Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 04

Nara menatap swing door kayu bercat putih di hadapannya itu dengan gusar. Semakin mengeratkan genggamannya pada pegangan goodie box tupperware. Nara menganggukan kepalanya satu kali mencoba semakin membulatkan tekadnya.

Nara mengalihkan pandangannya pada bel rumah dan menatapnya sejenak. Perlahan tangan kanannya terulur memencet tombol bel yang ada di pasang di samping kanan pintu sebanyak dua kali. Nara menghembuskan napas panjang untuk mengurangi perasaan gugup seraya memutar tubuhnya hingga membelakangi pintu. Menatap ke arah jalanan perumahannya dengan tatapan kosong.

Di dalam kamarnya, kening Wisnu mengerut samar. Heran ketika mendengar bel rumahnya berbunyi. Tumben sekali, pagi-pagi begini sudah ada tamu? Siapa? Menatap sekilas pantulan dirinya di dalam cermin sebelum melangkah keluar dari kamarnya. Wisnu berjalan santai menuruni setiap anak tangga sambil mengaitkan kancing lengan kemejanya sebelah kiri.

Nara tanpa sadar langsung menahan nafasnya ketika mendengar suara gemerincing kunci yang saling berbenturan karena tengah diputar sebanyak tiga kali.

Cklek!

”Maaf. Siapa, ya?” tanya Wisnu langsung ketika melihat punggung kecil wanita yang tidak dikenali sedang berdiri memunggunginya setelah membuka pintu.

Nara menghembuskan nafas yang tertahan. Memasang senyum ramah di bibirnya. Perlahan Nara memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah pemilik rumah.

Mata Wisnu seketika terbelalak lebar. Tubuhnya menegang. Pegangannya pada handle pintu terlepas begitu saja seolah tak memiliki tenaga. Raut wajah kebingungannya langsung berubah menjadi terkejut. Naraya ... Rapal Wisnu dalam hati.

Wisnu mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba untuk memastikan jika tidak ada yang salah dengan indera penglihatannya. What the ... hell! She is the real Naraya! Hah? Wisnu melongo sedikit.

Kening Nara mengerut samar. ”Selamat pagi ...”

Wisnu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Memindai tubuh Nara dari atas turun ke bawah, lalu kembali ke atas secara terang-terangan tanpa mengindahkan gelagat tidak nyaman dari wanita di depannya itu.

Nara tampil casual dan cute di waktu yang bersamaan. Mengenakan love heart tassel letter embroidery knitted sweater dengan female white o neck-tulle pleated red skirt dan d-connect sneakers in neoprene white sementara rambut lurus panjang Nara hanya dikuncir sederhana.

Kedua alis Nara menaut hingga nyaris menyatu. Nara menundukan kepalanya ikut memperhatikan pakaian yang sedang dikenakannya sekarang. Takut-takut, ada yang salah dengan penampilannya melihat gelagat aneh dan tatapan tidak biasa dari laki-laki di depannya itu antara kaget, tidak percaya, kagum atau terpesona? Entahlah ... Nara tidak tahu mana yang benar. Kenapa juga dia yang menjadi kepedean begini? Nara geleng-geleng kepala.

Nara berdehem kecil. ”Hey!” tegur Nara sambil mengibaskan satu tangannya tepat di depan wajah Wisnu.

”Eh!” pekik Wisnu sedikit terkesiap. ”Ha-hai!” balas Wisnu terbata. Nara yang tersenyum manis membuat Wisnu menahan nafasnya. Oh God! Please, hold me! I am flying like a butterfly!

Nara tersenyum manis sambil mengulurkan tangan kanannya pada Wisnu. ”Perkenalkan, nama saya Nara. Puteri dari mama Dewi dan papa Ardian, tetangga sebelah.” terang Nara sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Wisnu dengan wajah cengonya mengikuti arah telunjuk Nara menunjuk.

”Maaf, Mas ...?”

Dengan gerakan cepat Wisnu kembali menoleh menatap Nara. Ma-s ...? Tanpa sadar Wisnu senyum-senyum sendiri dengan pikirannya yang menerawang jauh. Du-du-duh! Ya Allah! Mesra sekali panggil mas-nya. Naraya ini, ingin dinikahi cepat-cepat rupanya.

Kedua alis Nara terangkat naik. Hmm … Kenapa dengan laki-laki itu? ”Mas, halo ... Halo, Mas ...” Nara mengibas-ngibaskan satu tangannya di depan wajah Wisnu.

Wisnu seketika tersadar dari lamunannya dan kembali berpijak di bumi. Berdehem pelan. Wisnu langsung saja meraih tangan Nara membuat Nara sedikit berjengit kaget dan menggenggam tangan halus wanita itu erat-erat. ”Saya, Wisnu Bayanaka Rahagi.” kata Wisnu sambil menggoyang-goyangkan jabatan tangannya dengan Nara.

Nara tersenyum kaku sambil menganggukan kepalanya singkat. Ada apa dengan laki-laki itu sebenarnya? Perlahan Nara menarik tangannya.

Wisnu langsung mengepalkan tangannya. Menggenggam udara kosong yang menggantikan tangan halus Nara. Wisnu menyembunyikan tangannya di belakang. ”Just call me, Wisnu.”

Nara mengangguk pelan. ”Oh, oke. Mas Wisnu, ya. Saya ... harus sebutkan nama panjang saya juga?”

Tidak usah. Sudah tahu! Wisnu mengangguk. ”Boleh. Silahkan.”

Kening Nara mengerut dalam. Aneh sekali tingkah laki-laki itu? Boleh? Boleh apa? Siapa yang sedang minta izin di sini! Ya ampun! Nara berdehem pelan. ”Oke. Nama saya, Karaissa Naraya Maheswari.”

Wisnu hanya mengangguk singkat.

Nara memaksakan seulas senyum. ”Emm ... jadi tujuan saya ke rumah Mas Wisnu, ingin mengantarkan sarapannya Mas Wisnu.” terang Nara sambil mengangkat sedikit goodie box tupperware yang sedang dipegang dengan kedua tangannya.

”Sarapan? Oh, oke sarapan. Dari tante Dewi.” Wisnu mengulurkan tangan kanannya hendak mengambil goodie box tupperware dari tangan Nara, namun suara gumaman wanita itu menghentikan gerakannya lebih dulu.

”Emm ...”

”Ya?” Wisnu perlahan kembali menurunkan tangannya. Menatap Nara bingung. ”Ada apa?”

Nara menyelipkan anak rambut yang terlepas dari kunciran ke belakang telinganya. ”Kalau-- misalnya saja saya di rumah Mas Wisnu, menunggu sampai Mas Wisnu selesai sarapan, boleh?”

Kedua alis Wisnu terangkat naik. Wisnu tersenyum geli dan mengerlingkan matanya.

Wajah Nara langsung berubah menjadi merah. ”Ma-mas Wisnu jangan salah paham dulu.” kata Nara sedikit tergagap sambil menggelengkan kepalanya pelan. ”Mama bilang sama saya kalau Mas Wisnu itu suka kelupaan. Jadinya mama minta saya memastikan kalau Mas Wisnu benar-benar sarapan.”

Wisnu terkekeh pelan. Menatap Nara geli. ”It's okay. Tenang saja, saya sangat mengerti. Saya tidak mungkin salah paham dengan kamu. Please, come in.” kata Wisnu dengan wajah dan suara yang dibuat secool mungkin sambil mengedikan dagunya.

Nara menatap ke arah sepatunya, lalu ke arah sepasang kaki telanjang Wisnu. Perlahan mengangkat wajahnya. ”Saya ingin lepas sepatu dulu. Mas Wisnu bisa menolong saya bawakan kotak makannya dulu tidak?” tanya Nara hati-hati. Nara merasa sedikit tidak enak pada Wisnu.

Wisnu sejenak menatap Nara dalam, lalu mengangguk. ”Sure. Kemarikan.” jawab Wisnu singkat. Wisnu langsung menyambar goodie box tupperware di tangan Nara membuat wanita itu sedikit kaget.

Sebagai pria yang gentle, Wisnu menawarkan lengannya yang kokoh untuk pegangan Nara. ”Pegang lengan saya. Supaya kamu lebih mudah melepaskan sepatu kamu.”

Nara mengerjapkan matanya lucu, lalu beralih menatap lengan Wisnu sejenak. Dengan ragu-ragu, Nara pelan-pelan mengulurkan dan meletakkan tangan kanannya di atas lengan laki-laki itu.

”Thank you, Mas.” ucap Nara tanpa melihat pada Wisnu. Tangan kirinya mulai bergerak melepaskan tali yang mengikat di sepasang sepatunya. Nara tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Wisnu akibat sentuhan tangannya.

Tubuh Wisnu seketika membeku. Sentuhan tangan halus Nara pada lengannya mengalirkan sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Jantung Wisnu berdebar dengan sangat kencang. Hati? Masih sehat bukan? Wisnu memperhatikan Nara dalam diam.

”Sudah?”

Nara mengangkat wajahnya menatap pada Wisnu, lalu mengangguk pelan. ”Sudah, Mas Wisnu.” jawab Nara sambil tersenyum sungkan dan perlahan menjauhkan tangannya dari lengan Wisnu.

Wisnu menggeser tubuhnya ke samping untuk memberi Nara jalan. ”Silahkan masuk, Naraya.”

Naraya? Gumam Nara dalam hati. Kening Nara mengerut dalam. Nara sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Wisnu dengan tatapan heran. Bukankah di awal perkenalannya tadi, dia menyebutkan nama Nara? Mengapa laki-laki itu, malah memanggil nama tengahnya bukan nama panggilannya?

Nara mengedikan bahunya samar. Tak mau terlalu ambil pusing dengan cara panggil Wisnu. Nara lantas menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti di belakang Wisnu yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.

-s e c o n d l o v e-

Valan langsung saja menepuk keningnya pelan setelah Nara dan Wisnu hilang di balik pintu rumah tetangganya itu. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat wajah cengo Wisnu. ”Hegh? Itu serius Mas Wisnu? Bukan jelmaan dari Mas Wisnu. Kenapa jadi seperti orang bodoh begitu?”

Ardian yang sedang berdiri di samping Valan, terkekeh pelan sambil menepuk bahu puteranya itu sebanyak dua kali. ”Makanya, Dik. Jatuh cinta, sana. Supaya Adik tahu, bagaimana rasanya salah tingkah saat bertemu dengan sang pujaan hati.”

”Ya ... kalau saja yang namanya jatuh cinta itu semudah menjentikkan jari, Pa. Setiap hari juga sanggup, adik jatuh cinta.”

”Kalau seperti itu, bibit-bibit Adik menjadi playboy. Jangan suka main-main dengan hati dan perasaan perempuan ya, Dik.” nasihat Ardian.

”Awas saja, ya kalau sampai Adik menjadi playboy betulan. Mama, coret nama Adik dari Kartu Keluarga!”

”Ya ampun! Ya, tidak mungkin sekali, lah Ma ... Adik masih ingat mbak Nara, ya.”

”Nah, bagus! Pilih saja itu salah satu perempuan yang suka datang ke rumah atau ke kantor. Sampai mama pusing sendiri, setiap hari yang datang selalu berbeda-beda. Jangan terlalu banyak memilih, Dik.”

”Ya memang harus pilih-pilih dong, Mama sayang ... Adik ingin mencari yang terbaik. Supaya satu untuk selamanya.” ujar Valan sambil memainkan kedua alisnya naik turun.

”Halah!” cibir Dewi.

”Adik tidak suka dikejar, Ma. Adik itu laki-laki, inginnya mengejar.”

”Good boy!”

Valan melipat kedua tangan di depan dadanya yang membusung dan mengangkat tinggi dagunya sombong.

Dewi melirik ke arah putera bungsunya itu. ”Teorinya saja, wah! Prakteknya, nol besar. Tunjukan dong, mana?” tagih Dewi.

”Yang sabar dong, Mama ku … Mencari menantu untuk Mama itu tidak boleh main-main. Harus dapat terbaik dari yang terbaik. Untuk mantu, kok coba-coba.”

Dewi tak menghiraukan ucapan Valan. Langsung berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumah disusul Valan dan Ardian di belakangnya. Menyudahi acara aksi mengintip mereka bertiga.

”Mama sedang PMS ya, Pa? Sewot sekali.”

Ardian hanya terkekeh geli. Mengulurkan tangan kanannya merangkul sebelah bahu Valan. Sedangkan tangan kirinya menepuk-nepuk pelan bahu puteranya itu yang sebelahnya lagi.

-s e c o n d l o v e-

”Biar saya saja yang siapkan sarapannya, Mas. Mas Wisnu lanjutkan lagi saja siap-siapnya. Bisa-bisa terlambat masuk kantor, nanti.” kata Nara ketika melihat penampilan Wisnu yang baru mengenakan celana bahan dan kemeja.

”Thanks, kalau itu tidak merepotkan kamu.”

Nara menggeleng. ”Tidak apa-apa, Mas Wisnu.” Nara tersenyum lembut. ”Saya sama sekali tidak merasa direpotkan, kok.”

Wisnu mengangguk kecil. ”Baiklah.” Wisnu menyerahkan goodie box tupperware pada Nara yang langsung diterima wanita itu. ”Kalau begitu saya tinggal ke atas dulu sebentar.”

Nara mengangguk pelan. Menatap Wisnu yang berjalan menaiki tangga hingga laki-laki itu tak nampak lagi sebelum menuju ke dapur bersih yang tadi sudah sempat Wisnu tunjukan.

Nara meletakkan goodie box tupperware di atas meja makan lengkap dengan empat kursi. Lalu melepaskan satu per satu box dari kaitan pegangannya dan menatanya di atas meja dengan rapi. Nara berbalik badan dan berjalan mendekati kitchen set. Pandanganya beredar mencari alat makan, seperti piring dan sendok.

Wisnu yang tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan kegiatan bersiapnya, kini sedang memperhatikan setiap gerak-gerik Nara dari anak tangga teratas. Dia jadi membayangkan, Nara yang setiap pagi hari ada di dapur menyiapkan sarapan untuknya. Looks great, isn't it? Wisnu tersenyum lebar.

Kedua kaki Nara berjinjit. Tangan kanannya masih terus mencoba menggapai piring yang ada di dalam lemari kitchen set. Lelah. Nara menjatuhkan telapak kakinya di atas lantai dan mendengus kesal. Lehernya nyaris patah. Sungguh tidak berperi kependekan! Meletakkan lemarinya kenapa harus tinggi sekali, sih! Dumel Nara dalam hati.

Tubuh Nara seketika berubah menjadi kaku sekaku papan ketika ada satu telapak tangan besar dan hangat menyentuh di satu sisi pinggangnya. Nara melirik lewat ujung matanya lengan kekar yang bisa menggapai lemari dengan mudah.

Wisnu menunduk sedikit menatap Nara. Senyum kecil terbit. ”Ekhem!” dehem Wisnu keras.

Nara mengerjapkan matanya dan menelan salivanya susah payah. Perlahan berbalik badan. Tubuh Nara langsung membeku ketika dada bidang sandarable milik Wisnu yang menjadi pemandangan yang dia lihat pertama kali.

Wisnu berdiri sangat dekat dengannya. Bahkan aroma maskulin dari tubuh laki-laki itu mengusik indera penciumannya. Perlahan Nara mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan manik mata coklat gelap milik Wisnu, yang ternyata sedang menunduk menatapnya juga.

”Ini.” kata Wisnu singkat. Suara Wisnu memecah keheningan yang terjadi di antara dia dan Nara sambil mengangkat piring di tangan kanannya.

Nara mengerjapkan matanya lucu membuat Wisnu harus menahan bibirnya yang berkedut. Lalu perlahan melirik ke arah piring. ”Umm ...” Nara berdehem kecil. ”Terima kasih, Mas Wisnu.” ucap Nara sambil mengambil benda ceper itu dari tangan Wisnu.

Nara memalingkan wajahnya. Tak ingin Wisnu melihat pipinya yang sudah bersemu merah. Namun, tanpa Nara sadari, Wisnu sudah lebih dulu melihatnya terbukti dari senyum kecil yang tersungging di bibir laki-laki itu.

Suasana di antara keduanya tiba-tiba saja kembali menjadi hening dan canggung.

Tak ingin berlama-lama berada di dalam situasi canggung. Nara langsung bergeser ke samping menjauh dari Wisnu dan langsung saja berjalan menuju meja makan.

Wisnu berbalik badan. ”No need to thanks, Naraya.” balas Wisnu sambil berjalan menyusul Nara dan duduk di kursi yang berseberangan dengan wanita itu. Bertopang dagu, Wisnu menatap Nara yang sedang menyendok nasi goreng ke atas piringnya.

Merasa sedang diperhatikan, Nara berdehem pelan mencoba menutupi salah tingkahnya. Meletakkan piring yang sudah terisi nasi goreng lengkap dengan kerupuk di meja depan Wisnu. ”Sarapan, Mas Wisnu.” kata Nara sambil meletakkan gelas air putih di samping piring Wisnu.

Wisnu mengangguk patuh ”Oke. Thanks.”

Suasana di antara keduanya lagi-lagi berubah menjadi hening. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring makan Wisnu yang mengisi pendengaran mereka berdua.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel