Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4 – Perasaan yang Mulai Tumbuh

Pagi itu, Ardi membuka gerobaknya lebih awal dari biasanya.

Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Kata-kata Maya tentang pertemuannya dengan Raka terus terngiang di kepalanya.

"Orang tuaku mengenalkan aku dengan seseorang."

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat hatinya gelisah.

Ia tidak tahu mengapa dirinya merasa seperti itu.

Bukankah sejak awal ia sudah sadar bahwa Maya adalah perempuan yang sulit dijangkau?

Bukankah ia sendiri yang berulang kali mengingatkan dirinya agar tidak berharap?

Namun hati manusia sering kali berjalan lebih cepat daripada logika.

Semakin ia mencoba menjaga jarak, semakin kuat keinginannya untuk mengenal Maya.

Ardi menghela napas panjang sebelum mulai menyusun cangkir-cangkir di atas rak.

"Hari baru..."

"Jangan bawa pikiran kemarin."

Ia mencoba menyemangati dirinya sendiri.

---

Pelanggan mulai berdatangan seperti biasa.

Pak Herman kembali muncul dengan senyum khasnya.

"Pagi."

"Pagi, Pak."

Pak Herman duduk sambil memperhatikan wajah Ardi.

"Kamu kurang tidur?"

Ardi tertawa kecil.

"Kelihatan ya?"

"Kelihatan."

"Lembur menghitung uang."

"Halah."

Pak Herman tahu Ardi sedang berbohong.

Namun ia memilih tidak mendesak.

---

Sekitar pukul setengah delapan, Maya datang.

Hari itu wajahnya terlihat lebih pucat dibanding biasanya.

"Pagi, Mas."

"Pagi."

Ardi langsung membuatkan kopi favoritnya.

"Kamu kelihatan capek."

Maya tersenyum tipis.

"Semalam kurang tidur."

"Karena tamu?"

Maya mengangguk pelan.

"Iya."

Ardi tidak bertanya lagi.

Ia merasa tidak pantas mencampuri urusan pribadi Maya.

Namun justru Maya yang melanjutkan pembicaraan.

"Mas Ardi."

"Iya?"

"Kalau menurut Mas..."

Ardi menatapnya.

"...menikah itu harus mengikuti pilihan orang tua atau pilihan hati?"

Pertanyaan itu membuat Ardi terdiam.

Ia membutuhkan beberapa detik sebelum menjawab.

"Kalau menurut saya..."

Maya menunggu.

"...orang tua pasti menginginkan yang terbaik."

Maya mengangguk.

"Tapi..."

Ardi kembali berbicara.

"...yang menjalani rumah tangga adalah kita."

Maya menatap Ardi cukup lama.

Jawaban itu terasa sederhana.

Namun sangat jujur.

"Mas pernah pacaran?"

Ardi tersenyum pahit.

"Pernah."

"Lalu?"

"Dulu hampir menikah."

Maya sedikit terkejut.

"Hampir?"

"Ya."

"Apa yang terjadi?"

Ardi menatap jalan raya di depan gerobaknya.

"Usaha saya bangkrut."

"Lalu?"

"Dia memilih orang lain."

Maya menundukkan kepala.

Ia baru menyadari bahwa luka yang dipikul Ardi jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

"Tapi saya tidak menyalahkannya."

Ardi berkata pelan.

"Setiap orang berhak memilih hidup yang lebih baik."

Maya memandang lelaki itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Seandainya ia berada di posisi perempuan itu...

Apakah ia juga akan pergi?

Entah mengapa, jawabannya langsung muncul di dalam hati.

"Tidak."

---

Di kantor, Maya masih memikirkan percakapan mereka.

Nina yang duduk di sebelahnya langsung menyadari perubahan itu.

"Kamu habis nangis?"

"Nggak."

"Terus kenapa murung?"

Maya menghela napas.

"Nin..."

"Hmm?"

"Kalau ada dua laki-laki..."

Nina langsung tersenyum jahil.

"Wah... mulai menarik."

"Satu mapan."

"Lalu?"

"Satu hidup sederhana."

"Terus?"

"Yang sederhana justru membuatku merasa nyaman."

Nina tidak langsung menjawab.

Ia mengenal Maya cukup lama.

Temannya itu bukan tipe perempuan yang mudah jatuh hati.

Karena itu, jika Maya sudah mengatakan merasa nyaman, berarti perasaannya mulai tumbuh.

"Yang mapan bagaimana?"

"Baik."

"Yang sederhana?"

"Juga baik."

"Kalau begitu masalahnya bukan siapa yang baik."

Maya mengangguk.

"Lalu?"

"Siapa yang membuatmu tenang."

Maya kembali terdiam.

Jawaban Nina semakin menguatkan sesuatu yang selama ini ia coba sangkal.

---

Sementara itu, Raka sedang berada di ruang rapat kantornya.

Rapat baru saja selesai ketika sekretarisnya masuk.

"Pak."

"Iya."

"Pak Budi mengirim pesan."

Raka membaca isi pesan itu.

"Terima kasih sudah datang semalam. Semoga lain kali bisa makan bersama lagi."

Raka tersenyum kecil.

Ia membalas dengan sopan.

Namun setelah itu, pikirannya justru kembali pada pemandangan yang ia lihat pagi tadi.

Maya.

Gerobak kopi.

Dan pria bernama Ardi.

Entah mengapa, ia merasa ada hubungan yang lebih dari sekadar penjual dan pelanggan.

Raka bukan orang yang mudah cemburu.

Tetapi sebagai seorang pria, nalurinya mengatakan bahwa tatapan Maya kepada Ardi berbeda.

Ia membuka laptopnya kembali.

Namun konsentrasinya sudah tidak lagi tertuju pada laporan perusahaan.

---

Menjelang sore, hujan kembali turun.

Pelanggan di gerobak Ardi mulai berkurang.

Maya kembali mampir sebelum pulang.

Hari itu ia tidak memesan kopi.

"Mas."

"Iya?"

"Boleh saya minta bantuan?"

"Bantuan apa?"

"Saya ingin belajar membuat kopi."

Ardi tersenyum heran.

"Belajar?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Supaya kalau suatu hari pengin minum kopi, saya bisa buat sendiri."

Ardi tertawa pelan.

"Baik."

Ia mengambil celemek cadangan.

"Nih."

Maya menerimanya sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya, Maya berdiri di balik gerobak bersama Ardi.

Sementara dari kejauhan, seseorang kembali memperhatikan mereka.

Raka.

Ia baru saja melewati jalan itu.

Dan kali ini, ia melihat Maya tersenyum lepas saat Ardi mengajarinya menuangkan susu ke dalam cangkir.

Tatapan Raka berubah lebih serius.

Kini ia tidak lagi menganggap semua itu sebagai kebetulan.

Maya mengenakan celemek yang diberikan Ardi. Rambutnya ia ikat ke belakang agar tidak mengganggu saat belajar membuat kopi.

Beberapa pelanggan yang datang tampak tersenyum melihat pemandangan itu.

"Wah, Bang Ardi sudah punya pegawai baru?"

Salah seorang pelanggan berseloroh.

Maya langsung tertawa kecil, sementara Ardi menggeleng sambil tersenyum.

"Bukan, Pak. Ini cuma sedang belajar."

"Kirain sudah buka cabang."

Suasana gerobak yang sederhana itu mendadak terasa lebih hidup.

Ardi mengambil sebuah gelas kosong lalu menuangkan bubuk kopi ke dalamnya.

"Pertama, kenali dulu aroma kopinya."

Maya mendekat.

"Aromanya kuat sekali."

"Setiap biji kopi punya karakter berbeda."

"Mas tahu semua itu?"

"Nggak semua."

Ardi tersenyum.

"Saya masih belajar."

Maya mengangguk kagum.

Baginya, Ardi adalah tipe orang yang tidak pernah berhenti belajar, meskipun hidupnya jauh dari kata mudah.

"Itu yang membuat kopi terasa berbeda."

"Maksudnya?"

"Yang membuat bukan cuma tangan."

Ardi tersenyum tipis.

"Tapi hati."

Maya memandang Ardi beberapa saat.

Kalimat sederhana itu kembali membuat hatinya hangat.

---

Ardi kemudian mengajarkan cara menuangkan susu hangat ke dalam cangkir.

"Pelan saja."

Maya mencoba mengikuti.

Namun tangannya sedikit gemetar.

Akibatnya, susu meluber ke meja.

"Ya ampun..."

Maya langsung panik.

"Maaf."

Ardi justru tertawa pelan.

"Nggak apa-apa."

"Saya ceroboh."

"Semua orang juga begitu saat pertama kali belajar."

Ardi mengambil kain lap dan membersihkan meja.

Tanpa sadar, Maya ikut membantu.

Tangan mereka hampir bersentuhan.

Keduanya langsung menarik tangan masing-masing.

Maya menundukkan kepala sambil tersenyum malu.

Sementara Ardi berpura-pura sibuk mencuci gelas.

Jantung keduanya berdetak sedikit lebih cepat.

---

Di seberang jalan, Raka masih duduk di dalam mobilnya.

Ia tidak berniat menguping.

Namun dari kejauhan saja sudah terlihat jelas bahwa Maya merasa nyaman berada di dekat Ardi.

Senyum itu...

Berbeda.

Raka menghela napas pelan.

Ia bukan pria yang suka merebut hati seseorang.

Jika memang Maya telah mencintai orang lain, ia tidak ingin menjadi penghalang.

Namun ia juga belum mengetahui siapa sebenarnya Ardi.

Ia memutuskan untuk mencari tahu, bukan karena iri, melainkan karena ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar orang baik.

---

Hari mulai gelap.

Setelah pelanggan terakhir pulang, Maya membantu Ardi membereskan meja.

"Nggak usah."

"Nggak apa-apa."

"Nanti tanganmu kotor."

Maya tersenyum.

"Tangan bisa dicuci."

Ardi hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Terima kasih."

Maya memandang gerobak sederhana itu.

"Mas pernah kepikiran memperbesar usaha?"

"Pernah."

"Lalu?"

"Modalnya belum ada."

"Kalau ada investor?"

Ardi tertawa kecil.

"Siapa yang mau investasi ke gerobak kecil begini?"

Maya tidak menjawab.

Dalam benaknya muncul sebuah ide.

Namun ia belum ingin mengatakannya sekarang.

Ia khawatir Ardi akan salah paham.

---

Sesampainya di rumah, Maya masih memikirkan percakapannya sepanjang sore.

Ratna yang sedang menyiram tanaman melihat putrinya tersenyum sendiri.

"Senang sekali kelihatannya."

Maya tersentak.

"Ibu."

"Dari mana?"

"Mampir beli kopi."

Ratna mengangguk.

"Kopi lagi."

"Iya."

Ratna memperhatikan wajah Maya beberapa detik.

"May."

"Iya?"

"Kamu sedang dekat dengan seseorang?"

Pertanyaan itu membuat Maya membeku.

"Tidak."

"Yakin?"

Maya mengangguk pelan.

Ratna tidak melanjutkan.

Namun naluri seorang ibu mengatakan bahwa putrinya sedang menyimpan sesuatu.

---

Di ruang kerja, Budi sedang berbicara melalui telepon dengan sahabat lamanya, ayah Raka.

"Bagaimana menurutmu?"

Suara dari seberang bertanya.

Budi tersenyum.

"Raka anak baik."

"Kalau Maya?"

"Belum bisa ditebak."

"Masih perlu waktu."

"Ya."

Budi menutup telepon dengan perasaan optimistis.

Menurutnya, jika Maya dan Raka lebih sering bertemu, lambat laun rasa itu akan tumbuh.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hati putrinya mulai bergerak ke arah yang berbeda.

---

Sementara itu, Ardi baru selesai menghitung hasil penjualan hari itu.

Ia membuka kaleng biskuit yang selama ini menjadi tempat menabung.

Perlahan ia memasukkan beberapa lembar uang ke dalamnya.

"Sedikit demi sedikit."

Ia menghitung jumlah tabungannya.

Masih jauh dari cukup untuk membuka kedai.

Apalagi membeli rumah.

Namun ia tidak pernah mengambil uang itu untuk keperluan lain.

Itulah satu-satunya harapan yang sedang ia bangun.

Saat hendak menutup kaleng, pandangannya tertuju pada secarik kertas kecil pemberian Maya.

Tanpa sadar ia tersenyum.

"Terima kasih..."

Kalimat itu terucap pelan.

Bukan hanya karena makanan atau perhatian yang Maya berikan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ardi kembali merasakan semangat untuk mengejar masa depan.

Ia belum berani menyebutnya cinta.

Tetapi ia tahu...

Perempuan itu telah menjadi alasan mengapa setiap pagi terasa lebih indah daripada sebelumnya.

Di sisi lain kota, Maya berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit malam.

Angin berembus pelan menerbangkan rambutnya.

Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar.

"Apakah aku mulai menyukai Mas Ardi?"

Maya menutup matanya perlahan.

Tanpa ia sadari, jawaban itu mulai tumbuh sedikit demi sedikit.

Dan pada saat yang sama, sebuah keputusan yang diambil Budi Lestari akan menjadi awal dari konflik yang jauh lebih besar.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel