
Ringkasan
Nona keluarga Xue, Xue Fangfei, memiliki kecantikan dan kepandaian yang tiada duanya. Ia menikah dengan pria idaman, hidup harmonis penuh kasih, tiga tahun mendampingi suaminya hingga sang suami meraih gelar juara utama ujian negara. Namun, suaminya itu hanya ingin mengejar pangkat dan kedudukan. Demi menjadi menantu kaisar, ia menganggap istrinya sebagai batu sandungan di jalan menuju seorang Tuan Putri, lalu tega membunuh istri dan anaknya. Sang Tuan putri yang congkak berdiri di sisi ranjangnya dengan ejekan: “Meskipun kau cantik jelita, meski kau berbakat tiada tanding, pada akhirnya kau hanyalah putri dari seorang pejabat kecil. Membunuhmu—sama mudahnya seperti menginjak mati seekor semut!” Nama baik Xue Fangfei dicemarkan, ia dipaksa bunuh diri dengan gantung diri. Adik lelakinya yang menuntut keadilan malah dibunuh oleh kekuasaan. Ayahnya yang mendengar kabar duka jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Pada tahun Hongxiao ke-42, kecantikan nomor satu di Yanjing, Xue Fangfei, wafat dalam kesengsaraan—namun jiwanya terlahir kembali dalam tubuh Jiang Li, putri sah Kepala Kabinet yang jatuh ke air. Begitu melangkah ke keluarga pejabat besar, ia langsung disambut dengan berbagai intrik kotor dan rahasia busuk. Berbagai orang berhati ular kalajengking muncul silih berganti—dan ia membalas semuanya dengan gigi taring dan cakar. Hati lembutnya dulu kini setajam bilah pisau! Jiang Li bersumpah, ia tidak akan pernah lagi menjadi butiran debu yang diinjak-injak orang. Kali ini, ia akan membersihkan tuduhan atas keluarganya dan membalas dendam darah yang tak terbalas!
Bab 1
Bulan Mei, baru saja melewati akhir musim semi, cuaca pun tidak sabar-sabar lagi menjadi terik membakar.
Matahari menyengat panas menimpa kota Yanjing / ibu kota, para pedagang kaki lima di tepi jalan pun berlindung di bawah naungan pepohonan. Dalam cuaca sepanas ini, para tuan muda dan Nona keluarga kaya malas keluar rumah untuk berpanas-panasan.
Hanya para buruh kasar dan kaum miskin yang rela memikul kendi arak beras yang sudah direndam di air sumur agar dingin menyegarkan, lalu keluar-masuk rumah judi dan kedai teh tanpa kenal lelah, berharap ada orang yang kehausan dan kepayahan mau mengeluarkan lima keping tembaga untuk semangkuk arak. Dengan itu, mereka bisa membeli sekarung beras lagi, menanak dua periuk bubur tambahan, atau menanggung tiga hari kerja berat.
Di tikungan jalan sebelah timur kota, berdiri sebuah rumah baru. Di atas gerbangnya tergantung papan besar bertuliskan empat huruf emas berkilau: “Zhuang yuan Ji di” (Lulus Peringkat Pertama).
Itu adalah kediaman dan papan nama yang dihadiahkan langsung oleh Kaisar Hongxiao kepada sang juara ujian negara, melambangkan kehormatan yang amat tinggi. Bagi kaum terpelajar, jika berhasil mendapatkan kehormatan itu, sudah sepatutnya seluruh keluarga bersujud menangis haru untuk mengabarkan pada leluhur.
Rumah baru, papan kehormatan pemberian kaisar, halaman yang sibuk dengan lalu-lalang para pelayan — namun di luar musim panas terik, di dalam rumah justru terasa dingin menusuk.
Mungkin karena di dalam dipindahkan bongkahan es untuk mengusir panas, tetapi semakin mendekat ke sisi tembok halaman, hawa dingin itu terasa semakin kuat.
Di depan kamar paling ujung yang menempel tembok, duduklah tiga orang.
Dua gadis pelayan muda berbaju tipis berwarna merah muda, dan seorang bibi pelayan setengah baya bertubuh bulat gemuk. Di bangku di depan mereka tersaji setumpuk kuaci berkulit merah dan satu kendi minuman asam plum. Mereka makan sambil mengobrol santai, bahkan terlihat lebih nyaman daripada majikan mereka sendiri.
Pelayan di sisi paling kiri menoleh ke jendela, lalu berkata: “Cuaca panas, bau obat dari dalam kamar pun tidak bisa keluar, benar-benar bikin sesak. Entah kapan semua ini akan berakhir.”
“Dasar anak kurang ajar, berani membicarakan majikan di belakang,” si bibi pelayan menegur, “awas kalau sampai majikan menguliti kamu hidup-hidup.”
Pelayan muda berbaju merah muda itu tak peduli: “Mana mungkin? Tuan sudah tiga bulan ini tidak pernah datang ke paviliun nyonya.” Ia lalu menurunkan suaranya, “Urusan itu sudah heboh sekali. Tuan kita ini masih bisa dibilang setia, kalau orang lain …”
Ia mendengus, “Kalau menurutku, lebih baik sudah mengakhiri hidup sendiri. Paling tidak masih bisa menyelamatkan nama baik. Hidup setengah mati begini, bukankah cuma menyusahkan orang lain?”
Si bibi pelayan hendak bicara lagi, tapi pelayan muda yang satunya ikut menimpali: “Sebenarnya nyonya juga kasihan. Cantiknya begitu menawan, pintar, sifatnya lembut, siapa yang sangka akan menemui nasib seperti ini…”
Meskipun suara mereka direndahkan, di siang hari musim panas begitu hening, jarak pun tak jauh, sehingga kata demi kata terdengar jelas ke dalam kamar.
Di atas dipan, Xue Fangfei berbaring telentang, bekas air mata di sudut matanya setengah kering. Wajahnya karena kurus dalam beberapa waktu belakangan, bukannya kehilangan pesona, malah tampak semakin rapuh memikat, keindahan yang begitu menyentuh hati.
Parasnya sejak dulu memang terkenal cantik, kalau tidak, mana mungkin pantas menyandang gelar “Perempuan Tercantik di Yanjing.” Pada hari ia menikah, ada pemuda iseng menyuruh pengemis menabrak tandu pengantin hingga kain penutup jatuh. Wajah cantiknya laksana bunga pun tersingkap, membuat orang-orang di sepanjang jalan terpana.
Saat itu, ayahnya Xue Huaiyuan—wakil bupati Tongxiang, di Xiangyang—menatap penuh kecemasan sebelum putrinya menikah jauh ke ibu kota, sambil berkata: “A Li (panggilan kepada Xue Fangfei) terlalu cantik. Shen Yurong mungkin tidak mampu melindungimu.”
Shen Yurong adalah suami Xue Fangfei.
Sebelum Shen Yurong meraih gelar Zhuangyuan, ia hanyalah seorang sarjana miskin. Shen Yurong tinggal di Yanjing, sementara nenek dari pihak ibunya, Nyonya Tua Cao, hidup di Xiangyang. Empat tahun lalu, ketika Nyonya Tua Cao meninggal dunia, Shen Yurong bersama ibunya kembali ke Xiangyang untuk menghadiri pemakaman, dan di sanalah ia berkenalan dengan Xue Fangfei.
Tongxiang hanyalah sebuah kabupaten kecil di kota Xiangyang. Xue Huaiyuan adalah seorang pejabat rendahan. Ibunya Xue Fangfei meninggal dunia saat melahirkan adik laki-lakinya Xue Fangfei, Xue Zhao. Sejak itu, Xue Huaiyuan tidak pernah menikah lagi. Keluarga mereka sederhana, hanya ayah dan kedua anaknya yang saling bergantung.
Ketika usia Xue Fangfei sudah sampai pada masa menikah, kecantikannya yang terlalu menonjol membuat banyak pemuda dari keluarga terpandang datang melamar. Bahkan atasan Xue Huaiyuan sendiri sempat berniat menjadikan Xue Fangfei sebagai istri tambahan.
Namun tentu saja Xue Huaiyuan menolak. Sejak kecil Xue Fangfei sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu, membuat Xue Huaiyuan sangat memanjakan putrinya ini. Ditambah lagi Xue Fangfei cerdas dan penurut, Xue Huaiyuan sebisa mungkin selalu memberikan yang terbaik bagi putrinya.
Walau keluarga Xue hanyalah keluarga pejabat kecil, Xue Fangfei tumbuh jauh lebih berharga dibandingkan putri keluarga bangsawan.
Putri yang dibesarkan bagai permata di telapak tangan membuat Xue Huaiyuan cemas memikirkan pernikahannya. Keluarga terpandang memang kaya raya, tetapi kehidupan di dalamnya penuh keterikatan. Pada akhirnya, Xue Huaiyuan memilih Shen Yurong.
Meski Shen Yurong bukan siapa-siapa saat itu, tapi pemuda ini berbakat luar biasa dan berpenampilan gagah, meniti jalan menuju kejayaan hanyalah soal waktu. Namun, dengan begitu Xue Fangfei harus ikut Shen Yurong pindah jauh ke Yanjing.
Ada satu hal yang lebih merisaukan: Xue Fangfei terlalu cantik. Di Tongxiang, ada Xue Huaiyuan yang menjaganya. Tetapi di Yanjing, di mana para bangsawan berkuasa, jika ada yang berniat jahat, belum tentu Shen Yurong mampu melindunginya.
Namun akhirnya, Xue Fangfei tetap menikah dengan Shen Yurong—karena ia menyukai pemuda itu.
Menikah dan ikut ke Yanjing, meskipun ibu mertuanya bersikap keras dan sering membuatnya menderita, Shen Yurong selalu memperlakukan Xue Fangfei dengan penuh perhatian, sehingga semua kepedihan itu lambat laun sirna.
Awal tahun lalu, Shen Yurong berhasil meraih gelar Zhuangyuan (sang juara pertama dalam ujian kekaisaran). Ia berkuda keliling kota, menerima kediaman dan papan kehormatan langsung dari kaisar, lalu diangkat menjadi Asisten sektretaris Kekaisaran.
Pada bulan sembilan, Xue Fangfei hamil. Kebetulan bersamaan dengan hari ulang tahun ibu mertuanya, kabar baik datang berturut-turut, sehingga keluarga Shen mengadakan jamuan besar dan mengundang para bangsawan di Yanjing.
Hari itu justru menjadi mimpi buruk bagi Xue Fangfei.
Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Saat jamuan, ia hanya meminum sedikit arak plum, lalu merasa lelah dan pening. Ia pun dibantu pelayan kembali ke kamar untuk beristirahat… Saat ia tersentak bangun oleh suara jeritan, ia mendapati ada seorang pria asing di kamarnya, sedangkan dirinya sendiri dalam keadaan pakaian berantakan.
Di ambang pintu berdiri ibu mertua dan para tamu wanita, menatapnya dengan cemooh, jijik, atau senyum penuh kebencian.
Seharusnya ia merasa malu tak terkira, dan memang ia demikian. Namun, bagaimana pun ia menjelaskan, tetap saja kabar bahwa istri seorang Zhuangyuan kedapatan berselingkuh di depan para tamu sudah tersebar luas.
Ia seharusnya langsung diceraikan dan diusir keluar, tetapi Shen Yurong justru tidak melakukannya. Karena terlalu larut dalam kesedihan, Xue Fangfei keguguran. Saat ia terbaring sakit di tempat tidur, terdengar kabar bahwa adiknya, Xue Zhao, bergegas ke Yanjing setelah mendengar kejadian itu, namun belum juga tiba di kediaman keluarga Shen, Xue Zhao justru dirampok di malam hari, dibunuh, dan jasadnya dibuang ke sungai.
Mendengar kabar duka itu, Xue Fangfei tidak berani menyampaikan kabar tersebut ke Tongxiang. Ia memaksakan diri agar tetap kuat demi melihat adiknya sendiri untuk terakhir kali, mengurus pemakamannya, lalu jatuh sakit.
Sesudah itu, tiga bulan penuh Shen Yurong sama sekali tidak menemuinya.
Di atas ranjang sakit, Xue Fangfei dipenuhi pikiran yang kacau. Apakah Shen Yurong karena menyimpan jarak di hati, tidak mau menemuinya, atau sengaja bersikap dingin untuk melampiaskan amarah?
Namun semakin lama Xue Fangfei terbaring, ditambah potongan kata-kata yang tak sengaja terucap dari mulut para pelayan, perlahan ia pun mulai mengerti—kenyataan selalu lebih menyakitkan daripada dugaan.
Xue Fangfei berusaha bangkit dari dipan. Di sisi ranjang, semangkuk obat telah dingin, hanya menyebarkan aroma pahit yang menusuk. Ia condongkan tubuhnya, menuangkan isi mangkuk ke dalam pot bunga crabapple di atas meja. Pohon kecil itu sudah layu, tinggal menyisakan ranting-ranting kering.
Pintu berderit pelan, “krieett,” terdorong terbuka.
