BAB 2 - Pernikahan Permainan
"Jadi, nanti malam Fauzan bakal ngelamar elo?"
Aku mengangguk lesu, tanganku memainkan sedotan orange juice-ku. Sekarang aku sedang berada di kantin kampus bersama kedua sahabatku, Rani dan Lani. Tapi rasanya nggak ada selera deh tiap ingat kalau nanti malem Fauzan bakal melamarku.
Aku merasa belum siap, tapi juga aku tidak mungkin mundur sekarang. Kalau aku mundur, kami akan kalah. Papa pasti akan secepatnya menikahi Mama Dewi, dan akhirnya kami harus bersaudara.
Hi! Aku bergidik sendiri membayangkannya. Bersaudara dengan Fauzan? Lebih baik aku mati saja! Sahabatan aja banyak berantem, apalagi saudara yang tinggal serumah? Bisa-bisa rumah kami bakal jadi kapal pecah tiap harinya. Tapi bukannya menikah juga tinggal satu rumah ya? Eh iya juga ya.
"Oy!"
Aku langsung gelagapan tersadar setelah mendengar teriakan Rani di kupingku. "Apaan sih lo? Sengaja mau bikin kuping gue budek?" tanyaku kesal.
"Yaa siapa suruh dipanggil nggak nyaut!" balas Rani cuek.
"Lo mikirin apa sih?" Lani akhirnya bertanya setelah lama memperhatikanku dan Rani mengobrol tentang pernikahanku.
Aku menggembungkan kedua pipiku dengan kesal, "Nggak ngerti deh Lan, gue rasanya pengen nyebur ke laut merah kalau kayak gini," keluhku.
"Wah serius lo? Mau gue anterin nggak? Sekalian gue mau rekam adegan lo nyebur nanti, lumayan buat nambah subscribe di youtube!"
Sialan. Aku langsung menoyor Rani dengan sebal, "Itu cuma perumpamaan tahu! Gue juga ogah kali nyebur ke sana, bisa mati muda gue. Padahal sayang banget kalau gue mati sebelum nikah sama Mas Faris!" gerutuku.
"Wah gila banget nih anak! Lo tuh bentar lagi mau nikah sama Fauzan, ngapain lo masih mikirin Kakaknya Lani itu? Udahlah, doi biar buat gue aja." Rani langsung menyambar sambil menggeleng-geleng.
"Ihh ogah banget, gila! Mas Faris pokoknya tetep punya gue!" kataku keras kepala.
Mas Faris itu kakaknya Lani yang kedua, yang pertama adalah Mas Taufan. Dua-duanya ganteng banget sih, tapi Mas Taufan sekarang kerjanya di Jerman. Jadinya jauh kalau mau ditaksir. Tapi kalaupun dekat, aku tetep lebih milih Mas Faris sih.
Mas Faris tuh beda banget dari kecengan-kecenganku yang lain. Mas Faris orangnya cuek banget, kalau ngomong irit, terus penampilannya dewasa banget, ganteng pula! Pokoknya idaman banget deh. Aku udah suka sama dia dari 2 tahun lalu, waktu awal kenalan sama doi.
Tapi dasarnya Mas Faris orang yang cuek, dia sama sekali nggak menanggapi aku. Mmm itu juga sih yang membuatku semakin penasaran dengannya. Merasa tertantang untuk mendapatkannya. Hm tapi sepertinya kesempatanku semakin kecil saja. Apalagi nanti setelah menikah, Mas Faris pasti nggak akan mau sama aku.
"Udah kali nggak usah galau." Lani berkomentar sambil tertawa. "Katanya cuma kecengan doang?"
"Nggak galau kok," jawabku sok cuek.
"Idih nih anak! Sok banget, padahal dalem hati pasti galau banget tuh." Rani berkomentar dengan sadis, membuatku melemparinya dengan tisu kotor. Menyebalkannya dia bisa menghindar dengan mudah.
"Belum terlambat lho untuk berubah pikiran." Lani berkomentar tanpa menatapku, dia malah lebih asik dengan siomaynya. "Daripada nantinya lo nyesel, mending sekarang hentikan semua permainan itu."
Aku menggeleng penuh. "Nggak! Pokoknya sekali nggak tetep nggak! Toh aku sama Fauzan cuma menikah main-main, nggak akan ada yang perlu disesali," jawabku tanpa berfikir.
Lani hanya menggeleng-geleng saja, sedangkan Rani malah sibuk dengan makanannya. Aku sendiri memilih memandang ke langit putih di atasku, mengamati seperti orang kurang kerjaan.
Sekarang aku malah tidak yakin sendiri dengan pilihanku. Maksudku, aku yakin tidak akan ada yang perlu disesali nanti. Tapi aku ragu ... bagaimana jika pada akhirnya ada salah satu dari kami yang jatuh? Maksudku ... jatuh cinta?
***
Aku menaruh minuman dan kue di meja, lalu mengambil duduk di sebelah Papa. Fauzan sendiri sudah duduk tegak di sebelah Mama Dewi. Aku menatapnya curiga, kenapa dia kelihatan yakin kayak gitu? Bikin curiga.
"Jadi kamu benar-benar siap untuk menikah dengan Danisa? Kamu sudah siap menerima Danisa?" Pertanyaan Papa entah bagaimana bisa membuat hatiku deg-degan.
Aku melirik Fauzan yang mengangguk tegas, "Saya siap Pa!" ucapnya tegas.
Nah, tuh! Kenapa dia bisa kayak orang yakin beneran sih?
Ngomong-ngomong, nggak usah heran kenapa Fauzan memanggil Papa begitu. Dari dulu Fauzan memang memanggil Papa-ku dengan Papa, begitu juga aku memanggil Mama Dewi dengan Mama. Entah dimulai dari siapa, yang jelas begitulah.
"Kalau begitu, minggu depan kalian menikah!"
What?! Aku dan Fauzan kini saling melotot, lalu aku langsung menoleh pada Papa. "Pa, apa itu nggak terlalu cepat? Menikah itu kan nggak gampang, banyak surat-surat yang harus diurus Pa!" tolakku mentah-mentah.
Memang sih aku sudah mengira Papa bakal secepatnya menikahkan kami. Tapi aku nggak nyangka kalau Papa se-ngebet itu sampai kami dinikahkan minggu depan.
"Masalah surat dan semuanya, Papa yang akan mengurus. Kalian cukup menikah saja."
Papa apa coba? Nggak lucu banget! Aku nggak membayangkan kalau dalam hitungan hari, aku bakal menikah! Sama Fauzan lagi! Kenapa aku baru menyesalnya sekarang?
"Baiklah, kalau begitu sudah disepakati." Mama Dewi bergumam ceria. "Ah akhirnya kamu bisa jadi anak Mama yang sebenarnya, Dan."
Aku tersenyum maksa pada Mama Dewi. Iya sih aku seneng bisa jadi keluarga sama Mama, tapi kenapa harus ada faktor Fauzan didalamnya? Sekarang aku jadi ragu lagi antara menjadi saudara Fauzan atau menjadi istrinya. Tapi tidak! Danisa bukan anak plin plan! Aku akan menikah sama Fauzan, tapi huaa kenapa masih belum rela?
Aku udah nggak mendengarkan lagi mereka ngomong apa, pikiranku kayak disedot ke antartika bikin aku kayak orang linglung yang ngikut aja tiap pada tanya tentang persetujuan. Sedangkan tuh cowok rese cuma cengengesan nggak jelas kayak orang epilepsi
"Oke, jadi semua udah sepakat ya." Mama Dewi berteriak girang.
"Iya, akhirnya kita bisa jadi besan ya." Papa menimpali sambil tersenyum penuh wibawa. "Dewi, bisa ikut saya sebentar? Ada yang mau saya bicarakan."
Setelah itu Mama Dewi mengikuti Papa ke halaman belakang. Aku mengikuti mereka dari ekor mataku, sambil curiga apa yang akan mereka bicarakan. Saat sedang curiga itulah tiba-tiba sebuah bantal mendarat cantik di wajahku!
"AAA FAUZAN APAAN SIH LO?!" Teriakku kesal sambil melemparkan bantal itu balik, tapi sialnya Fauzan bisa aja menangkap itu bantal!
Fauzan menatapku sebal, "Gue yang harusnya marah, Mak! Maksud lo setuju tadi apa?" tanyanya galak.
"Ya gak harus lempar bantal segala kalik nyet! Lagian setuju apa sih?" tanyaku mulai khawatir. Tadi kan aku cuma ngangguk sok ngerti.
"Wah amnesia bener lo! Gak sadar tadi lo setuju kita menikah hari senin?"
Ha? Kini aku benar-benar melongo. "KYA SENIN? Zan, itu artinya kita bakal nikah 3 hari lagi? Ogah! Nggak rela demi apa gue nggak rela!” teriakku dengan kaget.
Fauzan menoyor kepalaku saat dia sudah mengambil duduk disebelahku. "Salah siapa lo setuju?!" gerutunya.
"Gue nggak sadar, Zan! Tadi gue cuma sok ngerti aja. Aduh gimana ini Zan? Gue belum rela nikah sama monyet kayak elo!"
"Wah sialan banget nih mak lampir! Emangnya gue rela nikah sama mak lampir kayak lo? Udah tukang tidur, cengeng, nggak bisa masak, nggak--"
"Fauzan rese banget sih lo!! Kata siapa gue tukang tidur?! Dasar cowok jorok, playboy, monyet, aneh absurd, nyebelin, konyol, nggak jelas!" teriakku tanpa ampun.
Tapi tahu apa yang terjadi? Telingaku malah dijewer sama Papa yang entah bagaimana bisa ada dibelakangku. Hue, Papa kalau jewer aku kenapa sakit banget sih?
Mana Fauzan malah pasang wajah sok polos lagi! "Dani, Fauzan ini calon suami kamu. Hormati sedikitlah." Wejangan Papa diperkuat dengan tenaganya untuk menjewerku.
"Aduh Pa sakit. Iya Danisa salah, ampun Pa," ucapku memelas hingga Papa akhirnya melepas jewerannya.
Ish! Aku melotot pada Fauzan yang masih memasang wajah sok gantengnya itu. Awas aja lo ya! Gue cincang besok!
***
"Saya menerima nikahnya dan--"
"Saya terima bukan saya menerima." Huft! Dasar cowok bego! Kenapa juga dia bisa salah ijab qobul? Daya ingat tuh cowok emang parah banget, butuh diperiksa ke dokter hewan! "Silahkan diulangi," ujar Pak Penghulu sabar.
Fauzan mengangguk setelah sebelumnya menggaruk rambutnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Danisa --nggg nama panjang lo siapa mak?"
FAUZAN BEGO! SEMPAT-SEMPATNYA DIA MENOLEH PADAKU DAN BERTANYA! Dia benar-benar minta digantung nih. Atau enaknya diapain ini?!
"Danisa Putri Mahardika." Pak penghulu menjawab dengan sabar. "Nak Fauzan, sekali lagi salah maka pernikahan ini bisa batal ya."
Huaaaaa jangan-jangan tuh cowok sengaja lagi salah-salahin biar nggak jadi kawin? Kalau iya, siap-siap saja tuh cowok tinggal nama! Aku udah dandan se-norak ini dan dia batalin acaranya?! Nggak sudi aku kalau harus dandan kayak gini lagi, titik!
"Sekali lagi lo salah, gue tendang si junior!" bisikku penuh ancaman. Biasanya itu cukup berhasil, karena Fauzan pasti langsung membayangkan adegan ketika aku pertama kali menendang si junior hingga dia pingsan!
"Sekali lagi, bismillahirohmanirohim," ucap Pak penghulu yang membuatku ikutan deg-degan. SEKALI LAGI!
"Saya terima nikah dan kawinnya Danisa Putri Mahardika binti Satriyo Mahardika dengan mas kawin tersebut tunai."
Suasana hening beberapa saat, sebelum Penghulu bertanya "sah?" dan terdengar sahutan sah dari sekeliling kami. Aku hanya bisa terpaku di tempatku, masih tercengang dengan kalimat panjang Fauzan. Kami sekarang sudah resmi menikah. Walaupun hanya pernikahan karena permainan, tapi inilah pernikahan.
"Mbak Danisa boleh mencium tangan suaminya." Instruksi itu kujalani dengan patuh, mencium tangan Fauzan walaupun dengan canggung. Namun aku langsung tertegun begitu Fauzan mencium keningku dengan lembut, tanpa perintah dan instruksi dari siapapun.
"Lo jangan cari kesempatan ya!" bisikku sebal, sedangkan Fauzan hanya menatap datar.
"Cari kesempataan apaan juga ke elo mak? Yang ada gue rugi." Dia balik berbisik dengan tenang.
Sial, kalau bukan karena kami ada di tengah-tengah orang, sudah pasti ini sepatu bakal nemplok ke tuh anak! Setelah acara nggak jelas seperti tanda tangan dan foto, aku langsung meninggalkan Fauzan dan memilih bergabung dengan Lani dan Rani di tempat duduk tamu.
"Ini beneran lo nikah sama Fauzan?" Lani rupanya masih belum bisa menerima secara akal sehat pernikahanku dengan Fauzan. Jangankan dia, aku saja masih belum. Huaa Mama!
"Ya iya dong Lan, nggak lihat tuh jidatnya tadi bekas jigongnya Fauzan? Tuh anak tadi sikat gigi dulu nggak ya? Biasanya kan jorok banget."
"Gue dicium pake mulut bukan gigi, Rani dodol!" balasku sebal, membuat Lani dan Rani langsung tertawa. Dasar mereka ini!
"Tapi gue juga belum nyangka. Padahal gue lebih tua beberapa bulan dari elo, tapi yang nikah malah elo duluan." Rani masih saja menggodaku, membuatku makin kesal.
Lani menahan tanganku yang hampir melempar Rani dengan tisu kotorku. "Udah. Pengantin baru nggak boleh marah-marah," ucapnya sambil menahan tawa.
"Lo mah sama aja, Lan! Bete gue."
"Ada gitu ya Lan, orang nikah malah bete gitu?" Rani mengambil duduk disebelahku, "Hati-hati ntar malem ya Dan, walaupun Fauzan nggak cinta sama lo, tapi dia kan tetap cowok. Nafsu-nya besar."
"Ran! Sumpah lo ngomong asal lagi langsung gue tenggelamin ke kolam ikan gue!"
Rani langsung ngakak, sedangkan aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Benar juga yang dibilang Rani, bisa aja kan Fauzan--
"Oy." Nih bocah ngapain lagi kesini? Dan eh! Ngapain dia meluk pinggangku gitu? "Gimana kita? Cocok kan?"
"Cocok darimana! Jauh-jauh sana! Dasar monyet!"
"Diem lo, Mak lampir!"
"Lo yang diem, Nyet!"
"Manggil apa lo?!"
"Nyet! Monyet! Monyet!"
"Kalau gue monyet, berarti lo istri monyet? Hmm? Iya mak lampir a.k.a istri monyet?"
Sialan nih bocah, kenapa dia bisa bales kata-kataku begitu sih? Aku membuang muka dengan sebal, tidak menemukan balasan yang cocok untuknya.
"Gue nggak bayangin gimana hidup pernikahan kalian." Lani berkomentar setelah memperhatikan kami.
"Eh taruhan yuk Lan, bakal bertahan berapa lama mereka?"
Aku melotot pada Rani, enak saja dia mau membuat permainan tentang pernikahanku ini!
"Gue ikutan dong! Gue ambil 2 tahun deh, hadiahnya apa?" Aku menoleh pada si cowok kutu kupret yang bukannya membela diri malah ikutan taruhan!
"Ayo ayo, gue sih ambilnya seminggu doang." Rani langsung bersemangat begitu mendapat dukungan dari Fauzan. Tapi hei! Enak saja dia bilang seminggu.
Aku menoyor kepala Fauzan, "Lo kenapa nggak pinter-pinter sih? Mau-maunya aja pernikahan kita dijadiin mainan!" bentakku kesal
Fauzan menoleh, "Kenapa emang? Bukannya pernikahan ini emang hanya permainan?"
Deg!
Benar, pernikahan ini memang hanya sebuah permainan. Hanya sebuah rencana yang dilakukan demi menghalangi pernikahan orang lain. Tapi kenapa saat Fauzan memperjelasnya, aku merasa tidak nyaman?"
"Lo berapa lama, Lan?" Rani bertanya tenang, tangannya sibuk menulis di buku catatan. Wah gila beneran ini cewek. Pake dicatet!
"Gue sih yakin mereka nggak akan cerai, selamanya," jawab Lani yakin, tersenyum manis padaku sambil berkedip.
Aku hanya menatapnya bingung, lalu menoleh pada Rani. "Emang apa hadiahnya?" tanyaku ingin tahu.
"Kalau lebih dari 2 tahun, Fauzan harus bayarin Lani liburan ke Singapura seminggu," jawab Rani kegirangan, "Nah kalau sebelum 2 tahun Fauzan udah minta cerai, Fauzan harus cium bibir lo dihadapan gue sama Lani. Tapi kalau lo yang minta cerai sebelum 2 tahun, lo yang harus lakuin itu. Gimana?"
"Gila! Apa banget sih permainannya?" Aku bergidik ngeri membayangkan jika Fauzan sampai kalah. "Kenapa gue jadi kena juga? Gue kan nggak ikut main!"
"Oh karna lo sama Fauzan udah nikah, kalian udah sepaket dong. Ngomong-ngomong, kalau kurang dari 2 tahun, lo juga harus bayarin gue shopping seharian penuh ya."
"Tapi--"
"Deal." Aku menoleh pada Fauzan yang dengan tenangnya mengatakan sepakat. Apa maunya coba? "Tapi kalau gue yang menang, gue juga mau dapet reward dong."
"Apaan?" Rani bertanya semangat. Aku dan Lani ikutan menatap Fauzan dengan kepo.
"Kalian semua jadi cewek gue! Hahaha."
Seketika kami bertiga hening dan hanya menatap Fauzan yang tertawa-tawa. Lalu detik berikutnya, kami langsung melemparinya dengan semua benda yang ada di dekat kami.
Dasar cowok dodol koplak! Kenapa juga aku harus menikah sama dia? Kenapa?!
"Danisa, kesini sebentar, Sayang." Teman almarhum Mama, Tante Aya, memanggilku dari dalam rumah. Sepertinya Tante Aya barusan datang ya?
Ketika aku mau menuju ke Tante Aya, masih sempat-sempatnya aku mendengar Rani bergumam.
"Bikin permainan tentang malam pertama kalian yuk?"
Sialan, Rani memang benar-benar 'sahabat'ku. Hingga semua yang berhubungan dengan pernikahan ini, dijadikannya permainan. Awas saja ya kalau mereka sampai aneh-aneh!
***
