Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 06

Wisnu menghentikan Rolls Royce Ghost Extended Wheelbase 6.6L Statesman Inspirationnya tepat di depan lobby kantor. Keluar sambil mengaitkan kancing jasnya setelah pintu mobil seharga dua puluh lima milyar itu dibukakan oleh salah satu satpam dan membiarkan mobilnya diambil alih oleh petugas valet.

Tersenyum kecil sambil membetulkan dasi hasil karya Nara yang sedikit miring. Wisnu berjalan masuk ke dalam gedung kantornya sambil sesekali mengangguk kecil membalas sapaan dari karyawannya.

Wisnu berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahannya di depan pintu lift yang memang dikhususkan untuknya sebagai Chief Executive Officer (CEO). Membiarkan satpam yang berjalan mengiringinya tadi memencetkan tombol lift untuknya.

”Sudah, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Wisnu menggelengkan kepala. ”Tidak ada.”

”Baiklah, Pak. Kalau begitu saya ke depan lagi, Pak Wisnu. Permisi.”

”Hmm,” balas Wisnu bergumam sambil mengangguk sekilas.

Wisnu menundukan kepalanya sambil bersiul riang dan mengetuk-ngetukkan sepatunya di lantai. Tingkah di luar kebiasaannya itu, sukses menimbulkan tanda tanya besar di benak para karyawannya yang juga sedang menunggu di depan pintu lift yang berbeda, tak jauh di sebelahnya.

Mendengar suara denting pintu lift terbuka, Wisnu mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku dan langsung masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju ruangannya di lantai teratas gedung perusahaannya.

Ting!

Lift berdenting. Kedua pintu besi kotak bergerak itu terbuka ke arah berlawanan. Wisnu langsung melangkahkan kakinya keluar dari lift.

Wisnu berjalan dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana bahannya, melewati sekretarisnya begitu saja tanpa ingin repot menoleh pada wanita dengan riasan penuh yang sudah berdiri anggun dan tersenyum manis siap menyambut kedatangannya itu.

”Selamat pagi ...”

”Hmm,”

Wisnu mengulurkan tangan kanannya sudah akan memegang handle pintu. Namun, pertanyaan yang keluar dari mulut sekretarisnya itu menghentikan gerakan tangannya lebih dahulu.

”Kenapa bisa telat? Aku telepon kamu berkali-kali, tapi tidak ada kamu angkat sama sekali.”

Rahang Wisnu mengeras. Menarik tangannya dan kembali memasukan ke dalam saku celana bahannya. Wisnu memutar tubuhnya hingga menghadap pada wanita yang menjadi sekretarisnya itu.

”Ada apa dengan aku-kamu itu, heh?” tanya Wisnu dengan suara rendah sambil menatap sekretarisnya itu tajam.

”Kenapa? Apa ada yang salah dengan cara bicara aku sama kamu, Nu?”

”Nu, huh?” Wisnu terkekeh sebentar, lalu menyeringai sinis dan semakin menajamkan tatapannya. ”Jelas, salah be.sar!” jawab Wisnu dengan menekankan pada kata besar.

”Why?”

”Kamu hanya sebatas sekretaris, Cassandra Zelda. Ingat posisi. Saya masih keep kamu hanya karena kamu itu teman sekolah sepupu saya. Jaga dan atur cara bicara kamu dengan atasan.”

Sandra, biasa wanita itu dipanggil berdecak kesal. ”Justru karena kita sudah kenal baik. Aku rasa tidak perlu, lah repot-repot kita bermain drama atasan dan bawahan segala.”

”Bersikap profesional, Sandra. Atau besok surat pemecatan akan sampai di atas meja kerja kamu.” ancam Wisnu, lalu kembali memutar tubuhnya.

Wisnu masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Sandra yang menatapnya tak percaya. Damn! Mood baiknya setelah bertemu dengan Nara tadi pagi, menguap begitu saja.

-s e c o n d l o v e-

Wisnu menjatuhkan bokong di atas kursi dengan kasar dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Memutar kursi kebesarannya itu hingga menghadap pada dinding dari kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi dan kendaraan yang terjebak kemacetan di jalanan.

Wisnu memijat kedua pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Naraya ... Gumam Wisnu lirih dalam hati. Senyum kecil seketika terbit di bibirnya. Gila! Hanya menyebutkan nama wanita cantik itu saja, kepalanya meringan. Wisnu sudah menemukan mantra ampuh untuk dirinya sendiri.

”Guten Morgen!”

Senyum di bibirnya seketika hilang. Wisnu menghela nafas kasar. Frustasi mendengar suara Kienan Mauro, sepupu yang merangkap sebagai asistennya itu. Wisnu memutar kembali kursinya ke posisi semula. Menatap Mauro datar dan dingin.

”Anyep benar itu muka. Kenapa, Bang?” tanya Mauro sambil menutup pintu ruangan Wisnu.

Wisnu tak memiliki niatan menjawab pertanyaan tidak penting dari Mauro. ”Bagus!” tekan Wisnu keras. ”Asisten datang ke kantor jauh lebih lambat daripada bosnya. Teladan sekali.” sindir Wisnu halus.

Mauro memutar kedua bola matanya malas. ”Ck!” decak Mauro keras. ”Ngigo ya, Bang? Mulut Anda terindikasi mengandung unsur kehoaxan. Harusnya saya yang bertanya, Abang dari mana saja? Sudah jam segini, kenapa baru datang?” kata Mauro membalikan sindiran Wisnu. Mauro berjalan mendekati meja kerja sepupunya itu.

Wisnu tak menghiraukan pertanyaan Mauro. ”Mulai hari ini, semua urusan schedule saya, kamu yang handle, Ro.”

Kening Mauro mengerut dalam. ”Maksud Bang Wisnu apa?” tanya Mauro menatap Wisnu tidak mengerti sambil duduk di salah satu kursi yang ada di seberang meja kerja sepupu, yang sialnya menjadi atasannya itu.

”Kamu ambil tabnya di Sandra, sekarang.”

”Kampret!” umpat Mauro kesal. Lagi-lagi pertanyaannya tak dihiraukan Wisnu. ”Bokong seksi saya baru ... saja menyentuh kursi, Bang. Ada apa lagi, sih Abang dengan Sandra, hah? Heran saya. Ribut terus perasaan.”

Wisnu hanya terdiam, menatap Mauro tajam. Tanda jika dia sedang tidak ingin dibantah. Mengibaskan satu tangannya sebagai isyarat agar sepupunya itu segera melaksanakan perintahnya.

”Ck!” decak Mauro keras. ”Baiklah, iya. Santai, hyung.”

Mauro beranjak berdiri dari posisi duduknya dengan sedikit kasar. Berjalan keluar dari ruangan Wisnu dengan menghentakkan kakinya keras.

-s e c o n d l o v e-

Brakk!

”Apa-apaan kamu itu, hah!”

Sebelah alis Wisnu terangkat naik ketika melihat wajah penuh kemarahan Sandra muncul dari balik pintu ruangannya yang dibuka dengan sangat kasar.

”Anjir!” Mauro terlonjak kaget, reflek mengumpat keras. ”Yang woles dong kamu, San! Bar-bar sekali jadi perempuan.” protes Mauro di belakang Sandra.

”Tiba-tiba saja meminta Mauro yang menghandle schedule kamu, Nu? Itu sudah menjadi bagian dari tugas aku!” jerit Sandra tidak terima sambil berjalan menghampiri meja kerja Wisnu.

Wisnu menyeringai sinis. Melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

Mauro memutar kedua bola matanya jengah. Sepasang atasan dan sekretaris itu memang juaranya membuat dia kesal. Mauro berjalan melewati Sandra begitu saja dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan Wisnu.

”Di sini!” Wisnu menunjuk permukaan meja dengan telunjuknya. ”Saya, bosnya. Saya yang membuat aturan mainnya, Sandra.”

Sandra menggeram tertahan dengan kedua tangan yang mengepal kuat-kuat. Sementara Mauro menyilangkan kedua kakinya, lalu menyamankan posisi duduknya. Siap untuk menikmati tontonan gratis yang tersaji di depannya.

”Bagus sekali, ya kamu sekarang, Wisnu. Menggunakan kekuasaan yang kamu miliki secara sewenang-wenang!”

Wisnu mengangkat kedua bahunya tak acuh. ”Kalau kamu tidak suka, silahkan keluar dan buat surat pengunduran diri kamu. Lalu langsung serahkan pada saya. Saya dengan senang hati akan menandatangani.”

”Wisnu!” teriak Sandra frustasi.

Wisnu menatap Sandra tajam. ”Dalam lima menit, saya ingin draft kontrak kerja sama dengan kantor advertising untuk iklan produk baru sudah siap di meja saya.” titah Wisnu tanpa melihat Sandra. Atensinya sudah kembali pada layar laptopnya.

Sandra menatap Wisnu tajam. Geram dengan sikap laki-laki yang dengan gamblang selalu menolaknya itu.

Tak merasakan pergerakan Sandra. Wisnu langsung memanjangkan tangannya menunjuk ke arah pintu di ruangannya dengan telunjuknya.

Sandra mendengus kasar. Langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan Wisnu dengan langkah kaki yang dihentakkan.

Wisnu langsung berpaling pada Mauro ketika suara gelak tawa sepupunya itu mengudara mengisi di setiap sudut ruangannya.

”Gila-gila!” kekeh Mauro sambil bertepuk tangan secara dramatis. ”Gila memang kamu itu, Bang.” kata Mauro sambil geleng-geleng kepala.

”Ck!” decak Wisnu keras. ”Tutup mulut kamu.”

”Kampret! Kenapa, sih Abang selalu menolak Sandra? Heran. Kurangnya Sandra apa, Bang? Sandra itu adalah wujud nyata dari penggambaran wanita yang sempurna yang menjadi fantasi para pria.”

Wisnu mendengus keras. ”Ya, kamu pacari saja sana si Sandra. Di mata saya, kekurangan dia itu, banyak! Sana, kerja kamu! Atau kamu ingin saya hold gaji kamu bulan ini?” ancam Wisnu.

Mauro tersentak. Langsung berdiri dari duduknya. ”Don't you dare! Jangan main-main sama gaji ya, Bang. Modal saya mencari perempuan itu.”

Wisnu hanya mengedikan dagunya ke arah pintu ruangannya.

”Iya-iya!” jawab Mauro ogah-ogahan. Langsung berjalan keluar dari ruangan Wisnu yang panas. Selalu panas. Sepupunya yang satu itu memang selalu serius.

Wisnu langsung menghela nafas lelah setelah Mauro hilang di balik pintu ruangannya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.

-s e c o n d l o v e-

Tiba di anak tangga terakhir, Nara langsung berjalan menghampiri Dewi yang sedang sibuk berkutat di dapur. ”Sibuk sekali sepertinya, Ma?”

Dewi yang tidak mendengar suara langkah kaki mendekat sedikit terkesiap ketika tiba-tiba saja muncul suara khas yang sudah sangat familiar di telinganya, reflek langsung saja memalingkan wajahnya. Senyum lembutnya seketika terbit melihat Nara yang sudah berdiri di sampingnya.

”Oh, ini ... Mama sedang kemas bekal makan siang untuk papa, adik sekalian untuk Nak Wisnu juga, Mbak. Nanti Mbak Nara yang antarkan ke kantornya Nak Wisnu, ya. Mama yang akan antarkan ke kantor papa dan adik Valan.”

Kening Nara mengerut dalam. ”Makan siang harus diantar juga, Ma? Mas Wisnu bukannya bisa makan di luar. Atau delivery lho, Ma. Memangnya Mas Wisnu sudah bersedia diantar bekal seperti itu?”

Dewi menggelengkan kepalanya pelan. Kedua tangannya sibuk mengisi setiap kotak pada kotak makan dengan nasi beserta lauk-pauknya.

”Makanan di luar itu tidak sehat, Mbak. Kalau dari rumah, kan sudah pasti terjamin. Empat sehat lima sempurna. Higienis juga.”

”Ya, iya. Betul juga sih, Ma. Tapi masa iya, harus sampai tiga kali sehari sekali Mas Wisnu diantar makannya.”

”Nak Wisnu itu, sangat sibuk Mbak. Jadi tidak aware dengan kesehatan diri sendiri. Orang tuanya juga jauh. Tidak ada yang perhatikan soal makan. Dan-- karena orang tuanya Nak Wisnu sudah menitipkan puteranya pada Mama. Mama harus amanah kan, Mbak?”

Nara beranjak duduk di kursi kosong yang berada di samping kiri Dewi yang tengah berdiri. ”Iya sih, Ma. Tapi--”

Dewi mengibaskan satu tangannya. ”Sudah. Tidak ada tapi-tapi ya, Mbak. Sekarang Mama ingin bertanya, kapan Mbak Nara akan mulai menggantikan Mama mengurus resto? Sudah enakan badannya kan, Mbak?”

Nara mengangguk kecil. ”Besok Mbak main ke resto deh, Ma. Lihat-lihat, sekalian Mbak ingin belajar dulu. Nah, minggu depannya Mbak baru benar-benar full time menggantikan Mama ya, Ma?”

Dewi menganggukan kepalanya tanda setuju. Beres dengan urusan kotak bekal makan. Dewi beralih pada mesin blender yang berada di atas kitchen island, berniat akan membuat smoothies buah. Kedua tangannya dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat smoothies.

Nara menggeser posisi duduknya menghadap ke samping agar bisa melihat wajah Dewi. Melipat kedua tangan di atas sandaran kursi. Nara menumpukan dagu runcingnya di atas lipatan tangannya.

”Mama serius akan stay di rumah saja? Nanti, kalau Mama merasa bosan bagaimana? Kan, Mama sudah terbiasa bekerja.”

Dewi tersenyum kecil dan mengangkat wajahnya menatap pada Nara dengan tangan kanan berada di atas tutup blender, menahan mesin penghalus bahan makanan itu. ”Mama malah senang, Mbak. Mama lelah. Sudah waktunya Mama rehat. Cukup dengan menjadi ibu rumah tangga saja sekarang. Lagi pula kalau Mama bosan, Mama bisa main ke kantor papa atau ke resto, kan?”

Nara manggut-manggut. ”Iya, sih Ma.” Nara mengangkat dagunya. Beranjak berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Dewi. ”Biar Mbak saja yang menuangkan smoothiesnya ke tumbler, Ma.”

Dewi tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya. ”Tidak usah, Mbak. Biar Mama sendiri saja. Mbak siap-siap saja, gih sana. Dandan yang cantik, pakai baju yang sedikit formal. Akan ke kantor, lho ya bukan ke mall.” terang Dewi sambil memutar badan Nara hingga kini memunggunginya.

”Harus Mbak yang antar nih, Ma?” tanya Nara sambil melihat Dewi dari balik bahunya.

”Iya ... Mbak Nara. Sudah sana ke kamar, ya. Ganti baju sama dandan yang cantik.”

”Tapi, Mbak malu ah, Ma. Mbak baru saja kenal juga dengan Mas Wisnu. Tidak enak, masa sudah menghampiri sampai ke kantor Mas Wisnu saja. Kelihatan agresif sekali jadinya.”

Dewi menepuk kedua bahu Nara pelan. ”Makanya ... Mama bilang Mbak dandan yang cantik. Tenang saja, begitu Mbak Nara jalan, Mama langsung mengabari Nak Wisnu supaya Mbak nanti diperbolehkan masuk.” Dewi memiringkan kepalanya sedikit. ”Lagi pula memang Mbak Nara sedang dalam masa pendekatan dengan Nak Wisnu? Tidak, kan?”

Nara hanya menggeleng pelan.

”Iya sudah. Tidak ada itu kata-kata agresif.”

”Ya, tapi kan tetap aja, Ma--”

”Sudah, nurut saja sama Mama. Pahala, lho membantu Mama-nya” Dewi mendorong kedua bahu Nara pelan sebagai tanda agar putrinya itu segera berjalan, lalu menepuk pelan bokong Nara dua kali.

Nara berjengit sedikit karena tindakan tiba-tiba Dewi. Langsung menoleh ke belakang. ”Mama, ih!” protes Nara.

Dewi hanya terkekeh pelan sambil mengangkat kedua tangannya. Kekehannya perlahan menghilang berganti dengan tatapan sendu. Dewi menatap punggung Nara hingga hilang di anak tangga teratas.

Semoga saja, Papa dan Mama sudah membuat keputusan tepat kali ini dengan mempercayakan Mbak Nara pada Nak Wisnu. Batin Dewi penuh harap.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel