Part 3. DIUSIR
Lelah dengan semua keanehan yang terjadi, kini Azriel memilih untuk segera kembali ke rumah utama. Ternyata di sana, beberapa anggota keluarga istrinya tengah berdebat.
Tentu saja semua orang berdebat tentang biaya pengobatan Caca. Namun, dia tidak ingin bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya karena yakin tidak akan dihargai. Azriel berdiri di sudut ruangan dan memperhatikan semuanya.
Ketegangan semakin menjadi. Semua itu terjadi karena penyakit putri Bella agak berbeda. Siapa lagi kalau bukan Caca. Dari hal itu mereka menyimpulkan jika penangangan untuk penyakit Caca perlu memakai fasilitas terbaru atau bahkan mengundang dokter terhebat. Berharap bisa mendapatkan kesembuhan untuk Caca.
"Setelah mendengar penjelasan dari dokter, sebaiknya Caca segera diberikan fasilitas kesehatan yang terbaik agar penyakitnya cepat sembuh."
"Bagaimana jika dipanggilkan dokter dari luar negeri saja?"
"Terserah, tetapi itu pasti membutuhkan uang yang banyak."
"Aku sangat yakin, meski menghabiskan sekian miliar pun belum tentu bisa menyelamatkannya."
Sebenarnya, Bella sudah pasti ingin mengobati putrinya dengan sebaik mungkin. Apalagi ia bekerja selama ini demi putri semata wayangnya tersebut.
Namun, paman-paman dan saudara seumurannya tidak akan setuju. Dari ucapan mereka sudah menunjukkan jika mereka sangat keberatan dengan pemikiran Bella, apalagi jika sampai itu terjadi pasti akan terjadi krisis keuangan.
'Kenapa mereka tidak pernah memikirkan perasaan seorang ibu? Bukankah setiap ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya?'
'Selalu saja mementingkan ego mereka sendiri.'
Bella pun mengusap gusar wajahnya. Sambil menunduk ia terus berdoa. "Semoga saja Tuhan memberikan sebuah keajaiban, Aamiin" batinnya di dalam hati.
Meski dia adalah penanggung jawab perusahaan, biaya sekian miliar pasti akan mempengaruhi keuntungan orang lain, jadi mereka semua tidak setuju. Apalagi mereka juga menikmati semua hasil kerja keras dari Bella.
Hanya saja mereka tidak ikut terjun langsung ke lapangan. Dari kejauhan Azriel terus memperhatikan kondisi istrinya. Berharap ia ingin segera bergabung dan membelanya di depan anggota keluarganya.
Melihat istrinya yang sedih, Azriel sudah tidak tahan lagi. Ia pun maju untuk meyakinkan mereka semua, meski tau hasil akhirnya seperti apa.
"Kalian tenang saja, semua biaya pengobatan Caca biar saya yang bertanggung jawab."
Ucapan dari Azriel yang datang tiba-tiba mengejutkan semua orang. Bahkan sudah ada yang mencibirnya.
"Bertanggung jawab katamu? Bukankah semua sudah jelas jika untuk menjaga Caca saja kamu tidak becus? Masih berdalih mau membiayai pengobatan Caca segala! Kalau bermimpi jangan ketinggian!"
Azriel mencoba menyakinkan semua anggota keluarga. Tentang keinginan dirinya yang akan mencari uang untuk mengobati penyakit putrinya.
Namun, semuanya menentang apa yang dikatakan oleh Azriel. Hampir semuanya meragukan kemampuan suami Bella tersebut.
Tentu saja seluruh anggota keluarga mulai menertawai ucapan Azriel. Bahkan ada juga yang memperingatkannya, agar ia jangan sampai mengambil uang rumah. Ada juga yang memperingatkan agar Azriel jangan melakukan sesuatu yang menjelekkan keluarganya.
Bella tentu saja juga tahu kalau suaminya tidak mungkin bisa mengeluarkan begitu banyak uang. Ia juga tidak banyak bicara dan langsung pergi begitu saja.
Meninggalkan semua orang yang sedari tadi mencelanya. Bella lebih memilih untuk kembali ke perusahaan keluarganya untuk bekerja.
"Ha ha ha, lihatlah! Bahkan Bella saja tidak percaya pada kemampuanmu. Masih saja mau mencari muka. Sekali sampah tetap saja akan menjadi sampah!"
"Sekalipun kamu menjadi menantu di keluarga yang kaya raya, nasibmu akan tetap menjadi sampah!"
"Kami peringatkan sekali lagi agar jangan berulah! Atau sampai membuat nama keluarga besar kita tercoreng. Kalau sampai hal itu terjadi maka bisa dipastikan nasibmu akan berakhir di pengadilan!"
Azriel benar-benar tidak peduli akan sindiran maupun ucapan dari anggota keluarga Bella. Ia sudah cukup kenyang dengan makian semua orang.
Azriel pun memutuskan untuk kemudian kembali ke rumah dan menghubungi sebuah nomor yang diberikan oleh orang misterius semalam. Berharap nomor orang yang tertera di sana bisa membantunya.
Dengan membaca secarik kertas, Azriel bergumam, "Ini adalah nomor yang diberikan tetua besar Organisasi Sayap Uranus, Tuan Edward. Semoga saja bisa membantu."
Tuan Edward berpesan kalau Azriel ada kesulitan ataupun kebutuhan, boleh menghubungi nomornya saja.
"Sepertinya tidak ada jalan lain, selain menghubungi nomor ini!" gumamnya penuh harap.
Menerima panggilan dari Azriel, orang di seberang sana bersikap hormat. Bahkan ia bilang dirinya akan datang sendiri menemui Azriel.
"Beri kehormatan bagi saya untuk menemui, Tuan."
"Eh, tidak usah, biarkan saya saja yang menemui Tuan Edward."
"Tidak boleh, biarkan saya saja, Tuan."
Terjadi perdebatan, tetapi Azriel terus menolak. Ia sudah tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman di dalam keluarganya.
Sudah cukup semua anggota keluarga Bella menjadi salah paham padanya. Ia tidak ingin menambah masalah lagi kali ini ataupun beban pada Bella.
Selepas sambungan telepon mereka terhenti, Azriel memutuskan untuk langsung pergi ke sana. Tetua besar pun memberikan alamat kepadanya.
"Baiklah, jika Tuan memaksa. Saya akan mengirimkan alamat lengkapnya pada, Tuan."
"Terima kasih banyak, Tuan Edward."
"Sama-sama, Tuan."
Tanpa mau banyak berpikir, kini Azriel segera datang ke sebuah gedung mewah di distrik bisnis utama di Indonesia. Rupanya itu merupakan klub elit. Azriel sangat paham jika hanya orang kaya di Indonesia baru yang pantas masuk.
Sesekali ia memerhatikan penampilannya. Takut jika hal yang sama akan terulang lagi di sana.
Baru saja sampai depan gerbang, seorang wanita menahan langkah kaki Azriel. Mau tidak mau Azriel harus menghadapi penjaga tersebut.
"Maaf, Tuan bisakah menunjukkan kartu identitas Anda!" ucap wanita yang menjadi penjaga di sana.
"Maaf, Nona. Saya tidak punya kartu indentitas yang Nona maksud."
"Kalau begitu, silakan Anda pergi sebelum saya panggilkan security!"
Tidak mau kedatangannya sia-sia, Azriel segera menyatakan tujuan kedatangannya. Namun, wanita itu masih menahannya. Merasa tidak ada kesempatan, Azriel bersiap-siap untuk menghubungi Tuan Edward.
Namun, pada saat yang sama, dia tiba-tiba melihat salah satu kakak laki-laki istrinya yang sedang berjalan ke arahnya. Samuel berjalan dengan seorang pria paruh baya berkepala botak.
Pria paruh baya itu dikenal sebagai manajer Tomy. Ia merupakan manajer di klub tersebut. Samuel yang samar-samar melihat sekelebat bayangan Azriel mengerutkan alisnya. Ia memandang dengan tajam ke arah Azriel.
"Untuk apa manusia sampah itu berada di sini? Bukankah seharusnya ia lebih fokus pada kesehatan Caca. Bisa-bisanya ia justru datang ke tempat bergengsi seperti ini," ucapnya kesal.
Melihat koleganya memperhatikan seorang lelaki di kejauhan, Stefan pun bertanya padanya.
"Apakah kamu mengenalinya?"
"Maaf saya tidak mengenalnya, silakan saja Tuan meminta security untuk mengusirnya!" ucap Samuel sambil memalingkan muka.
Benar-benar saudara tidak tahu diri, apalagi ia juga ikut makan semua hasil kerja keras Bella. Akan tetapi ia seolah lupa jika lelaki di depannya itu adalah saudara iparnya.
Setelah mengetahui dengan pasti identitas lelaki itu dan mengenalinya sebagai Azriel, wajahnya langsung memasang raut tidak peduli dan menyuruh petugas keamanan mengusir Azriel pergi.
