Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 08

Nara menggeliat kecil. Semakin mengeratkan pelukannya pada guling ketika tidurnya semakin nyaman. Aroma oriental woody dari burberry brit for men yang begitu kental dan segar membuai indera penciuman Nara.

Kening Nara mengerut samar. Tunggu! Tunggu ... sebentar! Kedua bola mata Nara dibalik kelopaknya yang tertutup bergerak-gerak ke sana kemari.

Kasur?

Guling?

Aroma woody?

Harusnya dia masih duduk di sofa lobby kantor Wisnu menunggu laki-laki itu kembali dari rapat, kan? Lalu … ini … apa? Nara menelan salivanya kasar. Membenamkan wajahnya pada guling. Nara mengumpulkan keberaniannya untuk membuka kedua matanya dan melihat kenyataan yang ada.

Nara perlahan-lahan membuka matanya. Oh my God! Nara langsung bangun dan duduk dengan tegak. Menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang ternyata benar sesuai dengan dugaannya, sebuah kamar.

Nara mengangkat selimut tebal itu, lalu menghela nafas lega ketika melihat bajunya masih utuh melekat pada tubuhnya sambil melepaskan selimut berwarna putih itu. Merapatkan punggungnya pada headboard sambil menarik naik selimut hingga bahunya. Nara menelan salivanya kasar lagi.

Kamar siapa ini? Kenapa dia bisa berada di kamar ini? Apa dia ada gangguan sleepwalking? Atau apa? Nara mengibaskan tangan di dalam kepalanya. Menggelengkan kepalanya pelan. Ey ... Mana mungkin!

Nara menghentikan gerakan kepalanya. Lalu … bagaimana caranya dia bisa berada di dalam kamar yang pasti milik laki-laki itu? Nara menundukan kepalanya dalam-dalam. Meremas rambutnya dengan kedua tangan. Nara menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak ingat sama sekali apa yang terjadi setelah dia memejamkan mata di lobby tadi. Ya Tuhan … bagaimana ini?

Nara mengangkat kepalanya menatap pada pintu dari kayu bercat coklat yang tertutup di depannya lekat-lekat. Perlahan melepaskan kedua tangannya. Nara menyibakan selimut yang kini hanya menutupi dari pinggangnya ke bawah itu. Beranjak turun dari ranjang. Nara berjalan mengendap-endap menuju ke arah pintu dengan kaki telanjang.

Nara berdiri sangat dengan pintu. Bahkan nyaris menempel. Nara menautkan jemari kedua tangannya dan meletakkan di depan dada. Perlahan menempelkan telinga kanannya pada daun pintu. Nara mencoba menguping. Samar-samar terdengar suara pria dan wanita yang sedang ... bertengkar? Penasaran, Nara menajamkan indera pendengarannya. Meletakkan kedua telapak tangannya pada daun pintu. Nara sedikit membungkukkan punggungnya.

[”Siapa perempuan itu sebenarnya, Nu?”]

[”Siapa dia, itu bukan urusan kamu?”]

[”Wisnu!”]

Kening Nara mengerut dalam. Wisnu? Mas Wisnu? Tanya Nara dalam hati.

[”Kamu terlalu lancang, Sandra.”]

[”Dia siapa!”]

[”Keluar!”]

Nara berjengit kaget ketika mendengar suara bentakan keras, lalu disusul suara pintu yang dibanting keras. Reflek langsung menjauhkan telinga dan juga kedua telapak tangannya dari daun pintu. Nara melangkah mundur beberapa langkah memberi jarak dengan pintu. Please! Pemilik kamar ini jangan pria yang baru saja berteriak di luar sana. Nara menatap pintu di depannya dengan nanar sambil meremas-remas tangannya sendiri.

Cklek!

Tubuh Nara seketika menegang ketika melihat handle pintu bergerak. Nara semakin kuat meremas tangannya. Dia sedang dilanda cemas dengan level tinggi. Tubuh Nara langsung lemas melihat sosok Wisnu yang muncul ketika pintu sudah terbuka.

Menghela nafas lega, Nara berjalan pelan menghampiri laki-laki yang sedang memperhatikannya itu ”Ya Tuhan! Mas Wisnu ...”

Kedua alis Wisnu terangkat naik. ”Kamu kenapa, Naraya?” tanya Wisnu tidak mengerti.

Nara yang sudah berdiri di depan Wisnu, sedikit mendongakan kepalanya menatap laki-laki itu masih dengan raut terkejut. ”Saya kira siapa, Mas? Tadi saya sempat dengar ada yang berteriak. Saya kaget. Saya sedikit-- takut, Mas Wisnu.” adu Nara tanpa sadar karena sedikit panik.

”Hey ...” tegur Wisnu halus. Wisnu tersenyum lembut mencoba untuk memberikan Nara ketenangan. ”Kamu menguping, Naraya?” tanya Wisnu dengan nada mengejek.

Pupil mata Nara melebar. ”Eh! Tidak.” Nara langsung geleng-geleng kepala dengan cepat. ”Saya tidak sama sekali ada niatan menguping, Mas Wisnu. Saya hanya--” jeda Nara sambil menundukkan kepalanya.

”Hanya?” tanya Wisnu sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahannya.

Nara berdehem kecil. Perlahan mengangkat kepalanya, kembali menatap Wisnu. ”Bingung saja sedang berada di kamar milik siapa sekarang ini? Mas Wisnu tahu, tidak?”

Wisnu menunduk menatap kedua tangan Nara yang saling meremas. Menelusupkan tangan kanannya di antara kedua tangan wanita itu. Wisnu menggenggam tangan kiri Nara yang terasa dingin itu dengan erat. Bisa dia rasakan tubuh wanita cantik di depannya itu menegang akibat aksi tiba-tibanya. Wisnu langsung menuntun Nara duduk di sofa yang berada di sudut kamar sebelah kanan.

Nara hanya terdiam menatap Wisnu. Menunggu jawaban laki-laki itu atas pertanyaannya tadi.

Wisnu tersenyum kecil sambil mengusap-usap pelan punggung tangan Nara dengan ibu jarinya. ”Jangan takut, Naraya. Kamu ada di kamar saya.”

Kening Nara mengerut dalam. ”Kamar ... Mas Wisnu?” tanya Nara dengan raut bingung yang tidak dapat disembunyikan. Nara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar yang katanya milik Wisnu itu, dan berakhir pada wajah laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu. ”Ini-- kamar Mas Wisnu?”

Wisnu tersenyum lembut. Dan tak lupa menganggukan kepalanya juga.

Nara mengangguk. ”Kenapa saya ada di kamar Mas Wisnu?”

”Kamu ketiduran di lobby. Saya angkat kamu ke sini.”

”Hah?” Nara melongo tidak percaya.

Wisnu terkekeh geli.

”Mas Wisnu apa?”

”Saya gendong kamu, Naraya. Pakai gaya bridal.”

Kalimat yang Wisnu ucapkan seolah berubah menjadi soal matematika yang sulit untuk dipecahkan. Seperti bahasa alien yang tidak bisa dimengerti artinya. ”Hah?” Nara melongo tidak percaya. Lagi.

”Hah?” kata Wisnu mengikuti gaya bicara dan ekspresi Nara. Wisnu terkekeh pelan.

Nara mengatupkan bibirnya. Menatap Wisnu serius. ”Mas Wisnu. Jangan bercanda.”

Wisnu menggeleng pelan. ”Bahkan sedari awal saja, saya sudah sangat serius dengan kamu, Naraya.” ungkap Wisnu sambil menepuk punggung tangan Nara pelan dan menatap tepat di manik mata wanita itu.

Kening Nara mengerut dalam. Tidak tahu maksud dari kalimat yang Wisnu ucapkan. Entahlah … Nara menggeleng samar. ”Kapan kita pulangnya, Mas Wisnu? Kenapa Mas Wisnu tidak antar saya ke rumah saja. Rumah saya ada di sebelah rumah Mas Wisnu, kalau Mas Wisnu lupa.”

Dada Wisnu seketika saja menghangat ketika mendengar pertanyaan Nara, terutama pada kata KITA. Wisnu mengulang kata 'kita' dan 'pulang' dalam hatinya. Senyum manisnya seketika terbit.

Wisnu tak langsung menjawab. Menunduk menatap tautan tangannya dengan Nara sejenak. ”Kita belum pulang, Naraya.” jawab Wisnu sambil mendongak menatap dalam manik mata Nara. ”Kita masih ada di kantor saya.”

Nara membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ber-oh ria tanpa suara dengan kepala manggut-manggut membuat Wisnu tertawa kecil melihatnya.

Gerakan cepatnya berdiri membuat tautan tangannya dengan Wisnu langsung terlepas. Nara mengerjapkan matanya ketika melihat jarum pendek jam dinding kamar laki-laki itu berhenti di angka tiga. Sementara jarum panjangnya berhenti di angka satu. Jam tiga sore lebih lima menit.

”Ya ampun! Mas Wisnu.” pekik Nara keras sambil menunduk menatap Wisnu yang sedang mendongak menatapnya juga. ”Sudah jam tiga lebih. Mama pasti kecarian saya belum pulang. Bahkan tidak memberi kabar.”

Wisnu tersenyum kecil sambil menarik pelan tangan Nara hingga wanita itu kembali duduk di sampingnya lagi. ”Duduk, Naraya. Saya sudah telepon tante Dewi, kok tadi. Tenang, ya.”

Nara menghembuskan nafas lega. ”Begitu, ya?”

”Iya, Naraya.”

”Mas Wisnu ...”

”Apa--” Baby ... sambung Wisnu dalam hati. ”Naraya?”

”Saya kemari itu, kan ingin mengantarkan makan siangnya Mas Wisnu. Maaf ya, Mas. Saya malah ketiduran begini. Mas Wisnu sudah makan, atau belum?” tanya Nara dengan suara pelan sambil menatap Wisnu tidak enak.

Wisnu tersenyum kecil. ”Belum, Naraya. Tapi tidak apa-apa, kok. Tidak masalah. Kamu jangan tidak enak dengan saya begitu. Saya baik-baik saja.”

Nara langsung berdiri sambil menarik pergelangan tangan Wisnu sebelah kiri. ”Ayo! Mas Wisnu harus makan.”

Wisnu tak bergeming.

Nara menarik-narik pelan pergelangan tangan Wisnu. ”Mas Wisnu, ayo! Kok, malah diam saja. Ayo, Mas.”

Menepuk bagian sofa kosong di sampingnya meminta Nara duduk di sana. Wisnu berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah ranjang. ”Kita pulang saja ya, Naraya. Sudah sore juga.”

”Mas Wisnu sudah selesai kerjaannya memangnya?”

Wisnu mengangguk. ”Sudah.”

”Tapi, kan--”

”Hmm?” Wisnu melihat Nara dari balik bahunya sekilas. ”Kenapa, Naraya?”

”Mas Wisnu belum makan siang. Sekarang sudah sore.” ujar Nara sambil memperhatikan punggung Wisnu.

”Makan di rumah saja, boleh?” tanya Wisnu meminta persetujuan. Wisnu mengambil tas Nara di atas nakas di samping ranjang dan sedikit membungkuk meraih sepatu hak tinggi milik wanita itu yang tergeletak di atas lantai.

Nara tertawa kecil. ”Ya, boleh dong, Mas.”

Wisnu mengangguk dan berbalik menghampiri Nara yang sedang menatapnya. ”Kalau begitu, saya boleh minta tolong, Naraya?” tanya Wisnu ketika sudah berdiri di depan Nara. Meletakan tas Nara di samping kanan wanita itu.

Kening Nara mengerut samar. Perlahan mendongakan kepalanya menatap Wisnu. ”Minta tolong apa, Mas Wisnu? Kalau saya bisa, pasti saya tolong.” Nara menurunkan kepalanya mengikuti pergerakan Wisnu yang duduk berjongkok.

”Kamu panaskan makanan yang kamu bawa tadi di rumah saya saja.” Wisnu mengangkat kaki kanan Nara.

”Eh!” Nara reflek menarik kakinya.

Wisnu sedikit mendongak menatap Nara yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling terdiam beradu pandang.

Nara berdehem pelan untuk menutupi salah tingkahnya. Wajahnya sudah berubah menjadi merah. Nara meletakkan telapak kaki kanannya di atas punggung kaki kirinya. Jemari kakinya mengkerut. Nara merapatkan kedua kakinya ke sofa.

Wisnu menunduk menatap kedua kaki Nara, lalu terkekeh geli. Perlahan kembali menarik kaki kanan Nara.

”Mas Wisnu!” protes Nara dengan suara rendah.

”Tahan sebentar, Naraya.” Wisnu dengan cekatan memakaikan sepatu di kedua kaki Nara.

”Saya bisa pakai sendiri, lho.”

”Saya tahu, Naraya. Nah. Selesai.” Wisnu menatap hasil kerjanya sebentar, lalu beranjak berdiri. Wisnu menatap Nara dan mengulurkan kedua tangannya.

Nara menatap ke arah tangan dan wajah Wisnu secara bergantian. Dan dengan ragu-ragu mengulurkan kedua tangannya menerima uluran tangan tetangga yang baru dikenalnya itu.

Wisnu tersenyum lebar. Menggenggam tangan Nara dan pelan-pelan menariknya hingga wanita itu berdiri.

”Mas Wisnu serius sudah bisa pulang? Belum jamnya pulang kantor lho ini, Mas.” tanya Nara mencoba memastikan sambil menarik kedua tangannya. Nara mengambil tasnya dan menyampirkan di bahu sebelah kiri.

”Saya bebas pulang jam berapa saja, Naraya.” Wisnu berjalan mendahului Nara. Membuka pintu dan mempersilahkan Nara keluar dari kamarnya terlebih dulu.

”Bisa begitu ya, Mas Wisnu?” tanya Nara ketika sudah berdiri di luar kamar yang ternyata terhubung langsung dengan ruang kerja Wisnu.

Wisnu terkekeh pelan sambil mengulurkan tangan kanannya menyentuh punggung Nara. Menggiring wanita itu keluar dari ruang kerjanya.

”Tentu bisa dong, Naraya. Saya yang punya kantor ini.”

Nara tertawa kecil menoleh menatap Wisnu geli. ”Jadi kalau yang punya kantor itu, bisa semau-maunya pulang, begitu ya, Mas Wisnu?”

Wisnu sejenak terpaku mendengar suara tawa Nara. ”Saya lapar, Naraya. Butuh asupan.”

”Tidak nyambung, Mas, ih!” gemas Nara. ”Lagian Mas Wisnu, kan bisa makan di sini.”

Wisnu tergelak. ”For your information. Saya tidak suka makan makanan yang sudah dingin. Bagus yang masih panas, hangat tidak masalah. Saya masih oke.”

Nara ber-oh ria. ”Eh. Kotak makan yang saya bawa tadi dimana, Mas Wisnu?”

Wisnu membuka pintu di depannya. ”Saya titipkan pada Stela.”

Nara mengangguk paham. Pandangannya tidak sengaja bertemu dengan mata milik wanita yang mungkin saja sekretaris dari Wisnu. Nara mengerutkan keningnya heran ketika bisa menangkap tatapan sinis dari wanita itu.

-s e c o n d l o v e-

”Kamu kenapa, Naraya?” tanya Wisnu langsung ketika sudah berada di dalam lift. Wisnu tidak nyaman dengan Nara yang terlihat sedang termenung.

”Hmm?” gumam Nara sambil mengangkat wajahnya menatap Wisnu.

”Kamu kenapa, Naraya? Kok, jadi diam begitu.” tanya Wisnu halus sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Nara dan menarik wanita itu hingga berdiri di sampingnya. Tak menghiraukan raut terkejut di wajah cantik Nara akibat aksinya. ”Hm?”

”Saya ingin memastikan sesuatu, Mas Wisnu janji tidak akan tersinggung.”

Wisnu hanya mengangguk.

Ting!

Lift berdenting. Nara dan Wisnu, keduanya berpaling pada pintu kotak besi bergerak itu hampir secara bersamaan. Wisnu merangkul pinggang Nara, menggiring wanita itu keluar dari lift. Sementara Nara hanya menurut.

”Saya butuh jawaban. Janji tidak, Mas.”

Wisnu tergelak dan berhasil mengundang perhatian dari seluruh penghuni lobby. Bahkan Stela senyum-senyum sendiri. di meja gadis itu. ”Saya janji, Naraya.”

Nara memberengut. ”Mas Wisnu, serius. Jangan tertawa.”

”Oke.” Wisnu menatap Nara dalam. ”Saya janji, Naraya.” kata Wisnu kali ini dengan suara berat yang berhasil membuat Nara salah tingkah.

”Kenapa senyum-senyum?” tanya Wisnu pada Stela yang kini sudah berdiri di balik meja resepsionis membuat Nara yang sedang bernafas lega ikut memperhatikan gadis itu.

Stela langsung menipiskan bibirnya dan menggeleng pelan.

”Titipan saya?”

Stela langsung mengambil dan menyerahkan kotak bekal yang ada di bawah mejanya. ”Ini, Pak.”

Wisnu hanya mengangguk. Langsung meraih dan menggenggam tangan Nara.

”Makasih ya, Stela.” ucap Nara sebelum ditarik oleh Wisnu.

Sesampainya di depan mobilnya, Wisnu meletakkan kotak bekal di jok belakang, lalu membukakan pintu jok penumpang di samping jok pengemudi untuk Nara dan meletakkan telapak tangan besarnya di atas kepala wanita itu agar tidak terbentur atap pintu ketika memasuki mobilnya.

Setelah memastikan Nara sudah duduk dengan nyaman di dalam mobilnya dan aman dengan seat belt sudah melingkar di dada, Wisnu menutup pintu di samping wanita itu pelan. Langsung berlari memutari mobilnya dan duduk dibalik kemudi. Wisnu menjalankan mobil mahalnya keluar dari area kantor menuju rumahnya.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel