SL | 10
Ting … tong …
Nara dan Dewi yang sedang berkutat di dapur langsung saling melemparkan pandangan ketika mendengar suara nyaring bel menggema di seluruh sudut rumah mereka. Kening Dewi mengerut samar. Sementara kedua alis Nara terangkat naik.
”Biar Mbak saja yang buka pintunya, Ma.” kata Nara. Buru-buru mencuci kedua tangannya di wastafel, lalu mengeringkannya dengan lap yang menggantung di kapstok yang ada di bawah wastafel.
”Tolong ya, Mbak.”
Nara tersenyum lembut dan mengusap lengan Dewi pelan. ”Sebentar ya, Ma.”
Dewi hanya menganggukan kepalanya.
Ting … tong …
Valan yang baru saja menapakan kakinya di anak tangga terakhir langsung menoleh ke arah pintu utama rumahnya berada. Sementara Ardian yang sudah duduk di kursi ujung meja makan yang bisa ditempatinya sebagai kepala keluarga langsung melipat koran yang sedang dia baca dan meletakkannya di atas meja.
”Biar Mbak yang buka pintunya, Pa.” tahan Nara langsung ketika melihat Ardian yang sudah akan beranjak berdiri.
Ardian tersenyum lembut. Dan tak lupa menganggukan kepalanya juga.
”Papa, lanjutkan lagi ngopi gantengnya.”
”Dasar!” cibir Ardian.
Nara terkekeh pelan sambil berlalu dari ruang makan yang menyambung dengan dapur meninggalkan Ardian yang sedang geleng-geleng kepala.
Ting … tong …
”Iya!”
Valan langsung berpaling ketika mendengar suara yang sudah sangat familiar di telinganya dan diiringi dengan derap langkah kaki mendekat.
Nara langsung menghentikan langkah kakinya ketika tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata milik Valan, lalu geleng-geleng kepala. ”Ya ampun, Dik! Ada tamu, kenapa tidak dibukakan pintunya. Adik, kan yang lebih dekat dengan pintu, lho.”
Ting … tong …
Nara menoleh ke arah pintu utama rumahnya. ”Iya, sebentar!” teriak Nara sedikit keras. Nara mendengus. Kakinya sudah akan kembali melangkah, namun ucapan yang keluar dari mulut Valan menghentikannya lebih dulu.
”Biar adik saja, Mbak.”
Nara mengangguk. ”Iya sudah, sana.” kata Nara sambil berbalik badan dan berjalan kembali menuju ke dapur.
”Loh, kok Mbak Nara balik lagi?” tanya Ardian yang melihat Nara dari balik korannya.
”Adik yang buka pintunya, Pa.”
Ardian hanya mengangguk tanda paham dan melanjutkan lagi kegiatan membacanya, Sementara Nara kembali melanjutkan jalannya yang sempat terhenti.
-s e c o n d l o v e-
Ting … tong …
”Pada kemana, sih semua orang yang punya rumah. Lama sekali membuka pintunya!” dumel Wisnu yang sudah tidak sabaran. Sudah lelah menunggu pintu di depannya terbuka.
Wisnu menghela nafas kasar. Melirik Limited Edition Tag Heuer Carrera Chronograph Gold Jack Heuer's Birthday yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sepuluh menit sudah dia menunggu. Wisnu memutar badannya hingga membelakangi pintu.
Cklek!
Senyum lebarnya seketika terbit. Wisnu dengan gerakan cepat langsung memutar tubuhnya kembali menghadap pada pintu. Senyum di bibirnya langsung hilang. Bayangan senyum manis Nara buyar.
Valan geleng-geleng kepala melihat perubahan mood Wisnu yang begitu kentara ketika melihatnya. ”Ekspektasi tidak sesuai realita, heh?” sindir Valan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada bingkai pintu. ”Apa harus aku jadikan motto hidup kalimat yang aku sebutkan tadi itu, Mas?”
”Ck!” decak Wisnu keras.
Valan menghela nafas samar ketika melihat raut wajah Wisnu berubah menjadi tidak bersahabat sambil menegakan posisi berdirinya. Bergeser sedikit ke samping memberi jalan untuk Wisnu bisa masuk ke dalam rumahnya.
”Silahkan masuk tamu tidak diundang.” sindir Valan halus sambil membungkuk dengan tangan kiri diletakkan di atas perut dan tangan kanannya diayunkan. Seolah sedang mempersilahkan seorang raja atau pangeran.
”Dari tadi, lho.” sewot Wisnu sambil membuka kedua sepatu mahalnya. Lalu masuk ke dalam rumah dan memakai slipper yang disiapkan khusus untuk tamu yang datang berkunjung di sebuah rak terpisah.
Wisnu menahan langkahnya. Berbicara mengenai slipper, sepertinya dia harus membelikan satu untuk Narayanya. Terakhir Naraya ke rumah, wanita itu mondar mandir dengan bertelanjang kaki. Akan dia tanyakan pada Stela atau Mauro nanti, sesampainya di kantor.
Valan memutar kedua bola matanya malas sambil kembali menutup pintu. ”Mana tahu Mas Wisnu yang datang, sih.” dumel Valan sambil berjalan cepat agar bisa memimpin jalan Wisnu.
”Pa, Ma, Mbak Nara, ada Mas Wisnu, nih.” info Valan ketika memasuki ruang makan sambil melirik ke arah belakangnya sekilas.
Nara, Dewi dan Ardian langsung menghentikan kegiatan mereka masing-masing. Senyum ramah di bibir ketiganya terbit ketika melihat Wisnu yang juga sedang tersenyum.
”Selamat pagi, Om, Tante, Nara-ya?” sapa Wisnu dengan nada heran dan kening mengerut dalam ketika menyebutkan nama Naraya. Tatapannya tertuju ke arah atas kepala wanita itu.
Nara langsung melirik ke atas. Sementara Dewi, Ardian dan Valan langsung mengalihkan pandangan mereka mengikuti arah tatapan Wisnu.
”Ya ampun!” pekik Nara kaget. Nara benar-benar tidak sadar kalau masih dalam keadaan dimana rambut basahnya masih terbungkus handuk. Langsung meletakkan piring yang ada di tangan kanannya di atas meja.
Nara buru-buru berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya. Dia harus menyelamatkan wajahnya yang sudah berubah merah padam. Akan ditaruh dimana mukanya jika bertemu lagi dengan Wisnu. Ya Tuhan! Kepalanya mendadak pening. Nara berjalan sambil memijat pelan kedua pelipisnya dengan tangan kanan.
Nara terus berjalan tak menghiraukan suara tawa dari kedua orangtuanya, adiknya dan juga tetangganya itu. Bahkan Nara masih sempat mendengar papanya membalas sapaan Wisnu dan mempersilahkan laki-laki itu duduk dan ikut sarapan.
-s e c o n d l o v e-
Menyesuaikan busananya, Nara menyanggul rambutnya menyerupai gaya subal sabit alias gelungan rambut tinggi. Meski gaya up-do sanggul identik dengan tampilan formal, Nara tetap terlihat sedikit kasual karena dia membiarkan sedikit helaian rambut keluar dari sanggulnya dan tetap membiarkan poninya apa adanya.
Nara meletakkan sisir di atas meja riasnya. Menghembuskan nafas panjang. Nara menatap lurus-lurus pantulan dirinya di dalam cermin. Nara yang ada di dalam cermin adalah Nara seorang wanita karir, bukan lagi Nara seorang istri dan ibu rumah tangga.
Nara memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil meremas dadanya sebelah kiri yang kembali terasa sesak. Menarik hembuskan nafasnya, Nara berusaha mengontrol emosinya yang bergejolak. Stop Nara!
Nara dengan gerakan cepat membuka kedua matanya ketika mendengar suara teriakan hati kecilnya. Perlahan menurunkan tangannya dan kembali menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Sudah waktunya untuk meninggalkan dan melepaskan semuanya yang sudah terjadi dan berakhir menjadi masa lalu? Kamu harus membuka lembaran dan menulis cerita baru. Jangan pernah menyesali yang sudah terjadi.
Nara mengangguk mantap. Beranjak berdiri dari duduknya sambil meraih Lady Dior My ABCDior in blacknya. Nara berjalan keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan, sebelum Valan meneriakinya.
”Uhuk … uhuk ...” Wisnu tersedak salivanya sendiri hingga terbatuk-batuk ketika melihat melihat penampilan Nara. Langsung meneguk air putih dalam gelas yang disodorkan oleh Valan hingga tandas.
Nara duduk di kursi kosong di samping Dewi. Menatap heran pada Dewi, Ardian dan Valan yang seperti sedang menahan tawa secara bergantian. Nara beralih menatap pada Wisnu, keningnya mengerut samar ketika melihat wajah laki-laki yang duduk di hadapannya itu berwarna merah padam.
”Mas Wisnu baik-baik saja?”
Nara langsung berpaling ketika suara kekehan Dewi, Ardian dan Valan terdengar nyaris bersamaan di telinganya.
”Ada apa?” tanya Nara tidak mengerti.
Wisnu berdehem pelan untuk membesihkan tenggorokannya. ”Tidak ada apa-apa, Naraya. Dan saya, baik-baik saja.”
Nara melirik Wisnu sekilas. Merasa tidak yakin dengan jawaban laki-laki itu, Nara menatap Dewi dengan sorot seolah bertanya betul.
Dewi hanya mengangguk. ”Sudah. Ayo, kita sarapan.” Dewi mengambilkan nasi goreng untuk Ardian dan Valan lebih dulu, lalu untuk dirinya sendiri. ”Nak Wisnu diambilkan sarapannya dong, Mbak.”
Gerakan tangan Nara yang sedang menuangkan susu ke dalam mangkuk serealnya seketika terhenti.
Wisnu menoleh ke arah Dewi. ”Tidak apa-apa, Tante. Saya bisa ambil sendi--”
Dewi menggeleng dengan tegas, lalu kembali menoleh ke arah Nara. ”Mbak.” tegur Dewi dengan suara dalam.
Nara menoleh pada Dewi yang sedang mengedikkan dagu.
Perlahan meletakkan kardus susu di atas meja. Nara mengambil piring di depan Wisnu dan mengisinya dengan nasi goreng.
Nara tersenyum manis. ”Silahkan, Mas Wisnu.” kata Nara sambil meletakkan kembali piring di depan Wisnu. ”Kalau kurang Mas Wisnu bisa tambah lagi, jangan sungkan.”
Wisnu menatap Nara lembut sambil tersenyum simpul. ”Sudah cukup. Terima kasih, Naraya.” jawab Wisnu sambil mengangkat sendok dan garpunya.
Nara mengangguk kecil. ”Mas Wisnu mau kerupuk?”
Wisnu mengangkat wajahnya dari piring, menatap Nara. Lalu mengangguk pelan. ”Boleh.”
Nara langsung berdiri. Meraih dan menarik toples kerupuk hingga tepi meja. ”Tapi adanya kerupuk udang. Mas Wisnu tidak alergi dengan udang bukan?” tanya Nara sambil menarik lepas tutup toples stainless kaca, bentuk dari modifikasi kaleng kerupuk zaman dulu yang identik dengan warna biru.
Wisnu mengangguk pelan. ”Saya hanya alergi dengan kerang.”
Nara mengangguk sambil meletakkan kerupuk di pinggir piring Wisnu. ”Akan saya ingat baik-baik.” kata Nara entah sadar atau tidak, tapi yang jelas sanggup membuat dada Wisnu mengembang.
Keduanya tidak sadar jika masih ada tiga orang lainnya yang ada di meja makan. Tiga orang yang kini sedang memperhatikan interaksi mereka berdua dengan respon yang berbeda. Dewi tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca, Ardian hanya tersenyum tipis, dan Valan yang memutar kedua bola matanya malas.
”Silahkan dimakan, Mas.” kata Nara sambil kembali duduk di kursinya.
”Kamu hanya sarapan sereal?”
Nara menunduk menatap ke arah mangkuknya sejenak, lalu beralih menatap Wisnu. ”Saya tidak bisa makan berat kalau pagi, Mas.”
Wisnu mengangguk paham. Dalam hatinya, dia akan membeli sereal yang banyak untuk stok di rumahnya agar Narayanya bisa sarapan.
”Wah … serasa dunia milik berdua. Yang punya rumah ngontrak.”
-s e c o n d l o v e-
Wisnu bersandar pada badan mobilnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahannya. Menunduk menatap ujung sepatunya. Terhitung sudah hampir sepuluh menit Wisnu menunggu, sejak Nara memintanya lebih dulu ke carport rumah wanita itu.
Mendengar suara khas ketukan heels, Wisnu langsung berpaling sambil menegakkan posisi berdirinya. Tersenyum lembut menatap pada Nara yang sudah mengganti slipper dengan Nude Stuart Weitzman Anny 70 Pump sedang berjalan menghampirinya. Wisnu dengan sigap membukakan pintu untuk Nara.
Nara tersenyum kecil. ”Thank you ...”
Wisnu ikut tersenyum. ”My pleasure.” balas Wisnu sambil meletakkan tangan kirinya di atas perut dan sedikit membungkuk. Perlahan kembali menutup pintu di samping Nara.
Dari dalam mobil, Nara tersenyum kecil memperhatikan Wisnu yang sedang berjalan setengah berlari memutari mobil mahal laki-laki itu sambil memasang seat belt pada tubuhnya.
”Ready?” tanya Wisnu setelah siap di balik kemudi.
Nara mengangguk. ”Go!” kekeh Nara.
Wisnu tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya ke arah depan. Melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Nara.
Keduanya tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua dari balik kaca mobil.
Kening Nara mengerut ketika melewati mobil yang tampak familiar di matanya. Nara langsung menoleh ke belakang.
Wisnu menoleh menatap Nara. ”Ada apa, Naraya?” tanya Wisnu sambil kembali menatap ke arah jalanan di depannya.
Nara berpaling pada Wisnu, lalu menggelengkan kepalanya. ”Tidak ada apa-apa, Mas. Saya hanya merasa kenal dengan mobil yang tadi kita lewati.”
Wisnu melirik ke spion tengah mobilnya. Memang ada mobil hitam terparkir tidak jauh dari rumah Nara. ”Mungkin hanya perasaan kamu saja. Jangan terlalu dipikirkan, Naraya.”
Nara tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. ”Iya, Mas.”
Suara Nara melantung sopan di telinganya. Wisnu mengulum bibirnya menahan agar tidak tersenyum. Ya Tuhan! Saya mencintai bidadari-Mu yang sedang duduk di samping saya.
Butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai ke Maheswari Cuisine, restoran milik Dewi. Jalanan menjadi padat di jam berangkat sekolah dan kantor seperti sekarang ini.
Nara melepaskan seat beltnya. ”Saya bisa sendiri, Mas Wisnu.” cegah Nara ketika melihat Wisnu sudah akan keluar dari mobil, yang pasti akan membukakan pintu untuknya. ”Terima kasih sudah repot-repot mengantarkan saya.”
Wisnu menggeser posisi duduknya ke samping, menghadap pada Nara. ”Saya tidak merasa repot sama sekali, Naraya. Hari ini, hari pertama kamu bekerja lagi. Saya mau jadi salah satu yang memberi kamu semangat dan dukungan. Selamat bekerja kembali, Naraya. Semangat untuk hari ini.”
Nara tertawa kecil. ”Oh, iya. Kata mama, Mas Wisnu kalau pagi harus minum kopi, benar?”
Wisnu mengangguk. ”Iya. Kenapa memangnya?”
Nara menggeleng. ”Tidak apa-apa. Saya tadi buatkan Mas Wisnu kopi.” terang Nara sambil menyodorkan Xiaomi Mijia Smart Vacuum Insulation Bottle Thermos 525ml Black yang langsung diterima oleh Wisnu. ”Tapi saya tidak tahu, sesuai dengan selera Mas Wisnu atau tidak.”
Wisnu tersenyum lebar. ”Terima kasih, Naraya. Saya yakin buatan kamu melebihi selera saya.”
Kedua alis Nara terangkat naik. ”We will see, then.” Nara tertawa kecil. ”Sampai jumpa nanti siang, Mas Wisnu. Selamat bekerja.”
”Sampai jumpa, Naraya.”
Nara mengangguk dan tersenyum kecil. Langsung turun dari mobil Wisnu.
Wisnu memperhatikan Nara hingga hilang di balik pintu restoran. ”Material wife sekali.” gumam Wisnu lirih sambil meletakkan termos di drink holder.
Senyum tak pernah hilang dari bibirnya. Wisnu kembali menjalankan mobilnya keluar dari area parkir restoran menuju kantornya.
Tbc.
