Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Xue Fangfei mengangkat kepala. Yang pertama terlihat adalah ujung pakaian bersulam benang emas.

Seorang perempuan muda melangkah masuk. Pakaiannya mewah, alisnya sedikit terangkat, menampakkan kesombongan. Tatapannya jatuh pada mangkuk obat di tangan Xue Fangfei, lalu wajahnya memperlihatkan ekspresi seolah-olah tersadar, sambil tersenyum berkata, “Ternyata begitu.”

Xue Fangfei dengan tenang meletakkan mangkuk, menatap sosok yang masuk. Dua pelayan wanita bertubuh kekar menutup pintu dari belakang. Gadis-gadis pelayan yang tadi mengobrol di luar entah sejak kapan sudah menghilang. Hanya suara jangkrik musim panas yang berisik, seakan menandakan sesuatu akan segera terjadi.

Xue Fangfei berkata pelan, “Tuan Putri Yongning.”

Tuan Putri Yongning tersenyum. Senyumnya membuat hiasan rambutnya ikut bergoyang, memperlihatkan mutiara besar seukuran ibu jari dari Laut Selatan. Kilau beningnya hampir menyilaukan mata.

Satu mutiara dari Laut Selatan setara dengan ribuan hektar sawah. Kerabat kekaisaran selalu memakai benda terbaik. Mereka hidup bergelimang kemewahan, tidak pernah merasakan pahit getir rakyat jelata, sudah memiliki segalanya yang tak berani diimpikan orang lain, namun masih saja menginginkan milik orang lain, bahkan rela mencuri, merampas.

“Sepertinya kau sama sekali tidak terkejut,” kata Tuan Putri Yongning dengan nada heran. “Apa jangan-jangan Shen-lang sudah memberitahumu?”

*lang郎 adalah sapaan hormat yang bisa juga bersifat mesra jika digunakan oleh wanita untuk seorang pria/calon suami.

Shen lang— Tuan Putri Yongning memanggilnya begitu akrab. Tenggorokan Xue Fangfei terasa getir, nyaris tidak bisa menahan diri. Beberapa saat kemudian barulah ia berkata tenang, “Aku sedang menunggu… menunggu mulutnya sendiri yang mengatakannya padaku.”

Xue Fangfei sama sekali bukan perempuan bodoh. Ayahnya, Xue Huaiyuan, telah mendidiknya cerdas sejak kecil. Sejak ia jatuh sakit, sejak menyadari dirinya telah disekap, setiap gerak-geriknya selalu diawasi, ia mulai menghubungkan semua hal, termasuk kematian adiknya, Xue Zhao, hingga akhirnya menyadari ada yang tidak beres.

Dari celah ucapan para pelayan, ia pun berhasil menggali kebenaran.

Shen Yurong kini sudah jadi Zhuangyuan, muda dan sukses, statusnya tidak lagi sama. Xue Fangfei meski cantik dan berbakat, pada akhirnya hanyalah putri dari seorang pejabat kecil.

Jika Shen Yurong berhasil mendapat perhatian Tuan Putri Yongning, bisa jadi mereka sudah lama menjalin hubungan diam-diam. Singkatnya, Xue Fangfei hanyalah batu sandungan, yang harus disingkirkan agar memberi tempat pada seorang tuan putri bangsawan keturunan emas.

Xue Fangfei teringat kembali pada hari naas itu, hari jamuan ulang tahun ibu mertuanya. Saat itu Tuan Putri Yongning juga ada di antara para tamu. Dalam ingatannya kini, ia bahkan bisa membayangkan senyum puas yang terselip di sudut bibir sang tuan putri tersebut.

Dengan begitu, kebenaran terkuak sepenuhnya.

“Shen-lang hatinya terlalu lembut,” Tuan Putri Yongning berkata santai sambil duduk di kursi, memandang Xue Fangfei. “Aku juga bukan orang berhati kejam. Sebenarnya aku ingin membiarkanmu tetap hidup tenang. Siapa sangka kau malah tidak tahu diri.”

Tatapannya melayang ke arah mangkuk obat di meja, lalu ia menghela napas pura-pura menyesal. “Mengapa kau harus bersusah payah seperti ini?”

Xue Fangfei tidak kuasa menahan diri, ia justru terkekeh dingin.

Setiap hari semangkuk obat, Xue Fangfei sudah sejak lama menyadari ada yang tidak beres. Karena itu, ia selalu diam-diam menuangkannya ke pot bunga. Mereka ingin ia ‘wafat karena sakit’, agar Tuan Putri Yongning bisa masuk ke keluarga Shen dengan tenang.

Namun Xue Fangfei menolak. Sejak kecil, ayahnya, Xue Huaiyuan, sudah berpesan: sebelum saat terakhir tiba, jangan sekali pun mengakhiri hidup sendiri.

Lagipula, dengan alasan apa? Dengan alasan pasangan bejat itu menjebakku, lalu aku harus rela mati untuk memberi jalan? Tidak! Aku takkan pernah!

Suara Xue Fangfei dipenuhi ejekan yang tak terhitung, ia berkata, “Merebut suami orang, menyingkirkan sang istri sah, membunuh istri dan anaknya—‘kebaikan’ Tuan Putri, sudah aku terima.”

Wajah Tuan Putri Yongning seketika dipenuhi amarah, namun hanya sebentar. Ia lalu kembali tenang, berdiri dan melangkah ke meja, mengangkat pot bunga crabapple yang sudah kering. Potnya hanya sebesar telapak tangan, porselennya putih dengan ukiran indah, mungil menawan.

Tuan Putri Yongning membolak-balik pot itu, tersenyum cerah seraya berkata, “Kau tahu, bagaimana adikmu mati?”

Tubuh Xue Fangfei seketika menegang!

“Adikmu itu sebenarnya lumayan juga orangnya, hanya saja masih terlalu muda dan berapi-api,” Tuan Putri Yongning menikmati ekspresinya. “Dia benar-benar bisa menemukan kejanggalan, bahkan sudah mendapatkan beberapa bukti, katanya mau mengajukan laporan ke kaisar. Hampir saja aku ikut terseret.”

Ia menepuk dadanya, seolah lega terlepas dari bahaya. “Anak itu cukup cerdas, malam itu langsung menemui gubernur ibu kota. Sayangnya, dia tidak tahu gubernur itu sangat akrab denganku, jadi segera memberi tahuku.”

Tuan Putri Yongning mengangkat tangannya, berpura-pura menyesal. “Sungguh disayangkan. Masih muda, berbakat dalam ilmu dan bela diri, seandainya bukan begini, mungkin bisa mendapat gelar, menikah mulia, bahkan mengangkat derajat seluruh keluarganya. Sayang sekali.”

Xue Fangfei hampir menggertakkan giginya sampai pecah!

Xue Zhao! Xue Zhao!

Sejak awal Xue Fangfei sudah curiga kematian adik laki-lakinya penuh kejanggalan. Xue Zhao sejak kecil berlatih bela diri pada guru silat, cerdas pula, bagaimana mungkin mati di tangan perampok biasa!

Namun ia tak pernah menyangka, ternyata kebenaran sekejam ini! Rupanya adiknya demi membela dirinya yang sebagai kakak, berani menyelidiki hubungan kotor antara Tuan Putri Yongning dengan Shen Yurong, lalu dengan penuh semangat ingin melapor kepada pejabat. Siapa sangka pejabat pun saling melindungi, dan ternyata musuh justru pejabat itu sendiri!

Xue Fangfei berteriak, “Tidak tahu malu! Tidak tahu malu!”

Alis Tuan Putri Yongning menajam, lalu mengejek dingin, “Lalu apa gunanya kau merasa suci? Kau yang setiap hari terkurung di sini tentu tidak tahu kabar ayahmu. Aku sengaja datang untuk memberitahumu—ayahmu sudah tahu kau mempermalukan keluarga, juga tahu adikmu mati di tangan perampok, dan ayahmu sendiri mati karena murka!”

Xue Fangfei tercengang, berteriak, “Tidak mungkin!”

“Tidak mungkin?” Tuan Putri Yongning tertawa sinis. “Kalau begitu pergilah tanyakan kepada para pelayan, apakah itu mungkin atau tidak!”

Pikiran Xue Fangfei kacau.

Xue Huaiyuan, yang seumur hidup bersih dan lurus sebagai pejabat kecil di Tongxiang, jelas seorang lelaki baik. Bagaimana bisa berakhir demikian? Rambut putih mengantar anak muda ke liang, bahkan mati karena amarah.

Xue Fangfei bahkan tak berani membayangkan perasaan ayahnya ketika mengetahui semua ini.

Benarlah pepatah: yang membakar dan membunuh sering berakhir mulia, yang membangun jembatan justru tidak meninggalkan nama.

Tuan Putri Yongning berbicara cukup lama, kemudian seolah bosan, meletakkan kembali pot crabapple ke meja, memberi isyarat pada dua pelayan wanita kekar untuk maju.

Xue Fangfei segera menyadari, berseru keras, “Apa yang ingin kau lakukan?”

Senyum Tuan Putri Yongning sarat kepuasan dan kemenangan. “Kau, Xue Fangfei, terkenal suci dan luhur, cantik dan berbakat. Tentu saja tidak pantas membawa dosa berselingkuh. Beberapa bulan terakhir kau menderita batin, meskipun Shen-lang tetap memperlakukanmu seperti dulu, kau sendiri tidak mau memaafkan dirimu. Maka, saat Shen-lang sedang tidak ada di rumah, kau memilih gantung diri.”

Setelah berkata demikian, ia terkekeh ringan. “Bagaimana? Bukankah cara ini bisa menjaga nama baikmu?” Lalu wajahnya berubah bengis, “Kalau bukan demi nama baik Shen-lang, aku tidak sudi memberimu jalan keluar yang sebaik ini!”

“Kau berani?! Bagaimana kau berani!” Xue Fangfei dipenuhi amarah, namun sebelum sempat bergerak, kedua pelayan bertubuh kekar itu sudah menekannya.

“Karena aku dan Shen-lang saling mencintai, tapi dengan adanya dirimu yang menghalangi, tentu aku tak bisa membiarkanmu hidup. Kalau kau adalah putri keluarga bangsawan, mungkin aku masih harus repot sedikit. Sayangnya, ayahmu hanyalah wakil bupati. Di Yanjing, ada begitu banyak prefektur dan kabupaten, Keluarga Xue -mu itu hanyalah sebutir debu. Di kehidupan berikutnya, sebelum kau lahir, ingatlah untuk memilih keluarga dengan benar, lahirlah di keluarga bangsawan yang kaya raya.”

Xue Fangfei seketika tenggelam dalam keputusasaan. Ia enggan menyerah, ia bertahan hidup dengan sisa-sisa harapan, terus menggenggam secercah peluang untuk bangkit. Namun pada akhirnya, ia tak mampu melawan kekuasaan yang menindas, tak mampu menandingi jurang status dan martabat!

Saat ia mengangkat pandangan, samar-samar terlihat sosok yang begitu dikenalnya di luar jendela—jelas sekali, itu adalah lelaki yang pernah tidur di sisinya.

Hati Xue Fangfei tiba-tiba terbit secercah harapan. Ia berteriak lantang, “Shen Yurong! Shen Yurong! Kau memperlakukanku begini, langit dan bumi takkan mengampunimu! Shen Yurong!”

Bayangan di luar jendela itu bergoyang sebentar, lalu seperti ketakutan, buru-buru menghindar pergi.

Tuan Putri Yongning membentak, “Masih bengong apa lagi? Lakukan!”

Kedua pelayan wanita segera menerkamnya, sehelai kain sutra putih melilit lehernya. Sutra itu selembut kulit seorang gadis, hadiah upeti keluarga Zhao dari Songjiang yang setiap tahun dikirim ke istana, sehelai kain tersebut nilainya ribuan emas.

Saat Xue Fangfei tercekik dalam jeratan, pikirannya sempat melintas: bahkan benda untuk membunuh dirinya pun, ternyata seindah dan seberharga ini.

Tuan Putri Yongning berdiri tiga langkah jauhnya, menatap dingin Xue Fangfei yang menggelepar seperti ikan sekarat, lalu mengejek, “Ingatlah baik-baik, meskipun wajahmu tiada banding dan bakatmu tiada tanding, pada akhirnya kau hanyalah putri dari seorang pejabat rendahan. Membunuhmu bagiku—semudah menginjak mati seekor semut!”

Dalam pergulatan itu, pot crabapple yang berada di meja ikut terjatuh, pecah berkeping-keping di lantai. Tanah dalam pot menyebarkan aroma pahit, ranting keringnya terhempas keluar, sementara lukisan indah di porselen hancur tak berbentuk.

Di dunia ini, bulan keempat musim semi—segala keindahan Xue Fangfei telah gugur.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel