Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 4. PERTOLONGAN

Merasa jika rekan kerjanya tidak menyukai kedatangan Azriel, maka manager tersebut segera bertindak cepat. Tanpa mau mencari sebab kenapa Samuel tidak suka, Manager Burt segera memberi kode kepada petugas keamanan untuk mengusir pergi Azriel.

"Security!" teriaknya.

Dengan langkah kaki tergopoh-gopoh, dua orang security berlari ke arah Manager Burt.

"Saya, Tuan," ucap keduanya hampir bersamaan.

"Usir pemuda yang sedang berbicara dengan Natalie saat ini. Jangan membuang waktu lagi!"

"Memangnya kenapa, Tuan?"

Beno yang merupakan security baru tentu saja tidak tahu dengan pasti peraturan yang ada di sana. Sehingga pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja keluar dari mulutnya. Sementara itu satu security yang satunya menyenggol bahu temannya agar diam dan tidak banyak bicara.

"Jika ia memiliki tanda pengenal, sudah pasti dia tidak kesulitan saat masuk! Sudah, jangan banyak tanya lagi. Cepat usir dia!" Ucap Manager Burt dengan wajah penuh raut kesal.

"Ba-baik, Tuan."

Setelah berhasil memberikan perintah pada kedua security tersebut, Manager Burt dan Samuel kembali melanjutkan langkahnya. Ia mengatakan jika dirinya berencana untuk menghubungi Tuan Edward segera mungkin.

"Tuan Sam, sebentar lagi Tuan Edward ada tamu istimewa. Akan tetapi masih bisa meminta sedikit waktunya untuk Anda. Sambil menunggu, silakan menunggu di ruang tamu! Biar saya ke ruangan Tuan Edward terlebih dahulu!"

"Ok."

"Kalau begitu, mari saya antar ke ruang tamu!"

"Baik, terima kasih Tuan!" ucap Sam patuh.

Sambil menunggu Tuan Edward turun, Manager Burt benar-benar mengantar Samuel pergi ke ruang tamu. Dikarenakan letak ruang tamu sangat dekat dengan posisi Azriel, ia pun bisa melihatnya dengan jelas.

"Tunggu dulu, bukankah itu Samuel? Sepertinya ia juga punya urusan di sini. Kenapa tidak meminta bantuannya saja!" gumam Azriel.

Melihat sekelebat bayangan Samuel, Azriel bergegas mendekati saudaranya itu. Ia yang tidak pernah mempunyai pikiran buruk kepada siapapun, buru-buru memanggil Samuel saat melintas di depannya.

Azriel sangat berharap jika kerabat istrinya itu dapat membantu dirinya masuk ke dalam. Harapan seorang ayah yang begitu besar akan kesembuhan putrinya membuatnya berani.

"Sam!" panggil Azriel dengan lantang.

Seolah mendengar namanya dipanggil, Sam mencari sumber suara. Bahkan ia sempat menghentikan langkahnya sebentar.

Saat ini, Azriel sungguh buru-buru ingin segera masuk untuk menemui Tuan Edward dan mengambil uang agar bisa segera mengobati putrinya. Maka dari itu ia pun berharap Samuel bisa membantunya.

"Kenapa seolah mendengar suara Azriel? Akh, mana mungkin manusia sampah itu ada di sini!"

Pada saat itu Manager Burt sudah meninggalkannya ke ruangan lain dan tinggallah Samuel sendirian di ruang tamu. Melihat situasi yang kondusif, Azriel bergegas mendekatinya.

"Sam, kamu di sini juga?" sapa Azriel ramah.

Samuel tentu saja terkejut dan mendongak ke arah sumber suara. Ia pun mengulas senyum tipis seolah meremehkan keberadaan Azriel.

"Oh, si menantu sampah ada di sini juga? Di sini bukan tempat yang cocok untukmu, sampah!"

Sakit, tentu saja. Akan tetapi Azriel mengesampingkan perasaannya dan lebih fokus ke dalam tujuan utamanya.

"Bu-bukan begitu, Sam. Maaf jika keberadaan saya di sini mengganggumu."

"Cih, masih bisa mengucap maaf. Jika benar-benar kamu minta maaf, cepatlah menjauh dariku!" Ucap Samuel penuh rasa jijik.

Azriel masih menekan perasaannya. Bahkan masih mengulas senyum meski Samuel mengatakan kata-kata yang cukup pedas di telinganya.

"Saya ke sini hanya untuk meminta bantuanmu."

"Bantuan? Ha ha ha ....."

Bukannya mendengarkan ucapan Azriel, Sam justru menertawakannya. Azriel sudah tidak bisa basa-basi lagi saat ini.

Situasi sangat mendesak dan ia pun harus segera mengatakan keinginannya dan tentu saja mengabaikan sikap Samuel yang acuh padanya.

"Sepertinya kamu cukup akrab dengan orang-orang di kantor ini. Bisakah kamu menyampaikan pesan dari Bella untuk salah satu orang penting di dalam?"

"Bella? Kamu mau melibatkan Bella di sini? Apakah tidak cukup dengan membuat masalah? Bukankah Caca sedang sakit, bisa-bisanya berkeliaran di sini!"

"Bukan begitu, Sam. Sebenarnya saya hanya ingin--"

"Ingin apa, cepat katakan! Jangan buang waktuku!"

Akhirnya Azriel mengatakan keinginannya. Akan tetapi Samuel justru bilang jika Azriel sudah terlalu banyak bermimpi, dan mempermalukan harga diri keluarga Bella. Bahkan datang ke tempat itu pun juga sudah termasuk mencoreng nama baik keluarganya.

"Kalau itu keinginanmu, katakan saja sendiri pada mereka! Toh, kamu punya mulut!"

"Sam, sebelumnya apakah ada ucapan dari saya yang menyinggung? Bukankah sedari tadi saya hanya meminta tolong pada Anda agar bisa memudahkan akses saya untuk masuk ke dalam? Kenapa seolah-olah niat saya ini buruk di mata Anda!"

Samuel sama sekali tidak bersikap hormat pada Azriel. Ia juga tidak sungkan ketika memperlakukan Azriel semena-mena, meskipun ia bagian dari keluarga Bella dan merupakan sepupunya.

"Melihatmu di sini membuat sakit mata. Daripada mengotori pemandangan, sebaiknya kau segera enyah dari sini!"

Saat ketegangan masih terjadi, terlihat seorang orang tua berpakaian mewah dan dua sekretaris muda cantik yang berjalan keluar dari dalam lift. Saat itu Azriel dan Samuel belum menyadarinya.

Sebelumnya Tuan Edward sudah mendapatkan panggilan dari majikannya. Maka dari itu ia pun buru-buru menyelesaikan urusannya, dan bersiap turun ke bawah untuk menjemputnya.

Kini ia baru saja keluar dari lift. Meskipun begitu Tuan Edward pun sudah menemukan beberapa orang yang berada di dalam aula.

Tatapan tajamnya mengarah tepat ke arah Azriel berada. Azriel yang berpakaian biasa yang justru menarik perhatiannya terlebih dahulu.

"Bu-bukankah itu Tuan Azriel?"

Melihat wajah dan penampilan Azriel yang sederhana dan tidak terlihat mencolok membuatnya terkejut. Dengan cepat ia langsung mengenali bahwa orang itu adalah majikannya.

"Benar, itu adalah Tuan Azriel!" Ucapnya panik.

Kemarin malam, Tuan Edward baru saja mendapatkan perintah dari tetua organisasi di sana untuk melindungi Azriel. Sebagai penanggung jawab organisasi Cabang Jakarta, Tuan Edward harus melindungi majikan dan juga menyelesaikan misinya.

Ia begitu terkejut ketika melihat kedua petugas keamanan yang bisa-bisanya mau menyerang majikannya yaitu Azriel. Semua itu tentu saja ulah dari Samuel yang pandai bersilat lidah.

Tidak ingin kekacuan semakin menjadi, ia pun segera berseru dingin, dan menghentikan semuanya.

"Penjaga, berhenti!" teriaknya lantang dari kejauhan.

Melihat situasi yang tidak kondusif membuat Tuan Edward segera memberikan kode pada kedua sekretarisnya. Hingga pada saat yang sama, kedua sekretaris cantik di samping Tuan Edward mendadak melintas kilat ke arah Azriel yang sedang berhadapan dengan petugas security.

Pergerakan keduanya sangat cepat hingga membuat kedua security itu tidak bisa menghindar. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, masing-masing sekretaris langsung menahan kedua petugas keamanan.

Dengan gerakan cepat, mereka melempar kedua petugas keamanan ke permukaan lantai. Tepat pada saat ketika mereka hampir mau menyentuh Azriel.

Melihat kejadian itu tentu saja Azriel dan Samuel terkejut. "Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka?"

Beruntung ekor mata Azriel melihat keberadaan Tuan Edward dan membungkuk untuk memberikan hormat ke arahnya. "Syukurlah, Tuan Edward ada di sini!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel