BAB 3 - Malam Pertama
Setelah semua tamu pulang, aku dan Fauzan langsung berkumpul di ruang tengah bersama keluargaku dan keluarganya. Karena memang keluarga kami sudah dekat, mereka jadi heboh banget mengobrol.
"Nah ini pengantin barunya." Papa langsung menyambut kedatanganku dan Fauzan dengan senyuman bahagia.
Aneh banget gak sih? Itu kenapa Papa bisa sebahagia itu sih? Sewajarnya, Papa lagi kecewa karena nggak jadi menikah sama Mama Dewi. Tapi biarlah, toh yang penting mereka sudah tidak mungkin menikah.
"Gimana rasanya menikah Dan? Seneng kan?" He seneng? Apanya yang seneng?! Tapi aku hanya tersenyum sok malu-malu pada Tante Ana, temannya almarhum Mama. "Nanti malam bakalan lebih seru lho, Sayang."
Aku nyengir mendengarnya, kayaknya emang bakalan seru. Apalagi kalau aku bisa menyuruh Fauzan untuk tidur dibawah atau di sofa, yang penting tidak disampingku. Yuhu.
"Jadi ingat jaman-jaman kita setelah menikah." Papa mulai bergumam sambil menatap menerawang. Seperti mengingat-ingat, ahh mendadak aku jadi kangen Mama.
"Wah iya, aku lupa." Tante Ufi tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya, membuatku mengerutkan kening. Botol? Isinya apaan itu? "Ini Tante kemaren habis dapet oleh-oleh dari temen Tante. Ini buat kamu aja, Zan."
Fauzan menggaruk rambutnya canggung, "Itu apaan, Tan? Jamu ya?" tanyanya.
Aku ikut-ikutan kepo, lalu mengambil botol itu dari Tante Ufi. Aku membuka tutup botolnya, lalu mencium baunya. Errr, beneran jamu ini.
"Iya, jamu kesehatan. Kamu harus minum ya, Zan," jawab Tante Ufi sambil tersenyum aneh pada Fauzan.
"Aku boleh minum, Tan?" tanyaku.
Tante Ufi langsung menggeleng, "No. Jangan. Yang boleh minum cuma Fauzan, Sayang." Tante Ufi menunjuk ke arah Fauzan.
"Uhh Tante pilih kasih!" Aku menggerutu sebal, membuat para keluarga tertawa.
Dan si Fauzan rese juga sempet-sempetnya memberikan wajah mengejek padaku! Huh! "Siniin! Ini tuh buat gue, Sayang," bisiknya sambil mengambil alih botol itu.
"Tan, Fauzan itu nggak suka jamu! Mending buat aku aja ya?" pintaku dengan wajah memelas. Walaupun aku nggak gitu suka sama jamu, tapi aku nggak terima Fauzan dikasih jamu tapi aku nggak!
"Sayang, kata siapa aku nggak suka jamu?" Fauzan menjawab permintaanku dengan meneguk habis jamu itu. Ihh Rese! Aku memalingkan wajah dengan kesal, apalagi para keluarga ikutan menonton dan tertawa.
Eh tapi kok wajahnya para Tante sama Om jadi gitu ya? Mereka saling lirik-lirikan seneng gitu. Ih, aku punya firasat buruk untuk semua ini. Hiii, tapi apa ya?
Setelah berbasa-basi lama, akhirnya mereka semua menyuruhku dan Fauzan masuk ke kamar pengantin. Dan si rese Fauzan masih sempat-sempatnya sok mesra padaku! Dia merangkul-rangkul nggak jelas sambil membawaku masuk.
"Aduh! Dan, tenaga lo tenaga kuli amat sih! Ini kaki gue sakit bego!"
Aku membuang muka tanpa rasa bersalah, "Makanya jangan suka curi kesempatan sama gue. Ini masih mending cuma gue injek kakinya, daripada gue injek badan lo!" gumamku sebal.
Aku berjalan ke meja rias, lalu menatap wajahku yang kelihatan hancur karena keringat di sana-sini. Hadeh. Aku melirik Fauzan dari kaca, dan kulihat dia berjalan mendekat padaku. Aku menatapnya curiga.
"Dan, gue nggak nolak lho kalau lo mau injek badan gue. Tapi gantian ya ntar gue yang di atas badan lo?"
WHAT?! "Heh dasar Fauzan mesum! Jauh-jauh lo dari gue!" Sial banget, kenapa aku baru tau Fauzan mesum begitu?!
Fauzan hanya tertawa lalu masuk ke kamar mandi. Hih! Takdir apa aku punya suami kayak gitu? Hiii aku jadi geli banget lagi. Nggak pernah bayangin, apalagi ngalamin, kayak begituan!
"Danisa!"
Apa lagi tuh cowok rempong! Pake teriak-teriak dari kamar mandi lagi.
"Apaan?" tanyaku tanpa minat. Masih sibuk menghapus make up-ku.
Tak terdengar sahutan dari dalam, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan Fauzan melongokkan kepala dari dalam. "Ini punya lo?" tanya Fauzan dengan cengiran anehnya.
"Apanya?" Aku memalingkan wajah ke arahnya, gerakanku lambat tapi curiga.
Fauzan menunjukkan pakaian tipis di tangannya, membuatku mengerutkan kening. Kayak pernah lihat, tapi apa ya namanya? Eh tapi itu punya siapa? Kenapa nangkring di kamarku segala?
"Heh ditanyain juga Mak." Fauzan ternyata masih kepo.
Aku menggeleng cuek. "Bukan punya gue," jawabku cuek.
"Masa sih?" Fauzan tampak nggak percaya, lalu merentangkan pakaian tipis itu. "Kalau dilihat-lihat, ini ukurannya pas di elo deh, Dan."
Aku meliriknya penuh permusuhan, "Nggak usah rese deh! Kayak tahu ukuran gue aja!" sahutku ketus.
"Jangan salah, sayang. Sebagai suami yang baik, gue tau banget semua ukuran lho." Fauzan menatap pakaian itu, lalu menunjuk bagian-bagiannya dengan santai. "Ini 36 kan? Kalau yang ini 62, nah kalau-"
"FAUZAN RESE! BISA DIEM NGGAK LO? AWAS LO YA GUE SIHIR LO JADI KODOK!"
Dan Fauzan langsung membanting pintu kamar mandi dengan tawanya yang membahana. Sialan! Ish gimana Fauzan bisa tahu semua ukuranku? Memangnya dia tahu darimana? Hiks, nangis beneran deh aku!
Setelah berganti baju dan menghapus make up, aku langsung menggedor pintu kamar mandi. Itu orang lama bener sih di kamar mandi?
"Heh rumpi! Lama amat sih di kamar mandi?" tanyaku kesal.
Cklek~
"KYAAAAA BENCONG! NGAPAIN LO KELUAR NGGAK PAKE BAJU? MASUK SANA, MASUK!" Kudorong bahu Fauzan sekuat tenaga, lalu langsung aku banting pintu kamar mandi. Hueeee mataku yang suci ternoda sama Fauzan! Hiks~
"Mak, lo tega amat sama suami sendiri. Buka kalik!" gerutunya.
Aku memang sengaja mengunci pintu kamar mandi dari luar. Daripada Fauzan nekat keluar nggak pake baju gitu kan.
"Nggak! Sebelum lo pake baju!"
"Elahh ribet amat Mak, gerah nih gue," keluhnya dengan nada melas.
"Terserah! Pake dulu pokoknya!" Aku tetap bersikeras. Enak saja dia buka-bukaan di hadapanku! Pokoknya aku nggak mau ada yang saling lihat apapun di antara kami! Biar nantinya nggak akan ada yang nyesel di antara kami. Iya kan?
Lagian aku masih berharap badan pertama yang aku lihat itu punya seseorang, dan jelas bukan Fauzan. Hih ngapain juga lihat badannya! Dari kecil juga mandi bareng.
"Udah! Puas? Buka ah sekarang. Panas nih."
Ini kenapa anak ngeluh panas mulu sih? Perasaan dinginnya nggak kira-kira banget deh. Kenapa tuh cowok kepanasan sendiri? Aku membuka pintu kamar mandi, dan bersyukur dia sudah mengenakan pakaian lengkap. Haish.
"Udah sana minggir,” usirku sebal, lalu langsung masuk ke kamar mandi.
"Dasar Mak Lampir!" Sayup, aku masih bisa mendengar gerutuan Fauzan dari luar kamar mandi. Sialan nih cowok!
Tapi, daripada memikirkan cowok nggak guna itu, mending aku berendam. Menenangkan otak dan pikiran. Hmm..
Tapi, Mas Faris tadi kok nggak dateng ya? Bukannya apa-apa sih, aku kan udah undang dia lewat Lani. Berharapnya sih Mas Faris dateng, habis itu aku pengen lihat reaksinya. Eh jangan-jangan Mas Faris nggak dateng karena cemburu? Hish, mimpi aja deh Dan.
Dari dulu sampai sekarang, aku memang setia banget ngecengin Kakak Lani yang satu itu. Selain karna dia ganteng, dia juga cool bangettt! Nggak kayak si Fauzan itu, si playboy cap kodok! Ganteng sih ganteng, tapi tiap minggu ganti gandengan. Idih, aku dapet bekasan berapa orang ya tuh berarti? Ah bodo, orang cuma pernikahan palsu ini.
Back to Mas Faris. Beda dari kecenganku yang lain, Mas Faris ini yang paling cuek. Di awal kenalan, dia ditanyain cuma jawab ya dan tidak. Dan walaupun udah hampir 2 tahun kenal, tetep aja orangnya cuek bebek sama aku. Jangan-jangan Mas Faris udah punya gebetan? Tapi, kalau iya, kenapa aku peduli? Sebagai orang yang ngecengin, aku kan nggak boleh patah hati kalau kecengan punya pacar. Secara cuma kecengan bukan gebetan. Iya kan?
Ahh berendam cukuplah. Aku nggak mau kulitku jadi keriput karena kelamaan berendam di air hangat. Aku keluar dari kamar mandi setelah berpakaian lengkap, lalu kulihat Fauzan sudah asik tiduran di kasur.
"Heh ngapain lo tiduran disini?" tanyaku kesal.
Fauzan menoleh dari layar TV, "Emang harusnya gue tiduran dimana?" tanyanya dengan muka o'on. Hish dasar cowok O'on!
"Ya di lantailah, dimana lagi!" jawabku santai sambil menarik selimut yang terlipat di kasurku, lalu menaruhnya di lantai. "Noh tempat tidur lo."
"Ogah gue tidur di lantai. Kalau lo mau, lo aja gih." Fauzan dengan tenangnya malah memeluk gulingku erat! Hueeee cowok ini bikin aku naik darah mulu sih dari tadi!
Aku langsung memukul wajahnya dengan bantal, "Lo kan cowok, ngalah dikit kek sama cewek!" bentakku kesal.
Saat hendak memukulnya lagi, Fauzan langsung mengambil bantalku. "Nggak usah berisik! Nih ambil! Tidur deh tuh dibawah." Fauzan melempar bantal itu ke atas selimut dengan tenangnya.
"Zan, tega banget sih lo!" Aku menggerutu, "Dasar nggak gentle!" makiku sebal.
Aku mengambil bantal itu lalu merapikannya di atas selimut, lalu dengan tenang aku langsung merebut gulingku dari pelukan Fauzan! Tapi rupanya itu cowok masih belum rela, karena dia bangkit berdiri dan menghadangku.
"Eh itu guling gue, Mak Lampir!"
"Sejak kapan guling gue jadi guling lo? Dasar gila!" Aku langsung menghindar begitu Fauzan mendekatiku.
"Mak, lo kan tau gue nggak bisa tidur tanpa guling." Iya sih, aku tau. So what?
"Bodo! Minggir nggak lo?! Fauzan, Aaaaaa lo mau ngapain gue? Kyaaa Fauzan sakit!" Aku langsung berteriak histeris saat Fauzan memelukku dari belakang dan berusaha mengambil gulingku! "Fauzan lepas nggak? Sakit tauuu!"
"Ogah!" jawabnya enteng tanpa rasa bersalah.
"Zan, lepas ih! Kalau lo mau guling, yang fair dong! Tidur di lantai!" bentakku sebal. Dasar cowok bencong!
Fauzan melepas pelukannya, lalu menghela nafas dengan berlebihan. "Yaudah terpaksa," gumamnya lagi. "Siniin gulingnya!" perintahnya padaku.
"Nah, gitu dong jadi cowok!" Kulempar guling itu dengan tenang, lalu langsung mengambil kembali hak milik kasurku. Ahhh indahnya dunia~
Fauzan tak banyak berkomentar, tapi dia langsung mengambil tidur di atas selimut dan memunggungiku. Eh tapi kok punggungnya Fauzan lebar ya? Keren gitu, pasti deh badannya berotot. Mana itu kaos-nya juga nggak menutupi keseksiannya lagi!
Argh! Danisa, lo mikir apa sih? Itu tuh badannya si cowok bencong garis miring cowok rese garis miring Fauzan garis miring.. suami lo. Eh iya ya, Fauzan sekarang kan suamiku. Kok aku bisa lupa?
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu? Naksir?" Idih, narsis banget nih cowok. Tapi kok dia bisa tahu ya kalau aku lihat dia? Padahal dia memunggungi aku.
"Rese! Narsis!" makiku sambil berbalik memunggunginya. Hhhh sekeren-kerennya cowok, kalau rese kayak Fauzan sih sama aja. Tetep rese intinya!
"Danisa."
"Apaan?" Ini cowok gangguin banget deh, udah hampir tidur juga.
"AC-nya nyalain dong, panas banget nih."
Ha? Aku menoleh pada Fauzan, yang tampak berkeringat. "Zan, itu AC udah nyampe 17 kali. Masa iya masih panas? Gue aja kedinginan," gumamku heran.
"Masa sih?" Fauzan menoleh ke arah AC, lalu dia menggaruk dagunya heran. "Kok gue masih kepanasan ya?" tanyanya heran.
"Meneketehe," jawabku cuek. Lalu kembali berusaha tidur.
"Dan!"
"Hmm." Sumpah ya, rempong bener nih cowok.
"Gue lepas baju, lo jangan noleh kalau nggak mau lihat," sahutnya.
"Hmm serah," jawabku setengah sadar. Fauzan ngomong apa aja aku nggak ngerti, mending tidur aja deh.
Rasanya baru sebentar aku menutup mata, tiba-tiba sinar matahari sudah menyeruak di jendela kamarku. Hoamsss, akhirnya udah-- tunggu! Ini tangannya siapa ini yang ada di badanku?!!!!
"KYAAAAAA! LO-- LO APAIN GUE?!" Aku menatap ngeri pada Fauzan yang tidak memakai baju dan dengan indahnya tidur di sebelahku! Mana tadi dia peluk-peluk lagi!
Fauzan membuka matanya, "Apa sih? Masih pagi. Jangan teriak-teriak, Mak," gumamnya serak. "Gue baru bisa tidur jam 4an tadi Mak, jadi biarin gue tidur beberapa jam lagi." Dan Fauzan langsung menarikku tertidur kembali. Dia memelukku layaknya guling!
"Kyaaa Fauzan mesum! Lo apa-apaan sih?! Lepasin!"
"Dan, bentar aja. Gue butuh tidur!"
Butuh tidur? Nih tidur! Kutendang kakinya dengan kekuatan maksimal.
“Aduh, Dan!"
"Udah dibilang jangan cari-cari kesempatan sama gue! Dasar mesum!" Dan aku langsung kabur dari Fauzan! Apa yang dia lakukan ya selama aku tidur? Mana dia telanjang dada gitu!!! Hiiih cowok itu~
Kakiku melangkah cepat-cepat menjauhi cowok mesum bin menyebalkan itu!
***
