Bab 3
Angin bertiup kencang, membuat jendela berderak keras. Seorang pelayan segera melangkah maju menutup jendela rapat-rapat. Di lantai ruangan, ada sebuah wadah berbentuk lembu hijau dari tembaga, perutnya dipenuhi bongkahan besar es.
Di Kota Yanjing, musim panas selalu datang lebih awal, dan es harus diangkut dari gudang bawah tanah yang letaknya ratusan li jauhnya. Sekeping kecil saja bisa bernilai sepuluh tael perak, apalagi bongkahan utuh sebesar nampan batu. Belum lagi, di setiap sudut ruangan juga diletakkan empat lembu tembaga serupa.
Ruangan terasa sejuk dan segar. Di atas dipan dekat meja kecil, duduk seorang wanita cantik, menopang dagu dengan tangannya sambil malas-malasan melihat buku catatan di depannya. Di sampingnya, seorang gadis remaja berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun duduk sambil memakan puding susu manis bertabur serutan es, sambil asal-asalan membalikkan tumpukan undangan setinggi bukit kecil. Dua pelayan berdiri tenang di belakang, dengan lembut mengipas keduanya.
“Hujannya deras sekali…” gumam si gadis, pandangan kosong menatap keluar jendela.
Wanita cantik itu meliriknya sekilas, lalu berkata, “Jangan kebanyakan makan yang dingin, nanti malam ayahmu pulang, kau malah tidak bisa makan nasi.” Setelah itu, ia memerintahkan pelayan di sampingnya, “Ru Yi, bawa pergi puding susu itu. Teh ini juga sudah dingin, ganti dengan satu pot teh harum yang panas.”
Si gadis tampak tidak senang, tetapi tidak membantah. Ru Yi pun meletakkan kipasnya, membungkuk, lalu mengangkat puding susu dan teh dingin dari meja. Ia baru saja hendak keluar ketika dari luar masuk seorang Momo berbusana sutra. Melihatnya, Momo itu tidak menyapanya, langsung berjalan menuju wanita cantik tersebut, jelas sekali membawa kabar penting.
Ru Yi sempat tertegun, namun tetap melanjutkan langkahnya keluar sambil membawa nampan perak. Samar-samar ia mendengar percakapan di dalam ruangan.
“… katanya sakitnya cukup parah… setelah mengetahui soal pernikahan Nona ketiga, dia sampai bertengkar hebat dengan Biksuni Senior Jing’an…
Tubuhnya memang tak sehat, sekarang sudah sakit sampai tidak bisa turun dari ranjang…
Tabib bilang tidak akan bisa melewati musim panas ini. Haruskah diberitahu pada Tuan?”
Ruangan hening sejenak, lalu suara lembut wanita itu terdengar, “Akhir-akhir ini Tuan sedang sibuk dengan urusan pemerintahan. Hal kecil seperti ini tak perlu mengganggunya. Nanti kalau ada waktu senggang, aku akan bicara padanya sendiri.”
Tidak lama kemudian, terdengar suara manja khas gadis muda itu, “Biar saja, siapa suruh dia tidak tahu diri. Dengan asal-usulnya, berani-beraninya mencoba meraih sesuatu yang tidak pantas baginya.”
“Sudahlah, jangan bahas itu.” Wanita cantik itu segera mengganti topik. “Kudengar, istri dari Zhuangyuan yang baru saja terpilih itu, beberapa hari lalu meninggal karena sakit. Besok kita harus berkunjung untuk menyampaikan belasungkawa.” Suaranya terdengar penuh simpati. “Masih sangat muda, bagaimana bisa meninggal begitu cepat? Sungguh kasihan sekali.”
Sungguh kasihan sekali, Ru Yi membatin, meski langkahnya tidak berhenti, tetap membawa nampan perak itu menuju dapur.
Nyonya cantik yang duduk di dalam ruangan itu adalah istri kedua dari Kepala Kabinet saat ini, Jiang Yuanbai, bernama Ji Shuran. Gadis muda di sampingnya adalah putri kandungnya Ji Shuran, bernama Jiang Youyao, Nona ketiga keluarga Jiang.
*Kepala kabinet adalah posisi tertinggi dalam kabinet, lebih mirip penasihat utama kaisar.
Sedangkan orang yang mereka bicarakan—yang disebut-sebut tidak akan bisa melewati musim panas kali ini—tidak lain adalah Nona kedua keluarga Jiang, Jiang Li.
Nona kedua keluarga Jiang, Jiang Li, lima tahun lalu karena melakukan kesalahan dikirim ke kuil untuk belajar aturan. Selama lima tahun ini, seolah-olah di keluarga Jiang memang tidak pernah ada orang seperti dirinya.
Kini, yang memegang kendali rumah adalah Ji Shuran, dan satu-satunya putri sah keluarga Jiang yang diakui hanyalah Jiang Youyao. Putri sah dari istri utama Kepala Kabinet, kini hampir tak bisa melewati musim panas ini, namun seluruh penghuni kediaman Jiang sama sekali tidak tahu.
Tapi sekalipun tahu, sepertinya juga tidak akan ada yang berubah.
Ru Yi hanya bisa menghela napas pelan. Ia menunduk menatap teh dingin di tangannya. Apa yang bisa ia lakukan? Nyonya pertama sudah lama tiada, sementara nama Nona Kedua keluarga Jiang pun sejak dulu tidak disukai.
Begitulah dunia—saat seseorang tiada, teh yang hangat pun segera dingin.
…
Kuil Helin di Gunung Qingcheng adalah sebuah kuil yang terkenal.
Walau jalannya terjal, gunung ini dipenuhi pemandangan indah: batu-batu hijau, hutan lebat, dan rumpun bambu yang rimbun. Terlebih, kepala kuil, Guru Besar Tongming, sangat terkenal hingga jauh di luar wilayah. Konon doa di Kuil Helin sangat manjur, sehingga banyak orang rela menempuh perjalanan jauh, hanya untuk menyalakan sebatang dupa di sana.
Tidak jauh dari Kuil Helin, ada sebuah biara kecil. Berbeda dengan Kuil Helin yang ramai dengan peziarah, biara ini terlihat sepi, hampir tak ada orang.
Hujan turun semalaman, udara gunung semakin dingin. Dari sebuah kamar di samping gudang kayu biara itu, terdengar suara tangisan seorang gadis muda tanpa henti.
“Nona… nona, bagaimana ini… bagaimana nasib kita sekarang…”
Xue Fangfei baru saja membuka mata, merasa telinganya penuh dengan kebisingan. Ia berusaha menggerakkan jarinya, tapi tubuhnya terasa berat sekali. Namun setelah mencoba lagi, ia sadar—bukan tubuhnya yang berat, melainkan selimut tebal yang menindih tubuhnya.
Selimut katun itu seharusnya tipis, tetapi karena lembap jadi dingin dan menekan, membuatnya semakin tak nyaman. Ia menyingkirkannya, baru merasa lega di dada, lalu perlahan duduk bangun.
Tangisan di sampingnya mendadak berhenti. Dalam cahaya remang dari lilin di meja, muncul wajah seorang gadis muda penuh keterkejutan bercampur suka cita. “Nona sudah bangun!” serunya.
Nona?
Xue Fangfei tertegun, menatap gadis itu dengan saksama.
Usia gadis itu kira-kira lima belas atau enam belas tahun, matanya bengkak seperti biji persik, wajahnya lumayan manis, hanya saja tubuhnya kurus kering hingga tampak menyedihkan. Ia mengenakan pakaian biru tua lusuh yang jelas-jelas tidak pas di badan, tanpa sehelai pun perhiasan, dan hanya menatap Xue Fangfei sambil senyum kikuk.
Menyebutnya “nona”… mungkinkah gadis di hadapannya ini adalah seorang pelayan? Tapi bahkan saat ia masih di Tongxiang sebelum menikah, para pelayan di sisinya tak pernah berpakaian semiskin ini.
Xue Fangfei mendadak terhenyak—tidak benar, yang lebih penting, ia sama sekali tidak ingat punya pelayan seperti ini. Setelah menikah dan datang ke Kota Yanjing, ia punya empat pelayan dekat.
Dua di antaranya menikah, sementara dua lainnya, pada hari perjamuan itu, hampir dihukum mati oleh ibunya Shen Yurong, sampai Xue Fangfei memohon dengan air mata agar kedua pelayannya itu dilepaskan. Setelah itu, semua pelayan yang melayani dirinya adalah mata-mata milik Tuan Putri Yongning.
Tuan Putri Yongning!
Beberapa kilasan peristiwa tiba-tiba melintas di kepalanya. Xue Fangfei teringat dengan jelas: Tuan Putri Yongning datang menantangnya, lalu ia dicekik sampai mati oleh para pelayan milik si Tuan Putri.
Apa mungkin aku tidak mati? Mustahil. Dengan tabiat Tuan Putri Yongning yang selalu membasmi hingga ke akar, tidak mungkin ia membiarkanku hidup. Kalau begitu… mungkinkah aku diselamatkan seseorang? Apakah Shen Yurong? Atau orang lain?
Xue Fangfei menatap lurus pada gadis pelayan kecil itu tanpa berkata sepatah pun. Senyum bodoh gadis kecil itu pun berhenti, wajahnya tampak ketakutan, lalu dengan suara lirih ia memanggil, “Nona? Nona?”
“Siapa kau?” tanya Xue Fangfei. Begitu kata-kata itu terucap, ia langsung tertegun. Rasanya ada sesuatu yang tidak benar… tapi ia tidak tahu pasti, apa yang salah.
Gadis kecil itu semakin panik. “Nona, hamba ini Tong’er!”
Tong’er?
Xue Fangfei sama sekali tidak ingat pernah ada orang seperti itu.
“Nona,” Tong’er tampak hendak menangis. Ia berkata, “Nona, hamba tahu hati Anda sedang tidak enak. Bagaimana mungkin mereka Nona Ketiga merebut pernikahan yang seharusnya menjadi milik Anda? Itu adalah pernikahan yang Nyonya tetapkan untuk Anda saat beliau masih hidup.
Keluarga Marquis Ningyuan bagaimana bisa melakukan perbuatan keji dan mengkhianati janji seperti itu? Dan juga Tuan… Nona, hamba tahu Anda marah pada Tuan, tetapi Anda tidak boleh terus begini seolah segalanya tidak ada artinya lagi. Kalau Anda tidak mau memikirkan diri sendiri, setidaknya pikirkanlah Nyonya. Jika arwah Nyonya di surga melihat Anda seperti ini, betapa sedihnya beliau…”
Xue Fangfei menatap kosong gadis kecil itu yang menangis meratap, sementara di dalam hatinya justru bertanya-tanya: apa hubungannya semua ini dengan keluarga Marquis Ningyuan?
Xue Fangfei memang tahu tentang putra sulung Marquis Ningyuan—adik perempuannya Shen Yurong, Shen Ruyun, si adik iparnya itu, amat mengagumi sang putra pewaris Marquis Ningyuan itu, seorang pria tampan yang terkenal di seluruh ibu kota, kota Yanjing.
Tapi… apa hubungannya semua ini dengan diriku? Pikir Xue Fangfei.
Pelayan kecil itu terus menangis tersedu. Tiba-tiba, suara guntur keras menggema di luar, kilat menerangi ruangan yang reyot dan dingin itu, juga menyinari wajah Xue Fangfei sendiri.
Dan pada saat itu, Xue Fangfei akhirnya sadar ada sesuatu yang salah.
Suara ini… suara yang keluar dari tenggorokannya sendiri. Nyaring, renyah, meskipun lemah, tetap lembut khas seorang gadis muda.
Itu bukan suaranya.
“Siapa aku?” tanya Xue Fangfei.
Tong’er tertegun.
“Siapa aku?” Xue Fangfei bertanya lagi.
“Apa yang Nona katakan…” Tong’er menyangka sang Nona hanya sedang kesal, buru-buru menjawab, “Anda adalah putri sah keluarga Jiang, Nona kedua keluarga Jiang, putri dari Tuan Jiang, Kepala kabinet saat ini.”
Tong’er lalu menambahkan dengan penuh keyakinan, “Anda benar-benar adalah darah bangsawan sejati, putri kandung dari Kepala kabinet—Nona Kedua keluarga Jiang!”
Keluarga Jiang.
Putri sah Kepala kabinet. Nona kedua keluarga Jiang, Jiang Li.
Xue Fangfei menutup mata sejenak.
Ia telah menjadi Jiang Li.
