Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 07

Nara mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan ketika taxi online yang ditumpanginya memasuki kantor Wisnu. Membaca papan nama besar yang bertuliskan JAGRATARA CORP. dengan huruf kapital.

Nara turun dari taxi online yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan pintu lobby kantor Wisnu setelah membayar tarif taxi dan mengucapkan terima kasih pada sang supir. Membetulkan posisi tali tasnya di bahu kirinya terlebih dahulu sebelum berjalan memasuki gedung kantor Wisnu.

”Selamat siang ...”

Nara tersenyum manis membalas senyum ramah yang diberikan oleh wanita cantik di balik meja resepsionis yang langsung berdiri ketika melihat kedatangannya. Wanita yang usianya mungkin satu atau … dua tahun … di bawahnya?

”Selamat siang ...”

”Ada yang bisa saya bantu, Ibu?”

”Saya ingin bertemu Mas Wisnu--”

Kening Nara mengerut samar ketika melihat wanita di depannya itu menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Nara mengerjapkan matanya.

”Ah, maksud saya Pak Wisnu.” ralat Nara setelah menyadari kesalahannya. ”Umm … Pak Wisnu-nya ada tidak ya, Mbak ...?”

Nara melirik ke arah name tag di dada sebelah kanan wanita itu. A U R I S T E L A underscore Receptionist.

”Auristela?”

Stela langsung mengatupkan bibirnya. Menatap Nara dalam-dalam. Mas Wisnu? Kedua alis Stela menaut nyaris menyatu. Pacarnya bapak, mungkin ya?

”Mbak Auristela?”

Stela tak bergeming. Memperhatikan penampilan Nara. Valentino Beaded Wool-Felt Mini Dress in Black amat kontras dengan kulit putih bersih wanita di depannya itu. Flawless make-up dan rambut lurus dark brown sepinggang tergerai dengan indah. Stela menghela nafas samar. Cantiknya, kok jahat sekali, ya?

”Mbak Auristela?” Nara mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah Stela.

”Eh!” pekik Stela kecil, sedikit terkesiap. Stella tersenyum kikuk dan menatap Nara tidak enak. ”Oh, maaf. Panggil Stela saja, Bu. Ibu sudah membuat janji temu dengan sekretaris Pak Wisnu sebelumnya?”

Nara menurunkan tangan kanannya sambil menggeleng pelan.

Stela mengangguk kecil dan tersenyum maklum. ”Mohon ditunggu sebentar ya, Bu. Akan saya konfirmasikan lebih dulu pada sekretaris Pak Wisnu.”

Nara mengangguk pelan.

Tut … tut … tut ...

Stela tersenyum kecil dan menatap Nara yang ternyata juga sedang menatapnya.

Tut … Tu--

[”Halo, dengan Sandra. Ada yang bisa saya bantu?”]

”Halo. Selamat siang, Bu Sandra ...”

[”Siang. Dengan siapa saya bicara?”]

”Saya Stela dari bagian resepsionis, Bu.”

[”Ada apa?”]

Kalau saja Stela tidak ingat ada Nara, dia pasti sudah mendengus mendengar jawaban Sandra yang langsung berubah ketus. ”Ini, Bu. Ada tamu untuk Pak Wisnu.”

[”Siapa? Laki-laki atau perempuan?”]

Stela berdehem kecil. ”Perempuan, Bu. Namanya, Bu--” jeda Stela sambil melirik ke arah Nara.

Nara yang bisa mengerti dengan maksud dari lirikan Stela langsung menyebutkan namanya tanpa suara hanya menggerakan bibirnya saja.

Stela tersenyum kecil satu kali lagi sambil mengangguk sopan. ”Bu Naraya.”

[”Tidak ada nama itu di schedule Bapak.”]

Stela menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal. ”Belum ada janji sebelumnya, Bu.”

[”Kenapa kamu tanyakan lagi kalau begitu!”]

Stela memejamkan kedua matanya sekilas ketika Sandra mulai menggunakan nada tinggi di seberang sana. Menelan salivanya susah payah. ”Saya hanya ingin memastikan saja, Bu.”

[”Bilang, Bapak tidak ada! Sedang rapat di luar. Lain kali suruh membuat janji lebih dulu. Kamu pikir Bapak bisa sembarangan menerima tamu yang tidak jelas!”]

Kening Stela mengerut dalam membuat Nara bertanya-tanya dalam hati, menduga-duga pembicaraannya dengan Sandra. ”Iya. Baik, Bu Sandra. Nanti akan saya sampaikan.”

[”Kerja yang benar. Hal sepele saja kamu tidak bisa menangani.”]

Stela tetap menganggukan kepalanya. Walau sudah tahu Sandra tidak mungkin melihatnya. ”Baik, Bu. Terima kasih. Maaf sudah mengganggu.”

Tut!

Nara langsung menatap Stela ketika Stela sudah meletakan gagang teleponnya. Sementara Stela menghela nafas lega, tidak sadar jika masih ada Nara di sana.

”Bagaimana, Stela? Saya bisa bertemu Pak Wisnu?”

Stela langsung berpaling pada Nara dan kembali memasang senyum di bibirnya. ”Maaf, Bu. Pak Wisnu sedang ada rapat di luar kantor. Bagaimana? Ibu ingin menitipkan pesan? Nanti akan saya sampaikan pada Pak Wisnu.”

Nara menggeleng singkat. ”Rapat? Kira-kira lama tidak ya, Stela?”

Stela tersenyum sopan. ”Maaf, Bu. Kalau mengenai hal itu, saya juga kurang tahu pasti lama atau tidaknya rapat, Bu. Tidak ada jam yang pasti.”

Nara menganggukan kepalanya mengerti.

”Bagaimana, Bu?”

Nara tak langsung menjawab. Menurunkan pandangannya pada kotak makan di genggaman kedua tangannya. Sekarang, dia harus bagaimana? Nara menimbang jawaban apa yang akan dia berikan pada Stela. Titipkan bekal makannya? Atau menunggu sampai Wisnu kembali? Titipkan. Resikonya, dia harus rela mendapatkan ceramah panjang dari Dewi. Menunggu. Resikonya, banyak waktunya yang akan terbuang percuma hanya untuk hal yang tak pasti.

Kening Stela mengerut samar. ”Jadi, bagaimana, Bu Naraya?”

Nara mengangkat wajahnya dan menatap pada Stela. ”Saya boleh tunggu saja, Stela?”

Stela tersenyum ramah. ”Tentu saja boleh, Bu. Ibu bisa menunggu di sebelah sana.” Stela menunjuk ke arah ruang tunggu yang berada di bagian sudut kanan lobby. ”Jika saja Ibu membutuhkan sesuatu, Ibu bisa langsung bilang pada saya.”

Nara tersenyum simpul seraya menganggukan kepalanya. ”Terima kasih, Stela.”

Stela balas tersenyum simpul. ”Sama-sama, Bu Naraya. Jangan sungkan.”

Nara mengangguk kecil dan undur diri dari hadapan Stela. Berjalan menuju ruang tunggu. Tidak mungkin dia menunggu Wisnu yang tidak jelas kapan akan kembali dalam posisi berdiri. Bisa pegal kakinya yang sedang memakai strap sandal dengan tinggi heels tujuh senti itu.

Nara langsung menjatuhkan bokongnya di atas salah satu sofa kosong yang ada di ruangan yang tadi ditunjukkan oleh Stela. Menggeliat kecil mencari posisi duduk nyamannya. Nara memangku kotak makan sambil melepas tali tas di bahunya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lobby kantor Wisnu. Tampak sibuk. Banyak orang yang berlalu-lalang. Mungkin karena sudah jam istirahat.

Nara kembali menoleh ketika ada mobil yang berhenti di depan lobby. Menunggu orang di dalam mobil itu keluar dengan penuh harap. Namun, lagi-lagi bukan Wisnu. Nara menghela nafas lelah. Kepalanya menjadi pusing karena terlalu sering menoleh dengan gerakan cepat setiap ada mobil yang berhenti di depan lobi kantor Wisnu dan selalu berharap orang yang turun dari mobil adalah tetangganya itu.

Nara menunduk menatap pada kotak makan yang berada di atas pangkuannya nanar. Lalu pandangannya beralih pada jam yang melingkar pas di pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul dua siang. Astaga! Nara menghembuskan nafasnya panjang. Dia sudah ada duduk dua setengah jam sejak kedatangannya di kantor Wisnu. Bokongnya sudah panas, matanya juga sudah mulai berat. Menutup mulutnya dengan kedua tangan. Nara menguap kecil.

Nara melipat kedua tangannya di atas kotak makan, lalu menelungkupkan kepala di sela lipatan tangannya. Niat Nara hanya ingin mengistirahatkan kepalanya yang berat sebentar, namun malah ketiduran tanpa sadar.

-s e c o n d l o v e-

Tok … tok ...

Mauro langsung saja membuka pintu ruangan Wisnu. Bahkan sebelum mendapatkan persetujuan dari si empunya ruangan. Mauro menyembulkan kepalanya di balik pintu ruangan Wisnu.

”Bang! Lunch, kuy.”

Wisnu langsung saja mengangkat wajahnya dari layar laptop dan berpaling ke arah pintu ruangannya. Menatap Mauro sejenak, lalu mengangguk singkat. Mematikan laptopnya dan mengunci laci penyimpanan yang menyatu dengan meja kerjanya. Wisnu berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri asistennya itu.

”Mau makan dimana?”

Mauro menarik kepalanya. Membuka pintu lebih lebar untuk Wisnu lewat.

”Dimana saja lah, Bang. Bosan sekali, makan di kantin terus.”

Wisnu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

”Mau pergi kemana kamu, Nu?”

Wisnu hanya terdiam. Tak menghiraukan pertanyaan tidak penting dari Sandra. Wisnu melenggang dengan santai melewati meja Sandra begitu saja.

Mauro geleng-geleng kepala. Menoleh menatap Sandra kasihan. ”Kita mau makan siang, San.”

”Aku juga ikut kalau begitu. Kebetulan, aku juga belum makan siang.” Sandra buru-buru membereskan meja kerjanya.

”Ay--”

”Ro!”

Sandra langsung menghentikan gerakan tangannya. Menoleh menatap Wisnu nyaris secara bersamaan dengan Mauro.

Mauro menelan salivanya sudah payah. Menatap Wisnu yang sedang melemparkan tatapan maut padanya dengan tangan kiri menekan panel hold pada lift menahan pintu kotak besi bergerak itu supaya tetap terbuka.

Mauro menoleh menatap Sandra tidak enak. ”Next time saja ya, San. Sorry!” Mauro langsung berlari kecil menyusul Wisnu yang sudah ada di dalam lift.

-s e c o n d l o v e-

”Loh! Bapak!” seru Stela keras. Langsung saja berdiri dengan gerakan tidak santai ketika melihat Wisnu keluar dari lift bersama Mauro. ”Kok, bisa?” tanya Stela lebih kepada dirinya sendiri.

Wisnu menaikan alisnya sebelah. Berjalan pelan mendekati meja Stela dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana bahannya.

”Apa?”

Stela menatap Wisnu dan lift tempat bosnya itu keluar secara bergantian dengan raut wajah bingungnya tidak dapat disembunyikan.

”Kenapa?” tanya Wisnu lagi dengan nada menuntut.

Stela mengerjapkan matanya. ”Pak Wisnu, kok bisa keluar dari situ, sih!” kata Stela dengan nada yang terdengar tidak terima di telinga Wisnu dan Mauro.

Kedua alis Mauro terangkat naik. ”Omongan kamu kalau pakai bermutu berapa?”

Stela tak menghiraukan ucapan Mauro. Menatap Wisnu dengan serius. ”Bapak bukannya sedang ada rapat di luar ya, Pak?”

Kening Wisnu mengerut samar, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

”Tuh, kan! Saya benar kalau merasa aneh. Saya tidak ada melihat Bapak keluar atau masuk kantor sedari pagi. Tapi, Bu Sandra bilang Bapak sedang ada rapat di luar tadi waktu saya telepon.”

Wisnu menoleh menatap Mauro. ”Saya ada jadwal rapat hari ini?”

Mauro menggeleng cepat. ”Tidak ada, Pak. Saya yakin.”

”Latas maksud Sandra bicara seperti itu, apa?”

Mauro mendengus keras. ”Ya, mana saya tahu!”

Brakk!

Suara gebrakan meja sontak mengalihkan perhatian Wisnu dan Mauro.

”Yang santuy, woi! Saya potong gaji kamu kalau sampai mejanya rusak.”

Stela cengengesan sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. ”Damai, Pak!” kata Stela sambil mengelus-ngelus permukaan meja.

Mauro mengibas-ngibaskan satu tangannya sambil membuang muka.

”Ada apa?”

”Bapak ditungguin Ibu, tuh.” Stela menunjuk sosok yang tampak mengenaskan di belakang Wisnu dan Mauro.

Wisnu dan Mauro, keduanya kompak mengikuti arah telunjuk Stela. Mauro memicingkan matanya. Sementara pupil mata Wisnu langsung melebar.

”Naraya?” gumam Wisnu lirih, namun cukup bisa didengar telinga Mauro.

Mauro dengan gerakan cepat menoleh menatap pada Wisnu. ”Naraya? Naraya ist--”

Wisnu langsung mengangkat tangan kanannya. Menghentikan ucapan Mauro

”Abang, gila?”

Wisnu menatap Mauro dan menempelkan telunjuknya di bibir.

”Shit!”

Stela melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul setengah tiga sore. ”Oh my God!”

Wisnu langsung berpaling pada Stela. ”Kenapa lagi?”

Stela langsung mendongak menatap Wisnu. ”Pak, itu … Ibu sudah ... tiga jam menunggu Bapak di sana.”

Ap-apa? Tiga jam! Wisnu melotot menatap Stela tidak percaya.

Stela mengangguk membenarkan. ”Tadi, sewaktu Ibu datang mencari Bapak. Saya langsung konfirmasi pada Bu Sandra. Apa Bapak bisa ditemui atau tidak, soalnya ada Ibu datang mencari Bapak. Eh ... Bu Sandra malah bilang Bapak sedang ada rapat di luar.” Stela tersentak atas kesadarannya sendiri. ”Ya ampun! Ibu kasihan, sekali.”

Wisnu berpaling pada Nara sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Brengsek!

Mauro menepuk bahu Wisnu pelan sebanyak dua kali. ”Samperin, gih. Kasian dia, Bang. Sampai ketiduran begitu. Urusan Sandra bisa belakangan.”

”Ibu pasti lelah, lah! Ti.ga ja.m, lho.” Stela mengacungkan tiga jarinya.

”Ya, tidak perlu ngegas!”

Wisnu menghela nafas pelan. ”Stela?”

”Eh! Iya, Ma-maaf, Pak Wisnu.”

”Kamu sudah tahu namanya?”

”Hah?” Stela melongo.

Wisnu kembali menoleh menatap Stela. ”Kamu sudah tahu nama wanita yang kamu panggil Ibu itu?” tanya Wisnu menjelaskan pertanyaannya sebelumnya.

Stela mengangguk pelan. ”Bu Naraya.”

Wisnu mengangguk membenarkan. ”Lain kali, langsung saja antarkan ke ruangan saya. Jangan biarkan dia menunggu lama seperti sekarang. Sepenting apapun rapat saya dan ada dimanapun saya, saat dia datang, kamu langsung hubungi saya.”

Mulut Stela menganga lebar. Raut wajahnya berubah menjadi terkejut ketika mendengar Wisnu berkata panjang lebar untuk yang pertama kalinya. Bosnya itu, kan kalau bicara seperlunya saja. Fix! Pacar bapak. Stela mengangguk yakin. Cocoklah. Ibu jauh lebih cantik. Ketimbang Bu Sandra. Ih! Stela bergidik ngeri.

”Heh! Malah bengong.”

”Eh!” Stela terkesiap melirik ke arah Mauro sekilas. ”Ma-maaf, Pak.”

”Kamu dengar saya?”

”Dengar, lah Pak. Dengar.” Stela nyengir lebar. Mengurut dada dalam hati.

”Good!” puji Wisnu singkat. Langsung berbalik badan sudah akan melangkah menghampiri Nara. Namun, pertanyaan Mauro menghentikan langkahnya lebih dulu.

”Jadi makan tidak, nih?”

Wisnu menghela nafas pelan, lalu menoleh pada Mauro. Alih-alih menjawab. Wisnu hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. Kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Rasa laparnya sudah hilang sejak melihat Nara yang seperti orang terlantar.

”Kampret!”

Stela terkekeh kecil.

”Kamu menertawakan saya?”

Stela langsung mengulum bibirnya dan memalingkan wajahnya.

Mauro berdecak keras. Meninggalkan Stela yang masih berusaha menahan tawa hingga wajah gadis itu sudah berubah menjadi merah begitu saja. Dengan terpaksa dan berat hati, dia harus kembali makan siang di kafetaria kantor. Bayangan makanan enak, di cafe atau restoran mahal langsung sirna dari kepalanya. Sial! Orang yang sedang jatuh cinta memang buta!

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel