6. Hidup Baru di Jakarta Selatan
Babak baru setelah pernikahan.
Pagi di Kebayoran Lama itu sejuk dan penuh harapan. Di sebuah rumah kontrakan kecil yang hanya terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dan dapur mungil, pasangan muda Bisma dan Ayu memulai hari baru mereka sebagai suami istri. Dinding rumah masih polos, hanya dihias bingkai foto pernikahan keduanya yang digantung di ruang tamu. Meskipun sederhana, tempat itu dipenuhi kehangatan.
Bisma mengenakan kemeja putih bersih, merapikan dasinya di depan cermin yang menempel di lemari kayu sederhana. Sementara itu, Ayu di dapur sedang menyiapkan bekal makan siang untuk mereka berdua. Aroma nasi goreng telur keju menguar, menambah semangat pagi itu.
“Sayang, kamu lihat ikat pinggangku yang cokelat?” tanya Bisma sambil membuka laci lemari.
“Ada di belakang pintu kamar, Mas,” jawab Ayu sambil tersenyum.
“Tadi malam kamu gantung di situ.”
Bisma segera mengambilnya dan menghampiri istrinya ke dapur. Dia memeluk Ayu dari belakang, mengecup pelipisnya dengan lembut.
“Terima kasih sudah bangun lebih pagi. Nasi goreng buatan kamu selalu bikin aku semangat kerja,” ucap Bisma hangat.
“Aku juga semangat kalau kamu berangkat kerja dengan perut kenyang,” jawab Ayu sambil tersenyum manis, meski ada kelelahan di wajahnya.
Mereka duduk bersama di meja makan kecil. Ayu menyajikan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh hangat. Sambil makan, keduanya membicarakan rencana hari itu.
“Nanti sore aku ada rapat dengan tim marketing dari kantor pusat,” ucap Bisma sambil menyendok nasi.
“Kemungkinan pulang agak malam.”
“Aku juga mungkin lembur, Mas. Bosku minta aku buatkan laporan bulanan hari ini,” ujar Ayu sambil menyeruput teh.
Mereka saling bertukar senyum. Meski lelah, keduanya menikmati setiap momen kebersamaan di rumah kecil itu.
Setelah sarapan, Bisma mengantar Ayu ke halte busway terdekat. Mereka tak mampu membeli motor atau mobil sendiri, tapi mereka tak mengeluh. Justru dalam keterbatasan itu keduanya merasa semakin dekat dan saling mendukung.
Sepulang kerja sore itu, Bisma lebih dulu tiba di rumah. Dia mengganti baju dan langsung membersihkan rumah, menyapu lantai dan mencuci piring kotor yang ditinggalkan pagi tadi. Tak lama, Ayu tiba dengan langkah lesu namun senyum tetap mengembang di bibirnya.
“Sore, Mas. Aku pulang,” sapa Ayu sambil melepaskan sepatunya di depan pintu.
“Wah istriku sudah pulang. Kamu capek ya?” tanya Bisma lembut sambil menyambutnya.
“Iya, Mas. Laporan kantor bikin kepala muter,” jawab Ayu sembari merebahkan diri di sofa.
“Mau aku buatkan teh hangat?” tawar Bisma.
“Boleh,” jawab Ayu sambil tersenyum.
Tak lama, Bisma datang membawa teh dan duduk di sebelah istrinya. Dia memijat bahu Ayu pelan-pelan, membuat istrinya menutup mata dan menikmati perhatian itu.
“Kita hebat ya, Mas,” ujar Ayu tiba-tiba, membuka matanya.
“Meskipun rumah kecil, penghasilan pas-pasan, tapi kita tetap bahagia.”
“Karena kita saling sayang dan saling dukung, Sayang,” balas Bisma sambil menatap mata istrinya.
“Aku selalu bangga punya istri yang kuat seperti kamu.”
Ayu terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Kadang aku khawatir, Mas. Kalau penyakitku nanti bikin kita nggak bisa punya anak, kamu kecewa nggak?”
Bisma langsung menggenggam tangan Ayu.
“Sayang, kita sudah sepakat. Kita tunda punya anak bukan karena aku tidak ingin, tapi karena kita mau fokus dulu ke pengobatanmu. Aku menikah bukan hanya untuk punya anak, tapi karena aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu, apapun yang terjadi.”
Mata Ayu mulai berkaca-kaca. Dia merasa diberkati memiliki suami seperti Bisma, yang selalu sabar dan menguatkannya di saat dirinya merasa lemah.
Hari-hari berlalu. Setiap pagi mereka berangkat kerja bersama, dan malamnya berbagi cerita di meja makan. Kadang keduanya memasak bersama, menonton serial favorit lewat laptop, atau sekadar rebahan sambil mendengarkan lagu dari ponsel. Meskipun lelah, rumah kecil mereka selalu dipenuhi tawa.
Suatu malam, Ayu duduk di meja makan sambil menatap hasil cetak laporan medis terbarunya. Wajahnya serius.
“Mas,” ucapnya pelan.
“Tadi siang aku kontrol ke rumah sakit.”
“Sendirian?” tanya Bisma, yang baru saja masuk ke dapur.
“Iya, aku nggak mau ganggu jam kerja kamu. Lagipula tadi aku izin sebentar saja dari kantor.”
Bisma duduk di sebelahnya dan mengambil kertas itu. Setelah membaca, dia memandang Ayu.
“Gimana hasilnya?” tanya Bisma hati-hati.
“Kata dokternya, ada perkembangan. Tapi masih perlu terapi lanjutan dan pola makan yang lebih baik,” jelas Ayu.
“Aku juga disarankan untuk olahraga ringan.”
Bisma tersenyum lega. “Itu kabar baik, Sayang. Kita harus jaga makan mulai sekarang, dan tiap Minggu pagi kita jogging ya.”
“Beneran?” tanya Ayu.
“Beneran. Demi kamu. Demi keluarga kecil kita.”
Ayu tertawa pelan, lalu memeluk suaminya. “Aku bersyukur bisa hidup bareng kamu, Mas. Meski cuma di rumah kontrakan kecil ini, aku bahagia.”
“Rumah ini memang kecil, tapi cinta kita besar,” jawab Bisma sambil membalas pelukannya.
Di tengah kesederhanaan dan perjuangan hidup di Jakarta Selatan, mereka belajar bahwa cinta sejati tak diukur dari kemewahan atau kenyamanan, tapi dari kesetiaan, pengertian, dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan bersama-sama.
Pada suatu sore.
Senja mulai menyelimuti langit Jakarta Selatan. Lampu-lampu jalan perlahan menyala, menerangi kawasan perumahan sederhana di Kebayoran Lama. Dari dalam rumah kontrakan kecil berwarna krem, terdengar suara piring dan gelas yang ditata di meja makan.
Ayu baru saja selesai memasak. Dia menuangkan sup bening ke dalam mangkuk besar dan menata lauk di piring. Aroma masakan memenuhi ruang makan kecil yang sekaligus menyatu dengan ruang tamu.
Tak lama kemudian, suara deru motor terdengar mendekat. Bisma pulang dari kantor.
“Sore, Sayang,” sapanya seraya membuka pintu.
“Sore juga, Mas. Kamu pulang juga akhirnya,” jawab Ayu dengan senyum yang selalu dia berikan untuk suaminya.
Bisma meletakkan helmnya, mengganti bajunya, dan mencuci tangan sebelum duduk di meja makan. Dia menghela napas panjang.
“Hari ini lumayan capek. Banyak revisi dari atasan. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang bisa makan enak buatan istri tercinta,” ujarnya sambil tersenyum.
Ayu ikut duduk, menyendokkan nasi untuk Bisma, lalu untuk dirinya sendiri.
“Aku masak sup ayam sama tempe goreng. Kamu pasti suka,” katanya.
“Wah, favoritku! Kamu memang istri terbaik,” ucap Bisma sambil mulai makan.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar sesekali. Tapi Ayu tampak agak gelisah, sesekali melirik Bisma.
“Mas, boleh aku ngomong sesuatu?” tanya Ayu pelan.
Bisma mengangguk. “Boleh dong. Ada apa?”
Ayu menunduk sebentar, lalu menatap suaminya.
“Aku … akhir-akhir ini sering kepikiran soal anak.”
Bisma meletakkan sendoknya. “Maksudmu?”
“Maksudku, aku mulai pengin punya anak, Mas. Rasanya rumah ini terlalu sepi. Setiap kali aku lihat anak kecil di jalan, aku ngerasa ada yang kosong di hidup kita.”
Bisma terdiam. Dia memandang wajah istrinya yang serius, namun lembut. Bisma tahu Ayu selalu menyimpan keinginan itu sejak lama, terutama setelah mereka menikah.
“Ayu,” ujar Bisma lembut.
“Kamu tahu, aku juga ingin punya anak. Tapi kondisinya belum memungkinkan.”
Ayu menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Aku tahu, Mas. Tapi aku juga perempuan. Naluriku sebagai calon ibu kadang terasa begitu kuat. Aku tahu kamu sedang berjuang, dan aku juga nggak mau egois. Tapi aku hanya ingin kamu tahu apa yang aku rasakan.”
Bisma meraih tangan Ayu, menggenggamnya erat.
“Aku sangat menghargai kejujuranmu, Sayang. Aku ngerti banget keinginanmu itu. Tapi kondisi finansial kita sekarang belum stabil. Tabungan kita belum cukup. Dan kamu juga masih menjalani terapi hormon. Kita harus pikirkan semuanya dengan matang.”
Ayu mengangguk pelan, mencoba memahami.
“Iya, aku paham. Tapi bagaimana kalau kita mulai rencanakan dari sekarang? Maksudku, bukan langsung punya anak, tapi mulai bersiap, mungkin menabung, mulai hidup lebih hemat, supaya nanti saat waktunya tiba, kita nggak kaget.”
Bisma tersenyum tipis.
“Itu ide bagus. Kita bisa buat tabungan khusus untuk rencana kehamilanmu. Tapi ingat, Sayang, kesehatanmu tetap yang utama. Kita belum tahu bagaimana tubuhmu akan merespons jika nanti hamil. Kita harus konsultasi ke dokter dulu.”
“Aku setuju. Kita jalan bareng-bareng, ya Mas? Aku nggak mau memaksakan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku siap, dan aku percaya kita bisa hadapi semuanya bersama.”
Bisma mengangguk dan mencium tangan istrinya.
“Terima kasih sudah jujur. Aku janji, suatu hari nanti kita akan punya anak, Ayu. Tapi mari kita sabar sedikit lagi, fokus pada kesembuhanmu dulu. Kita kuat, kita bisa.”
Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tamu, menonton acara televisi sambil berpegangan tangan. Meski hati Ayu masih menyimpan kerinduan akan kehadiran buah hati, dia merasa sedikit lebih tenang setelah pembicaraan jujur dengan suaminya.
Namun keinginan Ayu untuk memiliki anak sangat besar. Dia sudah tak mau menunggu lagi. Ayu pun membuat Bisma mabuk dengan mencampur minuman suaminya dengan sebuah obat. Sehingga Bisma setengah tidak sadar. Mereka pun melakukan hubungan ranjang tanpa pengaman.
