Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 6. CURIGA

Kecurigaan Tuan Hadi belum juga usai. Apalagi putrinya sama sekali tidak pernah memberi tahukan jika keluarganya mempunyai jalur khusus ketika mau bertemu dengan Tuan Edward. Satu hal yang aneh lagi adalah ketika Azriel dengan mudah bisa masuk ke sana.

Akhirnya Bella benar-benar pulang setelah urusan kantornya beres. Melihat ia datang, seluruh keluarganya langsung mengomporinya. Bella yang mendengar masalah ini merasa agak aneh. Ia pun melihat suaminya dengan penuh selidik.

"Darimana Azriel mendapatkan sejumlah uang ini?" gumamnya.

Dengan cepat, ia pun menatap tajam suaminya. "Darimana kamu bisa mendapatkan uang dengan jumlah besar seperti ini? Bukankah kamu tidak mempunyai chanel dengan Tuan Edward?"

"Saya memang tidak mengenal Tuan Edward. Uang itu saya dapatkan dari meminjam pada teman," ucap Azriel berbohong.

"Jika benar itu uang yang kamu dapat dari temanmu, maka ikut kami sekarang juga ke rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah menunggu sejumlah uang untuk biaya administrasi!"

"Baiklah."

Akhirnya semuanya pergi ke rumah sakit. Azriel yang notabene suami Bella berangkat dengan satu mobil dengan istrinya. Dalam perjalanan itu keduanya tampak diam. Azriel sangat yakin jika Bella pasti sedang marah padanya.

Akhirnya setelah beberapa saat, mereka tiba di rumah sakit dan mau membayar. Namun ketika melihat Azriel yang tampak tidak membawa uang, mereka semua pun menertawainya.

"Lihatlah, lelaki bodoh itu sama sekali tidak membawa uang. Bagaimana ia akan membayar biaya perawatan Caca!"

"Benar-benar memalukan!"

Umpatan dan cibiran terus saja terdengar menggema di lorong rumah sakit. Namun, Azriel menulikan pendengarannya.

"Maaf, Tuan akan menyelesaikan biaya administrasi dengan menggunakan apa?"

Akhirnya Azriel mengeluarkan black cardnya. "Pakai kartu ini saja, Nona."

Tentu saja orang-orang di dalam rumah sakit merasa kebingungan karena tidak pernah melihatnya. Mereka memandang Azriel dengan tatapan aneh.

"Maaf, Tuan. Di rumah sakit ini pembayaran selalu dilakukan secara cash, bukan menggunakan kartu kredit. Mohon maaf, kartu seperti ini tidak bisa digunakan di sini," ucap salah seorang suster sembari menyodorkan kembali kartu black card milik Azriel.

Dengan terpaksa Azriel mengambil kembali kartu miliknya. Akan tetapi, Azriel kini merasa ragu mau menghubungi Tuan Edward atau tidak, karena ia sungguh tidak dapat menggunakannya.

Anggota keluarganya menertawainya, bilang Azriel ini sudah gila, asal cari kartu ATM, dan menganggapnya bisa digunakan. Bella yang melihat hal itu mencoba untuk menghibur Azriel dan menyuruhnya pulang.

"Sudahlah, kamu pulang saja. Urusan biaya administrasi perawatan Caca biar saya yang tanggung. Sebaiknya kamu istirahat di rumah saja."

Bella bilang juga kalau dirinya akan memikirkan cara untuk mengumpulkan uang. Anggota keluarga lainnya mengingatkan lagi, bahwa ia tidak boleh memakai uang perusahaan keluarga.

"Sekalipun kamu ingin membantu suamimu, kami peringatkan sekali lagi agar tidak menggunakan uang dari perusahaan, mengerti!"

"Mengerti, Bibi. Kalau begitu biarkan kami pulang dulu."

Bella langsung menggandeng tangan suaminya untuk menuju ruang parkir. Akan tetapi saat ini, segerombolan orang mendadak berjalan dari samping.

Kedatangan mereka tentu saja menarik perhatian banyak orang untuk menontonnya.

Bella bahkan menyingkir untuk memberikan akses mereka lewat. Azriel pun mengerutkan keningnya karena hal itu.

"Memangnya siapa mereka? Kenapa orang-orang bahkan memberikan jalan untuknya?"

Bella menyenggol lengan suaminya dan berbisik, "Diamlah jika tidak ingin menambah masalah lagi!"

"Baiklah."

Rupanya orang yang berlalu tadi adalah kepala rumah sakit. Sedangkan kepala rumah sakit saat ini tengah menemani seorang profesor kedokteran yang cukup ahli dalam negeri mengamati rumah sakit tersebut

Merasa pernah ada hubungan kerja sama, Tuan Hadi dan istrinya menghampiri dan menyapa mereka. Kepala rumah sakit juga berencana untuk memperkenalkan kepada mereka semua.

"Oh, ya. Kenalkan ini Tuan Hadi, pemilik perusahaan properti yang sudah mempunyai akses sampai ke luar negeri."

"Oh, benarkah? Salam kenal, Tuan," sapa profesor itu ramah.

Pada saat yang sama, rupanya profesor ahli yang bernama Henry itu mendadak melihat black card yang digenggam Azriel, raut wajahnya seketika juga langsung berubah.

"Tolong undang lelaki itu ke ruangan Anda," bisik Profesor pada kepala rumah sakit.

"Baik."

Akhirnya kepala rumah sakit meminta Azriel dan beberapa anggota keluarga Tuan Hadi untuk diundang ke ruang VIP rumah sakit. Rupanya mereka mengetahui kondisi Caca yang mengalami penyakit aneh.

"Oh ya, saya dengar putri Anda dirawat di rumah sakit ini?"

"Benar, Tuan. Namun, menurut dokter kondisinya sangat kritis," ucap Azriel sembari menunduk.

Prof. Henry dan kepala rumah sakit saling berpandangan satu sama lain. Lalu setelahnya mulai menanyakan apakah mereka boleh bertindak atau tidak. Setidaknya bisa membantu memulihkan kondisi Caca meski tidak seperti sebelumnya.

"Tuan Azriel, apakah Prof. Henry boleh mengambil alih pengobatan putri Anda?"

Sontak Azriel terkejut dan mendongakkan kepalanya sambil melihat ke arah Prof. Henry. Ia sangat paham jika menggunakan jasanya pasti akan mengeluarkan lebih banyak uang lagi. Beruntung kepala rumah sakit mengetahui kehawatiran Azriel.

"Tenang saja. Biaya pengobatan untuk Caca akan diberikan secara gratis!" ucap Kepala Rumah Sakit final.

Seolah tidak percaya dengan pendengarannya, Azriel mencoba mencubit lengannya. Prof. Henry tersenyum melihat tingkah polos Azriel.

"Percayalah pada Prof. Henry. Semoga saja keikhlasan hatinya akan membuat kondisi putrimu segera pulih."

Setelah kepala rumah sakit dan anggota Keluarga Hadi pergi, Prof. Henry menyuruh Azriel untuk menunggunya sebentar di ruangan itu. Memastikan keadaan aman, beliau langsung memberitahunya bahwa dirinya adalah anggota dari Organisasi Elang Dewa.

Terkejut tentu saja, karena ucapan Tuan Edward benar-benar terjadi dan tanpa kebohongan. Pada saat yang sama, beliau ternyata juga sudah memeriksa kondisi Caca yang cukup serius.

"Untuk kasus yang dialami Caca, sepertinya Anda perlu mengundang beberapa ahli internasional. Atau bahkan memakai obat-obat terbaru."

"Kemungkinan terburuknya bahkan akan membutuhkan donor sumsum tulang belakang."

"Apakah kondisinya separah itu, Prof?"

Prof. Henry hanya bisa mengangguk. Ia bahkan tidak berani bersuara karena tau jika hal lain bisa saja terjadi. Akan tetapi ia akan tetap berusaha memberikan pelayanan terbaiknya.

Terdengar helaan nafas berat dari Azriel. Rasanya sangat tidak mungkin membuang banyak waktu lagi. Bahkan mungkin kesehatan Caca akan semakin menurun jika tidak cepat ditangani.

"Caca harus segera sembuh, tidak ada hal buruk lagi yang boleh terjadi setelah ini," doa Azriel di dalam hati.

Mendengar penjelasan profesor, bohong jika Azriel tidak khawatir. Justru kini kehawatirannya semakin bertambah. Akhirnya Azriel memohon kepada Prof. Henry untuk menyelamatkan putrinya.

"Apapun hal itu, saya mohon bantuan Prof. Henry untuk menyelamatkan Caca. Lakukanlah yang terbaik untuk putri saya, Prof, " ucap Azriel dengan suara bergetar.

Tentu saja Prof. Henry sangat sungkan ketika Azriel bersikap demikian. Bahkan kini ia pun

buru-buru berlutut dan bilang dirinya akan sebisa mungkin menyelamatkan majikan kecilnya.

"Ijinkan saya untuk melakukan pengobatan terbaik untuk putri Tuan. Saya yakin semuanya akan baik-baik saja setelah Tuan mempercayakan kesembuhan putri Tuan pada tim medis kami."

"Terima kasih, Prof. Akan tetapi bangunlah, tidak semestinya Prof berlutut seperti ini," ucap Azriel sambil membangunkan Prof yang sedari tadi berlutut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel