Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SL | 02

Nara hanya berdiri terdiam dengan memegang dua buah koper yang diletakkan di kanan dan kiri sisi tubuhnya. Menatap foto dalam pigura berukuran cukup besar yang dipajang di dinding di atas headboard ranjangnya dan Adhit dengan nanar.

Foto pernikahannya lima tahun yang lalu dengan pria yang sudah resmi menjadi mantan suaminya itu sejak kemarin. Di dalam foto itu, Nara dan Adhit tampak tersenyum lebar dengan setelan kebaya dan beskap jawa berwarna putih. Rona kebahagiaan terpancar jelas di hari sakral mereka berdua. Namun, siapa yang menyangka jika pernikahan yang selama ini terlihat harmonis itu akan berakhir di meja pengadilan agama?

Ya Allah ... Nara menyebut nama Tuhannya berulang-ulang dalam hati. Menghela nafas berat. Nara mengusap air matanya yang sejak dia mengemas baju-bajunya tak juga berhenti mengalir. Sesak rasanya.

Nara berjalan gontai menuju headboard. Kedua kakinya berjinjit dengan kedua tangannya terulur untuk menurunkan pigura foto itu dengan susah payah. Nara duduk di tepi ranjang dengan membawa pigura di atas pangkuannya.

Nara membekap mulutnya sendiri mencoba menahan suara isakannya. Tapi, gagal. Nara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Nara menangis dengan keras. Menangisi ketidakmampuannya memberi keturunan untuk suaminya dan ketidaksempurnaannya sebagai seorang istri.

Nara menangis cukup lama hingga wajahnya menjadi sembab. Kedua mata bengkak dan hidung merah. Perlahan berdiri dan duduk berjongkok menghadap pada ranjang. Nara mendorong masuk pigura foto itu hingga ke bagian kolong ranjang terdalam.

Nara berdiri. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar untuk terakhir kali sebelum melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang sudah ditempati semenjak malam pertama dia menikah dengan Adhit. Rumah yang menjadi hadiah dari pria itu sukses membuatnya terkejut sekaligus bahagia di waktu yang bersamaan. Rumah itu dibangun sesuai dengan gambaran rumah impiannya. Namun kini semuanya tinggal kenangan yang harus disimpan sudut hati terdalamnya.

”Selamat tinggal Mas Adhit.”

-s e c o n d l o v e-

Nara turun dari taxi online yang ditumpanginya. Mengangguk kecil pada supir yang sedang menyerahkan kedua kopernya.

”Terima kasih, Pak.”

”Sama-sama, Mbak. Permisi.”

Nara mengangguk kecil satu kali lagi.

Nara mengangkat wajahnya dan tatapannya langsung bertemu dengan mata sendu milik ibunya. Dewi Maheswari, wanita hebat dalam hidupnya. Pria paruh baya yang berdiri di belakang ibunya itu ayahnya, Ardian Pradipto. Cinta pertama dan superhero di dunia nyatanya. Lalu laki-laki yang sedang berdiri di samping ayahnya itu, Kian Valan Ardian, laki-laki kedua dalam hidupnya, adik yang selalu kecil di matanya.

Lihatlah! Mereka tetap menunjukan senyum tulus, menyambut putri dan juga kakak yang pulang membawa kegagalan bersamanya.

Nara langsung berlari kecil meninggalkan kopernya begitu saja. Air matanya tak sanggup dibendung lagi. Di depan orang tua dan adik laki-lakinya tubuh Nara merosot terduduk di atas lantai. Kedua kakinya lemas tidak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri.

Nara menangis sejadi-jadinya dalam pelukan hangat Dewi. Menumpahkan segala perasaan yang selama ini hanya dia pendam sendiri. Tekadnya untuk tetap tersenyum di depan keluarganya hilang begitu saja. Tangan kanannya memukul-mukul dadanya sebelah kiri keras. Berharap rasa sesak di dalam sana hilang.

”Ma, sakit, Ma. Mbak bohong, Ma. Mbak tidak baik-baik saja, Ma. Sakit, Ma. Sakit.” lirih Nara di tengah-tengah isak tangisnya.

Melihat Nara hancur di depan mata kepalanya sendiri membuat Valan sangat marah pada pria yang telah orang tua juga dirinya percaya untuk menjaga serta menjamin kebahagiaan kakaknya.

Brengsek! Valan menggeram menahan kemarahannya yang sudah siap meledak sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Ardian meremas bahu Valan sebelah. Matanya tak lepas menatap Nara dengan sorot yang sulit untuk diartikan. Ardian marah? Tentu saja. Ayah mana yang tidak marah melihat puteri yang dijaga sedemikian rupa dihancurkan dengan mudahnya oleh pria baru dalam hidup puterinya. Lalu apa dia harus menunjukkannya kemarahannya? Tidak.

Ibu mana yang tidak sakit hati jika melihat puterinya disakiti? Begitu juga yang sedang Dewi rasakan saat ini. Ibu dari Nara itu juga ikut menangis bersama puterinya.

Dewi mencium puncak kepala Nara sekilas seraya mengusap-usap pelan bagian belakang puterinya itu. ”Mbak boleh nangis sepuasnya sekarang. Tapi setelah hari ini, Mbak jangan pernah lagi menangisi kegagalan Mbak. Kita akan cari sama-sama kebahagiaan Mbak, ya sayang.”

Nara tak menjawab. Suara tangisnya semakin mengecil.

”Mbak Nara?” panggil Dewi dengan sedikit mengguncangkan tubuh kurus Nara. ”Mbak Nara? Sayang?” Dewi semakin mengeratkan pelukannya ketika merasakan tubuh Nara yang semakin ringan dan melihat tangan putrinya itu terkulai lemas. Nara pingsan.

”Pa! Papa! Adik! Mbak Nara, pingsan!”

-s e c o n d l o v e-

Adhit mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha beradaptasi dengan cahaya matahari yang menyusup masuk ke dalam kamarnya. Tangannya meraba-raba kasur di sampingnya sudah kosong.

Adhit menoleh menatap jam di atas nakas, menunjukan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Terlambat! Sontak. Adhit langsung bangun dan melompat turun dari ranjang. Tak mau membuang waktu, Adhit langsung beranjak ke kamar mandi.

”Sayang ...?”

Adhit mengerutkan keningnya ketika tidak mendapatkan sahutan dari istrinya. ”Nara ... sayang? Baju kerja Mas mana? Kok, belum disiapkan? Nara?”

Adhit keluar dari kamarnya berjalan hanya dengan memakai handuk yang melingkar di pinggangnya menuju dapur. ”Sayang, baju--” bibir Adhit langsung terkatup rapat. Naranya yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuknya tidak ada di sana.

Adhit menelan salivanya kasar. Tersadar akan suatu kenyataan yang ada. Adhit dengan panik mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumahnya. Tidak ada lagi foto-foto dirinya bersama Naranya yang menggantung menghiasi dinding.

Adhit buru-buru berjalan kembali menuju kamarnya. Sama. Tidak ada foto pernikahannya dengan Nara yang sudah menghiasi kamar selama lima tahun ini. Matanya beralih menatap ke arah meja rias yang sudah kosong. Bersih dari berbagai jenis produk make-up Naranya. Hanya menyisakan beberapa parfum yang merupakan miliknya.

Adhit menoleh menatap pintu walk-in closet. Lalu dengan langkah gontai dan perasaan kacau masuk ke dalam tempat penyimpanan itu. Seperti yang sudah bisa ditebak. Semua pakaian, tas, sepatu dan perhiasan milik Naranya masih tertata rapi di sana. Naranya meninggalkan semua yang sudah menjadi haknya.

Seketika itu tubuh Adhit merosot duduk berlutut di atas lantai. Adhit menunduk dalam sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Menangis tanpa suara. Loser! Masih berharap Naranya ada? Nara bukan lagi Naranya. Menyesal pun sudah terlambat. Nara pergi meninggalkannya dengan tumpukan rasa bersalah. Perasaan yang sewaktu-waktu siap membunuhnya.

”Kamu kenapa, Mas?”

Tangis Adhit seketika terhenti. Langsung menghapus air matanya kasar. Adhit mengangkat wajahnya. ”Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Adhit dengan suara datar dan dingin. Adhit menatap wanita yang sudah berdiri di depannya itu tajam.

”Aku?” Mutiara menunjuk dirinya sendiri. ”Ya, aku pulanglah, Mas. Rumah ini, kan sudah menjadi rumah aku sekarang.”

”Kamu lupa dengan apa yang aku katakan kemarin? Tunggu aku jemput.”

Alih-alih menjawab. Mutiara malah berdecak keras ketika melihat jejak air mata di pipi Adhit. ”Tidak ada gunanya menangisi mantan istri kamu itu, Mas.”

Rahang Adhit mengeras dan semakin menatap Mutiara tajam. Dimana sopan-santun wanita itu? Dan kemana perginya tatapan sendu, wajah sarat dengan penyesalan dan rasa bersalah itu? Hah! Adhit terkekeh sinis.

”Kamu kenapa tertawa seperti itu, Mas?”

Adhit tak menghiraukan pertanyaan Mutiara. Kekehannya semakin keras sukses membuat wanita yang kini tengah mengandung anak dari hasil hubungan terlarang dengannya itu takut.

Adhit menundukkan kepalanya dalam-dalam. Adhitya Mahendra. Pengusaha muda yang katanya sukses itu, kenyataannya hanya seorang pria bodoh dan buta, yang tidak mampu membedakan malaikat yang sesungguhnya dengan iblis bertopeng wajah malaikat.

Mutiara berjalan keluar ke arah kamar. ”Aku minta card kamu yang unlimited dong, Mas. Aku ingin shopping hari ini.”

”Shopping?” tanya Adhit dengan dahi mengernyit heran. Perlahan mengangkat kepalanya.

Jalan Mutiara terhenti. Langsung berbalik badan menghadap Adhit. “Iya, shopping. Aku ini, istri SAH kamu sekarang. Hak aku meminta nafkah lahir dan batin pada kamu.”

Adhit terhenyak dengan kedua pupil mata yang melebar. Wajahnya seolah ditampar bolak balik. Inikah wajah asli dari wanita yang sudah dibelanya di depan Nara? Wanita yang membuatnya tega mengkhianati dan menyakiti hati Nara. Adhit tertawa keras menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Karma does exist.

”Bagus juga kemarin Nara itu sadar diri. Tidak meminta harta gono gini pada kamu. Aku tidak ingin harta yang kamu miliki sampai berkurang.” gumam Mutiara pelan namun masih cukup bisa didengar telinga Adhit.

Adhit langsung menatap Mutiara dengan tatapan menghunus tajam. ”Jadi begini sifat asli kamu yang sebenarnya, Mut?”

Mutiara tergelak menertawakan kebodohan Adhit. ”Iya. Kenapa? Kaget? Bodoh sekali kamu baru sadar sekarang, Mas. Terlambat.”

Shit! Umpat Adhit keras dalam hati. Berdiri dan dengan tergesa mengganti bajunya. ”Jelas, Nara sadar diri. Nara berbeda. Nara berlipat ja.uh lebih baik daripada kamu, Mut.” kata Adhit menekankan pada kata jauh sambil beranjak berdiri. Adhit langsung berlalu begitu saja meninggalkan Mutiara.

“Jelas, beda! Nara, mantan istri kamu itu mandul, Mas! Kamu salah. Nara tidak jauh lebih baik daripada aku. Karena aku yang bisa memberikan anak yang kamu impikan!” jerit Mutiara tidak terima jika dibanding-bandingkan dengan Nara.

Deg!

Langkah Adhit seketika terhenti. Impiannya? Benarkah itu? Jadi selama ini ... tujuannya menikahi Nara hanya sebatas untuk itu? Anak? Adhit menggeleng keras. Bukan-bukan! Dia menikahi Naranya karena dia mencintai Naranya. Kenapa kehilangan yang menyadarkannya?

”Card. Mana Mas!”

Adhit kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tak dihiraukannya todongan Mutiara.

”Sialan!” umpat Mutiara.

-s e c o n d l o v e-

Adhit menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai. Matanya tak lepas menatap pada pintu utama rumah itu.

”Nara, sayang. Keluar please. Mas rindu kamu.” gumam Adhit dengan tidak tenang sambil telunjuknya mengetuk-ngetuk setir mobilnya tidak sabaran.

Tok … tok … tok ...

Suara ketukan di kaca jendela mobilnya membuat Adhit terkesiap sedikit. Reflek menoleh dan menghentikan gerakan telunjuknya. Adhit langsung membuka kaca jendela mobilnya.

”A-adik?”

”Sedang apa, Bang?” tanya Valan datar sambil bersandar di samping pintu kemudi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Valan menatap Adhit tajam.

Kening Adhit mengerut. Bang? ”Ma-mas mau lihat Nara, Dik.”

Valan menggeleng tegas. ”Saya bukan adik Abang lagi. Tidak ada lagi adik-mas, adik-mas lagi. Kenapa Abang ingin melihat Mbak saya lagi?” tanya Valan sambil mengedikan dagunya.

”Ma-- saya, rindu dengan Nara, Val.” terang Adhit pelan mengikuti gaya bicara yang Valan permasalahkan tadi sambil menundukan kepalanya.

Valan terkekeh sinis. ”Rindu, Abang kata?” Valan melepaskan kedua tangannya. Memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. ”Abang mempunyai istri. Tidak pantas rasanya Abang rindu dengan wanita lain.”

Adhit langsung mengatupkan bibirnya.

Valan menghela nafas berat. ”Saya baru tahu Abang selemah itu, Bang. Menyerah dengan keadaan, kalah dengan cobaan dari Tuhan. Mbak Nara sehat, kalau Abang lupa. Harusnya Abang bisa sabar sebentar lagi.”

Adhit masih terdiam. Otaknya buntu hanya untuk mencari balasan yang tepat untuk setiap kalimat yang diucapkan Valan.

”Abang tidak penasaran, kenapa saya bisa bersikap santai seperti ini menghadapi Abang?”

Adhit langsung mengangkat wajahnya menatap pada Valan. Tatapannya itu seolah bertanya kenapa.

”Saya tidak ingin perjuangan Mbak Nara yang sudah merelakan hati juga posisinya menjadi sia-sia karena memukuli Abang. Abang tahu, bukan saja Mbak Nara yang merasa dikhianati di sini. Tetapi saya, mama dan papa juga.”

”Sorry, Val.”

”Kelakuan Abang membuat saya menjadi adik yang lemah. Adik yang tidak bisa menjaga mbaknya. Abang membuat papa dan mama hidup dengan perasaan bersalah karena mereka sudah mempercayakan hidup dan kebahagian Mbak Nara pada Abang.”

Adhit menunduk. Pegangan tangannya pada setir semakin kuat. Dia sudah menyakiti hati Naranya, orang tuanya, mantan mertua juga mantan adik iparnya. Banyak hati yang telah dia korbankan hanya untuk memuaskan nafsunya.

”Pergi, Bang. Jangan pernah tunjukkan muka Abang di depan Mbak Nara lagi.”

”Va--”

”Mbak Nara tidak akan keluar. Kalaupun Mbak Nara keluar, saya jamin dia enggan menemui Abang. Mbak Nara pasti masih butuh waktu. Mbak Nara pingsan kemarin.”

Adhit melotot tidak percaya. Naranya pingsan?

”Kurang asupan nutrisi. Kelelahan. Mbak Nara sudah berada di batas kemampuannya bisa menahan. Tidak perlu repot-repot Abang selingkuh. Mbak Nara sudah sangat lelah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar anak.”

Adhit menghempaskan kasar punggungnya pada jok mobil dengan kedua mata terpejam. Menghela nafas berat.

”Stres. Merasa rendah karena tidak bisa mewujudkan impian Abang. Dan kalau mungkin saja, Abang lupa. Anak juga impian Mbak Nara. Keinginan Mbak Nara jauh lebih besar ketimbang Abang. Mbak Nara itu wanita yang akan merasa sempurna kalau sudah bisa memberikan suaminya anak. Menjadi ibu untuk anak dari suaminya, Bang.”

”Saya mohon. Izinkan saya bertemu dengan Nara, Val.”

Valan menggeleng. ”Mbak Nara masih terlalu lemah. Kehadiran Abang tidak akan membuat Mbak Nara lebih baik. Abang hanya akan mengingatkan lagi atas sesuatu hal yang bukan kuasa Mbak Nara. Pastikan, Abang sendiri bahagia bagaimanapun caranya, Bang. Abang kasih Mbak Nara hasil dari pengorbanannya. Saya yang jamin, Mbak Nara akan bahagia tanpa Abang.”

Valan menepuk atap mobil Adhit dua kali sebagai tanda agar Adhit segera pergi yang dengan terpaksa dituruti oleh pria itu. Valan menatap kosong mobil Adhit yang bergerak semakin menjauh dari area rumahnya. Sampai ada sebuah tepukan yang mendarat di atas bahunya yang langsung membuyarkan kekosongannya.

”Mas?”

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel