Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 03

Terik matahari tepat jam dua belas siang yang menyorot di atas lapangan outdoor sebuah rumah minimalis modern, tak mampu mencairkan sengitnya persaingan di antara kedua laki-laki yang sedang memperebutkan bola oranye itu.

Peluh yang bercucuran. Baju yang sudah basah kuyup oleh keringat tak juga mengusik pertandingan one on one itu.

Point!

Laki-laki yang usianya lebih tua itu berhasil memasukan bola ke dalam ring dan langsung saja melakukan celebration dengan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya yang terkepal. Tawanya meledak.

”Ternyata kemampuan basket dari seorang Wisnu Banayaka Rahagi, si pengusaha muda sukses yang super duper sibuk ini, boleh diadu juga.”

Wisnu menarik sudut bibirnya sebelah membentuk seringaian yang tampak menyebalkan di kedua mata Valan. Berlari kecil mengambil bola yang tadi menggelinding keluar dari lapangan hijau itu.

Wisnu kembali berlari kecil dengan bola yang sudah ada di kedua tangannya dan berdiri di area three points dengan posisi shooting yang sempurna. Lalu melemparkan bola oranye itu ke dalam ring. Berhasil!

Wisnu langsung memalingkan wajahnya pada Valan yang sudah duduk bersila di pinggir lapangan sambil menggerakan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya di depan mata seolah berkata watch out, dude!

Valan tertawa keras. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya. Menatap Wisnu malas.

Wisnu berbalik badan dan berjalan menghampiri Valan. Menerima botol air mineral yang diulurkan laki-laki itu. Wisnu memutar tutup botol sambil mengambil duduk di samping Valan.

”Basket menjadi satu-satunya tempat pelarian Mas dari segala kepenatan, Dik.” terang Wisnu setelah menghabiskan setengah air mineral di dalam botol. ”Yang tadi itu-- Adhitya suami Naraya, bukan?” tanya Wisnu dengan hati-hati.

Valan terkekeh sinis membuat Wisnu reflek menoleh ke arahnya.

”Ada apa dengan kekehan kamu itu, Dik?” tanya Wisnu tidak mengerti.

Valan menggeleng pelan membuat kerutan yang tercetak di kening Wisnu semakin dalam. ”Lebih benar itu, Adhitya, mantan suami Naraya, Mas.” koreksi Valan dengan santai sambil meluruskan kedua kakinya dan meletakkan kedua tangan di belakang sebagai penopang tubuhnya. Valan menatap kosong bola di depannya.

Ma-mantan? Kedua mata Wisnu terbelalak lebar tidak percaya. Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba saja menyeruak masuk dalam kepalanya. Mereka bercerai? Bagaimana bisa? Kapan? Kenapa?

”Mantan?” gumam Wisnu lirih. ”Mas-- sedang tidak salah dengar, kan ... Dik?” tanya Wisnu dengan suara dalam dan nada menuntut. Wisnu menatap Valan tidak percaya.

Matanya melirik Wisnu. Valan terkekeh pelan. ”Ekspresimu, Mas. Kaget sekali dengarnya ya, Mas?”

”Hah?” Wisnu melongo membuat Valan geleng-geleng kepala melihatnya.

Suasana di antara keduanya mendadak menjadi hening. Wisnu dan Valan, keduanya sejenak tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing.

”Mereka-- Adhitya dan Naraya-- mereka berdua betulan bercerai?” tanya Wisnu pada akhirnya memecah keheningan. Wisnu menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. ”Terakhir yang Mas lihat, mereka berdua baik-baik saja. Kelihatan sangat mesra. Membuat semua orang iri melihatnya. Sungguh pasangan yang romantis. Marriage goals.”

Valan kembali melirik ke arah Wisnu, lalu menghela nafas berat. ”Mas, terakhir kali melihat mbak Nara dengan bang Adhit sudah kapan tahu. Banyak hal yang sudah berubah dalam setahun ini, Mas. Termasuk pernikahan mbak Nara.”

”Tapi … kenapa bisa, Dik?”

Valan menoleh menatap Wisnu yang ternyata juga sedang menatapnya. ”Belum ada anak dalam pernikahan mereka yang sudah berjalan lima tahun ini, Mas. Pihak keluarga, tidak pernah menuntut apa-apa. Tidak juga meminta cepat-cepat. Karena kami sadar, perihal anak itu mutlak kuasa Allah.”

”Tetapi, mungkin saja bang Adhit berpikiran lain. Menjadikan bang Adhit tidak sabaran hingga melanggar semua larangan Allah. Dia memilih selingkuh dan sekarang selingkuhan bang Adhit itu-- hamil. Silahkan Mas Wisnu bayangkan sendiri bagaimana perasaan mbak Nara.”

Nafas Wisnu tercekat di tenggorokan. Membayangkan bagaimana hancurnya hati Naraya saja sudah membuat dadanya sangat nyeri. Apalagi harus melihat secara langsung. Wisnu memalingkan wajahnya.

”Bolehkah, kalau sekarang ini, di situasi yang seperti ini, Mas berkata senang. Sementara Naraya sedang terluka dalam, Dik?”

Valan menghela nafas berat lagi, lalu mengangkat kedua bahunya tidak tahu. ”Banyak pertanyaan yang sudah mbak Nara terima. Tapi-- mbak Nara bisa apa? Anak bukan sesuatu yang bisa dibuat sendiri. Mbak Nara sehat dan mampu. Usaha dan do’a mbak Nara tidak pernah putus. Mas, ingin tahu tidak yang lebih parahnya lagi apa?”

Wisnu mengangguk pelan, namun tidak berani menoleh menatap Valan. Dia yakin, amat sangat yakin, tidak akan bisa menahan emosinya ketika nanti sudah mendengar apa yang ingin diucapkan Valan karena bisa dipastikan, itu adalah sesuatu hal yang buruk.

Valan mendesah lelah sambil mendongakan kepalanya. ”Awalnya, bang Adhit tetap kukuh ingin mempertahankan mbak Nara disisinya. Dan akan tetap menikahi wanita yang menjadi selingkuhannya itu. Sederhananya, mbak Nara akan dimadu.” terang Valan dengan berat hati. Valan menundukan kepalanya dalam ketika suara tangis kesakitan Nara terlintas di benaknya.

Sontak. Wisnu langsung saja menoleh menatap Valan. Fucking crazy! Adhitya Mahendra, SIALAN! Wisnu mengepalkan kedua tangannya kuat. Rahangnya mengeras.

Naraya, wanita yang sudah membuatnya percaya dengan adanya cinta pandangan pertama. Wanita anggun dengan wajah super cantik yang sudah membuat jantungnya ribut, berdegup kencang tak normal hanya dengan sekilas pandangan mata. Senyum manis di bibir Naraya adalah wujud nyata dari sebuah ketulusan, penerimaan tanpa ada syarat apapun sudah berhasil membuat dadanya berdesir hangat.

For God's sake! Siapa Adhitya Mahendra yang sudah lancang merenggut itu semua? Semetara Wisnu rela melakukan apa saja demi menjaga itu semua.

Bertemu dengan Nara, memunculkan keinginan kuat dalam dirinya untuk menjadi sosok pria yang memperjuangkan wanita yang dicintai dengan benar.

Pikiran Wisnu menerawang pada pertemuan pertama kalinya dengan Nara. Hampir saja dia menarik Nara pergi, membawa wanita itu lari. Namun, niatnya surut ketika melihat tatapan penuh cinta yang Nara berikan pada Adhit.

Kenapa bukan dia yang lebih dulu bertemu dengan Nara? Kenapa bukan dia yang menerima tatapan penuh cinta itu dari Nara? Wisnu bertanya-tanya dalam hati.

Lalu sekarang apa? Ketika Wisnu sudah menekan perasaannya dalam-dalam, Adhit, pria yang menurutnya paling beruntung mendapatkan semua itu dari Nara justru berakhir dengan menyakiti wanita itu.

Seandainya saja, dia tahu pernikahan Nara akan berakhir dengan hancurnya hati wanita itu. Wisnu bersumpah demi nama Tuhan, akan merendahkan harga dirinya dengan berubah menjadi sosok pria pebinor, yang tidak segan-segan merebut Nara di detik pertama melihat wanita itu di perayaan anniversary perusahaan milik keluarga Adhit satu tahun yang lalu. Dan dengan terang-terangan akan merebut Nara di depan wajah Adhit.

Bolehkah sekarang dia menyebut Naranya?

Merasa ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tajam, Valan perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh menatap ke arah Wisnu. Valan hanya mengedikan bahunya.

”Mas, kapan berani bertemu dengan Mbak Nara?”

”Apa disaat kondisi Naraya sedang kacau seperti sekarang ini, adalah waktu yang tepat untuk Mas datang di hidup Nara, Dik?”

”Tidak ada waktu yang tepat kalau bukan Mas Wisnu sendiri yang membuat waktu itu menjadi tepat, Mas.” Valan menepuk bahu Wisnu dua kali. ”Aku pasti akan membantu Mas Wisnu. Tenang saja.”

Wisnu mengangguk kecil. Dia masih ingat ketika berkunjung ke rumah yang bersebelahan dengan rumah barunya untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga baru bersama dengan kedua orang tuanya satu bulan yang lalu, tidak sengaja matanya melihat foto Nara di dalam pigura yang dipajang di ruang tamu. Dan entah dari mana datangnya sumber dari kekuatannya tiba-tiba saja dia berani mengutarakan isi hatinya pada mereka semua yang ada di sana.

”Kondisinya Naraya sendiri sekarang bagaimana, Dik? Mas ikut panik sewaktu melihat Nara pingsan kemarin.”

”Sudah lebih baik secara fisik menurutku. Tetapi, tidak tahu bagaimana dengan kondisi hatinya mbak Nara, Mas.”

Wisnu menghembuskan nafas lega. Masalah hati, biarlah dia yang akan menyembuhkan nantinya.

”Aku pulang dulu, Mas.” pamit Valan sambil beranjak berdiri. ”Mbak Nara sedang sendirian di rumah. Aku sudah terlalu lama meninggalkan Mbak Nara.”

Wisnu hanya mengibaskan tangannya isyarat agar Valan segera pergi.

-s e c o n d l o v e-

Nara berdiri di balkon kamarnya. Mendongakan kepalanya menatap pada langit gelap dengan tatapan kosong. Nara perlahan-lahan menutup kedua kelopak matanya, menikmati dinginnya angin malam yang menerpa wajah pucatnya.

Nara mendesah kasar mencoba menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya dan ketika kedua kelopak matanya kembali terbuka pandangannya langsung bertemu dengan manik mata elang milik pria yang sedang menatapnya dengan sorot yang ... entahlah Nara tak bisa mengartikan tatapan itu.

Posisi balkon kamar Nara berhadapan langsung dengan balkon kamar milik rumah sebelah tempat dimana pria itu kini sedang berdiri masih dengan menatapnya.

”Mbak Nara?”

Tepukan ringan Valan di bahunya membuat Nara terkesiap dan memutuskan aksi saling tatap yang tidak sengaja itu lebih dulu. Nara langsung memutar kepalanya ke belakang menatap Valan yang sedang menatap pria itu. Kening Nara mengerut dalam.

”Dik?”

Valan langsung menunduk menatap Nara yang lebih pendek darinya. ”Mbak Nara, sedang apa di luar? Lupa kalau masih sakit. Dingin Mbak di luar. Mana tidak pakai jaket lagi.”

”Bawel, ah ... Mbak hanya ingin mencari angin sebentar, Dik.”

Valan celingukan. ”Mana-mana? Dimana anginnya, Mbak? Berhasil bertemu dengan angin yang sedang Mbak Nara cari tidak, Mbak?”

Nara tersenyum kecil sambil menepuk pelan lengan Valan. ”Garing ah, Dik. Ada apa?”

”Mbak Nara, aneh. Angin dicari, kebahagiaan baru dicari, Mbak. Itu, kanjeng ratu mama, sudah menitahkan untuk makan malam sekarang, Mbak.”

Nara tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala pelan. ”Oke. Ayo turun. Kita temui kanjeng ratu mama.” ajak Nara sambil memeluk lengan Valan.

Valan menggeleng singkat sambil menepis tangan Nara pelan. ”Mbak turun duluan saja. Adik mau tutup pintu balkonnya dulu.”

Nara mengangguk patuh. ”Iya, sudah.” Nara menoleh menyempatkan menatap wajah Wisnu yang kalau diingat-ingat kembali terasa cukup familiar juga sebelum berlalu meninggalkan balkon kamarnya.

”Sedang apa, Mas?” tanya Valan dengan suara rendah setelah mendengar suara pintu kamar Nara tertutup.

”Lihat queen Mas, lah.”

”Lihit qiiin Mis, lih! Hilih!” nyinyir Valan dengan mulut bebeknya sambil mengibaskan satu tangannya. ”Segala queen-queen. Muncul di depan mbak Nara saja tidak berani.”

”Yang tidak memiliki gebetan, dilarang untuk sirik, iri, dan dengki.”

”Sembarangan!” sembur Valan langsung.

Wisnu tergelak hingga memegang perut ratanya.

”Adik!” seru Nara dari anak tangga terbawah.

Gelak tawa Wisnu langsung berubah menjadi sebuah kekehan geli ketika mendengar suara cempreng Nara.

”Si bucin!” ejek Valan bergumam. Valan memutar kedua bola matanya malas, lalu menoleh menatap pintu kamar Nara.” Iya Mbak Nara, sebentar!” Valan kembali menatap Wisnu. ”Aku masuk dulu ya, Mas.”

Wisnu mengangguk sambil mengibaskan tangannya

-s e c o n d l o v e-

”Mama?”

Dewi langsung menoleh menatap Nara yang sedang mengambil duduk di kursi kosong yang ada di samping kursi yang sedang didudukinya. ”Iya, kenapa, Mbak? Mbak Nara, mau tambah lagi nasinya? Masih kurang?”

Nara menatap nasi yang sudah Dewi tuangkan di atas piringnya, lalu menggeleng pelan. ”Sudah cukup, kok Ma. Jangan banyak- banyak. Mbak mau tanya sama Mama.”

”Tanya apa Mbak?”

”Itu, lho … rumah yang di sebelah itu sudah ada yang menempati ya, Ma?”

”Sudah, Mbak. Itu, lho ... laki-laki yang bertemu Mbak Nara di balkon tadi.” serobot Valan yang sedang berjalan mendekati meja makan.

Nara ber-oh ria sambil manggut-manggut. ”Sejak kapan memangnya? Kok, Mbak baru tahu dan baru pernah lihat yang punya.”

”Kalau Mama tidak salah hitung, ya ... sudah ada satu bulanan mungkin, Mbak.” jawab Dewi sambil meletakkan sepiring nasi di depan Valan.

”Besok kenalan ya, Mbak sekalian antarkan sarapan untuk Nak Wisnu.”

Kening Nara mengerut dalam.

”Yang punya rumah sebelah namanya Wisnu. Nak Wisnu, usianya lebih tua beberapa tahun di atas Mbak Nara makanya kalau nanti Mbak bertemu dengan Nak Wisnu lagi harus panggil Mas Wisnu.”

Nara manggut-manggut. ”Mbak tidak keberatan tentang panggil Mas Wisnu. Tapi, Pa ... adik saja, ah yang antar sarapannya. Mbak belum kenal. Aneh kalau tiba-tiba saja antar sarapan.”

”Aneh apanya, sih Mbak ketimbang anterkan sarapan saja. Bilang saja Mbak Nara itu anaknya mama Dewi dan papa Ardian. Mas Wisnu pasti langsung paham. Lagian lumayan, Mbak.” Valan memainkan kedua alisnya naik turun menggoda Nara.

Kedua alis Nara terangkat. ”Lumayan apa?”

”Bisa bertemu dengan cogan. Cuci mata. Atau ... gebet sanalah, Mbak.” kekeh Valan.

Nara menatap Valan tajam. Mengangkat garpu makannya dan menggerakan seolah akan menusuk mata Valan.

Valan menjadi tergelak. ”Wow ... wow ... wow ...” seru Valan dengan suara keras dramatis sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. ”Sadis, ya Anda!”

”Kenapa, sih harus diantarkan sarapannya?”

”Nak Wisnu itu tinggal sendirian di rumah sebelah, Mbak. Orang tuanya Nak Wisnu juga sudah menitipkan Nak Wisnu kepada mama.”

”Tap--”

”Sudah-sudah. Besok, Mbak antarkan sarapannya nak Wisnu sekalian berkenalan. Hidup bertetangga itu harus saling mengenal, Mbak.

”Iya-iya, Papa.”

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel