Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7 - Fauzan dan Faris

"Ssst, Dan!" Rani menendang pahaku pelan, seperti menyadarkanku bahwa cowok itu benar-benar Mas Faris. Detik berikutnya, aku langsung menerima uluran tangannya dengan senang hati!

"Mas Faris kok bisa ada disini?" Lani bertanya heran setelah aku berhasil berdiri.

Mas Faris melirikku sekilas, lalu menatap Lani. "Iya, Mas kesini karena ada kerjaan. Kebetulan klien Mas ingin membangun hotel di Bali, jadi Mas kesini untuk melakukan survey tempat," jawab Mas Faris.

Haaah? Seriusan? Kok bisa kebetulan gitu sih? Jangan-jangan kami jodoh gitu?!!

"Terus kok ada di sini?" Lani bertanya lagi.

"Karena klien Mas ingin membangun hotel di pinggir pantai ini." Mas Faris menatap ke belakang punggungnya, lalu menunjuk dengan tidak kentara. "Itu klien Mas," lanjutnya.

"Oh gitu." Lani manggut-manggut, lalu entah kenapa dia malah menyikut Rani. Dan bukannya bingung, Rani malah tertawa.

"Tangan lo Dan, tangan lo ..."

Aku langsung menatap tanganku yang masih menggenggam tangan Mas Faris erat, dan aku langsung melepasnya. Aduh sampai lupa kalau tanganku masih menggandeng tangan Mas Faris, beneran deh suer aku nggak tahu. Bukan pengen modus kok. Suer deh!

"Ya udah, Mas balik kesana dulu ya." Mas Faris menepuk puncak kepala Lani, lalu berbalik.

"Mas Faris tadi kesini cuma buat bantuin aku?" aku bertanya sedikit keras, sekaligus menahan langkah Mas Faris. Yah boleh dong kegeeran sedikit, toh banyak juga nggak dosa ini.

Rani langsung tertawa mendengar kata-kataku, sedangkan Lani menggeleng-geleng. Mas Faris menatapku dengan tatapan tajamnya yang membuatku benar-benar hampir meleleh. Hampir sir.

"Bukan." Yah, aku tidak terlalu kecewa sih. "Tapi lain kali hati-hati." Lalu dia langsung berjalan meninggalkanku.

Aku melongo di tempat! Apa tadi? Mas Faris bilang apa? Lain kali hati-hati?!!!!!!!

"Guys, kalian denger kan? Tadi Mas Faris bilang hati-hati ke gue! Kyaaaaaaaaaaa, gue terbang nih terbang! Pegangin dong, pegangin!" Teriakan kegiranganku langsung dibalas dengan jambakan Rani di rambutku. Aduh!

"Jangan lebay deh, Dan." Rani mendumel, lalu mengalihkan tatapannya ke sekeliling pantai. "Disini banyak cogan nih, berburu yuk?" ajaknya tiba-tiba.

"Ogah!" Aku langsung menjawab mantap. "Nggak usah berburu juga udah langsung dapet cogan kayak Mas Faris kok! Aku mau nyamperin dia ah." Aku hendak berbalik meninggalkan mereka berdua saat tanganku ditarik mereka. "Kenapa?" tanyaku heran.

"Lo masa mau nyamperin Mas Faris sih? Dia lagi kerja tau!" Lani menjitak kepalaku, membuatku mengaduh secara reflek.

"Iya lo tuh! Dasar genit!"

Aku manyun mendengar kata-kata Rani, masa dia bilang aku genit sedangkan dia lebih genit puluhan kali dari aku? Aku sih genitnya masih dalam tahapan wajar, kecuali sama Mas Faris sih. Kalau sama doi, aku udah nggak bisa wajar lagi. Habisnya kalau genit biasa, aku cuma bakalan dilihatin beberapa detik lalu sisanya dicuekin!

"Lagian gimana coba sama Fauzan?" Lani menambahi, dan aku langsung mencibir. Kenapa nih anak pake mikirin nasib si bencong? Dia kan lagi asik sama pacar-pacarnya itu, dan by the way aku nggak peduli!

Ck, aku sepertinya akan sulit kabur sekarang. Tapiii, hei cowok arah dua belas! "Ran! Ran, cogan Ran! Cogan maksimal banget deh!" bisikku sok-sok misterius. Lani ikutan menguping, lalu bersama Rani mengikuti arah tunjukku.

"Ehh itu kan artis! Siapa ya? Aduh, minta foto yuk!"

Dan Rani langsung menarik Lani mengikutinya menghampiri cogan itu. Eh aku bahkan nggak tahu kalau cowok itu artis, aku yang kuper atau dia yang nggak terkenal? Ah bodo! Penting sekarang bisa nyamperin Mas Faris. HAHAHA!

Ketika aku sampai di tempat Mas Faris, kulihat dia sudah sibuk dengan berbagai gambar yang aku tidak mengerti. Untunglah klien Mas Faris sudah pergi entah kemana, jadi aku bisa leluasa mengobrol dengannya!

Aku memperhatikan wajah Mas Faris yang serius dengan pekerjaannya, dan rasanya aku ingin meleleh lagi. Aku selalu suka cowok ketika sedang serius mengerjakan sesuatu, mereka kelihatan seksi dan menarik. Apalagi jika wajah mereka kelihatan fokus dan tak teralihkan. Rasanya aku ingin menjadi fokus mereka seperti itu!

Mas Faris mengangkat wajahnya dari kertas gambar di depannya, keningnya berkerut menatapku. Mungkin dia heran kenapa aku ada disini. Aku tersenyum super manis dengan polos, berharap dia tidak mengusirku sekarang. Dan yap, dia kembali fokus dengan pekerjaannya.

Kalau dilihat-lihat, Mas Faris itu nggak seganteng gebetanku yang lainnya ya. Tapi toh aku tidak peduli, daripada ganteng maksimal tapi playboy kayak Fauzan? Hii! Nah, tapi biarpun gantengnya biasa aja tapi Mas Faris itu punya daya tarik yang begitu mengikat. Mas Faris keren, gentle, dan cuek! Tipe cowok idamanku banget sejak aku—

"Kenapa, Dan?"

Astaga! Dia memanggil namaku! Dia barusan mengucapkan namaku!

"Eh--em ... apanya yang kenapa, Mas?" tanyaku gelagapan karena kegirangan!

Mas Faris tidak mengalihkan tatapannya dari pekerjaannya, "Kenapa lihat aku gitu?" Dia menjawab pertanyaanku dengan jelas.

"Habisnya Mas Faris kalau lagi kerja tuh kelihatan ganteng banget," pujiku jujur, ditambah cengiran khas anak kecil.

Mas Faris mendongakkan kepalanya dari pekerjaannya untuk sekedar menatapku, lalu dia kembali menekuri penggaris dan pensilnya tapi tidak menjawab pernyataanku. Huh!

"Mas Faris menginap di hotel mana?" tanyaku setelah hening.

"Dekat joger."

"Jauh dong?" Aku berkomentar sambil mengingat-ingat jalan ke joger. Lumayan kalau besok aku bosen kan bisa datengin doi. Hihi!

Mas Faris mengangguk tapi tidak menjawab, hanya terus menggambar dan menggambar! Aku pernah dengar sih kalau pacaran sama arsitek itu harus tahan banting karena arsitek biasa hidup dengan dunianya sendiri ketika bekerja. Dan Mas Faris adalah bukti nyatanya.

"Faris, sudah mendapatkan inspirasi?" Aku terlonjak kaget mendengar pertanyaan yang disampaikan dengan logat kaku itu, dan ternyata itu klien Mas Faris! Sial, aku jadi seperti tamu tak diundang.

"Sudah, Pak. Ini masih gambaran kasarnya, tapi saya harap tiga hari kedepan sudah bisa anda lihat."

"Baguslah." Klien Mas Faris tersenyum lega, lalu matanya kini melirik kepadaku dengan penuh arti! "Pacar?" Eh? Maksudnya dia nanya aku ini pacarnya Mas Faris bukan?

"Bukan, Pak." Mas Faris menjawab dengan tersenyum sopan.

"Kalau pacar juga tidak masalah. Hanya saja, pacarmu ini cantik sekali." Aw, aku dibilang cantik sekali! 100 buat anda pak Klien! "Kamu harus hati-hati, lengah sedikit mungkin akan banyak yang merebutnya. Saya juga akan ikut merebutkannya, kalau saja itu terjadi 20 tahun yang lalu."

Aku tertawa malu pada si Pak Klien, sedangkan Mas Faris hanya tersenyum tipis. Ah andaikan aku bisa menyogok Klien Mas Faris itu untuk menyatakan kecocokan kami dan sebagainya, mungkin sudah kulakukan. Sayangnya uang jajanku mungkin tidak sampai seper-10 dari gajinya! Kalau tidak, tidak mungkin kan dia sampai mau membuat hotel di BALI?

"Anda bisa saja." Akhirnya Mas Faris menjawab setelah obrolan kami diselingi oleh keheningan.

"Haha, saya serius." Pak Klien berujar tegas namun dengan geli. "Kalau begitu, saya pamit dahulu. Kita akan bertemu besok di pertemuan bukan?" tanyanya.

Mas Faris mengangguk, lalu tangannya menjabat Pak Klien dengan tegas. Pak Klien itu juga menyalami aku. Senyumnya tersungging lebar, membuatku yakin orang ini pasti orang yang menyenangkan.

"I'm Jason, nice to meet you."

Oh ternyata namanya Jason, bukan Klien. "Hi, my name is Danisa. You can call me Dani. And, nice to meet you too," jawabku tanpa cela. Jelassss, kemampuan bahasa inggrisku jangan diremehkan!

"Danisa? Hm, a beautiful name," puji Jason. Ah andaikan dia masih muda, pasti aku sudah tergila-gila dengan gaya memujinya. "Aku harus pergi sekarang. Keluargaku menunggu disana. See you soon." Lalu dia langsung meninggalkan kami dengan langkah lumayan lebar.

Aku langsung menoleh pada Mas Faris, dan mendapati dia sedang memperhatikan wajahku! Karena setelah mata kami bertemu, Mas Faris langsung sok menyibukan diri salah tingkah!

"Kenapa, Mas? Mau lihat wajah cewek cantik sekali ya?" tanyaku geli.

Mas Faris mendengus, dan itu membuatku tertawa. Mas Faris lucu banget deh, polos tapi tegas.

"Tapi kayaknya dia udah sering ya muji cewek gitu?"

Mas Faris mengangguk, "Bagi dia, semua cewek itu cantik. Dan aku setuju," jelas Mas Faris.

"Tapi tadi dia bilang aku cantik 'sekali' lho, Mas!" kataku sambil mengingat-ingat.

"Iya."

"Terus Mas Faris setuju sama pendapat Jason?" tanyaku menuntut.

Mas Faris menghentikan kegiatannya, lalu menatapku lebih fokus. "Aku setuju, seperti yang aku bilang kalau semua cewek itu cantik," jawabnya tidak memuaskanku.

"Tapi tadi dia bilang aku cantik sekali, mas setuju gitu?" desakku.

"Setujulah."

Hening. Rasanya aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang berpacu seiring dengan kata-kata yang diucapkan Mas Faris. Setuju?!! Dia setuju dengan Jason yang mengatakan aku cantik sekali?!!

Bangunkan aku! Kumohon bangunkan aku!

Mas Faris tiba-tiba menegakan tubuhnya, lalu menatap ke belakangku. Aku mengikuti arah tunjuknya, dan kaget melihat Fauzan berdiri disitu. Cowok itu kelihatan tolol dengan tatapannya yang menyelidik itu, tapi aku tidak mau berkomentar dulu ah.

Sesaat bisa kulihat Mas Faris dan Fauzan saling menatap satu sama lain, membuatku takut jika mereka sampai bertengkar. Tapi juga senang. Kalau mereka berantem, berarti Mas Faris memperjuangkan aku kan? Hihi, jangan berharap Danisa!

Setelah lama saling pandang, akhirnya kulihat Fauzan menjulurkan tangannya. "Apa kabar, Mas?" tanyanya basa-basi.

Mas Faris membalas jabatan tangan Fauzan singkat. "Baik." Setelah menjawab, Mas Faris kembali sibuk dengan gambarannya.

"Dan, ikut gue!" Fauzan menarik tanganku untuk berdiri.

Aku langsung manyun, "Kemana? Jangan bilang sama tour guide nggak mutu lo itu?" tanyaku ketus.

"Nggak kok." Fauzan menggaruk rambut belakang kepalanya. "Ayo." Tangan kanan Fauzan menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya. "Duluan ya, Mas." Fauzan masih sempat berpamitan dengan Mas Faris yang hanya dicuekin olehnya.

"Zan! Lepasin kek tangan lo! Gue berasa kayak anak kecil nih diseret gini." Aku merengek saat Fauzan tak juga melepas genggamannya padaku.

"Cuma berasa kan?"

"Zan! Ish, rese banget sih lo!" 

Kesal, aku berusaha melepas cekalan tangannya. Tapi tentu saja gagal, mana mungkin tenaga cewek sepertiku bisa menang melawan tenaga cowok seperti Fauzan? Akhirnya aku pasrah saja di tarik begini, mana jalannya Fauzan makin melenceng dari pantai dan mendekat ke laut.

"Aduh." Tiba-tiba Fauzan melepas genggamannya dan terduduk meringis kesakitan sambil menutupi tangan kirinya. Kenapa dia?

"Zan, nggak apa-apa kan?" Aku ikut berjongkok di sebelahnya dengan khawatir, karena wajah Fauzan seperti kesakitan. Aku sudah hampir mengambil tangan kiri Fauzan ketika tiba-tiba Fauzan dengan tangannya yang bebas meleletkan pasir pantai ke wajahku! "Bencong!" teriakku kesal bukan main.

Kukejar dia dan menghadiahkan seonggok pasir untuk masuk ke dalam bajunya! Haha rasakan! Siapa suruh mengerjaiku? Eits, tapi kenapa dia mengambil pasir sebanyak itu? Ah, aku berani bertaruh pasti berantem kami akan diakhiri dengan saling melempar pasir pantai!

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel