Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 8. TAK PERCAYA

Setelah beberapa waktu pencarian, akhirnya karyawan HRD berhasil mengundang kembali Azriel ke kantor. Meski harus mengerahkan beberapa orang ahli.

Azriel yang kebingungan hanya bisa pasrah ketika dipanggil lagi ke bagian HRD. Tanpa banyak bertanya kini ia digiring ke dalam ruangan kepala HRD.

"Silakan masuk Tuan Azriel."

"Terima kasih."

Pandangan mata Azriel bertemu dengan Aiden. Sontak kepala penanggung jawab perusahaan itu membungkuk hormat padanya. Kepala HRD hanya bisa melongo melihat hal ganji itu.

"Selamat datang, Tuan Azriel. Silakan duduk."

Tanpa bertanya lebih banyak, kini Azriel langsung duduk patuh. Baru setelahnya bertanya kenapa dia dipanggil lagi ke perusahaan.

"Maaf, Tuan bolehkah saya bertanya?"

"Silakan, Tuan."

"Untuk apa saya dipanggil lagi ke sini?"

"Meluruskan kesalahan pahaman yang sudah terjadi."

Azriel menggaruk tengkuknya, lalu Aiden mulai menjelaskan situasi yang sebenarnya. Azriel hanya manggut-manggut mendengar penjelasan darinya.

"Jadi, ada yang tidak beres di sini, ya?"

"Belum bisa dipastikan, sebaiknya biar situasi ini diperiksa dengan lebih teliti lagi."

"Oh, baiklah. Terima kasih, Tuan Aiden."

Aiden tampak tersenyum ramah kepada Azriel. Lalu ia pun mulai memainkan jari jemarinya di atas laptop. Kelincahannya dalam memainkan jari jemarinya membuat Azriel kagum.

"Apakah Tuan Aiden juga merupakan anggota Elang Dewa?" batin Azriel terus bertanya-tanya dengan serius.

Rupanya Aiden bisa menemukan kecurangan itu dengan cepat. Azriel kembali terpana dengan hasilnya. Apalagi hanya dalam beberapa menit, ia sudah menemukan pelaku utama.

"Sudah ketemu!"

"Ha-ah, secepat itu?"

"Benar, lihatlah hasilnya!"

Azriel langsung melihat laptop milik Aiden. Betapa terkejutnya ia mengetahui jika atasannya yang bersalah.

Penanggung jawab di perusahaan tersebut agak terkejut setelah menemukan fakta baru. Setelah diperiksa, ia justru menemukan jika atasan Azriel yang menuduhnya tadi justru melakukan kecurangan.

Rupanya ia yang melakukan semua ini? Lalu atas dasar apa sampai menuduh Tuan Azriel terlibat kecurangan di sini?" gumamnya sambil mengamati rekaman CCTV di perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama, melalui pemeriksaan, ia juga menemukan bahwa atasan ini korupsi.

"Ya, Tuhan. Rupanya Alex juga melakukan korupsi. Pantas saja perusahaan merugi dalam beberapa tahun terakhir. Baiklah, jika selama ini kamu bisa selamat, maka setelah ini kamu akan mendapatkan balasan atas apa yang telah kamu perbuat."

Aiden segera membalikkan laptop miliknya. Lalu tanpa menunggu waktu lebih banyak lagi, Aiden langsung mengeluarkan surat pemecatan untuk atasan Azriel.

"Apakah Tuan akan memecatnya?"

"Tentu saja, kenapa tidak?"

Azriel hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam. Ia bisa memastikan jika Aiden memiliki kekuatan yang sama dengan Tuan Edward.

"Karena semuanya sudah beres, maka Tuan boleh kembali."

"Oh, ya sudah. Terima kasih."

Setelah dirasa selesai, Azriel kembali ke rumah. Sayang, rupanya ada orang yang lapor kepada Ayah mertuanya. Mengatakan jika Azriel tidak bekerja dengan serius di perusahaan, alhasil ia dipecat.

"Nah, itu orangnya."

"Jadi, bisakah kau memberikan penjelasanmu?"

Azriel menganggukkan kepala. "Bisa, Pa."

Akhirnya Azriel diberikan kesempatan untuk menjelaskan statusnya di perusahaan saat ini. Azriel bilang jika dirinya tidak dipecat. Bahkan kedudukannya juga ditingkatkan menjadi kepala di sana.

"Mana mungkin kamu mendapat kedudukan sebagus itu?"

"Lah, kenapa tidak? Bukankah semua orang bisa berkarya sebaik mungkin."

Orang lain pun tidak percaya dengan ucapan Azriel barusan. Mereka tidak menyangka jika menantu sampah yang biasa dihina bisa mengeluarkan pendapat seperti itu.

Ucapan Azriel benar-benar membuat Tuan Hadi  sangat kesal. Saat ini, ada salah satu anggota keluarganya yang menyarankan agar Azriel dan Bella bercerai.

"Lancang sekali bicaramu. Sepertinya Bella harus segera bercerai dengan Azriel!"

"Benar, lelaki seperti itu tidak bisa dipertahankan."

Sebenarnya pernikahan mereka terjadi karena Kakek Azriel ada sedikit masalah dengan mereka. Maka dari itu Bella dan Azriel dinikahkan. Sekarang, Azriel terbukti sebagai sampah oleh anggota keluarga.

Saat ini semuanya menginginkan agar mereka sudah harus bercerai. Kalau tidak, ini akan mempermalukan keluarga mereka.

"Sekarang, kakak bisa lihat sendiri bagaimana ia bertingkah. Kalau tidak segera bercerai takutnya akan membawa masalah lain."

"Apalagi Bella ini bertanggung jawab untuk mengurus bisnis keluarga, dan ini akan dipandang banyak orang."

"Benar, ada suami sampah seperti ini sungguh memalukan!"

Hal itu semakin panas ketika ada salah satu anggota keluarga yang menambahkan jika

sebelumnya salah satu putra seorang CEO suatu perusahaan yang bekerja sama dengan mereka lalu sangat mengagumi Bella.

"Pertimbangkan hal itu, Kak."

"Tapi, apakah Bella akan setuju? Bukankah ia sangat mencintai suaminya itu?"

"Tapi, bagaimana pun pria itu adalah calon suami terbaik untuk Bella."

Tuan Hadi tampak menunduk. Memainkan kedua tangannya sambil berpikir keras.

Sementara itu Azriel tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Kedua matanya sangat panas. Urat tangannya menonjol karena menahan amarah yang luar biasa, tapi tidak bisa berbuat apapun.

Ketegangan semakin memuncak ketika terdengar derap langkah dari luar pintu. Rupanya Bella sudah pulang.

"Kalau begitu, kakak tanyakan saja sendiri dengan Bella."

Pandangan Tuan Hadi kini mengarah pada putrinya yang baru saja kembali dari bekerja.

Bukannya memberikan kesempatan untuk istirahat, tetapi ia langsung ditanya apakah setuju untuk bercerai atau tidak.

Tentu saja Bella tidak setuju untuk bercerai. Sekarang ia hanya ingin fokus untuk mengurus bisnis keluarga dengan baik. Baginya sekarang ini perusahaan lagi di masa pentingnya, apalagi ia harus membahas kerja sama penting dengan perusahaan besar dimana Tuan Edward berada.

Bella tidak ada waktu sama sekali untuk membahas urusan kehidupan pribadi. Apalagi Caca masih di rumah sakit. Biaya pengobatan yang tinggi belum lagi padatnya jadwal kerja membuatnya lelah.

Semuanya tidak ada yang berani menanyai Bella lagi dan memilih untuk membubarkan diri. Hal itu berlaku juga untuk Bella dan Azriel.

Malam harinya, di dalam kamar, Azriel dan Bella masing-masing tidur di sisi lain. Melihat istrinya masih pusing akan pekerjaan kantor, Azriel mengajaknya berbincang. Azriel tidak mau jika dirinya dianggap sampah sama seperti pandangan anggota keluarga istrinya itu.

"Bell, jika ada kesulitan apapun, kau boleh beritahu."

"Iya, paham. Akan tetapi selama saya masih bisa menghandle sendiri pekerjaan kantor. Kamu tidak usah khawatir."

"Baiklah, kalau begitu jangan tidur larut malam."

"Hm."

Sebenarnya Bella belum yakin akan kemampuan suaminya. Maka dari itu ia tidak percaya kalau Azriel bisa membantunya menyelesaikan urusan kantor.

"Maaf, Mas. Untuk saat ini biarkan semuanya berjalan seperti ini saja. Kamu cukup fokus merawat Caca dan biarkan saya bekerja."

Jauh di lubuk hatinya, Bella sangat lelah. Akan tetapi ia tidak mau menunjukkan hal itu pada siapapun. Selama ia mampu, ia akan berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Beberapa waktu kemudian, akhirnya Bella pun menyusul suaminya menyelami lautan mimpi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel