Pustaka
Bahasa Indonesia

SECOND LOVE

172.0K · Tamat
D E W A
84
Bab
40.0K
View
7.0
Rating

Ringkasan

Harus menerima status barunya sebagai janda. Harus merelakan pria yang telah menikahinya selama lima tahun untuk wanita lain. Harus berdamai dengan dirinya sendiri atas sesuatu yang bukan kuasanya. Karaissa Naraya Maheswari : I have loved you for many years. Maybe, I am just not enough. --- Harus menerima wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama berstatus istri dari pria lain. Harus merelakan perasaannya pada wanita itu tidak tersampaikan. Harus berdamai atas kenyataan yang sudah menjadi takdir. Wisnu Bayanaka Rahagi : Yeah! I am crazy. Aku berani mencintainya. Mencintai wanitamu. --- Cover : Pinterest

RomansaPresdirIstriPerselingkuhanPerceraianCinta Pada Pandangan PertamaPengkhianatanKeluargaPernikahanSweet

SL | 01

Di sana, tampak seorang wanita cantik yang hanya duduk terdiam menatap nanar pada meja panjang yang berada di depannya. Sementara seorang pria yang merupakan suami dari wanita cantik itu duduk tidak jauh di kursi yang berada di samping wanita cantik itu.

Pikiran wanita cantik itu menerawang jauh pada sebuah peristiwa yang terjadi satu bulan lalu, yang membuat wanita cantik itu harus menduduki kursi di salah satu ruang sidang pengadilan agama. Wanita cantik itu langsung memejamkan kedua mata ketika tiba-tiba saja merasakan denyut nyeri di dada.

(Flashback On)

”Maaf sayang, Mas khilaf.”

Yang diajak berbicara hanya bungkam menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Seolah tak memiliki nyawa. Perasaannya campur aduk. Marah, kecewa, sakit, sedih, tidak percaya semua menjadi satu.

”Sayang, jangan diam saja. Hm?” ucap pria yang sedang duduk bersimpuh menggenggam erat-erat tangan wanita yang merupakan istrinya itu.

Wanita itu perlahan menurunkan tatapannya pada pria yang menjadi surganya dengan sorot kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

”Maaf.” lirih pria itu sambil menundukan kepalanya dalam-dalam.

”Mas ingin aku bicara apa?”

Pria itu mengangkat kepalanya. ”Apapun sayang. Bentak Mas. Atau kalau perlu, kamu pukul saja Mas.”

Wanita itu menghela nafas pelan. ”Mas-- bahagia?”

Pria itu langsung terdiam. Menundukan kepala semakin dalam. Dia tentu saja bahagia karena akan segera memiliki keturunan yang sudah sampai lima tahun usia pernikahannya bersama istrinya belum juga mereka dapatkan.

Wanita itu tersenyum hambar. Tangan kanannya terulur mengelus rambut hitam suaminya yang sedikit acak-acakan. ”Aku-- bukan sumber kebahagiaan Mas lagi, ya? Tidak apa-apa, Mas. Biarlah aku yang mundur.”

”Aku-- menyerah. Aku kalah bukan karena mengalah dan tidak bisa menang, tapi Mas yang sudah menjadikan aku kalah. Aku mungkin belum bisa ikhlas untuk sekarang ini. Tapi, aku janji akan berusaha mengikhlaskan semuanya, Mas. Supaya aku dan Mas sama-sama bisa bahagia dengan kehidupan kita masing-masing kelak.”

”Sayang? Apa maksud ucapan kamu?”

Wanita itu tak menjawab. Mengangkat pandangannya menatap pada kekasih suaminya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sinis dan senyum mengejek. Wanita itu mengernyitkan keningnya merasa aneh.

Wanita itu tersenyum tipis. ”Ceraikan aku, Mas.”

Sontak pria itu mengangkat kepala, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. ”Tidak-tidak! Sayang, please. Mas tidak mau. Mas tidak bisa. Mas cinta kamu, sangat cinta kamu. Jangan, ya. Kita jangan bercerai ya, sayang.”

”Ekhem!”

Wanita itu melirik sekilas pada kekasih suaminya yang baru saja berdehem dengan keras seolah memberikan peringatan pada suaminya. ”Cinta, ya?” kata wanita itu bertanya-tanya sambil tersenyum getir. ”Aku tidak tahu cinta yang mana yang sedang Mas bicarakan di sini, sekarang ini.”

”Mas tahu, kesalahan Mas sangat besar sayang. Tapi, sungguh. Mas tidak ingin, tidak bisa bercerai dengan kamu. Tolong, sayang. Bagaimana dengan Mas kalau tidak ada kamu nanti, sayang.”

”Mas.”

Pria itu tak menghiraukan suara desisan dari kekasihnya. ”Jangan bercerai ya, sayang.” pinta pria itu sambil menatap istrinya dengan raut wajah memelas serta sorot memohon di kedua matanya.

”Mas--” wanita itu dengan sengaja menjeda ucapannya. Menelan salivanya susah payah. Sakit. Seperti ada bongkahan batu besar di dalam tenggorokannya. ”Aku tidak ingin menempatkan Mas dalam situasi yang sulit. Dengan meminta Mas untuk memilih di antara aku atau dia. Aku juga yakin, Mas sudah tahu sampai dimana batas toleransi aku bisa menerima kesalahan.”

Pria itu menggeleng lemah. ”Sayang ... maafkan, Mas. Please.” rengek pria itu yang semakin panik karena kalimat panjang yang diucapkan oleh istrinya. ”Please.”

”Ck!”

”Mas, kita berdua sudah pernah membicarakan soal hal ini sebelum kita menikah? Aku itu, bisa memaafkan semua kesalahan. Kecuali dua hal. Kekerasan dan perselingkuhan. Mas sudah melakukan salah satu di antara keduanya.”

”Mas khilaf, sayang.”

Wanita itu menghela nafas lelah. ”Khilaf, ya?” wanita itu menggelengkan kepalanya. ”Jangan dijadikan pembenaran dan pembelaan atas kesalahan yang Mas perbuat. Apa perceraian tidak sama sekali terlintas dalam pikiran Mas ketika berbuat itu? Tidak semua kesalahan layak untuk diberikan kesempatan kedua. Untuk apa Mas masih mempertahankan aku. Sementara yang aku lihat sekarang ini, Mas bisa bahagia walau tanpa aku.”

Pria itu lagi-lagi terdiam. Lidahnya mendadak menjadi kelu.

”Aku sudah pernah mengatakan, lebih baik Mas bicara di awal. Sulit memang. Tapi rasanya itu jauh lebih adil untuk aku, Mas, dan juga dia. Aku tidak akan mengecap perbuatan Mas itu buruk. Tapi, hanya sebuah kesalahan. Aku--” wanita itu menggeleng lemah. ”Tidak akan menagih janji dan sumpah yang pernah Mas ucapkan di hari pernikahan kita. Percuma saja. Aku ingin, ini menjadi pengingat untuk Mas, kelak ketika Mas mengucap janji dan sumpah lagi. Sumpah ketika menikah itu, bukan untuk main-main, Mas. Mas bersumpah dengan menyebut nama Allah.”

”Sayang--”

”Aku rela menjadi madu, Mbak.”

Wanita itu langsung saja mengangkat wajahnya menatap pada kekasih dari suaminya. Tak lama wanita itu terkekeh pelan. Geli mendengar ucapan yang dilontarkan kekasih dari suaminya itu. Wanita macam apa yang bisa bicara secara terang-terangan bersedia menjadi madu?

”Untuk berapa lama? Satu tahun? Atau dua tahun? Saya itu wanita egois, yang hanya ingin dijadikan satu-satunya bukan yang pertama. Saya juga wanita serakah, yang hanya ingin memiliki suami secara utuh untuk saya seorang diri.”

”Tapi Mbak, ak--”

”Maaf. Saya bukan Anda yang bisa dengan rela dan ikhlas menjadi simpanan lalu berubah menjadi madu. Poligami itu memang diperbolehkan. Surga yang jadi jaminannya. Tapi poligami yang benar dilakukan setelah suami meminta izin dan restu pada istri pertama lebih dulu, bukan setelah selingkuh dan ketika selingkuhannya hamil baru meminta izin dan restu. Tidak begitu aturan mainnya.”

”Ya ampun, Mbak.”

”Ya ampun?” wanita itu terkekeh sinis. ”Saya hanya wanita biasa. Bukan malaikat yang dengan mudah bisa menerima dan memaafkan orang-orang yang dengan sengaja menyakiti hati dan menghancurkan hidup saya. Apalagi harus berbagi suami dengan Anda.”

”Sayang?”

Wanita itu menurunkan pandangannya. ”Kita cerai, Mas. Mungkin sekarang, kekasih Mas itu bisa bicara rela jadi madu aku dengan mudah. Tapi, aku yakin, di tengah-tengah jalan dia akan menarik kembali ucapannya itu.”

”Aku juga masih tahu diri, Mbak.”

Wanita itu kembali terkekeh sinis. ”Tahu diri, ya?” tanya wanita itu lebih kepada dirinya sendiri. ”Anda jangan terlalu percaya diri. Tahu diri seperti apa yang Anda maksud di sini?”

”Sayang, Mas yang jamin.”

”Aku-- sama sekali tidak butuh jaminan, Mas. Aku tidak ingin dimadu. Apa Mas tidak bisa menyimpulkan semua ucapan aku? Menurut Mas, apa tujuan dia mau menjadi simpanan Mas? Hamil anak dari suami wanita lain. Jangan terlalu naif lah, Mas.”

”Dia bukan wanita yang seperti itu, sayang. Sejauh Mas mengenal dia, dia adalah wanita yang baik.”

Nafas wanita itu tercekat. Dadanya sesak mendengar kalimat bernada pembelaan yang keluar dari mulut suaminya itu, lalu tertawa kecil. ”Wanita baik tidak akan menjadi duri dalam pernikahan wanita lain.” gumam wanita itu dalam hati sambil menatap suaminya dalam.

”Syukur kalau begitu. Mas tidak salah dalam memilih lagi. Dia pasti akan menjadi istri yang sempurna untuk Mas. Cantik, baik hati dan yang menjadi bagian terpentingnya adalah dia tidak mandul seperti aku. Bagaimana Mas tidak bahagia ya, Mas?”

”Sayang, kamu tidak mandul. Please, bukan begitu--”

”Tapi Mas baru saja menegaskan kalau aku mandul dengan cara yang paling menyakitkan. Mas menempuh jalan menghamili wanita lain untuk mendapatkan anak. Kalian berdua, silahkan menikah. Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dari aku untuk hari anniversary pernikahan kita, Mas.” wanita itu beranjak berdiri dari duduknya. Menatap suami dan kekasih suaminya itu secara bergantian.

”Bersabarlah sampai tiba saatnya Anda menjadi nyonya di rumah ini. Permisi.”

(Flashback Off)

”Selamat pagi.”

Suara keras hakim ketua menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Langsung menegakkan punggungnya yang sedang bersandar pada sandaran kursi. Sidang baru saja akan dimulai tapi sudah merasa lelah.

”Sudah siap untuk menjalani persidangan hari ini, Ibu Karaissa Naraya Maheswari?”

Nara, biasa wanita itu dipanggil hanya menganggukan kepalanya singkat.

”Bagaimana Bapak Adhitya Mahendra, sudah siap?”

Adhit perlahan memutar kepalanya ke samping dan menatap Nara. Berharap jika istrinya itu juga sedang menatapnya. Tetapi tidak. Nara tampak tenang, menatap lurus ke arah depan. Adhit menghela nafas berat, lalu kembali memutar kepalanya ke depan dan dengan berat hati mengangguk.

”Baik. Jadi, untuk masalah harta gono-gini, bagaimana?”

”Saya--”

”Saya tidak akan menuntut.” potong Nara cepat.

Adhit seketika menoleh menatap Nara. ”Sayang?!” protes Adhit keras.

Nara hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa melihat Adhit.

”Apa Ibu Karaissa, yakin?”

Nara mengangguk mantap kali ini. ”Saya bisa menghidupi diri saya sendiri. Tidak ada anak yang perlu dinafkahi. Tujuan saya menikah bukan untuk berakhir dengan perceraian, lalu mendapatkan harta gono gini.”

Adhit menatap Nara dengan sorot penuh penyesalan.

”Hanya ini yang tersisa dari diri saya, satu-satunya hal yang harus saya lakukan untuk mempertahankan harga diri saya dihadapan semua orang yang mungkin akan mengasihani saya.”

Setelah selesai menjalankan seluruh tahapan-tahapan perceraian. Dengan pembacaan putusan majelis hakim dalam amar putusan sebagai bentuk akhir. Nara dan Adhit, sah bercerai. Mereka berdua bukan lagi suami istri melainkan mantan suami istri.

”Pengadilan Agama akan menetapkan hari sidang ikrar talak untuk memanggil Ibu Nara dan Bapak Adhit agar menghadiri sidang ikrar talak. Sidang untuk hari saya nyatakan selesai. Sidang saya tutup.”

TOK! TOK! TOK!

Berakhir sudah. Pernikahannya hanya bisa bertahan sampai di usia lima tahun. Nara mendongakan kepala mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Menghembuskan nafas panjang untuk menahan nyeri di dadanya.

-s e c o n d l o v e-

Ruang sidang yang sudah kosong sejak beberapa menit yang lalu. Tak membuat Nara dan Adhit beranjak meninggalkan ruangan itu. Semuanya masih terasa berat.

Nara berdehem kecil untuk melegakan tenggorokannya. ”Terima kasih untuk semuanya, Kak Adhit.” suara lirih Nara memecah keheningan. ”Untuk lima tahun pernikahan yang sudah kita jalani bersama-sama.”

Adhit langsung menoleh. ”Kak?” Adhit menatap Nara tidak percaya.

”Sudah lama sekali, rasanya. Lidah saya kaku sewaktu mengucapkannya.” Nara tersenyum kecil. ”Maaf, saya tidak bisa jadi istri yang baik, istri yang sempurna untuk Kak Adhit.”

”Sayang?”

Nara terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan. ”Kak Adhit salah sebut. Saya Nara, Kak. Saya mantan istri Kak Adhit sekarang.”

Tanpa Adhit sadari, air mata sudah mengalir di pipinya. Sungguh! Adhit sangat mencintai Nara. Naranya.

Nara beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Adhit. Tersenyum tipis ketika tatapannya bertemu dengan mata mantan suamianya itu. Nara mengulurkan tangannya menangkup kedua pipi Adhit sambil sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Adhit. Nara menghapus air mata mantan suaminya itu dengan ibu jari.

Nara tersenyum lembut. ”Semuanya sudah selesai. Tidak ada yang perlu Kakak tangisi lagi, hm?”

Adhit memejamkan kedua matanya. Meresapi usapan halus tangan Nara yang akan menjadi terakhir kali.

Nara menghapus air mata Adhit yang kembali mengalir. ”Sttt ... sudah ya, Kak. Sudah tidak apa-apa. Semuanya akan kembali baik-baik saja.”

Adhit menggeleng lemah. ”Maaf, maaf, maaf.” Adhit membuka kedua matanya yang sudah berubah menjadi merah.

Nara tersenyum manis. ”Selamat atas pernikahan juga kehadiran calon anak Kak Adhit. Jaga mereka dengan baik dan kakak harus selalu bahagia. Jangan sia-siakan pengorbanan saya.”

Adhit menggenggam kedua tangan Nara dan mengecup telapak tangan mantan istrinya itu lembut. Penyesalan terbesar di dalam hidupnya adalah melepaskan Nara. Naranya bukan lagi Naranya sekarang.

Nara menarik kedua tangannya. Perlahan menegakkan posisi berdirinya. Tatapannya kini beralih pada wanita dengan perut buncit yang berdiri di belakang Adhit. Wanita itu-- Mutiara Salsabila. Bolehkah dia menjadi kasar untuk sebentar saja? Menyebut Mutiara sebagai pelakor?

Nara menggeleng samar. Melirik ke arah Galuh Widyanata, mantan ibu mertuanya yang sedang menangis dalam pelukan Hafez Mahendra, mantan ayah mertuanya. Nara berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sudah begitu baik padanya itu.

”Mama ...” panggil Nara lembut yang langsung dibalas wanita itu dengan pelukan erat. Nara tersenyum kecil. ”Mama sudah, jangan menangis terus, dong. Nara, kan tidak lagi sakit.”

Galuh menggeleng pelan.

Nara melepaskan pelukan Galuh, lalu menghapus air mata di pipi mantan ibu mertuanya itu. ”Aduh! Make-up mama jadi luntur begini, kan? Jadi tidak cetar lagi, ini.”

Nara tertawa kecil ketika Galuh memukul lengannya pelan. Kembali merengkuh Galuh ke dalam pelukannya. ”Nara-- minta maaf ya, Ma. Nara-- tidak bisa menjadi menantu yang baik. Tidak bisa membahagiakan mama dan papa.”

Tangis Galuh semakin kencang. Galuh menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan kalimat yang diucapkan Nara.

”Bukan. Bukan Nara yang seharusnya minta maaf di sini. Tetapi, kami Nara. Anak kami sudah menyakiti hati Nara dengan sangat. Kami-- gagal menjadi orang tua Adhit.”

Nara langsung mengangkat wajahnya menatap pada Hafez. ”No, Pa!” Nara menggeleng tegas. ”Papa, jangan bicara begitu. Dari dulu sampai detik ini, di mata Nara, Papa dan Mama adalah orang tua yang hebat.”

Hafez menatap Nara sendu. Bibirnya memaksakan seulas senyum.

Nara melepaskan pelukannya. ”Nara pamit Ma, Pa.” Nara meraih dan mencium punggung tangan Galuh dan Hafez secara bergantian.

”Nara ...”

”Sttt ...” Nara menghapus air mata Galuh yang kembali mengalir. ”Nara tidak akan pergi kemana-mana. Mama masih bisa bertemu Nara. Kapanpun dan selama apapun yang Mama inginkan. Jangan menangis lagi. Nanti Nara sedih.”

Galuh mengangguk pelan.

Nara tersenyum kecil. Langsung berbalik badan menghadap pada Adhit yang sudah berdiri di samping Hafez. Nara perlahan melepaskan cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

”Saya-- kembalikan.” Nara meraih tangan Adhit dan meletakkan cincin pernikahannya dengan Adhit yang selama lima tahun tak pernah lepas dari jari manisnya di atas telapak tangan mantan suaminya itu. ”Saya pamit.” Nara melirik Mutiara sekilas.

”Nara ...” lirih Adhit parau. Matanya tak lepas menatap punggung yang menjadi rapuh akibat ulahnya hingga hilang di balik pintu.

Nara mendongakan kepalanya menatap langit biru. Kedua matanya menyipit karena tengah menantang teriknya matahari siang hari itu. Nara terus melangkahkan kakinya menjauh, meninggalkan semua yang ada di belakangnya.

Tbc.