Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 09

Nara tersenyum kecil. Kedua matanya memperhatikan setiap gerak gerik Sasky, sous chef di restoran milik Dewi yang sedang memilih daging sapi dengan jeli agar mendapatkan daging kualitas terbaik.

Sasky yang memperhatikan warna daging. Sasky yang memisahkan daging berwarna merah segar. Sasky yang menusuk-nusuk daging dengan telunjuk untuk menguji kekenyalan tekstur daging. Dan Sasky yang mencium bau dari daging itu. Tak ada satupun yang luput dari penglihatan Nara.

”Daging segar baunya harus bau khas sapi, Bu Nara.” terang Sasky tanpa melihat Nara. Sibuk mengendus daging sapi.

Nara membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ber-oh ria dengan suara pelan sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

”Seperti bau daging ini.” Sasky menoleh menatap Nara sambil menyodorkan daging sapi ke arah hidung wanita itu.

Nara menahan rambutnya, lalu sedikit menunduk dan mencoba mengendus bau daging yang dipegang oleh Sasky sebentar.

Dirasa sudah cukup, Sasky langsung menjauhkan daging sapi dari hidung Nara. Berpaling pada ibu penjual daging, lalu menyerahkan potongan beberapa daging sapi yang akan diambil. Sasky kembali menoleh pada Nara. Memperhatikan wanita yang tampil santai dengan Middle Triangle Simple Semi-Over Short Sleeve Unisex in Soft Lavender dan M-tone Pin Tuck Detail Mammfit keluaran brand GUESS serta All Star Chuck Taylor in Salmon. Satu kata yang dapat menggambarkan Nara menurutnya, wow.

Sasky berdehem kecil. ”Masih betah mengikuti saya kan, Bu?” tanya Sasky penasaran.

Nara menghentikan kegiatannya yang sedang melihat interaksi yang terjadi di dalam pasar. Tertawa kecil sambil menoleh ke arah Sasky. ”Kenapa saya harus bosan, Sas? Mengikuti kamu belanja di pasar tradisional seperti ini, saya jadi bisa belajar cara memilih bahan-bahan yang bagus. Lagi pula, saya memang harus turun langsung untuk hal yang paling krusial untuk restoran.”

Sasky tersenyum lebar sambil menatap Nara dengan mata berbinar. Tidak dapat terelakan lagi rasa kagumnya pada puteri dari pemilik restoran tempatnya bekerja selama tiga bulan belakangan ini.

Masih sangat Sasky ingat ketika semalam tadi ponselnya bergetar singkat tanda ada pesan masuk. Bagaimana bisa dia tidak terkejut, jika ternyata pesan singkat yang masuk ke dalam benda canggih itu dari Nara? Naraya, puteri dari pemilik restoran tempatnya mengais rezeki. Sasky semakin terkejut ketika membaca pesan yang berisikan keinginan Nara untuk ikut berbelanja dengannya. Bahkan wanita itu begitu saja menawarkan diri akan menjemputnya di tempat kos.

Lagi-lagi, Sasky harus kembali terkejut dengan visual Nara yang baru pertama kali dia lihat secara langsung. Dimana sebelumnya dia hanya bisa mencuri dengar cerita-cerita dari karyawan lain yang tidak ada habisnya membicarakan, bagaimana cantik dan tampannya anak-anak dari Dewi, pemilik restoran mewah bintang lima itu.

”Dagingnya, Neng.”

”Eh?” Sasky terkesiap sedikit. Langsung saja menoleh ke arah ibu penjual daging sapi. Mengulurkan tangan kanannya memberikan sejumlah uang sebagai bayaran. ”Maaf, Bu.” kata Sasky ketika harus menggunakan tangan kirinya untuk menerima kantong plastik hitam yang diulurkan oleh ibu penjual daging. ”Terima kasih, Bu.”

”Sama-sama, Neng.”

Sasky mengangguk kecil. ”Mari, Bu Nara. Kita jalan lagi.” ajak Sasky dengan suara sambil mengulurkan kedua tangannya yang sedang membawa beberapa kantong plastik kresek. ”Kita harus beli daging ayam.”

Karena susana sudah mulai ramai, Nara mengulurkan tangannya yang masih bebas.

Sasky mengangguk paham dan berjalan lebih dulu memimpin Nara menuju lapak penjual ayam yang sudah menjadi langganan restoran yang letaknya ada di bagian paling ujung lorong blok penjual-penjual daging.

Nara mengangguk. ”Jadi ... kamu baru bekerja di restoran mama saya selama tiga bulanan, Sas?”

Sasky mengangguk. ”Iya, Bu. Saya masih baru sekali.”

Nara hanya manggut-manggut, lalu sedikit bergeser ke arah samping kiri ketika akan melewati ibu-ibu yang entah sadar atau tidak sudah berdiri di tengah-tengah lorong membuat macet.

Sasky melirik Nara dari balik bahunya. ”Saya masih bau kencur.”

Kedua alis Nara terangkat naik. ”Anak baru, tapi sudah menjadi sous chef, hm?”

Sasky mengangkat kedua bahunya. ”How lucky I am?” Sasky nyengir lebar.

Nara tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. ”Kalau mama saya sudah mempercayakan posisi penting itu pada kamu. Itu artinya, kamu punya kemampuan yang tidak akan mengecewakan, Sas.”

”Yeah! Semoga saja nanti Ibu bisa sepercaya Bu Dewi percaya dengan saya.”

Nara tersenyum kecil. ”We will see.”

Nara dan Sasky, keduanya tanpa dikomando saling melemparkan senyum manis.

”Pantas saja ya, saya sepertinya baru pernah melihat kamu, Sas. Atau kita sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi saya yang tidak menyadari kalau itu kamu ya, Sas?”

Sasky terkekeh pelan. ”Sepertinya Ibu memang baru bertemu saya hari ini.”

”Begitu, ya?” gumam Nara lirih. ”Sini, Sas.” titah Nara dengan suara pelan meraih kantong plastik kresek yang ada di tangan kiri Sasky.

”Eh!” Sasky terkesiap ketika merasakan ada tangan lain yang mengambil alih pegangannya pada kantong plastik kresek hitam itu. ”Jangan, Bu. Biar saya saja. Berat.”

Nara menggeleng. ”Saya sekuat Dilan, kok yang kuat menahan rindu.” kata Nara sambil memainkan kedua alisnya naik turun menggoda Sasky. ”Lagi pula, nanti kamu masih harus membawa daging ayamnya.”

”Maaf ya, Bu.”

Nara menggeleng pelan. ”Tidak perlu minta maaf, Sas.”

”Ikannya, Neng?”

Nara langsung menoleh, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

”Masih segar-segar, Neng. Ada gurame, nila, lele. Tinggal pilih saja.”

Nara kembali menggelengkan kepalanya. ”Tidak, Bu. Maaf.”

Sasky menoleh ke arah belakang. ”Ini lapaknya, Bu.” kata Sasky ketika sudah berdiri di depan salah satu lapak dari sekian banyaknya lapak penjual daging ayam.

Nara hanya mengangguk. Dalam diam memperhatikan Sasky yang sedang berbicara dengan penjual daging ayam. Tampak sudah sangat akrab. Nara tersenyum kecil.

”So ... daging ayam dengan kualitas baik itu yang seperti apa chef Sasky?” tanya Nara sambil memutar tubuhnya hingga menghadap pada Sasky. Nara tersenyum manis pada gadis itu.

Sasky terkekeh pelan. Namun, tak lupa menggerakan kedua matanya menatap satu per satu daging ayam yang ada di depannya.

”Daging ayam segar, berwarna putih dengan semburat merah muda. Tidak dihinggapi lalat. Usap sedikit kulitnya supaya tahu ada tidaknya tekstur bertepung atau berpasir efek jika daging ayam diberi formalin.” terang Sasky dengan antusias sambil mempraktekannya caranya secara langsung. Sasky menoleh ke arah Nara.

Nara mengangguk paham. ”Oke ... lalu apa lagi, Sas?”

”Daging ayam segar bertekstur elastis. Darah dan cairan lain tidak keluar secara berlebihan. Kita juga perlu mencium bau daging ayam apa baunya wajar atau malah anyir.” terang Sasky lagi sambil mendekatkan daging ayam utuh ke hidungnya sebentar.

Sasky tersenyum manis sambil menoleh pada Nara. ”Seperti yang satu ini contohnya.” tambah Sasky sambil melirik ke arah daging ayam di tangannya. Sasky meletakkan daging ayam yang masih utuh itu, lalu menunjuk satu per satu daging ayam yang menurutnya memiliki kualitas terbaik sesuai dengan kriterianya.

Nara manggut-manggut. ”Sepertinya saya harus berguru sama kamu deh, Sas.”

Sasky terkekeh pelan. ”Ibu, sangat berlebihan menilai saya. Kita harus kembali ke restoran jam tujuh Bu, by the way. Saya masih harus cross check pengadaan barang-barang yang lain dengan storeman.”

”Oke. Coba kamu cek lagi, deh sudah terbeli semuanya apa belum, Sas.”

Sasky hanya mengangguk patuh. Melongok ke dalam kantong plastik di kedua tangannya juga yang ada di tangan Nara untuk memeriksa isinya.

”Sip!” Sasky mendongak menatap Nara. ”Semuanya sudah lengkap, Bu Nara.”

Nara mengangguk. ”Oke. Jadi, kita ke restoran sekarang?”

Sasky mengangguk. ”Iya, Bu.”

Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari pasar dengan keduanya yang tidak berhenti mengobrol ringan.

-s e c o n d l o v e-

Wisnu tersenyum lebar di balik gelas ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi nyaring mengisi seluruh sudut ruangan rumahnya. Naraya-nya datang! Batin Wisnu girang. Buru-buru meneguk air putih di gelasnya hingga tandas. Wisnu berjalan setengah berlari menuju pintu utama rumahnya.

”Sebentar!” teriak Wisnu ketika mendengar suara bel rumahnya yang sepertinya ditekan dengan tidak sabaran. Keningnya mengerut dalam. Perasaannya berubah menjadi tidak enak sekarang.

Cklek!

”Mor … ning.”

Senyum Wisnu langsung hilang tak bersisa ketika sosok Valan yang berdiri di hadapannya. Bayangan indahnya pagi hari dan hangatnya suasana sarapan bersama dengan Naraya-nya seketika buyar. Raut wajah Wisnu langsung berubah menjadi masam. Tubuhnya lemas seolah tidak ada gairah lagi dalam hidupnya.

Valan terkekeh geli sambil menurunkan tangannya yang tadi melambai-lambai. ”Asam sekali wajahnya, Mas. Kenapa? Ekspektasi tidak sesuai dengan realitanya. Iya?” tanya Valan dengan nada mengejek yang kentara.

Valan langsung tertawa puas ketika mendengar dengusan kasar Wisnu.

Benarkan? Feelingnya memang patut diacungi jempol. Wisnu hanya melirik ke arah Valan sekilas tanpa minat. Kemana Narayanya? Kepala Wisnu celingak celinguk mencoba mencari sosok Nara.

”Mbak Nara tidak ada. Tidak usah repot-repot mencari Mbak Nara, Mas.”

Wisnu hanya terdiam.

”Serius!” Valan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk tanda sumpah. ”Aku lagi tidak prank Mas Wisnu.”

Wisnu tak menghiraukan segala ocehan Valan yang tak berfaedah itu. Wisnu langsung saja berbalik badan dan berjalan dengan gontai tanpa ingin repot untuk mempersilahkan Valan masuk. Tanpa dipersilahkan, bocah itu pasti nyelonong masuk. Wisnu menghela nafas berat.

”Dedek tidak bisa kalau dikacangi seperti ini. Yang Mas Wisnu lakukan itu, jahat Mas!” kata Valan dengan dramatis sambil memegang dadanya sebelah kiri. Valan berjalan mengikuti di belakang Wisnu.

”Kenapa kamu yang kesini sih, Dek?” tanya Wisnu ketika sudah duduk di salah satu kursi meja makan yang kosong. ”Naraya dimana? Naraya … dia tidak pingsan lagi, kan?” tanya Wisnu dengan suara pelan dan raut wajah khawatir.

Valan menggeleng pelan. Mengambil duduk di kursi yang berseberangan dengan Wisnu sambil meletakkan kotak bekal di atas meja makan. ”Mbak Nara baik. Lagi ikut Sasky, sous chef di restoran mama belanja bahan restoran di pasar, Mas.”

Kening Wisnu mengerut samar. ”Biar apa?”

Valan menata kotak makan di depan Wisnu sesuai dengan instruksi dari Dewi. Mamanya itu bahkan mengatakan perintah itu berulang-ulang kali. Bagaimana dia tidak hafal di luar kepala jika sudah begitu? Valan geleng-geleng kepala samar.

”Mbak Nara, kan akan mulai menggantikan posisi mama, Mas. Mengurus restoran. Mas Wisnu kurang update sekali sepertinya.” sindir Valan sambil melirik ke arah Wisnu.

”Oh?” balas Wisnu singkat sambil menatap ke arah makanan di depannya dengan tidak selera.

”Ayo, dimakan, Mas. Jangan hanya dilihat saja, elah! Aku harus pulang ke rumah dengan kotak yang sudah kosong.”

Wisnu langsung mengangkat wajahnya menatap pada Valan. ”Dek, kok tidak mengambilkan piring dan sendok untuk Mas?”

”Dih! Ambil sendiri, sana lah Mas. Manja, sekali! Mas Wisnu kan punya tangan dan kaki yang sehat. Pergunakanlah apa yang sudah Allah SWT berikan pada Mas Wisnu dengan baik dan tidak menyusahkan orang lain. Aamiin.” Valan mengusap wajahnya dengan kedua tangan seperti saat sudah selesai berdoa.

Wisnu mencebikan bibirnya. ”Dengan Naraya biasanya juga diambilkan, kok. Tidak perlu mendengar ceramah dari kamu yang seharusnya lebih dulu dipraktekkan pada diri kamu sendiri, Dek.”

”Astoge ... bayi sekali loh, Mas! Tidak cocok sekali dengan wajah tua Mas Wisnu, ambekan seperti itu. Aku sama Mbak Nara, jelas be-da. aku laki, mbak Nara pere.”

Kening Wisnu mengerut dalam. ”Pe-re?” beo Wisnu sambil menatap Valan tidak mengerti. ”Apa itu pere?”

”Perempuan!” jawab Valan dengan menekankan pada suku kara pere. ”Terlalu lama hidup di luar negeri. membuat Mas Wisnu sampai-sampai tidak tahu dengan bahasa kids zaman now. Sudah, sekarang makan!”

Wisnu menghela nafas berat. Bersandar pada sandaran kursi sambil memijat pelipisnya. Wisnu tiba-tiba saja merasa frustasi dengan ocehan Valan.

”Jangan lebay deh, Mas! Baru juga satu hari ini saja tidak diantarkan sarapan sama Mbak Nara, tapi seperti besok akan kiamat saja.”

Wisnu langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya sambil menurunkan tangannya dari pelipis, lalu berjalan menuju kitchen set untuk mengambil piring dan sendok.

”Dasar bucin!” cibir Valan dengan suara pelan, namun masih cukup bisa didengar oleh Wisnu. Valan menatap punggung Wisnu sambil geleng-geleng kepala.

Wisnu hanya terdiam. Tak berniat membalas cibiran Valan. Bo-do a-mat! Dikatakan bucin Nara juga, ter-se-rah! Kalau perlu, saat ini juga Wisnu akan mendeklarasikan sebagai budak cinta Nara nomor pertama. Dia jujur, memang merasa hampa tanpa Narayanya, kok. Wisnu menatap Valan tajam ketika sudah kembali duduk di tempatnya semula, kini dengan piring dan sendok di tangannya.

”Santuy, Mas.” kekeh Valan. ”Tenang Mas, tenang. Makan siang nanti, tetap Mbak Nara yang akan mengantarkan ke kantor Mas Wisnu, kok. Jadi Mas Wisnu tetap bisa bertemu dengan Mbak Nara.

”Serius kamu?” tanya Wisnu dengan raut wajah yang terlampau bersemangat.

Valan memutar kedua bola matanya malas. ”Hmm,” jawab Valan bergumam ogah-ogahan.

Wisnu langsung mengulum bibirnya agar tidak tersenyum.

Valan berdecih. ”Lagian, Mas Wisnu itu apa tidak merasa bosan sama sekali kalau bertemu Mbak Nara setiap hari?”

Wisnu menggeleng. ”Mbak kamu itu tidak ada duanya, Dek. The one and only. Bagaimana Mas bisa bosan?”

Valan memberikan gerakan seolah ingin muntah. ”Mas Wisnu yang bucin. Aku yang mabuk, Mas.”

Wisnu mengangkat kedua bahunya tak acuh. Senyum kecil di bibirnya seketika terbit. Wisnu sudah tidak sabar lagi menunggu siangnya datang.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel