5. Bantuan dari Ibu Ayu
Hujan turun rintik-rintik saat Ayu sampai di rumah ibunya di Bogor. Udara dingin dan aroma tanah basah menyambutnya ketika dia melangkah turun dari mobil travel.
Payung biru muda yang Ayu bawa tidak cukup menghalangi angin yang menusuk, tapi dia merasa sedikit lega bisa pulang.
Pintu rumah dibuka oleh Bu Nurul, ibunya yang tampak terkejut sekaligus bahagia melihat kedatangan putri semata wayangnya.
"Ayu? Kamu nggak bilang mau pulang, Nak," ucap Bu Nurul, memeluknya erat.
"Maaf, Bu. Aku memang sengaja mendadak. Ada yang mau Ayu bicarakan," jawab Ayu sambil menahan sesak di dadanya.
Bu Nurul mengangguk, membimbing Ayu masuk dan menyuguhkan teh jahe hangat. Keduanya duduk di ruang keluarga, sementara suara hujan makin deras di luar. Ayu menatap wajah ibunya yang penuh kasih sayang, dan akhirnya memberanikan diri membuka mulut.
"Bu, aku mau cerita soal hasil pemeriksaan dokter kemarin."
"Pemeriksaan apa, Ayu? Kamu sakit?" Wajah Bu Nurul langsung berubah tegang.
Ayu menarik napas dalam. "Aku sering sakit tiap menstruasi, Bu. Sampai akhirnya Bisma maksa aku ke dokter kandungan. Dan hasilnya ... aku ada kelainan hormonal di rahim. Dokter bilang kalau tidak segera menikah dan melakukan terapi, kondisinya bisa semakin parah."
Mata Bu Nurul membelalak. Dia meletakkan gelas tehnya di meja dan menatap putrinya dengan cemas.
"Ya Tuhan, Nak. Kamu kenapa nggak cerita dari dulu?"
"Aku juga baru tahu seminggu lalu. Awalnya aku pikir cuma nyeri biasa, kayak sebelum-sebelumnya."
"Terus sekarang bagaimana?"
Ayu menggenggam tangan ibunya.
"Bisma janji mau menikahi aku, Bu. Tapi dia minta waktu paling lama tiga bulan buat siapin biaya. Tapi aku nggak kuat nunggu selama itu. Aku takut, Bu. Aku takut sakit ini makin parah."
Bu Nurul memeluk Ayu erat. "Sabar ya, Nak. Kamu sudah sangat kuat sampai sekarang. Kalau memang harus menikah lebih cepat, biar Ibu bantu."
"Hah? Beneran, Bu?" Ayu menatap ibunya dengan air mata berlinang.
"Iya. Kalau kamu dan Bisma memang serius, dan ini demi kesehatanmu, Ibu siap bantu biaya pernikahan kalian. Kita bisa langsung persiapkan untuk bulan depan. Jangan tunggu tiga bulan kalau itu bikin kamu makin cemas."
Ayu tak bisa menahan air matanya. Dia memeluk ibunya dengan haru.
"Makasih, Bu. Makasih banget."
Malam harinya, Ayu menelpon Bisma dari kamar lamanya. Dia duduk di kasur dengan selimut membalut tubuhnya, sementara suara kodok dari luar jendela bersahut-sahutan.
"Halo, Sayang." Suara Bisma terdengar di ujung sana.
"Bisma, aku sudah sampai Bogor. Tadi ngobrol sama Ibu."
"Oh ya? Gimana? Kamu cerita soal hasil diagnosis itu?"
"Iya. Dan aku juga bilang kalau kamu janji nikahin aku tiga bulan lagi."
Bisma terdiam sejenak. "Terus, Ibu bilang apa?"
"Ibu malah nyuruh kita nikah bulan depan aja. Katanya jangan nunggu tiga bulan. Ibu juga siap bantu semua biayanya."
"Serius?" Bisma terdengar terkejut.
"Iya, nih. Aku juga kaget, tapi Ibu bener-bener tulus. Katanya ini demi kebaikanku."
Bisma menarik napas panjang dari seberang telepon. "Aku bingung campur lega, Yu. Aku seneng karena ada jalan, tapi juga malu sama Ibu kamu. Harusnya aku sebagai laki-laki yang tanggung jawab."
"Bisma, yang penting sekarang kita bisa jalani ini bareng. Aku nggak kuat sendiri. Tapi aku juga tahu kamu belum siap secara finansial. Jadi, kita bisa terima bantuan Ibu dulu nanti kita ganti pelan-pelan."
"Kamu bener, Yu. Aku nggak akan mundur. Kita jalani ini bareng-bareng. Mulai besok aku bakal bantu urus administrasi dan persiapan. Aku mau datang ke Bogor minggu ini, ketemu Ibu."
"Aku senang denger itu, Bisma."
"Aku juga senang bisa segera jadi suamimu."
"Dan aku nggak sabar jadi istrimu."
Keesokan harinya, suasana rumah Bu Nurul menjadi lebih cerah. Bu Nurul sibuk menelepon kerabat dan teman dekat, memberitahukan rencana pernikahan Ayu bulan depan. Dia juga mulai membuat daftar kebutuhan, dari katering hingga busana pengantin sederhana. Ayu sendiri merasa lebih lega, walau masih khawatir akan kesehatannya, tapi kehadiran ibunya dan dukungan penuh dari Bisma menjadi kekuatan terbesar baginya.
Malam itu, sebelum tidur, Bu Nurul masuk ke kamar Ayu.
"Yuk tidur, Nak. Jangan dipikirin terus. Sekarang kamu cuma perlu fokus sembuh dan bahagia."
"Iya, Bu. Makasih ya udah selalu ada buat Ayu."
Bu Nurul tersenyum dan membelai rambut putrinya. "Ibu cuma pengin kamu sehat dan nggak sendiri. Kalau Bisma bener-bener mau nikahin kamu dalam kondisi seperti ini, berarti dia laki-laki yang bisa Ibu percaya."
"Iya, Bu. Bisma nggak pernah ninggalin aku meski aku bandel, dan sering keras kepala."
"Dan sekarang kamu tahu artinya komitmen, kan?"
Ayu mengangguk pelan. "Iya, Bu. Aku siap jadi seorang istri."
Satu minggu kemudian, Bisma datang ke Bogor. Dia disambut hangat oleh Bu Nurul. Mereka duduk di ruang tamu membicarakan rencana pernikahan. Meski Bisma tampak gugup, dia menunjukkan kesungguhan.
"Saya tahu saya belum mapan, Bu. Tapi saya sungguh-sungguh ingin membahagiakan Ayu. Saya janji akan jaga dia, dampingi dia selama proses pengobatan, dan berusaha jadi suami yang baik."
Bu Nurul menatap Bisma dengan mata berkaca-kaca. "Ibu percaya sama niat baik kamu. Dan Ayu butuh kamu sekarang, lebih dari sebelumnya. Jadi kita jalani ini bersama."
"Terima kasih banyak, Bu. Saya nggak tahu harus balas kebaikan Ibu dengan cara apa."
"Nggak usah dibalas. Cukup bahagiakan anak Ibu."
Di tengah badai yang datang tiba-tiba dalam hidup mereka, cinta Ayu dan Bisma justru menguat. Di tengah ketidakpastian dan sakit yang menyerang tanpa permisi, mereka memegang satu sama lain lebih erat. Dan dengan restu serta dukungan dari Bu Nurul, keduanya melangkah menuju pernikahan dengan keberanian yang tumbuh dari ketulusan cinta.
Satu bulan kemudian.
Langit Kota Bogor pagi itu tampak cerah. Angin semilir meniup lembut, mengibaskan tirai putih yang terpasang di pelaminan yang berdiri di tengah halaman rumah Bu Nurul. Dekorasi bunga-bunga putih dan pastel menghiasi setiap sudut taman. Pernikahan Ayu dan Bisma hari ini diselenggarakan secara sederhana namun terkesan mewah, sesuai dengan keinginan Bu Nurul, ibunda Ayu, yang ingin memberikan kenangan indah bagi putri satu-satunya.
Ayu berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih berhias bordiran halus dan payet yang memantulkan cahaya lembut. Wajahnya dipulas tipis, membuat pesonanya semakin terpancar. Namun sorot matanya tampak sedikit gelisah. Sementara itu, di ruangan lain, Bisma mengenakan setelan jas abu-abu muda. Dia duduk di ranjang, memegang cincin pernikahan dalam kotak beludru sambil menunduk dalam diam.
Beberapa menit sebelum prosesi pernikahan dimulai, Bisma meminta waktu sejenak untuk berbicara empat mata dengan Ayu. Dengan ditemani Bu Nurul yang kemudian memahami maksud Bisma, mereka diberi ruang di teras belakang.
“Yu, sebelum kita sah sebagai suami istri, aku ingin bicara jujur. Aku tahu kamu sedang sakit dan butuh pendamping. Tapi aku juga harus jujur, aku belum punya banyak uang.”
Ayu tersenyum lemah. “Aku tahu, Mas. Kita sama-sama baru mulai bekerja. Aku nggak minta hidup mewah.”
Bisma menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam tangan Ayu.
“Aku mau kita tetap lanjut ke pernikahan ini, Ayu. Tapi aku ingin kita buat satu kesepakatan, kita tunda punya anak dulu. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku ingin kita fokus dulu ke pengobatanmu dan menata keuangan.”
Ayu menunduk. “Aku mengerti. Sebenarnya aku pun punya ketakutan yang sama. Aku belum siap jika harus menjalani kehamilan saat tubuhku belum pulih.”
“Aku janji akan selalu ada di sampingmu. Kita jalani terapi bareng. Aku temani setiap ke rumah sakit. Tapi untuk sekarang, kita fokus sehat dulu, ya?” tutur Bisma tegas.
Ayu mengangguk. “Ya. Aku setuju. Terima kasih karena kamu tetap mau bersamaku walaupun tahu aku tidak sempurna.”
Mereka saling menatap, dan di antara diam itu ada janji yang lebih dalam dari sekadar kata-kata. Ketegasan dalam suara Bisma membuat Ayu merasa aman.
Beberapa menit kemudian, upacara pernikahan dimulai. Para tamu duduk rapi di kursi-kursi putih dengan pita ungu, menghadap ke pelaminan. Musik lembut mengalun dari pengeras suara. Bu Nurul tampak bahagia, walau matanya berkaca-kaca melihat putri kesayangannya akan menikah.
Di depan pemuka agama, Bisma mengucap janji nikahnya dengan suara mantap.
Semua saksi mengangguk. Suara sah terdengar dari seluruh penjuru, diikuti oleh tepuk tangan dari para tamu. Ayu mengusap air mata haru dengan tisu di tangannya. Begitu pula dengan Bu Nurul yang kini memeluk putrinya erat.
Setelah upacara, acara resepsi digelar. Meski sederhana, suasananya tetap hangat. Para tetangga dan kerabat Bu Nurul berdatangan memberi ucapan selamat. Bisma menerima tamu satu per satu dengan ramah. Ia tersenyum, walau dalam hatinya terasa hampa karena tak ada satupun anggota keluarganya yang hadir.
Salah satu tamu, Pak Rahmat, tetangga lama Ayu mendekati Bisma.
“Kamu anak yatim piatu, ya?”
Bisma mengangguk. “Iya, Pak. Orang tua saya sudah lama meninggal. Saudara yang lain tinggal jauh di luar kota.”
Pak Rahmat berkata lagi, “Kamu orang baik, Nak. Jagalah Ayu baik-baik. Dia anak satu-satunya. Ibunya berjuang sendiri untuk membesarkannya dari dulu.”
Bisma tersenyum lembut. “Saya akan jaga Ayu, Pak. Saya janji.”
Malam itu, setelah resepsi selesai dan tamu-tamu mulai pulang, Ayu dan Bisma duduk berdua di kamar pengantin yang telah dihias cantik. Mereka lelah, tapi bahagia. Suasana sunyi di antara keduanya dipenuhi rasa syukur dan harapan.
“Akhirnya kita menikah, Mas. Rasanya seperti mimpi.”
“Mimpi yang kita perjuangkan bersama,” seru Bisma.
Ayu tersenyum. “Besok aku mulai minum obat dari dokter. Kamu masih mau nganterin aku ke rumah sakit setiap kontrol?”
Bisma mengusap kepala Ayu lembut. “Tentu. Kamu sekarang tanggung jawabku. Kita akan jalani semuanya bareng-bareng, Yu.”
“Terima kasih, Mas. Aku nggak takut lagi,” sahut Ayu.
Malam itu, tidak ada pesta besar, atau bulan madu ke luar negeri. Namun ada cinta yang nyata dan tulus. Di balik pernikahan muda mereka, tersimpan semangat dan tekad untuk melewati badai bersama. Keduanya sadar jalan di depan tak akan selalu mudah, tapi mereka juga tahu jika bersama, keduanya bisa menghadapi semuanya.
