Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3 – Makan Malam yang Direncanakan

Pagi itu, matahari bersinar cerah setelah dua hari berturut-turut hujan mengguyur Kota Singkawang. Udara masih terasa sejuk, membuat banyak orang memilih menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas.

Di sudut Jalan Diponegoro, Ardi sudah sibuk sejak pukul enam pagi.

Gerobak Kopi Senja Ardi mulai dipenuhi pelanggan. Tangan Ardi bergerak tanpa henti, menuangkan kopi, mengukus susu, lalu menyajikan pesanan satu demi satu.

Meski sibuk, wajahnya tetap tenang.

Ia percaya bahwa pelanggan bukan hanya datang membeli kopi, tetapi juga membeli keramahan.

"Pak Ardi, satu cappuccino."

"Siap."

"Bang, es kopi susu."

"Sebentar ya."

Suasana pagi terasa hidup.

Pak Herman yang duduk di kursi pojok memperhatikan Ardi sambil tersenyum.

"Kamu sekarang tambah semangat."

Ardi tertawa kecil.

"Namanya juga cari rezeki."

"Bukan karena itu."

Ardi menoleh.

"Maksudnya?"

"Sejak ada pelanggan cantik itu."

Ardi langsung menghela napas.

"Pak Herman..."

"Hahaha... tenang saja."

Pak Herman memang sering menggoda Ardi, tetapi tidak pernah bermaksud buruk.

Ia hanya merasa senang melihat Ardi mulai kembali tersenyum setelah bertahun-tahun hidup sendiri.

---

Tak lama kemudian, Maya datang.

Hari itu ia mengenakan blus hijau muda dan celana panjang hitam. Rambutnya dibiarkan terurai, membuat penampilannya tampak lebih anggun dibanding biasanya.

"Pagi."

"Pagi, Mbak Maya."

"Kopi seperti biasa."

"Baik."

Ardi segera menyiapkan pesanan tanpa perlu bertanya lagi.

Maya memperhatikan gerakan Ardi.

"Mas Ardi."

"Iya?"

"Mas buka setiap hari?"

"Hampir."

"Nggak pernah libur?"

Ardi tersenyum.

"Kalau saya libur, pelanggan bisa pindah ke tempat lain."

Maya menggeleng pelan.

"Mas juga harus istirahat."

"Nanti kalau sudah punya pegawai."

Maya tersenyum.

"Berarti memang ingin punya kedai besar?"

"Itu mimpi saya."

"Mimpinya cuma satu?"

Ardi terdiam sejenak.

"Sebenarnya ada."

"Apa?"

"Punya rumah sendiri."

Maya mengangguk pelan.

"Itu pasti bisa."

Ardi tersenyum hambar.

"Mudah-mudahan."

Maya menangkap nada pesimis dalam suara lelaki itu.

Ia mulai menyadari bahwa kegagalan masa lalu masih membayangi hidup Ardi hingga sekarang.

---

Di kantor, Maya menerima telepon dari ibunya menjelang siang.

"May, jangan pulang terlambat."

"Memangnya kenapa, Bu?"

"Malam ini ada tamu."

"Oh..."

"Kamu pakai baju yang rapi."

Maya tersenyum.

"Ibu ini seperti mau ada acara besar."

Ratna hanya tertawa.

"Nanti juga tahu."

Setelah telepon ditutup, Maya kembali bekerja.

Namun rasa penasaran mulai muncul.

Tamu siapa yang membuat ibunya terdengar begitu bersemangat?

---

Sementara itu, di rumah keluarga Wijaya, Raka sedang mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Ibunya memperhatikan sambil tersenyum.

"Kamu jarang sekali mau ikut makan malam keluarga."

"Kebetulan malam ini tidak ada rapat."

"Itu bagus."

Ibunya kemudian berkata pelan.

"Keluarga Pak Budi orang baik."

Raka mengangguk.

"Ayah juga bilang begitu."

"Putrinya juga baik."

Raka tersenyum tipis.

"Bu..."

"Iya?"

"Kalau nanti memang tidak cocok, jangan kecewa."

Ibunya tertawa kecil.

"Ibu tidak memaksamu."

"Tapi?"

"Tidak ada salahnya saling mengenal."

Raka memahami maksud ibunya.

Usianya sudah tiga puluh delapan tahun.

Orang tuanya tentu berharap ia segera menikah.

Dan Maya adalah perempuan yang menurut mereka sangat layak menjadi pendamping hidup.

---

Menjelang sore, gerobak Ardi mulai sepi.

Ia duduk sendirian sambil menghitung hasil penjualan.

Hari itu cukup baik.

Setelah dikurangi modal, ia memperoleh keuntungan sekitar dua ratus empat puluh ribu rupiah.

Ardi tersenyum kecil.

"Syukur."

Setidaknya ia bisa menambah sedikit tabungan.

Meski jumlahnya masih jauh dari cukup, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilan setiap hari.

Ia memiliki sebuah kaleng bekas biskuit yang disimpan di rumah.

Di sanalah seluruh tabungannya berada.

Bukan jutaan rupiah.

Bahkan belum mencapai puluhan juta.

Tetapi setiap lembar uang di dalamnya adalah hasil kerja keras yang jujur.

Ardi percaya, suatu hari nanti uang itu akan menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

---

Menjelang malam, Maya tiba di rumah.

Begitu membuka pintu, ia melihat meja makan telah dihiasi taplak baru.

Beberapa hidangan favoritnya tersusun rapi.

"Ibu..."

"Iya?"

"Memangnya tamunya siapa?"

Ratna tersenyum.

"Nanti juga datang."

"Ayah belum pulang?"

"Sebentar lagi."

Maya mulai merasa ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya keluarganya tidak pernah menyiapkan makan malam semeriah itu hanya untuk teman biasa.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah.

Budi masuk bersama sepasang suami istri.

Di belakang mereka berjalan seorang pria berpostur tinggi mengenakan kemeja putih.

Begitu melihat wajah pria itu, Maya sedikit terkejut.

"Selamat malam."

Pria itu tersenyum sopan.

"Maya... masih ingat saya?"

Maya mengangguk pelan.

"Pak Raka..."

"Sudah jangan pakai 'Pak'. Panggil saja Raka."

Ratna tersenyum puas melihat pertemuan itu.

Sementara Maya mulai memahami alasan mengapa kedua orang tuanya tampak begitu bersemangat sejak pagi.

Makan malam ini...

Bukan sekadar silaturahmi.

Melainkan sebuah pertemuan yang sengaja direncanakan.

Dan tanpa diketahui siapa pun, di sebuah kontrakan sederhana beberapa kilometer dari sana, Ardi sedang memegang secarik kertas kecil pemberian Maya.

Ia tersenyum sendirian, sama sekali tidak menyadari bahwa badai pertama dalam perjalanan cintanya telah mulai bergerak mendekat.

Maya berdiri beberapa saat di ruang tamu sebelum akhirnya mempersilakan tamu-tamu itu masuk.

"Silakan duduk, Om, Tante."

"Iya, Nak."

Suasana rumah terasa hangat. Aroma masakan yang disiapkan Ratna memenuhi ruang makan. Di atas meja telah tersaji ikan asam manis, ayam kecap, sup sayur, dan beberapa hidangan lain yang biasanya hanya dibuat saat ada tamu istimewa.

Raka memilih duduk dengan tenang. Ia tidak banyak berbicara. Sesekali ia menjawab pertanyaan Budi mengenai perkembangan perusahaannya.

"Proyek di Sambas bagaimana, Ka?" tanya Budi.

"Alhamdulillah berjalan lancar, Pak."

"Bagus. Saya dengar perusahaanmu semakin berkembang."

Raka tersenyum rendah hati.

"Masih banyak yang harus dipelajari."

Jawaban itu membuat Budi semakin menyukai sosok Raka. Menurutnya, pria muda itu bukan hanya sukses, tetapi juga tidak sombong.

Ratna kemudian menyela pembicaraan.

"Raka sekarang masih sibuk sekali?"

"Cukup sibuk, Tante."

"Kalau begitu harus segera punya pendamping supaya ada yang mengingatkan makan."

Semua orang tertawa kecil.

Hanya Maya yang tersenyum tipis tanpa ikut menimpali.

Ia mulai memahami arah pembicaraan kedua orang tuanya.

---

Saat makan malam dimulai, suasana tetap berlangsung santai.

Raka beberapa kali mengajak Maya berbincang mengenai pekerjaan.

"Aku dengar kamu masih di perusahaan yang sama."

"Iya."

"Sudah hampir tujuh tahun, ya?"

"Enam tahun lebih."

"Berarti betah."

Maya mengangguk.

"Teman-temannya baik."

"Kalau ada kesempatan berkembang, kenapa tidak mencoba posisi yang lebih tinggi?"

Maya tersenyum.

"Aku belum terlalu memikirkannya."

Raka mengangguk pelan.

Ia tidak memaksa percakapan terus berlanjut.

Dalam hati, ia menyadari bahwa Maya tampak menjaga jarak.

Namun ia tidak merasa tersinggung.

Baginya, hubungan yang baik memang harus dimulai dengan saling mengenal, bukan dengan paksaan.

---

Setelah makan malam selesai, Ratna sengaja membawa istri sahabatnya ke dapur.

Budi pun mengajak ayah Raka melihat taman belakang.

Tanpa disadari, kini hanya tinggal Maya dan Raka di ruang tamu.

Suasana menjadi sedikit canggung.

Raka memecah keheningan lebih dulu.

"Sepertinya kamu tidak tahu kalau aku akan datang."

Maya tersenyum kecil.

"Benar."

"Aku juga baru diberi tahu dua hari lalu."

Maya menatap Raka.

"Jadi... ini memang direncanakan orang tua kita?"

Raka mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Sepertinya begitu."

Maya mengembuskan napas pelan.

"Aku minta maaf kalau sikapku tadi agak dingin."

"Tidak apa-apa."

Raka menjawab dengan tenang.

"Kalau boleh jujur, aku juga kurang nyaman dijodohkan."

Maya sedikit terkejut.

"Serius?"

"Iya."

"Kenapa tetap datang?"

Raka tersenyum.

"Karena menghormati orang tua."

Jawaban itu membuat Maya merasa sedikit lega.

Setidaknya pria di depannya bukan tipe orang yang arogan.

"Kalau menurutmu... pernikahan itu harus bagaimana?" tanya Raka.

Maya berpikir beberapa detik.

"Harus karena saling mencintai."

"Bukan karena harta?"

"Harta penting."

Maya menjawab jujur.

"Tapi bukan yang paling penting."

Raka mengangguk pelan.

"Aku setuju."

Mereka kembali terdiam.

Beberapa saat kemudian, Raka berkata pelan.

"Kalau suatu hari kamu ternyata mencintai orang lain..."

Maya langsung menoleh.

"...aku tidak akan memaksakan apa pun."

Kalimat itu terdengar tulus.

Maya tersenyum untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai.

"Terima kasih."

---

Di sisi lain kota, Ardi sedang duduk di depan kontrakannya.

Ia menikmati secangkir kopi buatannya sendiri.

Malam terasa sunyi.

Di tangannya masih tersimpan secarik kertas kecil dari Maya.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi.

"Jangan lupa makan tepat waktu."

Ardi tersenyum.

Lalu tanpa sadar ia berkata pelan kepada dirinya sendiri.

"Perempuan sebaik dia..."

"...pasti banyak yang menyukai."

Pikiran itu membuat senyumnya perlahan menghilang.

Ia sadar betul.

Perempuan berusia tiga puluh empat tahun, berpendidikan, memiliki pekerjaan tetap, dan berasal dari keluarga baik-baik tentu akan menjadi incaran banyak pria.

Sedangkan dirinya?

Hanya penjual kopi.

Bahkan untuk membeli rumah kecil pun belum mampu.

"Sudahlah."

Ia memasukkan kembali kertas itu ke dalam dompet.

"Jangan berharap terlalu tinggi."

Namun semakin ia mencoba mengusir bayangan Maya, semakin sering wajah perempuan itu muncul dalam pikirannya.

---

Keesokan paginya.

Maya kembali datang ke gerobak kopi.

Begitu melihatnya turun dari mobil, Ardi langsung tersenyum.

"Pagi."

"Pagi."

Hari itu Maya tampak sedikit murung.

"Mas Ardi."

"Iya?"

"Boleh duduk sebentar?"

"Tentu."

Ardi membuatkan kopi tanpa diminta.

Ia meletakkan secangkir kopi hangat di depan Maya.

Maya memegang cangkir itu dengan kedua tangannya.

"Semalam..."

Ia berhenti berbicara.

Ardi menunggu dengan sabar.

"Orang tuaku mengenalkan aku dengan seseorang."

Jantung Ardi berdegup sedikit lebih cepat.

"Oh..."

"Namanya Raka."

Ardi berusaha tetap tersenyum.

"Orangnya baik?"

Maya mengangguk.

"Baik."

"Berarti bagus."

"Tapi..."

Maya menatap Ardi.

"...aku tidak merasa seperti sedang mengenal orang yang ingin kupilih."

Ardi tidak mengerti maksud tatapan itu.

Ia hanya menundukkan kepala sambil mengaduk kopinya sendiri.

Dalam hatinya, muncul perasaan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Melainkan takut.

Takut kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah ia miliki.

Sementara itu, dari seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam kembali berhenti.

Raka baru saja melewati jalan itu dalam perjalanan menuju kantornya.

Tanpa sengaja, ia melihat Maya sedang duduk di depan gerobak kopi bersama Ardi.

Ia memperhatikan keduanya beberapa detik.

Tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya rasa ingin tahu yang perlahan mulai tumbuh.

Siapa sebenarnya pria sederhana yang mampu membuat Maya datang hampir setiap hari?
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel