Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 2. BAGIAN DARI MEREKA

Keterkejutan Azriel semakin bertambah ketika ia mengangkat tangannya dan menemukan wastafel marmer yang bisa-bisanya tertinggal sebuah jejak tangan karenanya.

"Apa ini?"

Itu terlalu aneh, Azriel merasa terkejut akan pemandangan aneh di depan kedua matanya. Bayangan ketika seekor elang transparan yang tengah terbang memutar di belakang tubuhnya juga belum terhapus dalam ingatannya.

"Apa ini mimpi?" ucapnya heran sambil memperhatikan kedua tangannya secara bergantian.

Merasa ada yang salah, ia pun menepuk pipinya secara berulang kali. Berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi karena pikirannya yang sedang lelah karena nasib putrinya yang kritis. Akan tetapi sebanyak apapun ia memukul wajahnya rasanya tetap sakit.

"Ini bukan mimpi? Apakah ini nyata?"

Azriel bahkan memperhatikan kaca di depannya, bergantian lalu melihat ke arah sekelilingnya. Rupanya ia masih berada di tempat terakhir kali berada, yaitu sebuah toilet di rumah sakit.

Tanpa sengaja tangannya kembali meraba bekas tangan yang tercetak jelas di atas wastafel marmer tadi dan cetakan tangan itu masih sama tidak berubah.

Hari itu semua yang dialami Azriel sangatlah aneh dan diluar nalar. Seumur-umur ia tidak pernah merasakan hal seperti itu.

Tiba-tiba saja perasaannya mengatakan ia harus segera meninggalkan tempat itu dengan segera. Meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, Azriel mencoba menggerakkan kedua kakinya yang masih terasa kaku.

"Sebaiknya segera pergi dari sini!" ucapnya tegas.

Disebabkan ketakutan akan semua keanehan yang terjadi barusan, Azriel segera melarikan diri dari kamar kecil. Berlari sekencang-kencangnya ke sembarang arah.

Mencoba mencari sebuah pertolongan agar ada seseorang yang bisa membantunya memberikan jawaban atas semua keanehan yang terjadi.

"Semoga masih ada orang yang terjaga," doa Azriel di dalam hati.

Tanpa ia minta keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya. Sebagian lainnya terasa hangat dan itu membuatnya semakin ketakutan.

Beruntung, di luar tidak ada kamera pengintai, sehingga tidak ada yang memperhatikan dirinya. Meskipun begitu ia berharap masih ada orang di lorong tersebut.

Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, mendadak lampu sekitar sana langsung mati. Satu lorong itu langsung berubah menjadi gelap gulita. Langkah kaki Azriel terhenti seketika.

"Ada apa ini?"

Azriel memperhatikan sekitar dan memandang ke arah sekelilingnya. Sepi dan sunyi benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri.

Meski dalam kegelapan, kedua matanya masih bisa melihat dengan samar-samar. Niat hati ingin meneruskan langkah, tetapi dari depan sana muncul beberapa bayangan hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya.

Reflek kakinya mundur perlahan. Merasa ada hal ganjil, Azriel memasang kuda-kuda.

Keterkejutannya semakin lengkap. Benar saja di dalam kegelapan itu, muncul seseorang yang memakai jas besar berwarna hitam. Seseorang lagi yang memimpin, berdiri di bagian belakangnya.

Rupanya seorang pria tua memakai jas besar hitam dengan rambut putih sedang memandangnya. Kedua orang itu memakai pakaian serba hitam.

Azriel semakin waspada. Apalagi tanpa ia sangka segerombolan pria berjas hitam datang ke hadapan Azriel secara tiba-tiba, ia pun terkejut untuk kedua kalinya.

"Si-siapa mereka? Ada apa sebenarnya ini?"

'Darimana datangnya segerombolan orang yang memakai jas hitam ini? Kenapa situasinya sangat mirip dengan seperti cerita-cerita mafia di dalam bioskop?' tanya Azriel di dalam hati.

Namun, yang membuatnya tidak menyangka adalah sikap mereka. Ketika semua orang, termasuk orang tua berambut putih yang memimpin segerombolan tadi langsung berlutut kepadanya.

Dengan bertumpu pada satu kaki di hadapannya dan mereka semua memanggilnya serentak dengan sebutan, "Tuan!"

"Tu-tuan? Dimana dia?" ucapnya kebingungan. Terlebih lagi di depan mereka hanya ada dirinya sendiri. Bukankah itu sama dengan ia yang dipanggil Tuan? tanya Azriel di dalam hati.

Azriel masih mencoba mencerna kejadian dan situasi aneh yang sedang dihadapi. Akal sehatnya mengatakan jika hal itu salah.

"Tu-tuan? Ha ha ha ... maaf, sepertinya kalian salah orang," ucapnya sambil terkekeh.

Ia mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan, tetapi semuanya tetap membisu dan menunduk hormat kepadanya. Situasi menjadi tegang dan membuat Azriel sangat kikuk. Suasana tetap saja hening, tanpa suara dan semuanya seolah membisu.

'Mereka datang bukan untuk membunuhku, bukan?' Tatapan Azriel seolah meminta jawaban atas semua yang terjadi.

Azriel berharap orang-orang di hadapannya segera berdiri dan memberikan penjelasan padanya, tetapi hasilnya sama saja.

"Tuan, berdirilah!" Azriel mencoba meminta orang tua di depannya berdiri.

Namun, orang tua itu tidak juga berdiri. Begitu pun mereka yang berdiri di belakangnya juga tidak ada yang berdiri.

"Tuan, saya mohon berdirilah, kalian salah orang!" ucap Azriel sekali lagi.

'Sepertinya mereka baru akan berdiri setelah orang tua itu berdiri,' gumam Azriel.

Azriel sedikit kebingungan, entah mengapa, ia buru-buru maju dan membantu orang tua itu berdiri.

"Tuan, berdirilah!"

Azriel benar-benar membantu orang tua itu berdiri.

"Terima kasih, Tuan."

'Nah, begini baru benar,' batinnya.

Dugaan Azriel benar, setelah orang tua itu berdiri, yang lainnya juga baru ikut berdiri setelahnya.

'Tuh, kan benar mereka akan tunduk kepada orang tua ini.'

Melihat Azriel kebingungan, orang tua itu baru menjelaskan kepadanya tentang situasi yang terjadi.

"Maaf, jika kedatangan kami mengejutkan, Tuan. Jadi begini ceritanya ...."

Di dunia ini terdapat beberapa organisasi misterius dan kekuasaan kuat. Kekuasaan ini tersebar di berbagai negara, dan menguasai politik serta ekonomi dunia, bahkan juga beberapa senjata api yang kuat.

Ada juga beberapa organisasi yang didalamnya mereka menguasai beberapa cara kultivasi. Di antaranya ada organisasi dan grup yang bernama Sayap Uranus yang berkedudukan sebagai pemimpin.

Organisasi Sayap Uranus ini memiliki dua belas tetua besar, atau bisa disebut dengan Ketua Eksekutif. Terbagi untuk menanggung jawab beberapa pekerjaan.

Salah satunya pria tua berambut putih di depan. Ia berkedudukan sebagai ketua pertama sekaligus tetua terbesar juga yang biasa dipanggil Tuan Chryst.

Ia adalah pemimpin Organisasi Sayap Uranus generasi lalu. Ia sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan organisasi ini sudah mencari penerusnya bertahun-tahun. Hingga akhirnya mereka menemukan pemimpin generasi baru, yaitu Tuan Azriel Weizt.

Azriel agak tidak percaya. Ia mencoba mengingat apa yang barusan diucapkan oleh orang tua itu.

"Tunggu dulu, bukankah itu sama dengan nama--"

"Benar, itu memang, Tuan. Tuan adalah pemimpin kami yang telah lama dicari!"

Merasa penjelasannya masih kurang masuk akal, Tetua besar mendekati Azriel. Tanpa ia duga, tangan Azriel digenggam erat oleh sang tetua.

Saat tetua besar menggenggam tangannya, Azriel langsung merasakan ada kekuatan aneh di dalam dirinya yang diaktifkan. Kemudian, ia juga mendengar raungan elang yang menakutkan.

Kedua matanya benar-benar melihat seekor elang emas yang berputar dan keluar dari dalam tubuhnya. Sayapnya sepanjang puluhan meter, melayang di atas kepalanya.

Melihat pemandangan ini, semua orang berpakaian hitam di belakang Tetua Edward menunjukkan rasa takut dan hormat di wajah mereka, sembari berlutut di tanah.

Bukan hanya itu, rupanya di belakang mereka, samar-samar muncul sosok hewan buas berwujud seekor macan besar. Akan tetapi mereka sama sekali tidak sebanding dengan elang raksasa milik Azriel.

Hal ini juga menegaskan identitas Azriel. Tetua Edward seketika juga berlutut dan berseru, "Tuan!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel