Walaupun kadang obrolanku dan Rani itu tidak manusiawi, Lani tetap bisa beradaptasi dengan kami. Dan begitulah bagaimana kami bisa bersahabat hingga sekarang.

Ahhh aku merasa sangat beruntung bisa memiliki mereka dengan segala kekurangan mereka yang segudang itu. Haha!

"Bengong lagi!" Rani menepuk bahuku cukup keras, dan berhasil membuatku tersadar dari lamunanku. Tapi bukan cuma itu saja! Dia membuatku terjatuh ketika ada ombak datang, dan seluruh tubuhku otomatis basah kuyup! Huaaaa untung saja handphoneku tidak aku kantongi!

"Sialan lo Ran! Basah nih!" protesku sambil mencak-mencak. Rani tertawa ngakak melihatku, sedangkan Lani hanya bisa menggeleng-geleng.

"Sori deh, sini gue bantuin." Rani mengulurkan tangannya padaku, namun disisi lain ada juga sebuah tangan terulur membantuku.

Secara reflek, tentu saja aku menoleh untuk melihat siapa orang yang menawarkan bantuan padaku itu. Dan tubuhku rasanya langsung meleleh saat melihat Mas Faris disitu! Gilaaaaa, gilaaaa banget! Gue pasti mimpi! Ini nggak mungkin Mas Faris kan?!

"Mau berdiri nggak?" Suaranya ... suaranya mirip dengan Mas Faris! Atau memang cowok ini beneran Mas Faris?

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel