BAB 9 - Danisa Ngambek
Gue paling nggak suka ada orang yang hancurin rencana yang udah gue siapin. Tapi gue terpaksa menahan diri karena gue nggak mungkin ngehajar cowok kurang ajar di depan gue ini.
"Mas, lihat pantai yuk?" Suara genit Danisa benar-benar bikin kuping gue panas! Bukannya gue cemburu – Oh man, ngapain juga gue cemburu sama si Mak Lampir? – gue cuma nggak suka karna kakaknya Lani itu gagalin rencana gue hari ini.
Gue lihat tangan Dani langsung menggandeng lengan Faris, lalu meninggalkan gue bersama kedua sahabatnya. Shit, gue jadi merasa ditinggalkan! Apalagi dua temen gue hari ini nggak bisa dateng, karena mereka harus mengurusi pelanggan mereka yang lain. Yeah, seorang tour guide pasti nggak hanya punya 1 pelanggan kan?
Gue menoleh pada Lani dan Rani yang tampak asik berfoto dengan background Pantai. Tipikal cewek. "Kita lihat aksesoris di sana aja gimana?" ajak gue karena merasa mereka tidak akan selesai dalam waktu cepat.
"Mau! Mau! Lo yang bayarin ya, Zan?" Rani menatap gue dengan mata berharap.
Sial, gue salah mengajak mereka.
"Iye," jawab gue.
Akhirnya kami bertiga menuju ke toko aksesoris yang terletak di dekat jalanan. Gue jadi merasa jadi cowok playboy sejati karena bisa gandeng dua cewek macem mereka. Yeah, satu-satunya keuntungan sahabatan sama Mak Lampir adalah dia selalu sahabatan sama cewek-cewek cantik.
Tapi sialnya gue cuma bisa jadi temen deket mereka, karena Dani bener-bener ketat kalau soal sahabatnya. Padahal belum tentu juga gue bakal patahin hati sahabatnya kayak cewek-cewek lain.
Sampai di salah satu toko, Rani langsung menarik Lani berkeliling toko. Sedangkan gue cuma berdiri di depan tempat gantungan kunci yang berwarna-warni. Gue nggak gitu ngerti sama aksesoris cewek, tapi gue yakin aksesoris disini bakal bikin mereka kelihatan lucu.
Saat gue memutar tempat gantungan, nggak sengaja gue ngelihat satu gantungan lucu yang ada disitu. Bentuknya adalah sapu terbang, kayak yang ada di Harry Potter. Tahulah? Hm sapu terbang ini cocok juga buat Dani. Dia kan Mak Lampir, pasti dia butuh sapu terbang macam ini. Beli ah.
Selesai membayar, gue mulai mencari Rani dan Lani. Tapi gue hanya bisa menemukan Lani.
"Rani dimana, Lan?" tanyaku lembut. Yeah, entah kenapa aku selalu merasa harus bersikap lembut pada Lani. Mungkin karena dia satu-satunya yang kalem di antara mereka bertiga, atau mungkin juga karena Lani punya tatapan yang menenangkan.
Lani ternyata sedang memperhatikan sebuah kalung cantik, karena dia agak kaget waktu gue panggil. "Eh, apa?" tanyanya gelagapan.
Gue memperhatikan kalung di tangannya, "Lo suka? Sini biar gue bayarin." Gue menarik cepat kalung itu lalu membawanya ke kasir.
"Zan, jangan!"
Eh? Kenapa? "Lo suka kan?" tanya gue bingung.
"Eh.. siapa bilang? Nggak kok, gue nggak suka. Nggak usah dibeli Zan!"
Lani kelihatan serba salah di depan gue, tapi gue sama sekali nggak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Belum sempat gue menjawab, Rani datang membawa banyak barang. Sial, dia belanja apa aja sih?
"Cepet bayar! Ini buat oleh-oleh," katanya sebelum gue sempat bertanya. Ck, dasar cewek. "Gue tunggu di luar ya, dadah bye bye!"
Ck, gue tarik kembali kata-kata gue. Berteman dengan Dani emang nggak ada untungnya. Gue menatap kalung di tangan gue, lalu memutuskan untuk membelinya saja. Toh kalung ini tidak jelek.
Gue keluar membawa belanjaan Rani, lalu melihat mereka ternyata sudah bertemu dengan Dani.
"Lho? Lo belanja apa aja sih, Cong?" Dia bertanya agak kesal.
"Bukan gue," jawab gue dengan dagu tertunjuk pada Rani. Rani yang gue tunjuk langsung nyengir lebar sambil mengambil barang-barang di tangan gue.
Dani langsung cemberut melihatnya, "Gue juga mau shopping!" katanya sebal.
Gue mengedikan bahu. "Siapa suruh kencan mulu," sindir gue sambil berjalan menuju Lani. "Nih, buat lo Lan." Gue mengulurkan kotak berisi kalung tadi.
"Dasar cowok pilih kasih! Lani aja dibeliin, gue kagak!" gerutuan Dani masih bisa gue denger waktu gue mendahului mereka kembali ke Hotel. Dasar penggerutu! Salah siapa dia lebih milih kencan sama si Faris-Faris itu daripada sama gue. Terima aja akibatnya!
*****
Seharian ini Mak Lampir benar-benar menunjukkan aksi ngambek yang menyebalkan. Tidak mau bicara apapun sama gue, bahkan saat kami cuma berdua di kamar hotel. Alasannya? Tentu saja karena dia tidak diajak shopping. Dasar cewek!
Gue mengambil duduk di sebelah Dani, “Masih ngambek?” tanya gue basa-basi.
Dani memalingkan wajahnya, sok jual mahal. Cewek ini kalau kekanakannya muncul, menyebalkan banget. Kenapa gue bisa betah sih sahabatan sama dia puluhan tahun?
“Dan,” Gue kembali memanggilnya, tapi dia sama sekali tidak menoleh. “Lihat sini dulu, gue jamin lo nggak bakalan marah lagi,” bujuk gue dengan tangan siap sedia di samping paha gue.
“Apaan sih?” Dani menoleh, dan gue langsung mengangkat tangan gue di dekat kepala Dani, lalu melepas kepalan tangan gue. Sebuah kalung dengan bandul bernuansa pink yang soft meluncur turun dari tangan gue namun tetap tertahan karena sebelumnya udah gue atur agar terapit jari gue.
Mata Dani membulat, dan bibirnya terbuka sedikit. Dia memperhatikan kalung itu sebentar, kemudian senyum tersungging manis di bibirnya. “Ini buat gue?” Dani mengambil kalung itu dari tangan gue dengan kegirangan, lalu secara tiba-tiba memeluk tubuh gue erat.
Gue terdiam mendapat pelukan dari Mak Lampir, yang gue yakin dia lakuin tanpa sadar. Sebuah pemikiran muncul di otak gue, selaras dengan reaksi aneh yang gue rasain sekarang. Namun, langsung gue tepis sejauh-jauhnya sebelum berkembang jadi sesuatu yang nggak masuk akal. Gue menggeleng-geleng sendiri.
Dani melepas pelukannya secara tiba-tiba, bisa gue lihat pipinya bersemu merah. Sepertinya dia baru sadar. “Eh itu, gue mau nonton film!” Pengalihan yang bagus.
“Film apaan?” tanya gue heran. Lebih heran lagi waktu gue lihat dia mengubek tas ranselnya lalu mengeluarkan dua keeping DVD.
"Ini film horror luar negeri!" katanya semangat. Berbeda dengannya, gue langsung memilih kabur darinya. "Ih lo mau kemana sih?" tangan Dani menarik tangan gue, memaksa gue kembali duduk.
"Males ah!" elak gue.
"Males apa takut?" Suara si Mak Lampir kini terdengar mengejek.
Gue melongos, bukan karena gue beneran takut. Gue nggak suka sama Film dengan genre horror, dan gue punya alasan kuat untuk itu.
"Zan, temenin gue nonton yah?" Gue nggak suka dengan mata berharap yang Dani kasih ke gue. Gue tahu gue bukan cowok lemah, tapi tatapan si Mak lampir benar-benar tidak bisa diremehkan.
Tapi keinginan gue tangguh, gue nggak mau nonton! Si Mak Lampir untungnya cukup mengerti dengan ekspresiku.
"Emangnya kenapa sih lo? Ih, nggak seru!"
Gue berdiri dan berjalan menuju ranjang, "Lo yang paling tahu alasannya, Dan," jawab gue singkat sambil membenamkan diri di ranjang.
Tak terdengar sahutan dari si Mak Lampir, tapi gue denger suara DVD menyala. Sepertinya dia tetap nekat menonton Film itu sendirian. Ck, dasar cewek keras kepala! Gue meraih tab gue, lalu mulai memeriksa e-mail yang masuk.
Belakangan, gue mengambil kerja magang di kantor keluarga almarhum bokap. Lumayanlah gajinya untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi kalau ada job tambahan dari Om gue, yang jadi CEO di situ.
"Aaaaaakkk!" Teriakan Dani otomatis bikin gue bangkit berdiri dan mengecek keberadaan cewek itu. Terlihat Mak Lampir sedang sibuk menutupi wajahnya dengan bantal, tatapan gue beralih ke layar TV. Ternyata hanya adegan horor di Film tersebut.
"Ck, masa Mak Lampir takut sama kayak gituan?"
Dani langsung menoleh mendengar kata-kata gue, dan tangannya dengan sigap langsung melempar bantal di tangannya ke wajah gue. Shit, ketampanan gue bisa berkurang! "Diem lo, dasar bencong!" Kenapa Mak lampir selalu memanggil gue bencong sih?
"Dasar Mak Lampir!" balas gue kesal.
"Apa lo bilang?" Nah, suara toa si Mak Lampir mulai muncul. Itu artinya gue harus berhenti kalau tidak mau kamar hotel ini jadi berantakan dalam semalam.
Gue tersenyum polos, "Lo cantik banget kalau lagi nonton film gini," jawab gue kalem. Dani menggerutu singkat, tidak percaya tentunya. Lalu kembali memusatkan perhatian pada Film di depannya.
Gue heran sama orang yang nonton film horror tapi menutup mata sepanjang film. Kenapa mereka tidak sekalian tidak usah menonton saja? Gue memperhatikan Dani yang serius memperhatikan filmnya, walaupun sering menutup mata ketika musik di filmnya berubah menakutkan.
Ahhh baru sekarang gue menyadari kalau wajah Dani daridulu hingga sekarang tidak berubah. Walaupun kelakuannya berubah 180 derajat, tapi wajahnya tetaplah wajah Dani. Cantik dan menarik.
Dari masih sekolah, gue tahu banyak banget yang suka sama Dani. Sahabat gue kebanyakan juga naksir sama dia. Tapi si Mak Lampir bukan cewek gampangan yang sering gonta-ganti pacar, malah dia belum pernah pacaran sekalipun. Ya, Dani memang cewek yang berbeda.
"KYAAAAAAAA!"
Teriakan Dani kali ini mau tidak mau bikin gue menyerah. Akhirnya gue mengambil duduk di sebelah Dani. Gue nggak suka denger si Mak Lampir teriak kayak gitu, kesannya kayak gue nggak bisa jagain dia gitu.
"Katanya nggak mau nonton?" tanya Dani ketus.
Gue mendorong wajahnya untuk kembali memperhatikan ke film, "Nonton aja sana lo." Lalu gue mulai menyandarkan bahu ke pinggir ranjang. Dalam posisi kayak gini, biasanya gue malah gampang tidur.
***
