
Ringkasan
Ditinggal mati kedua orang tua dan harus menjadi penebus hutang sang kakek membuat Azriel harus menikah dengan Bella. Seorang gadis dari keluarga kaya raya. Dari pernikahan itu lahirlah Caca, sang calon pewaris tahta kerajaan bisnis SAGARA Corp. Namun, selama menjadi menantu, Bella tidak pernah diijinkan bekerja selain menjadi bapak rumah tangga dan mengurus Caca. Terlebih dia hanyalah dari kalangan miskin. Hingga Bella yang bekerja di perusahaan sang ayah sekaligus menjadi CEO wanita di SAGARA Corp. Namun, sebuah kecelakaan membuat Caca sakit dan harus membutuhkan biaya milyaran untuk sembuh. Sementara itu posisi Bella terancam karena hal itu. Apakah Azriel akan tetap diam atau keluar dan membantu istrinya dan membuka jati diri yang sesungguhnya?
Part 1. PANIK
Sirene ambulans terdengar menderu-deru sepanjang jalan raya. Menembus telinga siapa saja yang dilewatinya. Dari kejauhan terlihat Azriel mengendarai sepeda dari belakang ambulans untuk menyusulnya menuju ke rumah sakit.
Seorang gadis kecil berwajah pucat dengan hidung berdarah digotong masuk ke dalam rumah sakit. Kondisinya sangat mendesak, apalagi darah terus mengalir dari kedua lubang hidungnya.
Azriel berhasil menyusul ambulans dan bergegas memarkirkan sepeda miliknya. Tentu saja agar bisa menyusul langkah Caca dan para tenaga medis yang bergerak cepat.
Dengan setengah berlari, akhirnya Azriel berhasil menyusul putrinya yang sudah masuk ruang UGD. Ia terus meneriakkan nama putrinya, Caca, dan bergegas masuk, tetapi dihentikan oleh beberapa petugas keamanan.
"Maaf, Tuan silakan tunggu di luar. Biarkan kami yang menangani kondisi putri Anda!"
Tentu saja ia berontak dan seperti orang kerasukan. Melihat hal itu beberapa anggota keluarga menatap dingin ke arahnya. Direndahkan tentu saja, selain itu mereka juga memarahi Azriel di tempat.
"Dasar lelaki gila! Kalau tidak becus merawat Caca, jangan sombong! Biarkan tenaga medis yang merawatnya!"
"Bisa-bisanya tidak merawat putrinya sendiri dan membiarkannya terluka! Lelaki sampah memang tidak berguna," tambah yang lainnya.
Jika diberikan kesempatan untuk berbicara, Azriel ingin mengatakan jika putrinya secara tidak sengaja jatuh saat turun ke bawah. Akan tetapi, mulutnya seolah terkunci. Bahkan terlihat membenarkan tuduhan yang diberikan oleh seluruh anggota keluarga istrinya.
Caca adalah putri semata wayangnya dengan Bella. Ketika istrinya bekerja, maka yang bertugas merawat Caca adalah dirinya. Kini Azriel hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri di dalam hati karena tidak bisa merawat Caca dengan baik.
"Ya, andai saja bisa mengulang waktu, Caca pasti tidak akan terjatuh. Semua ini gara-gara pekerjaan yang terlalu banyak dan menyita waktu. Bahkan waktu untuk menemani Caca bermain pun sangat kurang," rutuknya di dalam hati.
Pada saat ini, ayah mertua Azriel dan Ibu mertuanya bergegas datang saat mendengar kabar jika cucu mereka masuk rumah sakit. Melihat mereka datang, para kerabat di dalam keluarga Bella mulai mengoceh sekaligus menyalahkan Azriel karena ceroboh dan menyebabkan putrinya jatuh.
"Kak, kami turut berduka cita atas nasib Caca. Seharusnya Caca diasuh babysister bukan papanya!"
Semua orang mengkritiknya sebagai menantu yang tidak berguna dan tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Buktinya Caca sampai terluka dan masuk rumah sakit.
"Seharusnya Bella bercerai saja dengannya. Azriel itu hanya sampah, tidak memiliki kemampuan, dan hanya akan menjadi beban bagi keluarga di masa depan!"
"Benar, bahkan ia tidak dapat melindungi putrinya sendiri. Sungguh memalukan!"
Suara-suara dari kerabatnya benar-benar membuat Tuan Hadi kebakaran. Rasa sabar yang sebelumnya hadir, kini sudah menguap begitu saja.
Dengan segera Tuan Hadi menatapnya dengan dingin. "Jika sampai terjadi sesuatu pada Caca, maka bisa dipastikan kau akan mendapatkan sebuah hukuman keras!"
Azriel yang merasa tertekan, terus menatap ruang operasi rumah sakit tanpa mau meladeni omongan semua orang. Tubuh dan mulutnya terkunci, tetapi otaknya terus mencoba memikirkan bagaimana putrinya bisa jatuh.
Tanpa terasa air mata terus mengalir di kedua kelopak mata Azriel. Mengalir lembut tanpa suara, tapi berhasil membuat siapa saja bersimpati padanya. Dari sorot matanya terlihat jika kasih sayang Azriel pada Caca tulus.
Azriel terus diam tanpa mau membela diri terhadap tuduhan keras yang sudah diberikan oleh kerabat istrinya itu. Membiarkan mereka berkomentar sesuka hati.
Beberapa saat telah berlalu. Kini salah satu dokter keluar dari ruang operasi. Dokter mengatakan bahwa Caca mengidap leukemia yang relatif langka, dan secara keseluruhan, situasinya cukup rumit.
"Untuk mendapatkan kesembuhan yang maksimal, pihak keluarga diharapkan membayar sejumlah uang untuk proses kesembuhan Caca . Namun hasil akhirnya tidak bisa menjamin apakah penyakit Caca bisa disembuhkan juga atau tidak."
Ucapan dari dokter seolah menampar semua orang yang berada di lorong rumah sakit. Sebagian besar anggota keluarga tidak suka dengan informasi yang diberikan dokter barusan.
"Berapa biaya yang dibutuhkan?"
"Mungkin sekitar lima miliar, tetapi tidak memungkinkan juga biayanya bisa bertambah lagi."
"A-apa, lima miliar?"
Setelah mendengar biayanya, wajah anggota keluarga yang lain menunjukkan ekspresi jijik, dan seolah tidak mau terlibat. Akan tetapi Tuan Hadi dengan tegas mengatakan bahwa mereka harus mengobatinya.
"Lakukan saja pengobatan terbaik untuk Caca. Soal biaya itu gampang!" ucap Tuan Hadi bersungguh-sungguh.
Pada saat genting itu, Istri Azriel bergegas datang. Dia adalah penanggung jawab utama bisnis keluarganya sekarang, dan dia hampir pingsan saat mendengar berita bahwa putri mereka menderita penyakit yang kemungkinan tidak dapat disembuhkan.
"Bella, akhirnya kau datang, Nak."
"Iya, Ma. Bagaimana keadaan Caca?"
Tanpa mau menutupi semua hal dari Bella, Mama Rani segera memberitahu hal terburuk pada tentang kesehatan Caca. Syok, tentu saja tetapi inilah kenyataan yang terjadi.
Putri mereka, Caca selama beberapa hari ini akan menjalani pemeriksaan dan pengujian. Sudah diputuskan jika Caca akan tetap dirawat dan diberikan pengobatan yang terbaik.
Jadi semua orang pun pergi meninggalkan tempat. Namun, tatapan yang mereka tujukan kepada Azriel penuh dengan rasa jijik.
Beberapa dari mereka bahkan mengatakan bahwa semua ini karena Azriel adalah orang tidak berguna. Bahkan mungkin ia telah menularkan gen yang buruk sehingga putri mereka berakhir dengan penyakit ini.
Waktu berlalu dengan cepat, kini Caca telah dipindahkan ke kamar rawat sambil menunggu segala hal keperluan pengobatan. Hanya Azriel yang tersisa di sana. Di luar ruangan yang dingin dan sepi, sendirian.
Rasa ingin buang air kecil membawa langkah kakinya yang berat menuju ke sebuah kamar kecil. Di sanalah Azriel berdiri sambil menangis sedih di depan jendela kaca kamar kecil. Kenangan bermain dengan putrinya terus terbayang dalam benaknya.
"Maafkan papa, Nak! Maaf ...."
Ketika dia memikirkan kemungkinan bahwa putrinya mungkin tidak dapat disembuhkan dan mungkin harus meninggalkan dunia ini di usia muda, dia merasa sangat bersalah dan kemudian muncul rasa sakitnya terasa luar biasa di dalam tubuhnya.
Jika dengan di-bully, diremehkan, dan terus menerima kritikan sebagai menantu yang tidak berharga, bahkan dianiaya setiap hari, dapat membuat penyakit putrinya bisa disembuhkan, Azriel menerimanya dengan ikhlas.
Terperangkap dalam emosi yang kuat, secara bertahap Azriel merasakan sebuah kekuatan aneh yang tumbuh di dalam dirinya. Kekuatan itu berputar di dalam dirinya dan akhirnya meledak. Menyebabkan perubahan yang luar biasa pada tubuhnya.
Saat Azriel mendongak dan melihat ke dalam kaca, dia tercengang. Azriel menemukan jika keningnya entah mengapa muncul sebuah tanda elang emas.
Pada saat yang sama, di belakangnya juga muncul seekor elang transparan yang tengah terbang memutar. Kedua matanya terbelalak melihat keanehan itu. Merasa tidak percaya dengan penglihatannya, Azriel berusaha mengusap-usap keningnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Tanda apa ini?" tanyanya dalam hati.
