BAB 2 – Langkah yang Mulai Mendekat
Mentari pagi menyinari Kota Singkawang dengan hangat. Hujan yang turun semalaman membuat udara terasa lebih sejuk. Daun-daun di sepanjang jalan masih dipenuhi butiran embun, sementara aroma tanah basah memenuhi udara.
Seperti biasa, Ardi sudah tiba di tempat berjualannya sebelum pukul enam pagi.
Baginya, membuka gerobak lebih awal adalah bentuk penghormatan kepada pelanggan. Ia percaya bahwa rezeki datang kepada orang yang mau berusaha lebih dulu.
Ia membuka pintu gerobak kayu, menata cangkir-cangkir porselen, mengisi wadah gula, lalu menggiling biji kopi pilihan yang dibelinya langsung dari petani di daerah pegunungan Kalimantan Barat.
Suara mesin penggiling memecah keheningan pagi.
Ardi menghirup aroma kopi yang baru digiling.
"Semoga hari ini lebih baik," gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, pelanggan mulai berdatangan.
Pak Herman kembali menjadi pelanggan pertama.
"Pagi, Pak Ardi."
"Pagi, Pak Herman."
"Seperti biasa."
"Siap."
Tak lama kemudian datang pula dua mahasiswa yang hampir setiap pagi mampir sebelum kuliah.
"Bang, kopi susu dua."
"Sebentar ya."
Gerobak kecil itu mulai ramai.
Ardi melayani setiap pelanggan dengan senyum yang sama. Ia hafal hampir semua nama pelanggan tetapnya.
Bukan karena ingatannya luar biasa, tetapi karena ia percaya setiap orang ingin dihargai.
---
Sekitar pukul setengah delapan, sebuah mobil putih kembali berhenti di depan gerobak.
Ardi tak perlu melihat pengemudinya.
Ia sudah tahu siapa yang datang.
Maya turun sambil membawa tas kerja dan mengenakan kemeja biru muda dipadukan celana kain hitam. Penampilannya sederhana, tetapi anggun.
"Pagi, Mas Ardi."
"Pagi, Mbak Maya."
Maya tersenyum.
"Wah... hari ini ramai sekali."
"Alhamdulillah."
"Berarti saya harus antre?"
Ardi tertawa kecil.
"Kalau pelanggan spesial boleh didahulukan."
Maya mengangkat alis.
"Spesial?"
"Maksud saya... pelanggan yang sudah hafal rasa kopi di sini."
Maya ikut tertawa.
"Hampir saja saya salah paham."
Percakapan singkat itu membuat beberapa pelanggan ikut tersenyum.
Pak Herman yang duduk di sudut hanya menggeleng-geleng sambil menikmati kopinya.
"Masih seperti anak muda saja," gumamnya lirih.
Ardi mulai meracik kopi pesanan Maya.
Seperti biasa, tanpa perlu ditanya lagi.
Kopi susu gula aren dengan sedikit tambahan espresso.
"Ternyata Mas Ardi sudah hafal."
"Hafal sedikit."
Maya menerima cangkirnya.
"Terima kasih."
Ia duduk di kursi plastik yang berada tepat di depan gerobak.
Hari itu ia tidak terburu-buru.
Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sebelum jam masuk kantor.
"Mas Ardi."
"Iya?"
"Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kenapa memilih jualan kopi?"
Ardi tersenyum kecil.
"Karena saya suka kopi."
"Bukan itu."
Maya menggeleng pelan.
"Maksud saya... kenapa tidak mencoba pekerjaan lain?"
Ardi terdiam beberapa saat.
Ia menuangkan air panas ke teko sebelum menjawab.
"Saya pernah kerja macam-macam."
"Seperti apa?"
"Jadi sopir."
"Lalu?"
"Kurir."
"Terus?"
"Kuli bangunan."
Maya terkejut.
"Sebanyak itu?"
Ardi mengangguk.
"Selama pekerjaannya halal, saya tidak pernah memilih."
Jawaban itu membuat Maya terdiam.
Entah mengapa, ia merasa semakin menghormati lelaki di hadapannya.
Tidak banyak orang yang berani mengakui masa-masa sulitnya tanpa merasa malu.
"Capek?"
Maya bertanya pelan.
"Pernah."
"Lalu?"
Ardi tersenyum.
"Tapi kalau menyerah, saya makan apa?"
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Maya, kalimat itu jauh lebih berharga daripada kata-kata motivasi yang sering ia baca di media sosial.
---
Di kantor, Maya masih memikirkan percakapannya dengan Ardi.
Ia duduk di depan komputer, tetapi pikirannya melayang.
"May..."
Suara sahabatnya membuyarkan lamunan.
Namanya Nina.
Usianya tiga puluh lima tahun dan telah bekerja bersama Maya selama hampir enam tahun.
"Kamu melamun?"
"Nggak."
"Bohong."
Nina duduk di sampingnya.
"Cerita."
"Nggak ada."
"Kalau nggak ada, kenapa senyum-senyum?"
Maya menghela napas.
"Aku kenal seseorang."
Nina langsung membelalakkan mata.
"Wah!"
"Baru kenal."
"Siapa?"
"Penjual kopi."
Nina mengira dirinya salah dengar.
"Hah?"
"Iya."
"Serius?"
"Iya."
Nina tertawa kecil.
"Cakep?"
Maya berpikir sejenak.
"Biasa saja."
"Terus?"
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Orangnya baik."
"Baik banyak."
"Jujur."
"Itu juga banyak."
Maya tersenyum.
"Entahlah."
Nina memperhatikan ekspresi sahabatnya.
Selama bertahun-tahun mengenal Maya, baru kali ini ia melihat wanita itu membicarakan seorang pria dengan cara seperti itu.
"Dia sudah menikah?"
"Nggak."
"Usia?"
Maya sedikit ragu.
"Empat puluh."
"Empat puluh?"
Nina benar-benar terkejut.
"Bedanya enam tahun sama kamu?"
Maya mengangguk.
"Masalahnya bukan umur."
"Lalu?"
"Dia hidup sederhana."
"Seberapa sederhana?"
"Jualan kopi."
Nina tidak langsung menjawab.
Ia mengenal Maya sebagai perempuan yang tidak pernah memandang seseorang dari hartanya.
Namun ia juga tahu, keluarga Maya memiliki pandangan yang berbeda.
"Keluargamu tahu?"
Maya menggeleng.
"Belum."
"Kalau tahu?"
Maya tersenyum pahit.
"Itulah yang aku takutkan."
---
Sementara itu, di gerobak kopi, Ardi sedang menghitung sisa bahan dagangan.
Hari itu penjualannya cukup ramai.
Namun pikirannya justru dipenuhi satu pertanyaan.
"Kenapa Maya mau sering datang ke sini?"
Ia tahu dirinya bukan pria yang menarik.
Bahkan ia sering merasa minder ketika berbicara dengan Maya.
"Jangan salah paham, Di."
Ia menepuk pipinya sendiri.
"Mungkin dia memang suka kopinya."
Ia memilih menghentikan lamunannya.
Baginya, berharap terlalu tinggi hanya akan membuat kecewa.
Tanpa ia sadari, dari balik kaca mobil yang melintas perlahan, seseorang sedang memperhatikan gerobaknya.
Seorang pria berjas rapi berusia sekitar tiga puluh delapan tahun.
Tatapannya tertuju pada Maya yang baru saja keluar dari gerobak kopi beberapa menit sebelumnya.
Pria itu menyipitkan mata.
"Siapa penjual kopi itu...?"
Pria berjas itu tetap duduk di balik kemudi mobil SUV hitamnya. Mesin mobil masih menyala, tetapi ia belum berniat pergi. Tatapannya tertuju ke arah gerobak kopi sederhana yang berada di seberang jalan.
Beberapa menit sebelumnya, ia melihat Maya keluar dari tempat itu dengan senyum yang jarang ia tunjukkan.
Pemandangan itu membuatnya penasaran.
Namanya Raka Wijaya.
Usianya tiga puluh delapan tahun. Ia adalah direktur sebuah perusahaan distribusi bahan bangunan yang sedang berkembang di Kalimantan Barat. Penampilannya selalu rapi. Jas yang dikenakannya tampak mahal, begitu pula jam tangan di pergelangan kirinya.
Namun yang paling menonjol dari dirinya bukanlah kemewahan itu.
Melainkan ketenangan dalam bersikap.
Raka sebenarnya tidak berniat berhenti di sana. Ia hanya kebetulan melintas menuju lokasi proyek. Akan tetapi, melihat Maya tertawa bersama seorang pria membuat langkahnya tertahan.
"Bukan keluarga..." gumamnya pelan.
Ia mengenal Maya sekilas.
Perusahaan mereka pernah beberapa kali bekerja sama. Walau tidak dekat, ia tahu Maya adalah perempuan yang sopan dan menjaga jarak dengan lawan jenis.
Karena itu, melihatnya mengobrol santai dengan seorang penjual kopi terasa sedikit berbeda.
Raka tidak turun dari mobil.
Ia hanya memperhatikan sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.
Baginya, itu mungkin hanya kebetulan.
---
Sore harinya, gerobak kopi Ardi kembali dipenuhi pelanggan.
Jam pulang kerja memang selalu menjadi waktu tersibuk.
"Asli, Bang, kopinya bikin nagih."
Salah seorang pelanggan muda tersenyum sambil menyerahkan uang.
"Terima kasih."
"Besok saya bawa teman-teman."
"Silakan."
Ardi melayani satu per satu pelanggan tanpa membedakan siapa pun.
Di sela-sela kesibukan itu, sebuah mobil putih kembali berhenti.
Maya turun sambil membawa dua kotak makanan.
"Mas Ardi."
Ardi tampak terkejut.
"Mbak Maya? Bukannya sudah pulang?"
"Tadi lewat sini lagi."
Maya mengangkat kantong plastik yang dibawanya.
"Saya beli nasi lebih."
Ardi langsung menggeleng.
"Nggak usah repot."
"Bukan repot."
Maya tersenyum.
"Saya lihat dari pagi sampai sekarang Mas belum sempat makan."
Ardi sedikit gugup.
Ia memang belum makan siang karena pelanggan terus berdatangan.
"Terima kasih... tapi saya malu."
"Malu kenapa?"
"Takut merepotkan."
Maya tertawa kecil.
"Kalau saya keberatan, saya nggak mungkin membeli."
Ardi akhirnya menerima satu kotak nasi itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Melihat antrean pelanggan yang masih panjang, Maya tidak mengajak berbincang lama.
"Saya pulang dulu."
"Hati-hati."
Setelah Maya pergi, Pak Herman kembali tersenyum usil.
"Wah..."
"Apa lagi, Pak?"
"Sudah dibawakan makan."
Ardi hanya tertawa hambar.
"Beliau cuma baik."
Pak Herman menyeruput kopinya.
"Orang baik memang banyak."
"Lalu?"
"Tapi belum tentu mau memperhatikan sampai hal sekecil itu."
Ucapan itu membuat Ardi terdiam.
Ia memandangi kotak makanan yang masih hangat.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang memperhatikannya seperti itu.
---
Malam itu, Ardi membuka kotak makanannya di rumah.
Isinya sederhana.
Nasi putih.
Ayam goreng.
Sayur tumis.
Dan selembar kertas kecil.
"Jangan lupa makan tepat waktu. Biar tetap sehat."
Tidak ada nama.
Hanya sebuah gambar senyum kecil di sudut kertas.
Ardi membaca tulisan itu berkali-kali.
Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Sudah bertahun-tahun ia hidup sendiri.
Tidak ada yang mengingatkannya untuk makan.
Tidak ada yang menanyakan apakah ia sudah pulang.
Tidak ada yang memarahinya ketika terlalu sibuk bekerja.
Perhatian sederhana itu terasa begitu berarti.
Namun beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang.
"Jangan terlalu jauh berpikir."
Ia melipat kembali kertas itu dan menyimpannya di dalam dompet.
Bukan karena nilainya.
Melainkan karena itu adalah perhatian pertama yang ia terima setelah sekian lama.
---
Di rumah keluarga Lestari, suasana makan malam berlangsung hangat.
Ratna memperhatikan putrinya yang tampak ceria.
"Hari ini kerjaan menyenangkan?"
"Iya, Bu."
"Kelihatannya ada yang membuatmu bahagia."
Maya hanya tersenyum.
Budi meletakkan sendoknya.
"Besok malam kita ada tamu."
"Tamu?"
"Iya."
"Siapa?"
"Teman lama Ayah."
Maya mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Baik."
Budi dan Ratna saling bertukar pandang.
Mereka belum memberi tahu bahwa teman lama itu akan datang bersama putranya.
Seseorang yang selama ini dianggap sangat cocok menjadi pendamping Maya.
---
Di tempat lain, Raka baru saja tiba di rumah orang tuanya.
Ayahnya sedang menikmati teh di teras.
"Kamu sempat bertemu Pak Budi tadi?"
"Belum."
"Lusa beliau mengundang kita makan malam."
Raka mengangguk.
"Baik."
Ayahnya tersenyum tipis.
"Kamu masih ingat putrinya?"
"Maya?"
"Iya."
"Masih."
"Kamu belum menikah. Dia juga belum."
Raka memahami arah pembicaraan ayahnya.
Ia tidak langsung menjawab.
Selama ini ia memang lebih fokus membangun perusahaan dibanding memikirkan kehidupan pribadi.
Namun jika harus memilih pasangan, Maya adalah sosok yang pernah menarik perhatiannya.
Perempuan itu sederhana, cerdas, dan dikenal memiliki sikap yang baik.
"Kalau memang berjodoh, saya akan mengenalnya lebih dulu."
Ayahnya mengangguk puas.
"Itu juga yang kami harapkan."
---
Sementara itu, di kamar kontrakannya, Ardi menatap langit-langit rumah sambil memegang secarik kertas pemberian Maya.
Ia tersenyum kecil.
"Terima kasih..."
Entah mengapa, hari-harinya terasa sedikit berbeda sejak mengenal perempuan itu.
Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, keluarga Maya sedang menyiapkan sebuah pertemuan yang kelak akan menjadi awal dari ujian terbesar dalam hidup mereka.
Dan tanpa disadari siapa pun, takdir mulai mempertemukan tiga hati dalam satu jalan yang sama.