Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 7. BERTEMU PROFESOR

Setelah memastikan Prof. Hadi berdiri, kini Azriel permisi pulang.

"Kalau tidak hal lain lagi, sepertinya saya harus permisi," pamit Azriel pada Prof. Hadi.

"Baiklah, terima kasih untuk waktunya, Tuan."

"Sama-sama, Prof."

Setelah memastikan semuanya selesai, kini Azriel melangkah keluar ruangan dan bermaksud kembali ke rumah. Keluarganya bahkan sudah meninggalkan dirinya sendiri di rumah sakit.

"Kenapa ujian ini terasa berat sekali?" Azriel mendongak menatap langit-langit lorong rumah sakit.

Kakinya melangkah menuju ruang rawat putrinya. Sebelum pulang ia ingin melihat putrinya terlebih dahulu. Sayang, penjagaan disana cukup ketat sehingga Azriel tidak diperkenankan menemui sang putri.

"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda kembali ke mansion. Tuan Hadi sudah memberikan penjagaan yang ketat dan bahkan orang-orangnya sudah menyebar, jadi Anda tidak perlu khawatir."

Tampak sekali Azriel tidak mau berdebat dan memilih pulang. "Hm, baiklah. Jaga baik-baik putri saya."

Terdengar helaan nafas dari Azriel begitu berat, tetapi ia pun tetap melangkah pergi. Bagiamana pun mereka tidak akan mengijinkan Ariel masuk, meski memaksa.

Akhirnya Azriel memutuskan untuk kembali ke rumah. Rupanya mereka masih berkumpul dan membahas Caca. Hampir semua penghuni mansion mengira jika rumah sakit mau membantu mereka karena pengaruh keluarga mereka di kalangan bisnis yang berada di Jakarta.

Apalagi di bawah kepemimpinan Bella, ada sebagian perusahaan yang bersangkutan dengan peralatan medis yang juga ikut bekerja sama, sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk mengobati Caca secara gratis.

"Beruntung sekali kita mempunyai Bella yang cerdas ketika memimpin perusahaan."

"Betul, kamu sangat berbakat Bell."

Langkah kaki Azriel terhenti ketika melihat tatapan tidak mengenakan dari mereka.

"Lihatlah, menantu sampah yang tidak berguna ini rupanya sudah pulang."

"Benar, bagaimana ... bagiamana? Apakah kamu merasa bahagia setelah berhasil mempermalukan dirimu sendiri tadi?"

"Ha ha ha, sok berlaku seperti pahlawan tetapi sekali sampah tetap saja sampah."

Penghinaan yang berulang itu benar-benar membuat Azriel geram. Apalagi mereka semua menertawai Azriel yang tidak tahu diri.

"Cukup!"

"Kalian boleh tidak boleh menghina Azriel lagi."

Suara Bella yang cukup lantang rupanya mampu membuat mereka semua diam. Kini ia pun menarik lengan suaminya agar mengikutinya pergi ke kamar.

Bella yang melihat suaminya terpojok segera menyuruhnya untuk tetap bersikap tenang.

"Tenanglah, selama ini kamu selalu berhasil menekan perasaan agar tetap bisa bertahan di sini, bukan? Lalu, sama seperti biasa. Acuhkan saja sikap mereka. Kamu tenanglah."

Azriel menatap kedalaman mata Bella. Ia benar-benar merasa sebagai manusia tidak berguna saat ini. Mengetahui hal itu, Bella bahkan berjanji akan membantu untuk menghubungi rumah sakit setelahnya.

"Tidurlah, semuanya akan baik-baik saja."

"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kamu juga istirahat."

Pagi harinya, mansion utama.

Demi menjadi sosok lelaki sempurna di mata Bella dan Caca, Azriel mempunyai sebuah keinginan lain, yaitu memposisikan dirinya sebagai manusia yang lebih berguna. Maka dari itu ia pun ingin bekerja.

Namun, sebelum itu terjadi, ia akan pergi menjenguk putrinya terlebih dahulu, kemudian baru berangkat kerja.

Sebelumnya, karena dirinya dipandang remeh oleh seluruh keluarga istrinya, ia tidak dapat bekerja di perusahaan keluarga Bella. Jadi tentu saja ia akan mencari pekerjaan lainnya.

Beberapa waktu yang lalu Azriel berbincang dengan Tuan Edward, ia pernah bilang, jika perusahaan dimana Azriel berada ini sebenarnya termasuk salah satu cabang perusahaan terbesar Organisasi Sayap Uranus di Indonesia. Maka dari itu Azriel pun semakin bersemangat untuk bekerja.

Tiba di kantor, Azriel justru diberitahu atasannya, karena pencapaian sebelumnya sangat buruk, jadi ia dipecat.

"Dipecat?"

"Ya, kinerjamu akhir-akhir ini sangat menurun. Jadi perusahaan tidak membutuhkanmu lagi."

"Tapi, mana mungkin? Saya sudah memberikan kinerja yang terbaik selama ini, tetapi--"

"Ini uang gaji dan tunjangan bulan ini. Silahkan keluar dari ruangan saya!"

Azriel tentu saja kebingungan. Ia sangat yakin jika pencapaiannya di perusahaan selama ini selalu terdepan. Akan tetapi atasannya tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

"Baiklah, terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk saya berkarir selama beberapa waktu di sini."

Saat Azriel bersiap-siap merapikan barang, ia justru mendengar rekan kerjanya sedang membicarakan nasibnya.

"Hei, apakah kalian tidak tahu jika Azriel baru saja di pecat?"

"Masa?"

"Iya, lihatlah dia sedang merapikan barang-barangnya."

Tampak beberapa karyawan menatap iba ke arahnya.

"Kasihan."

"Yang lebih parah lagi adalah kalau pencapaiannya diambil oleh orang yang dipercayai Pak Heru."

"Pak Heru atasan dia?"

"Betul!"

Mendengar hal itu, Azriel kembali ke ruangan atasannya. Ia datang untuk meminta keadilan padanya. Namun, usahanya sia-sia. Atasannya tidak peduli, serta melaporkan masalah ini kepada HRD (departemen sumber daya manusia).

Keesokan harinya.

Mendapati masalah yang cukup serius, akhirnya penanggung jawab cabang perusahaan, Aiden pagi-pagi datang ke kantor.

Tujuan utamanya adalah mencari orang HRD untuk menanyai kondisi Azriel.

Kemarin malam, perusahaan pusat ada yang mencarinya dan menyebut nama Azriel. Mengatakan jika Azriel sedang dalam masalah besar. Maka dari itu Organisasi Elang Dewa segera membantunya. Hal itu terjadi agar mereka banyak fokus dan membantu Azriel agar cepat keluar dari masalah.

Meski tidak tahu apa hubungannya Azriel dengan pusat, tapi Aiden tahu bahwa hubungan mereka tidak biasa. Maka dari itu ia pun segera datang ke tempat kerja Azriel.

Hampir semua orang menunduk hormat ketika melihat Aiden tiba. Banyak kasak-kusuk yang terdengar ketika melihat orang itu datang secara mendadak di perusahaan.

"Ada apa ini? Kenapa penanggung jawab perusahaan sampai datang ke sini?"

"Pasti ada masalah yang cukup serius."

"Benar, atau mungkin mereka sudah mendengar gosip tentang Pak Heru."

"Wah, mungkin saja benar."

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Aiden sampai di ruang HRD. Tentu saja semua orang di ruangan itu seketika berdiri dan membungkuk hormat.

"Pagi, Tuan Aiden."

"Pagi, bisa panggilkan Pak Heru ke ruangan kepala HRD."

"Bi-bisa, Tuan."

Akhirnya Aiden masuk ke dalam ruang kepala HRD. Tanpa basa-basi Aiden langsung bertanya tentang salah satu karyawannya yang baru saja dipecat.

"Tolong berikan berkas karyawan dengan nama Azriel Weitz."

"Mohon maaf, Tuan. Data karyawan dengan nama tersebut sudah keluar dari perusahaan kemarin pagi."

"Apa? Memangnya dia melakukan kesalahan fatal?"

"Bu-bukan begitu, tetapi biar saya jelaskan sebentar."

Kepala HRD di sana tertegun, lalu memberitahu masalah dimana atasan Azriel yang mau memecatnya. Bahkan ia tidak berani mengatakan sesuatu hal yang bohong.

Kening Aiden berkerut, lalu ia pun sedang memikirkan cara agar bisa membantu Azriel kelua meski sangat sulit.

"Maafkan kedatangan saya yang terlambat, Tuan Azriel. Semoga masih ada waktu untuk membantu Tuan kembali ke dalam perusahaan ini."

"Kalau begitu, panggil kembali karyawan itu kemari."

"Baik."

Di saat itu Azriel hanya menjadi pengangguran di jalanan. Sehingga tidak tau jika keberadaannya sedang dicari.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel