BAB 8 - Persahabatan Mereka
*Flashback*
Papa meninggal tepat di hari ulang tahunku yang ke 10. Itu adalah ingatan masa lalu yang paling buruk menurutku. Karena aku tidak pernah menyangka Papa akan meninggalkan aku dan Mama secepat itu.
Papa adalah seorang perokok aktif yang bisa menghabiskan berbungkus-bungkus rokok dalam sehari. Tapi Papa tidak pernah merokok di depanku maupun di depan Mama, karena Papa tidak ingin kami menjadi perokok pasif. Itu cukup adil, bagiku. Mungkin karena aku tidak pernah berfikir resiko apa yang Papa dapat dengan menjadi seorang perokok aktif.
Papa terkena penyakit kanker paru-paru, dan tidak berapa lama kemudian meninggal. Kami terlambat mengetahui penyakitnya hingga tidak bisa menyembuhkannya. Belakangan aku tahu, ternyata Papa sudah tahu tentang penyakitnya lama. Tapi beliau tidak mau membuat kami khawatir.
Ketika Papa meninggal, aku merasakan kehancuran dan kesedihan terdalam yang pernah kurasakan di dalam hidup ini. Aku kehilangan Papa, bahkan sebelum aku bisa membalas apa saja yang Papa berikan padaku. Dan sepanjang sejarah hidupku, mungkin itu pertama kalinya aku menangis.
Papa adalah panutanku, pria paling kusayangi dan kubanggakan di dunia ini. Setelah Papa meninggal, aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Mamapun terlalu sibuk dengan kesedihannya sampai tidak memikirkanku. Aku sendirian.
Tapi ternyata aku salah. Aku ingat ketika pemakaman Papa, aku menangis di samping jasad Papa sambil berjongkok. Orang-orang sibuk mendoakan Papa, tapi aku hanya terus menangis.
Sampai datang sosok gadis kecil yang sangat manis menghampiriku. Rambutnya dikuncir di belakang, matanya besar dan berbinar, senyum di bibirnya terukir lebar. Aku mengenalnya sebagai anak dari sahabat baik Papa.
"Ojan jangan nangis lagi." Aku masih ingat gadis kecil itu bergumam padaku saat itu dengan nada sangat lembut. "Kalau Ojan nangis terus, nanti Papa Ojan pasti sedih." Katanya lagi.
Aku masih terlalu sedih untuk menjawabnya, jadi aku hanya menatap wajah gadis kecil itu. Dia kemudian mengulurkan tisu padaku, lalu tanpa kuduga dia mengusapkan tisu itu padaku.
"Ojan mau tahu sebuah rahasia?" tanyanya dengan polos.
Aku mengangguk saat itu, karena aku orang yang mudah penasaran dengan sesuatu. Gadis kecil itu menoleh ke belakang, seperti memastikan tidak ada orang yang mendengarnya. Lalu gadis itu mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Kata Papa, Papanya Ojan sekarang ada di langit! Jadi kalau Ojan kangen sama Papanya Ojan, Ojan tinggal lihat ke langit aja!"
Gadis kecil itu tersenyum lebar sekali, dan entah bagaimana senyumnya menular padaku. Saat itu yang kupikirkan adalah kebenaran kata-katanya. Dia tidak mungkin berbohong padaku, karena kami masih terlalu polos untuk berbohong.
"Ojan tahu kan biasanya di langit banyak cahaya? Pasti salah satunya Papanya Ojan!" Dia berseru dengan semangat. "Ojan jangan sedih lagi ya? Papanya Ojan kan nggak pergi, Papanya Ojan cuma ada di langit. Ojan bisa tiap hari lihat kan?"
Aku mengangguk, percaya bahwa aku bisa melihat Papaku setiap saat. Karena Papa menjadi salah satu bintang di langit. Ucapan gadis ini benar-benar berpengaruh padaku, mengurangi rasa sedihku.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa yah?" Gadis itu mengulurkan jari kelingkingnya. "Ini rahasia!"
Aku mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingku dengannya. "Janji." Itu ucapan pertama yang aku keluarkan di hari meninggalnya Papa. Dan aku mengatakannya pada gadis itu.
"Ojan udah nggak sedih lagi kan?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Kalau gitu, sekarang kita berdoa buat Papanya Ojan ya? Kata Papa, kita harus berdoa buat Papanya Ojan biar Papanya Ojan sampai di langit dengan selamat."
Gadis itu menarik tanganku dan membuat tanganku menengadah ke arah wajahku. Lalu dia melakukan hal yang sama dengan tangannya. Kami menengadahkan tangan untuk berdoa disebelah jasad Papa.
"Ayo!" Gadis itu menyenggol lenganku, mungkin memintaku untuk mulai berdoa.
Aku mengangguk, lalu mulai berdoa untuk Papa. Aku tidak begitu ingat apa yang kudoakan, tapi aku yakin aku berdoa yang terbaik untuk Papa. Selesai berdoa, ternyata gadis itu sudah selesai dengan doanya. Dia menatapku dengan matanya yang bulat.
"Kenapa?" tanyaku bingung karena dia menatapku begitu.
"Nggak apa-apa, seneng aja lihat Ojan udah nggak sedih lagi," jawabnya jujur. "Rasanya sedih banget lihat Ojan nangis kayak tadi. Ojan kan biasanya jail, suka gangguin, tapi sekarang diam aja."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Ojan jangan merasa sendirian ya, soalnya kan ada aku disini! Kita kan sahabat! Sahabat akan selalu ada buat sahabatnya!"
Dan aku tidak pernah menyesal menjadi sahabatnya, tidak akan pernah. "Terimakasih ya ..." Aku menggantung kalimatku, lalu melanjutkan. "Danisa."
***
*Fauzan POV*
Oh shit! Mimpi tadi membuat kepala gue pusing ketika bangun, rasanya gue berputar-putar di kamar. Padahal gue ada dalam posisi tiduran! Badan gue juga berasa berat, kayak ada benda yang ditaruh di atas perut gue. Gue kenapa sih sebenernya?
Masa cuma karena mimpi barusan gue jadi kayak gini? Ternyata kemampuan Mak Lampir nggak bisa diabaikan, dalam mimpi pun dia bikin gue susah! Tapi oy, tangan siapa nih nemplok di perut gue? Gue menoleh ke samping tempat tidur, dan wajah tidur Danisa langsung menyambutku.
Mak lampir terlihat damai banget waktu tidur, kayak orang mati. Tapi lumayan juga bisa dipeluk sama dia. Gue mengangkat kepalanya perlahan, lalu menaruh lengan gue sebagai ganti bantal untuknya. Mak lampir mengigau sebentar, dan akhirnya kembali memeluk gue lebih erat.
Setelah memastikan Mak Lampir nyaman, gue kembali memperhatikan wajahnya. Harus diakui, untuk ukuran Mak Lampir, dia terlalu cantik. Mata bulat yang besar, bulu mata yang lentik, hidung lumayan mancung, bibir tipis, dan kulit kuning langsat.
Kalau lo baru melihatnya sekali, pasti lo akan mengira dia cantik sekali. Tapi tidak dengan gue. Gue terlalu kenal Dani untuk bisa memberinya panggilan Mak Lampir yang sangat cocok untuknya. Tapi gue nggak bisa bohong kalau salah satu alasan gue memanggilnya Mak Lampir juga karena gue berniat mengganggunya.
Gue suka banget gangguin dia. Gangguin Dani itu semacam penghibur hati gue kalau gue lagi suntuk. Lagian dia juga kadang pasrah saja kuganggu. Eh, matanya bergerak! Gue langsung berakting menutup mata agar terlihat seperti tidur.
Mak Lampir bergerak-gerak dalam tidurnya, lalu gue rasakan tubuhnya berusaha membebaskan diri dariku.
"Dasar bencong!" Tuh! Denger kan? Pagi-pagi aja dia udah nyela gue kayak gitu! Nggak salah dong gue kasih sebutan Mak Lampir ke dia? "Awas aja nanti waktu bangun, gue bantai!" Waduh, itu artinya gue tidak bisa segera membuka mata! Kata 'bantai' yang dia bilang terasa nyata untuk gue.
Setelah itu hanya hening yang terdengar, membuat gue tergoda untuk membuka mata. Tak apalah membuka mata sedikit, hanya untuk memastikan apa yang sedang Dani lakukan. Gue membuka mata sedikit, tapi ternyata pemandangan yang langsung gue lihat adalah adegan Dani sedang berganti pakaian.
Secepat kilat gue langsung menutup mata. Bukan, gue bukan homo kalau kalian mikir begitu. Gue cowok normal, yang bisa aja tergoda untuk mengintip adegan menarik di depan. Tapi gue nggak akan mau melakukannya. Dengan gue melihat Dani sekarang, itu sama aja gue melecehkan Danisa. Karena gue yakin Danisa nggak akan suka orang melihat tubuhnya.
Ngomong-ngomong, gue sadar banget tubuh itu udah seutuhnya milik gue. Secara agama pun gue diperbolehkan untuk melakukan apapun dengan tubuhnya. Tapi gue nggak akan berharap banyak pada pernikahan permainan kami ini.
"Zan, bangun!" Dani menyenggol-nyenggol lengan gue. Kenapa sih si mak lampir nggak bangunin gue dengan cara lebih romantis?
Akhirnya gue pura-pura mengulet dan sedikit demi sedikit membuka mata, untuk melancarkan aksi acting berbakat gue. Andai ada sutradara yang lihat acting gue barusan, gue yakin gue langsung direkrut jadi tokoh utama. Secara, tampang gue ganteng luar biasa begini.
"Bangun! Kebo banget sih lo? Bangun cepetan!" Sial. Gue pikir dia nyenggol-nyenggol lengan gue pake tangan, ternyata pake kaki! Nih Mak Lampir satu emang nggak ada manis-manisnya!
Aku mendudukan tubuhku di ranjang dengan malas. "Kenapa sih?" Gue bertanya dengan kesal.
"Itu—" Dani menunjuk-nunjuk ke jendela, wajahnya kayak orang panik aja.
"Kenapa?"
"Ihhh lo lihat sendiri aja deh!" Lalu Dani dengan seenaknya menarik-narik gue. Ah kalau nggak penting, beneran gue cium dah nih cewek! Gue berusaha membuka tirai yang menutupi jendela, lalu terhamparlah pemandangan pantai secara wajar.
"Apa sih? Ada apa?" tanya gue ketus.
Dani menunjuk ke lilin-lilin yang berserakan di pantai, "Lilin-lilin itu dirusak Zan! Pasti ada orang iseng yang hancurin itu deh! Ih ngeselin banget. Padahal cowok itu udah susah-susah buatin buat ceweknya, kenapa malah dihancurin sih?!" Si Mak Lampir mencurahkan kegundahan hatinya dengan lebay.
Ck, lagian siapa orang kurang kerjaan yang rusakin itu lilin? "Mungkin ceweknya nolak itu cowok, terus ceweknya hancurin karya cowoknya itu kali." Gue memberi argument paling masuk akal yang ada di pikiran gue.
"Hah? Lo gila ya, Zan?" Dani memukul kepala gue dengan tidak manusiawi!
Buset dah, tenaga Mak Lampir satu ini sebanyak apa sih? Baru bangun aja udah bisa mukul orang! "Gue kan cuma kasih kemungkinan!" Gue membela diri sambil mengelus hasil pukulan Dani.
"Kayak gitu lo bilang kemungkinan? Dasar dodol!" Elah nih orang, pagi-pagi ngehina doang bisanya. "Kalau emang ceweknya nolak, kenapa malah ceweknya coba yang hancurin itu lilin? Ha? Jawab?!"
"Bisa aja ceweknya kena sindrom takut lilin." Gue memberi hipotesis lagi, tapi lagi-lagi si Mak Lampir memukul kepalaku. "Adaw! Sakit, Dan! Lo bisa kagak sih berhenti KDRT?" protes gue sambil kembali mengelus hasil pukulannya.
Danisa tidak menjawab, malah kini matanya yang besar itu melotot pada gue. Sebenernya gue tahu itu salah satu cara Dani buat bikin gue takut, tapi ngapain juga gue takut sama pelototannya yang manis itu?
Gue membalas pelototan Dani dengan senyuman polos yang pastinya mempesonanya, tapi dia tidak mau mengakuinya. Lalu gue memilih mandi saja. Sebentar lagi gue akan mengajaknya pergi ke Pantai lagi seperti kemarin.
"Zan, mau kemana lo?" Dani bertanya tiba-tiba.
Gue membuka lemari pakaian hotel, "Mandi," jawab gue singkat. Mana ya handuk gue? "Lo lihat handuk gue nggak?" Gue menoleh ke Dani.
Rupanya tuh cewek sedang cemberut menatap gue, membuat gue berpikir apa yang salah sampai dia melihat gue kayak gitu.
"Kenapa lo?"
"Handuk lo ada di depan kamar mandi," jawabnya masih dengan manyun. Tumben nih Mak Lampir tahu barang-barangku? Tapi kenapa dia masih manyun sih?
"Maksud gue, kenapa lo cemberut?"
Dani menunjuk ke jendela, "Sayang banget sama lilinnya!" Astaga! Cewek emang serempong ini ya? Cuma masalah lilin romantis aja sampai segitunya?!
"Ck, gampang! Besok gue bikinin lilin lebih banyak deh." Gue menjanjikan hal yang sangat mudah untuk Dani, gerah juga lihat dia cemberut gitu.
Bukannya girang, si Mak Lampir malah mendecak. "Bukan masalah lilinnya! Tapi kan romantis Zan kalau di tembak kayak gitu. Gue pengen cowok yang nembak gue tuh bikin kayak gituan, ntar bisa gue foto dan jadikan kenangan buat anak cucu!" Aduh, kepala gue tambah muter dengerin bawelan ini cewek.
"Terserah lo."
Lalu gue jalan aja ke kamar mandi, baju ganti sudah menggantung di bahu gue. Saat sudah berada dalam kamar mandi, gue keluar lagi karna tidak menemukan handuk gue di kamar mandi. Gue mengelap kaki gue pake lap yang tersampir di lantai.
"Dan, handuk gue mana?"
Dani tersenyum lebar menatap gue, lalu tangannya menunjuk ke bawah kaki gue. "Itu yang lo pake buat lap kaki lo." Gue menatap ke kain yang gue kira lap tadi.
Oh shit! Sialan! Ini bukan kain lap, tapi handuk gue!
"Danisa! Ke sini lo!"
***
