SL | 05
Nara duduk sambil bertopang dagu dengan punggung tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanannya menari-nari di atas permukaan meja membentuk pola abstrak.
Wisnu mengangkat wajahnya. Melirik ke arah telunjuk Nara yang tengah menari-nari di atas permukaan meja sejenak. Wisnu tersenyum kecil. Menaikan tatapannya pada wajah wanita yang sedang duduk di depannya itu.
”Kamu sudah sarapan, Naraya?” tanya Wisnu memecah keheningan.
Gerakan jari telunjuknya seketika terhenti. Nara mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu sambil mengangkat dagunya. ”Hmm?” gumam Nara sambil menekuk jari telunjuknya dan menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja makan.
”Kamu sudah sarapan atau belum, Naraya? Kalau belum, sarapan sama saya sekalian saja.” terang Wisnu memperjelas pertanyaannya tadi.
”Oh. Sudah. Saya sudah sarapan tadi, sebelum saya ke rumah Mas Wisnu.”
Wisnu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, lalu kembali melanjutkan sarapannya yang sempat terhenti.
Merasa jika Wisnu sudah tidak akan mengajukan pertanyaan lagi. Nara meletakkan dagu di antara kedua telapak tangannya dengan siku yang ditumpukan di atas meja. Menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan bagian-bagian rumah Wisnu yang terjangkau oleh kedua matanya.
Wisnu mengulum bibir menahan senyumnya terbit. ”Kamu serius sekali melihat rumah saya-nya.” ledek Wisnu sambil terkekeh kecil.
Gerakan kepalanya seketika terhenti. Nara pelan-pelan menoleh menatap ke arah Wisnu. Tatapannya langsung bertemu dengan mata coklat gelap milik laki-laki yang ternyata sedang menatapnya dengan sorot geli itu. Nara berdehem pelan untuk menutupi salah tingkahnya.
Wisnu tersenyum kecil. ”Kamu sedang mencari apa? Atau-- mencari siapa, Naraya?” tanya Wisnu dengan nada geli sambil menyilangkan sendok dan garpu di atas piring yang telah kosong itu. Wisnu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Nara lekat-lekat.
”Kalau kamu mencari apa, mungkin saja ada. Tetapi ... kalau kamu mencari siapa, saya pastikan tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain saya dan kamu sekarang.”
Nara tersenyum kikuk. Menurunkan pandangannya pada piring Wisnu. ”Mas Wisnu sudah selesai sarapannya?” tanya Nara pelan sambil menatap dan mengikuti Wisnu melipat kedua tangannya di atas meja.
Wisnu mengangguk pelan. ”Sudah. Kamu belum menjawab pertanyaan saya lho, Naraya?”
Nara berdehem kecil. ”Maaf, Mas. Saya tidak sedang mencari apa-apa, kok. Jadi Mas Wisnu benar hanya tinggal sendirian, ya?”
Wisnu mengangguk. ”Iya. Memangnya tante Dewi tidak ada cerita dengan kamu mengenai saya, hm?”
Nara mengangguk. ”Mama cerita, kok.” Nara nyengir lebar. ”Hanya, ya ... mau tanya saja, sih sebenarnya. Kata mama ... Mas Wisnu sudah ada satu bulanan tinggal di rumah ini. Tapi sepertinya, masih minim perabotan disini. Piring saja hanya ada satu tadi.”
”Saya masih sibuk. Pekerjaan saya belum bisa ditinggalkan. Jadi saya belum ada waktu untuk belanja untuk memenuhi isi rumah ini, Naraya. Dan tidak ada atau belum terpikirkan tentang hal itu juga sebenarnya.”
Nara manggut-manggut. ”Kenapa? Apa karena Mas Wisnu hanya tinggal sendiri saja?”
Wisnu meletakkan gelas yang sebelumnya sudah dia tandaskan isinya lebih dulu. ”Yes. Tapi sekarang saya akan memikirkan tentang isi rumah ini.”
Sebelah alis Nara terangkat naik. ”Hmm?”
Wisnu mengangkat kedua bahunya tak acuh, lalu menunjuk Nara dengan telunjuk tangan kanannya. ”Saya akan mulai memenuhi isi rumah ini, karena kamu, Naraya.”
”Saya?” ucap Lova dengan nada bertanya sambil menatap Wisnu tidak mengerti.
Wisnu mengangguk membenarkan. ”Yah. Saya sudah meramalkan, kalau kamu sepertinya akan sering datang ke rumah saya, Naraya.”
Nara terkekeh kecil seraya beranjak berdiri dari posisi duduknya. ”Ada-ada saja sih, Mas Wisnu ini. Sudah yang seperti tukang ramal saja.” Nara memanjangkan tangan kanannya mengambil piring bekas untuk makan Wisnu. ”Mama atau pacarnya Mas Wisnu sendiri tidak ada yang membantu mengurusi soal perabotan memangnya?”
”Mama saya jauh, Naraya. Semenjak papa saya memutuskan untuk berhenti dan keluar dari perusahaan keluarga, lalu digantikan oleh saya. Orang tua saya hijrah dan menetap di Bali.”
Nara mendengarkan cerita Wisnu tanpa menyela.
”Saya tidak mau merepotkan mereka. Dan ... for your information, saya ini belum menikah, masih available. Saya belum punya pacar. Jadi, ya ... begini ini.” Wisnu menatap Nara lekat. ”Atau-- kamu mau jadi istri saya, Naraya?”
Kegiatan Nara yang sedang membereskan meja makan langsung terhenti. Nara perlahan mendongakan kepalanya, menatap Wisnu lekat. ”Did you accidentally proposed me?”
Wisnu mengedikan bahunya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. ”Bisa jadi. Kalau kamu bersedia. Saya, sih tidak mungkin bisa menolak kamu, Naraya.”
Nara terperangah sebentar. ”Ini ... kenapa jadinya Mas Wisnu yang tidak bisa menolak, ya? Kesannya, kok jadi saya yang lebih dulu melamar Mas Wisnu, ya.” Nara berbalik badan dan berjalan menuju wastafel.
”Mas Wisnu belum begitu mengenal baik saya.” tambah Nara tanpa melihat Wisnu.
Wisnu bersandar pada sandaran kursi. Menatap punggung kecil Nara. ”Tentang kamu, ya? Sayangnya, saya sudah tahu semua tentang kamu, Naraya. Kamu boleh tes saya sekarang juga.”
Kening Nara mengerut dalam. Perlahan memutar kepalanya ke samping. Menatap Wisnu dari balik bahunya. Kedua tangannya yang masih penuh dengan busa sabun dibiarkan menggantung begitu saja di udara.
Buru-buru Nara membilas busa sabun di kedua tangannya dan mengelapnya menggunakan serbet yang ada di dekat wastafel. Nara kembali duduk di posisinya semula.
”Maksud Mas Wisnu apa?” tanya Nara penasaran.
Wisnu mengangkat kedua bahunya tak acuh. ”Nanti, Naraya. Kalau sudah waktunya. Kamu akan tahu jawaban dari pertanyaan kamu barusan.”
Kening Nara mengerut dalam. Nara menatap Wisnu lekat-lekat.
Wisnu tersenyum lembut. Tangan kanannya terulur menghapus kerutan di kening Nara pelan membuat wanita itu terkesiap sedikit. ”Jangan berpikir macam-macam, Naraya. Saya janji, kamu akan tahu maksud ucapan saya. Tidak sekarang, tapi nanti.”
Nara hampir saja menjauhkan keningnya. Berdehem pelan, Nara langsung mengulurkan tangannya menyusun goodie box tupperware kembali.
Wisnu tersenyum lebar. Mengangkat kedua tangan menyimpulkan dasinya. Kegiatan kecil yang seharusnya sudah menjadi rutinitasnya itu, nyatanya adalah hal yang sangat malas untuk dia lakukan.
Nara langsung mendongak ketika mendengar helaan nafas kasar Wisnu. Tawa kecilnya seketika terbit ketika melihat raut wajah frustasi laki-laki itu. Nara berjalan memutari meja makan menghampiri Wisnu. ”Boleh-- saya bantu pakaikan dasinya, Mas Wisnu?” tanya Nara ragu-ragu sambil mengangkat kedua tangannya.
Wisnu dengan gerakan cepat mengangkat wajahnya dan untuk sejenak menatap Nara lekat. Menganggukan kepalanya pelan tanda setuju seraya menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi tak sadar terus saja memegang dasinya.
Nara maju satu langkah besar memangkas jaraknya dengan Wisnu. ”Mas Wisnu tidak bisa memakai dasi, ya?” tanya Nara retoris. Tangannya bergerak melepaskan simpul dasi karya Wisnu.
Wisnu tak menjawab. Hanya terdiam memandangi setiap inci wajah Nara dari jarak yang sangat dekat. Menelan salivanya kasar. Cantik sekali. Ya Allah!
Merasa sedang dipandangi, Nara melirik ke atas sekilas. ”Yang biasanya memakaikan dasinya Mas Wisnu siapa kalau Mas Wisnu tidak bisa memakainya sendiri?” tanya Nara yang sudah selesai menyimpulkan dasi milik Wisnu.
”Saya biasanya memakai yang sudah jadi. Atau sudah disimpulkan oleh orang laundry.”
Nara hanya ber-oh ria sambil mencondongkan tubuhnya sedikit menengok ke arah kerah bagian belakang kemeja Wisnu, lalu membetulkan lipatan kerahnya. ”Nah, sudah selesai.” Nara mundur satu langkah lebar.
”Thank you, Naraya.”
”Likewise, Mas Wisnu.”
-s e c o n d l o v e-
”Mbak Karaissa Naraya Maheswari!”
Nara dan Wisnu, keduanya menoleh hampir secara bersamaan ke arah yang menjadi sumber suara.
Nara berpaling pada Wisnu. ”Pintunya tidak Mas Wisnu tutup, ya tadi?”
Kening Wisnu mengerut. Perlahan menoleh dan mendongak sedikit menatap pada Nara. ”Sepertinya, sih sudah saya tutup tadi. Kenapa?” tanya Wisnu bingung.
”Sepertinya? Mas Wisnu tidak yakin sudah menutup pintunya atau belum?”
Wisnu mengangguk pelan. Menatap Nara semakin bingung.
Nara menghela nafas berat.
”Kenapa sih, Naraya? Ekspresi kamu jangan begitu, ah. Saya jadi khawatir.”
”Pantesan saja Mas, kucing garong bisa masuk.”
Wisnu langsung tergelak lepas membuat Nara ikut tertawa ketika melihatnya. Ucapan Nara mudah untuk dimengerti oleh otak cerdasnya. ”Adik kamu itu, lho.”
”Mbak Nara!” seru Valan keras sambil berkacak pinggang. Menatap sengit Nara dan Wisnu secara bergantian.
Tawa Nara langsung surut. Perlahan menoleh menatap Valan. ”Apa sih, Dik? Sopan sekali masuk ke dalam rumah orang lain tidak pakai ketuk pintu, tidak mengucapkan salam dulu.”
Valan mengibaskan satu tangannya cepat. ”Mbak Nara ... Adik sudah telat. Ayo, berangkat. Ditunggu dari tadi, malah sedang asik pacaran sendiri.”
Nara memutar kedua bola matanya malas sambil meraih goodie box tupperware di atas meja makan. Tersenyum menatap Wisnu tidak enak. ”Maaf, ya Mas Wisnu. Omongan Valan yang tadi itu-- jangan digubris. Ngawur semua dia itu.”
Wisnu hanya terdiam menatap Nara.
”Mbak Nara. Ayo! Mas Wisnu nanti lagi, ya dengan Mbak Nara-nya.”
Wisnu menggelengkan kepalanya pelan. Tersenyum lembut sambil menatap ke manik mata Nara. Tak menghiraukan segala rentetan omelan Valan. ”Tidak apa-apa, Naraya. Valan, sudah biasa seperti itu.”
Nara menggeleng tegas. ”Mas Wisnu tidak boleh terbiasa membiarkan Valan seperti itu. Nanti jadi ngelunjak.”
Valan mendengus keras. ”Sorry, sistah dan brotah. Yang sedang dibicarakan ada disini ini. Tolong.”
Nara tak menghiraukan protesan Valan. ”Kalau begitu, saya permisi, Mas Wisnu.”
Wisnu mengangguk. ”Terima kasih sarapannya, Naraya.”
Nara tertawa kecil yang langsung membuat Wisnu terbius.”Bilang terima kasihnya sama mama saya, Mas. Sarapan Mas Wisnu, kan yang masak mama saya.”
Wisnu hanya mengangguk sekilas.
Nara tersenyum kecil. ”Kalau begitu, saya pulang. Permisi, Mas Wisnu.”
Wisnu bergerak dengan cepat menahan langkah Nara dengan mencekal pergelangan tangan wanita itu sebelah kiri.
”Ya Allah! Mas Wisnu ingin apalagi, sih?! Aku sudah telat, woi!”
Wisnu hanya melirik Valan sekilas membuat adik dari Nara itu memutar kedua bola matanya jengah.
Nara menunduk menatap ke arah pergelangan tangannya sebentar. Perlahan menaikan pandangannya pada Wisnu. Nara memutar tubuhnya menghadap Wisnu. ”Kenapa ya, Mas Wisnu?”
Wisnu berdehem pelan untuk membersihkan tenggorokannya. ”Kamu ... kira-kira bersedia tidak kalau membantu saya mencari perabotan rumah?”
”Gasss terusss ...” kekeh Valan sambil geleng-geleng kepala.
Wisnu kembali melirik ke arah Valan, namun yang sekarang durasinya sedikit lebih lama. Lalu mengembalikan pandangannya pada Nara. ”Bagaimana, Naraya? Tetapi kalau kamu merasa keberatan, tidak apa-apa. Tidak masalah.”
”Tipi kilii kimi mirisi kibiritin, tidik ipi-ipi. Tidik misilih. Hilih!” nyinyir Valan. ”Tidak tahu, deh di dalam hatinya bagaimana.”
”Adik.” tegur Nara dengan suara pelan, namun penuh peringatan.
Nara berpaling pada Wisnu. Tersenyum lembut menatap laki-laki itu. Tak lupa menganggukan kepalanya juga. ”Boleh. Saya sama sekali tidak merasa keberatan, kok Mas. Nanti Mas Wisnu kabari saja kalau Mas Wisnu sudah menemukan waktu kapannya.”
Wisnu tersenyum lebar. Bersorak senang dalam hati. Wisnu mengangguk antusias. ”Pasti! Pasti saya kabari.”
Nara mengangguk. ”Mas Wisnu bisa minta nomor saya di Valan.”
”Ayo, dong Mbak ...” rengek Valan.
Wisnu berpaling menatap Valan tajam. Ck! Valan, ini! Tidak bisa melihat calon kakak iparnya senang sebentar saja apa!
Valan nyengir lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengah tangannya sebelah kanan membentuk tanda peace ketika menyadari tatapan tajam Wisnu.
”Umm ... maaf Mas Wisnu, saya ingin pulang.”
Wisnu langsung menoleh pada Nara seraya menganggukan kepalanya. ”Iya, silahkan Naraya.”
”Tapi, Mas itu-- maaf, tangan Mas Wisnu?”
Wisnu menundukan kepalanya. Langsung melepaskan tangannya. ”Maaf-maaf, Naraya.”
Nara tersenyum kecil. ”It's okay, Mas.”
”Yang rok merah jangan sampai lepas ...” sindir Valan halus dengan menyanyikan kalimat legendaris dari film Warkop DKI. Kalimat yang diucapkan oleh Kasino di film Pintar-Pintar Bodoh.
”Saya pamit pulang, Mas. Permisi, Mas Wisnu.” Nara mengangguk sekilas. Lalu memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri Valan. Nara merangkul lengan Valan dan menggiring adiknya itu berjalan menuju pintu rumah Wisnu.
Valan memutar kepalanya ke belakang, menatap Wisnu dengan sorot geli. Dengan sengaja memainkan kedua alisnya naik-turun untuk menggoda Wisnu. Valam terkekeh geli melihat raut wajah laki-laki itu berubah menjadi masam.
”Bye-bye ... Mas Wisnu ...” Valan melambaikan satu tangannya yang bebas.
Wisnu geleng-geleng kepala, lalu menggeser posisi duduknya berhadapan dengan meja makan. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan besarnya seraya menghela nafas pelan. Senyum manisnya terbit ketika kembali teringat kebersamaan singkatnya bersama Nara.
Tbc.
