Pustaka
Bahasa Indonesia

RUMAH YANG TAK PERNAH JADI RUMAH

14.0K · Ongoing
Zemira Fortunatus
9
Bab
82
View
9.0
Rating

Ringkasan

Terinspirasi dari kisah nyata. Sebuah hubungan percintaan yang diawali dengan toxic antara Bisma dan Ayu yang berpacaran sejak di bangku kuliah. Lalu mereka pun menikah dengan terpaksa karena Ayu memiliki suatu penyakit. Pernikahan keduanya awalnya penuh kebahagiaan layaknya pasangan yang saling mencintai. Namun seiring berjalannya waktu, Ayu mulai berubah. Dia ingin lebih dominan dan melakukan suatu kecurangan demi untuk hamil lebih awal, padahal kondisi keuangan keduanya masih sangat rentan. Bisma yang belum dewasa berpikir, tidak terima dengan semua perbuatan Ayu yang tergolong sangat nekat. Puncak kemarahan Bisma pun terjadi saat Ayu melontarkan kata-kata makian pada orang tua suaminya yang telah lama meninggal. Akankah Ayu dan Bisma mampu menyelamatkan pernikahan mereka? Ataukah keduanya memilih untuk berpisah? Mungkinkah sebuah perceraian menjadi solusi utama dalam pernikahan mereka? Penasaran kelanjutannya, mari silakan dibaca. Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.

IstriMenantuPerceraianPernikahanMenyedihkanEmosionalDrama

1. Awal Cinta di Sebuah Kampus

Langit Jakarta Selatan siang itu diselimuti awan tipis, matahari bersinar lembut menyinari gedung-gedung megah di sekitar salah satu kampus. Di antara hiruk-pikuk mahasiswa yang lalu-lalang, seorang pria berperawakan tegap dengan ransel di punggung berjalan tergesa menuju lobi fakultas komunikasi.

Namanya Bisma Aditya. Mahasiswa jurusan Public Relations. Wajahnya tegas, alis tebal, dan sorot mata tajam. Dia terkenal karena ketegasannya saat memimpin diskusi kelas maupun organisasi mahasiswa.

Sementara itu, di sisi lain ruangan, duduklah seorang wanita muda berambut panjang lurus, memakai blazer krem dan rok hitam formal.

Tatapan matanya tajam, memancarkan ambisi. Namanya Ayu Larasati. Gadis cerdas, aktif dalam berbagai kegiatan kampus, dan tak jarang membuat dosen kagum karena presentasinya yang berani dan penuh keyakinan.

Hari itu keduanya dipertemukan untuk pertama kalinya sebagai rekan kerja kelompok dalam mata kuliah Media Planning and Strategy. Dosen mereka, Bu Rini, telah membagi kelompok dan menugaskan proyek presentasi akhir semester.

“Kelompok 5, Ayu Larasati sebagai ketua kelompok. Anggotanya yaitu, Bisma, Yuni, Raka, dan Dinda,” ucap Bu Rini tegas sambil menulis di papan.

Ayu mengangkat alisnya, matanya langsung melirik ke arah Bisma yang sedang duduk dua baris di belakangnya. Sementara Bisma menoleh pelan, ekspresinya tenang namun dalam hati dia mengerutkan kening.

“Kita satu kelompok ya?” tanya Ayu saat mereka keluar dari kelas, menghampiri Bisma dengan langkah percaya diri.

“Kelihatannya begitu,” jawab Bisma singkat, namun tersenyum sopan.

“Kamu sibuk nanti sore? Aku mau adakan rapat pertama. Kita harus nentuin tema besar untuk presentasi,” ucap Ayu cepat, nada suaranya seperti memberi instruksi.

“Aku ada rapat organisasi sampai jam empat. Tapi setelah itu bisa,” jawab Bisma, tidak suka diatur tapi mencoba menahan diri.

Ayu menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Oke. Kita ketemu di kafe depan kampus jam empat lewat lima belas. Jangan telat, ya.”

Bisma hanya mengangguk kecil, lalu berjalan menjauh. Dalam hati, dia sudah bisa menebak jika kerja kelompok ini tidak akan mudah.

Sore harinya, di sebuah kafe kecil berdekorasi kayu dan lampu gantung bohemian, Ayu sudah duduk dengan laptop terbuka. Dia mengetik cepat, mempersiapkan outline presentasi bahkan sebelum semua anggota datang. Bisma datang tepat waktu, disusul oleh Yuni, Raka, dan Dinda.

Ayu langsung memulai.

“Oke, jadi kita akan ambil tema ‘Strategi Media untuk Membangun Citra Positif Start-Up Baru di Indonesia.’ Menurutku ini paling relevan dan menantang,” ucap Ayu sambil membagikan print-out.

“Kamu udah mutusin sendiri temanya?” tanya Bisma, nada suaranya mulai naik satu tingkat.

“Aku bukan memutuskan. Aku menyarankan. Tapi kalau kalian punya ide lain, silakan utarakan,” jawab Ayu cepat, menatap Bisma tajam.

“Kalau cuma nyaranin, kenapa udah dibuat outline-nya sendiri?” sahut Bisma.

“Kerja kelompok bukan kerja satu orang.”

Yuni dan Dinda menoleh gelisah. Raka pura-pura sibuk membuka notepad.

Ayu menarik napas. “Bisma, aku hanya berinisiatif. Aku pikir daripada kita buang waktu, lebih baik langsung bergerak. Kamu keberatan?”

“Aku hanya nggak suka kalau ada yang merasa paling tahu segalanya,” jawab Bisma dingin.

Suasana menjadi hening. Tapi Ayu tidak mundur.

“Baiklah. Kita voting saja. Siapa yang setuju dengan tema ini?” tanya Ayu.

Tiga tangan terangkat. Yuni, Raka, dan Dinda.

Ayu menoleh ke Bisma dengan ekspresi tenang.

“Mayoritas setuju. Jadi, kita jalan dengan tema ini, ya?”

Bisma tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan mulai mencoret-coret bukunya. Tapi dalam hatinya, Bisma mengakui bahwa Ayu memang cepat dan terstruktur. Dia hanya tidak suka gaya dominannya.

Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu untuk mempersiapkan proyek. Pertemuan demi pertemuan, interaksi keduanya semakin intens. Di balik perbedaan karakter, justru muncul ketertarikan.

Ayu mengagumi Bisma yang punya daya analisis tajam, tidak asal bicara, dan tahu bagaimana memimpin situasi. Sementara Bisma mulai melihat sisi lain Ayu yaitu tegas, visioner, dan selalu bisa diandalkan.

Namun konflik kecil tetap muncul. Seperti saat membagi tugas.

“Bisma, kamu present bagian analisis kompetitor, ya,” ucap Ayu saat rapat.

“Kamu minta atau nyuruh?” tanya Bisma setengah bercanda.

“Aku ketua kelompok. Tapi ya, aku minta.”

“Oke. Tapi lain kali, coba tanyain dulu, bukan langsung tunjuk,” jawab Bisma, lalu tersenyum tipis.

“Noted, Pak Pemimpin,” balas Ayu dengan gaya mengejek, namun bibirnya tersenyum.

Keduanya akhirnya menemukan ritme komunikasi mereka sendiri. Saling menyindir, saling menguji batas, namun selalu kembali fokus pada tujuan.

Suatu malam, selesai rapat kelompok di kampus, Ayu dan Bisma berjalan berdua menyusuri koridor menuju parkiran.

“Tahu nggak? Kamu itu ngeselin banget,” ucap Ayu sambil tertawa pelan.

“Aku juga mau bilang hal yang sama,” sahut Bisma.

“Tapi di balik semua itu, kamu hebat.”

Ayu menoleh cepat. “Kamu juga.”

Hening sejenak.

“Kalau kita nggak di kelompok ini, mungkin kita nggak akan sedekat ini ya,” ujar Ayu lirih.

“Mungkin,” jawab Bisma sambil menatap lampu jalan.

“Tapi aku bersyukur kita satu kelompok.”

Ayu tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia merasa hatinya berdebar karena pria itu.

“Jadib… kita masih kerja kelompok atau mulai jadi lebih dari itu?” tanya Ayu setengah serius.

Bisma berhenti berjalan dan menatapnya lekat-lekat.

“Kalau kamu siap hadapi keras kepalaku, aku siap juga hadapi dominasi kamu,” jawabnya mantap.

Keduanya pun tertawa.

Malam itu menjadi awal kisah cinta dua insan muda yang sama-sama kuat, sama-sama keras, dan tanpa mereka sadari juga sama-sama mungkin akan terluka di kemudian hari.

Hubungan Bisma dan Ayu berjalan cepat setelah keduanya memutuskan untuk berpacaran. Baru sebulan sejak proyek kelompok mereka selesai, dan keduanya mulai terlihat selalu bersama di kampus.

Teman-teman sekelas mereka, awalnya senang melihat dua sosok kuat itu akhirnya menyatu, namun tidak butuh waktu lama sebelum mulai muncul tanda-tanda keretakan.

Semua berawal dari hal kecil. Sebuah janji temu yang terlambat.

Hari itu, Ayu dan Bisma sepakat untuk bertemu di perpustakaan pukul tiga sore. Ayu ingin mencari referensi untuk tugas esai mata kuliah Komunikasi Strategis. Tapi Bisma datang terlambat hampir satu jam tanpa memberi kabar.

Ayu duduk di sudut ruang baca, tangan melipat di atas meja, wajahnya datar, bibir mengerucut. Matanya terus menatap jam tangan. Beberapa mahasiswa lain melirik ke arahnya, menyadari amarah yang mulai mendidih dalam diam.

Pukul empat sore, Bisma akhirnya muncul dengan napas sedikit terengah-engah. Dia mengenakan jaket biru tua dan membawa beberapa kertas di tangan.

“Maaf, aku telat. Barusan rapat dadakan sama ketua organisasi,” ucapnya sambil duduk.

“Satu jam, Bisma. Kamu datang satu jam lebih lambat dan nggak ada kabar sama sekali. Emangnya aku pengangguran, ya, nungguin kamu kayak gini?” suara Ayu rendah tapi tajam.

“Aku lupa ngabarin, oke? Tapi aku tetap datang kan? Rapatnya penting,” jawab Bisma, mulai meninggikan suara.

“Penting? Lebih penting daripada janji sama pacar sendiri?”

Bisma menatap Ayu dalam-dalam. “Kenapa kamu selalu bawa-bawa emosi kalau ada masalah? Ini tuh hal kecil, Ayu. Aku minta maaf.”

“Kamu pikir semua bisa selesai cuma dengan bilang ‘maaf’?”

Ayu berdiri, menyilangkan tangan di dada. Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik melihat keduanya yang mulai menarik perhatian.

“Ayu, duduk dulu, jangan bikin drama di sini,” tutur Bisma pelan namun serius.

“Drama? Jadi aku ini tukang drama di matamu?”

“Aku nggak bilang kamu tukang drama. Tapi kamu beneran kebiasaan meledak tiap ada hal nggak sesuai sama kemauanmu,” balas Bisma.

Ayu mencibir, matanya berkaca-kaca karena emosi. “Dan kamu kebiasaan ngerasa paling benar! Kamu pikir semua bisa dimaklumi karena kamu sibuk organisasi, sibuk jadi pemimpin? Sekali-kali coba hargai waktu orang lain!”

“Aku sudah datang, Ayu! Aku udah minta maaf! Apa lagi yang kamu mau?” ujar Bisma dengan suara yang akhirnya ikut meninggi.

Hening. Suasana perpustakaan berubah tegang. Yuni, yang kebetulan lewat bersama Raka, hanya menatap keduanya dari balik rak buku.

“Mereka mulai lagi,” bisik Yuni ke Raka.

“Kayaknya baru seminggu lalu mereka berantem juga ya? Gara-gara Bisma lupa balas pesan?” sahut Raka pelan.

“Iya. Dan sebelumnya gara-gara Ayu cemburu sama cewek di organisasi Bisma. Toksik banget sih hubungan mereka.”

Pertengkaran hari itu tidak selesai di perpustakaan. Ayu pulang dengan wajah masam, menolak diantar. Bisma duduk sendiri cukup lama sebelum akhirnya memilih keluar dan duduk di tangga depan fakultas, merenung.

Bisma menggenggam ponselnya erat. Pesan Ayu terakhir adalah, “Jangan hubungi aku dulu.”

Bisma menarik napas dalam-dalam.

“Apa aku yang salah? Atau memang kita terlalu egois?” gumamnya.

Malam harinya, Ayu duduk di kamarnya, membuka jendela dan membiarkan angin malam masuk. Di pangkuannya, laptop masih menyala menampilkan file esai yang belum selesai.

“Kenapa aku selalu kesal kalau dia begini? Padahal aku tahu Bisma sibuk,” batinnya, sambil menunduk.

Keesokan harinya, suasana kelas menjadi canggung. Bisma duduk sendiri di bangku tengah. Ayu memilih duduk di depan, dekat Dinda.

“Lo nggak duduk sama Bisma?” bisik Dinda sambil membuka catatannya.

“Nggak usah bahas itu, Din,” jawab Ayu singkat.

Sementara itu, Bisma memandangi punggung Ayu dari belakang. Dia tahu, masalah ini belum selesai.

Setelah kelas selesai, Bisma mengejar Ayu ke luar ruangan.

“Ayu, sebentar,” panggilnya.

Ayu menoleh, ragu-ragu, lalu menunggu di lorong.

“Aku nggak mau hubungan kita selalu diisi marah-marah begini,” ucap Bisma langsung.

“Aku juga nggak mau. Tapi aku juga butuh dihargai. Aku butuh kepastian, perhatian. Bukan cuma janji kosong dan kesibukan yang nggak pernah berhenti,” balas Ayu, nada suaranya lebih tenang.

“Aku serius sayang sama kamu, Ayu. Tapi kita nggak bisa terus begini. Kita keras kepala dua-duanya.”

“Kamu pikir aku nggak tahu? Tapi kamu juga harus tahu, aku butuh pasangan yang hadir. Bukan cuma secara fisik, tapi juga emosional,” ujar Ayu lirih.

Bisma menatapnya lama, lalu mengangguk.

“Kalau gitu, kita kasih jarak sebentar?”

“Maksudmu?” tanya Ayu pelan.

“Bukan putus. Cuma ... jeda. Masing-masing tenangin diri. Karena kalau kita terus begini, kita saling nyakitin,” jelas Bisma.

Ayu terdiam lama sebelum akhirnya berkata, “Oke. Tapi janji satu hal, jangan biarkan orang lain masuk ke hati kamu selama jeda ini.”

“Aku janji,” jawab Bisma.

“Aku juga,” ucap Ayu pelan.

Itu adalah awal dari pola yang akan terus berulang dalam hubungan mereka, pertengkaran karena ego yang saling mengunci, kata-kata yang saling melukai, lalu berakhir dengan perpisahan sejenak. Tapi selalu ada satu hal yang mengikat mereka kembali yaitu cinta. Meski kadang, cinta saja tidak cukup untuk menyelamatkan sesuatu yang sudah mulai retak sejak awal.