Part 9. RENCANA LICIK
Sesuai dengan perkataan Bella, hari-harinya disibukkan dengan jadwal pertemuan dengan Tuan Edward. Bahkan ia pun jarang mengunjungi Caca, hanya Azriel yang sesekali mengunjungi putrinya tersebut.
Meskipun begitu Azriel tidak mempermasalahkan kesibukan Bella. Ia selalu yakin dan percaya penuh dengan semua kemampuan sang istri.
Sesekali ia tampak memandangi potret dirinya bersama Caca di atas meja kerja. Di dalam foto itu juga ada Azriel suaminya.
"Maafkan Mama, Nak. Belum bisa mengunjungimu di sana. Saat ini Mama masih berusaha untuk mencarikan biaya untuk pengobatanmu."
Bella mengusap lembut foto sang putri. Ada sebuah penyesalan yang terlihat jelas di kedua matanya, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Saat ini Bella masih berusaha untuk menyelesaikan beberapa berkas untuk proyek kerja sama esok hari dengan Tuan Edward.
Di sisa waktu yang sedikit itu, Bella mencoba mempersiapkan semua hal yang terbaik untuk Caca. Hari berlalu dengan begitu cepat. Kini saatnya ia harus beristirahat sejenak sebelum memulai persiapan esok pagi untuk sebuah proyek yang sangat besar.
Keesokan harinya.
Semua hal yang telah dipersiapkan Bella rupanya harus berakhir dengan sia-sia. Pertemuan bisnis dengan Tuan Edward tadi pagi sama sekali tidak membuahkan hasil.
Raut wajah kecewa terpancar jelas di dalam wajah Bella. Entah mengapa semua harapan yang sudah digadang-gadang akan berhasil harus dipatahkan seketika.
"Bagaimana ini? Apakah masih ada sebuah keajaiban untuk kami?" Bella tampak menengadahkan wajahnya ke langit, sesaat sebelum ia masuk ke dalam perusahan milik papanya.
Apapun hasil dari pertemuan itu harus segera ia laporkan pada Tuan Hadi. Begitu pula dengan seluruh pemegang saham yang notabene adalah paman dan bibinya.
Hari kedua tiba di kantor, rupanya berita tentang Bella gagal bekerja sama dengan perusahaan yang berada di bawah kepemimpinan Tuan Edward telah menyebar. Padahal perusahaan itu sudah lama menjadi incaran dari keluarga besarnya.
"Bagaimana ini? Papa pasti sangat kecewa denganku."
Langkah Bella semakin melemah, tetapi ia harus bersikap wajar karena banyak pasang mata yang selalu saja menginginkan posisinya di perusahaan.
"Yakinlah, Bell. Semua akan baik-baik saja!" ucapnya menyakinkan dirinya.
Rupanya pihak perusahaan di bawah Tuan Edward pun tidak ingin bekerja sama dengan mereka, tanpa sebuah alasan yang jelas. Itu artinya proyek Bella gagal.
Tentu saja Bella merasa kebingungan dengan penolakan mereka. Apalagi sebelumnya pembahasan sudah dilakukan dan dinyatakan selesai. Namun, hasilnya terasa lain ketika mereka tiba-tiba memutuskan secara sepihak tentang kerja sama sebelumnya.
"Rasanya terlalu aneh? Sepertinya harus menghubungi penanggung-jawab perusahaan? Semoga Tuan Aiden masih bisa berbelas kasih."
Akhirnya Bella menghubungi penanggung jawab perusahaan di bawah kepemimpinan Tuan Edward. Seingatnya, mereka yang pernah membahas kerja sama dengan Bella sebelumnya adalah Tuan Aiden. Maka dari itu Bella langsung menghubunginya.
"Maaf, bisa bicara dengan Tuan Aiden?"
"Ya, saya sendiri. Maaf Anda siapa?"
"Saya Bella yang barusan saja bertemu dengan Tuan."
"Oh, ya Nona Bella ada apa?"
"Ini tentang hasil penolakan berkas pengajuan kerja sama tadi, saya rasa Anda tidak membacanya secara rinci."
"Oh, ya? Memangnya kenapa?"
"Bukankah saat itu kita sudah menyatakan akan bekerja sama? Kenapa sekarang keputusannya berubah? Maaf jika pertanyaan dari saya terlalu terbuka."
Tuan Aiden tampak tersenyum dari seberang sana.
"Maaf, semua ini sudah menjadi keputusan dari pejabat tinggi perusahaan. Ini di luar tanggung jawab saya."
"Tapi, tolong Anda usahakan lagi, Tuan." Terlihat jika Bella masih berusaha mendapatkan kemurahan hati dari Aiden.
Aiden menggeleng dan meminta maaf karena ia pun tidak berdaya. Apalagi ia bukan apa-apa saat ini. Dengan raut wajah lelah dan sesal Bella melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan itu dan menghentikan sambungan telepon.
Tanpa Bella sadari, hal itu diketahui oleh salah seorang mata-mata bibinya. Dengan cepat ia melaporkan hal itu pada seluruh anggota besar dan mampu membuat kemarahan mereka memuncak.
"Kak, kau harus menanyai Bella akan hal ini."
"Iya, baiklah," ucap Tuan Hadi pasrah.
Masalah kerja sama yang gagal ini ketahuan oleh anggota keluarganya. Dengan cepat ia memanggil putrinya agar segera kembali ke perusahaan.
Tuan Hadi menanyai Bella dengan tegas. Rasanya ia sudah tidak tahan karena kerja sama yang diharapkan gagal.
"Kalau tidak becus menjaga kinerjamu, sebaiknya kau mengundurkan diri."
"Beri kesempatan sekali lagi, Pa."
Bella akhirnya mengakui kalau ia memang gagal negosiasi. Urusan ini membawa pengaruh yang sangat besar untuk bisnis keluarga, bahkan bisa dikatakan sangat penting.
Maka dari itu sangat wajar jika Tuan Hadi marah besar. Samuel tiba-tiba maju, dan mengungkit dirinya yang sebelumnya pernah pergi mencari Tuan Edward.
Ia melihat Tuan Edward dibuat marah oleh Azriel, karena saat itu ia ingin meminjam uang dengan nama perusahaan keluarga untuk mengobati putrinya, sehingga hal ini membuat Tuan Edward marah besar.
"Jadi semua ini karena ulahmu, pantas saja semuanya menjadi seperti ini."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan di sini, Azriel? Apakah ingin membuat semuanya menjadi runyam?"
"Bukan, bukan seperti itu, Pa. Tolong dengar penjelasan dari kami."
Azriel bilang jika dirinya memang pergi mencari orang itu untuk meminjam uang, tetapi ini tidak ada hubungan sama sekali dengan perusahaan keluarga.
"Yakin jika semua ini tidak ada hubungannya dengan keluarga?"
"Semua yang saya lakukan tidak mengaitkan hubungan keluarga sama sekali."
"Oh, ya? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?"
"Banyak, akan tetapi jika kalian memberikan sebuah kesempatan, maka jangan harap bisa kembali."
Namun, tidak ada satupun orang yang memercayainya. Tanpa rasa ampun Tuan Hadi memaki Azriel.
"Sudahlah, kau selalu saja membuat kekacauan. Mau sampai mana kamu aaa kehancuran putri dan istrimu?"
Menuduhnya membuatnya kekacauan yang tidak dapat diampuni. Padahal semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan Azriel.
Sayang, yang lainnya juga merasa ini disebabkan oleh Azriel, sehingga kerja sama yang didambakan mereka menjadi gagal.
Karena hal itu akhirnya Tuan Hadi berencana untuk menyuruh mereka bercerai.
Azriel yang sudah tidak tahan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke kamar, dan pergi menanyai Tuan Edward melalui sambungan telepon.
Tuan Edward menanyai anak buahnya. Ingin memastikan apakah yang dikatakan pihak keluarga Bella benar atau tidak karena sebelumnya Samuel yang mencari mereka. Pada saat yang sama Azriel juga ada di sana.
Awalnya kedua pihak sudah ada keinginan untuk kerja sama, tapi Samuel malah meminta untuk menandatangani kontrak dengan nama perusahaan yang lebih kecil, jadi mereka langsung menolaknya.
Ternyata Samuel ingin melewati perusahaan keluarganya. Yaitu perusahaan yang dikelola Bella.
Samuel menginginkan untuk kerja sama sendiri dengan perusahaan itu. Sehingga dirinya bisa mendapatkan keuntungan lebih. Akan tetapi rupanya hasilnya di luar dugaan. Naasnya negosiasi mereka langsung berakhir gagal.
